7. Makan malam

836 Words
Sebagai orang yang memiliki perekonomian menengah kebawah, jelas tentu Laras akan senang hati untuk mengajukan dan menerima tawaran makan malam gratis. Apalagi diberikan tip, Laras akan maju di barisan paling depan sebagai orang yang tidak tahu malu. Kebetulan, hidup di kota itu bukanlah perkara mudah. Meskipun harus merelakan makan malam bersama orang yang di bencinya. Tak masalah bagi Laras yang terpenting perut kenyang, lambung terisi. Mencoba menghilangkan keheningan, Laras hendak menyalakan radio, menghapus kesuntukan yang ada. "Mau ngapain kamu?" "Sunyi pak." "Saya gak suka ramai-ramai." Laras berdecak, memutar bola matanya jengah. Lalu mendesah bosan, bosnya itu terlalu fokus mengendarai mobil hingga melupakan Laras yang statusnya adalah manusia. Ia bingung, mengapa pria disampingnya ini sangat-sangat sempurna dalam segala hal? Apa Candra sama sekali tak pernah merasa gagal dalam hidupnya? Apa orang seperti Candra adalah ciri-ciri keberhasilan seseorang? Jika memang begitu, besok-besok Laras akan membeli buku untuk menjadi perfeksionis. Memang, jika dipikir orang yang malas adalah orang yang gagal. Entah itu pepatah dari mana, tapi Laras tak pernah merasa gagal ia hanya berpikir sekarang belum saatnya ia sukses. "Kamu masih mau di dalam?" Laras terkesiap, menoleh mendapati Candra sudah berada diluar "Sudah sampai ya." Gumam Laras, keluar dari dalam mobil. Ia terperangah kala Candra mengajaknya untuk makan malam di restoran bintang lima. Mungkin situasinya akan menjadi indah jika yang mengajaknya adalah orang yang Laras sayang. Sudahlah, Laras tak ingin berlarut-larut dan lebih memilih mengekori Candra. "Bapak sering makan disini?" Tanya Laras, Candra menatap Laras dengan wajah sulit di artikan. Laras seakan tersadar, itu jelas tentu sekali. Mengingat Candra adalah kalangan menengah keatas mana mungkin akan menghabiskan makan malamnya di warteg pinggir jalan. "Kamu tunggu disini." Kata Candra, Laras mengangguk patuh. Matanya memindai seisi ruangan yang ada. Lampu temeram, musik yang tenang serta suasana yang damai memang cocok di peruntukan oleh pasangan kekasih. Bukannya malah sekretaris dan bos. Tapi, siapa peduli dengan momentum yang salah? Toh perutnya dengan senang hati menerima segala jenis makanan. "Kamu pesan apa?" Tanya Candra setelah kembali entah dari mana "Yang menurut bapak enak aja." "Oke. Minumannya?" "Jus aplukat." "Oke." Candra menjentikkan jemarinya, memanggi pramusaji yang memang memasang diri tak jauh dari mereka. Seperti pelanggan pada umumnya candra memesan beberapa makanan dan minuman. "Saya yakin, kamu baru pertama kali kesini?" "Tentu, dompet saya menangis kalau di ajak ke tempat seperti ini pak." Candra tertawa "Saya sudah duga, orang seperti kamu tidak mungkin mampu ke tempat seperti ini." Deg.. Hati Laras mencelos, bagaikan di tusuk jarum secara perlahan. Napsu makanya memudar, senyuman yang setia mengembang seketika berubah masam. Ia tak mungkin berbalik melawan bosnya agar menjunjung harga dirinya. Karena yang dikatakan Candra adalah kebenaran meskipun tak tepat dikatakan dengan blak-blakan. Yang lebih sedihnya lagi, Candra sama sekali tak merasa bersalah telah mengatakan hal yang menyakitkan pada Laras. Al hasil wanita itu hanya bisa terdiam sembari menunggu makanan datang, meski ia tak tahu haruskah memakannya? Tak selang beberapa waktu, pramusaji membawa beberapa pesanan mereka. Meletakan di atas meja. Sungguh, aroma masakan itu masuk ke Indra penciuman Laras. Nikmat namun sayang, Laras merasa malu menyantapnya. "Kenapa hanya dilihatin saja?" "Emm, bapak lebih dulu saja." Kata Laras, ia hanya menyeruput jus aplukat. "Jangan malu, saya hanya bercanda tadi." Alis itu terangkat, ternyata Candra menyadari dengan apa yang dikatakannya. Syukurlah, Laras merasa lega dan bisa melahap makanan itu dengan tenang. Akan terasa sia-sia jika makanan itu dibiarkan saja karena gengsi. Laras meringis, ia merasa malu sudah bersikap demikian. Padahal Candra tak peduli sama sekali. "Cepat makan, kebetulan saya lagi baik." Sontak sendok itu berhenti tepat di depan mulut Laras, andai saja di depannya bukan bosnya mungkin Laras sudah menumpahkan minuman itu di wajah bosnya. Serius, Laras sadar kok bahwasannya ia hanya numpang makan gratis tapi percayalah bukan Laras yang menawarkan diri, melainkan bosnya sendiri. "Ya, terima kasih pak." "Hmm." Kedua manusia itu asik menikmati makanan. Tak kalah saingnya dengan Laras yang begitu lahap menyantap makanan yang baru saja terjamah oleh lidahnya. Maklumlah jiwa-jiwa desa pasti akan merasa asing ketika menikmati daging yang dimasak oleh chef perfesional. Rasanya Laras ingin membungkusnya dan membawa pulang. Berbeda lagi dengan Candra yang justru dengan penuh wibawa menikmati makanan yang sama. Ya, wajar saja sih Candra orang kaya dan dapat menempatkan diri dimana pun. "Bagaimana, enak kan?" Anggukan itu membuat Candra tersenyum, merasa bangga karena ia bisa memilih tempat makan malam yang terbaik. "Pasti harganya mahal." Ungkap Laras yang terus terang terpikirkan dalam benaknya sedari tadi "Tidak sampai membuat saya menjual seluruh aset saya." "Ya kali!" "Pak." Tanya Laras "Ya, ada apa?" "Boleh saya bertanya?" "Silahkan, selagi tidak melanggar nilai Pancasila." Laras memutar bola matanya, Candra benar-benar jayus. Ingin melucu tapi tidak lucu sama sekali, pantas saja hingga detik ini Pria itu masih sendiri. eh, tapi sebentar! memangnya Candra masih sendiri? dan apa yang membuat Candra masih sendiri? ia menggeleng, mengapa menjadi manusia yang kepo? apa pedulinya tentang Bossnya? masa bodoh baginya. wanita itu kemudian fokus dengan pertanyaan yang sempat ia tunda. "Kenapa bapak tiba-tiba mengajak saya makan malam?" tanyanya, hening menerpa diantara keduanya. Membuat Laras merasa canggung, sebab pria itu tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD