8. Banyak begal

766 Words
Jujur saja sejak tadi Laras penasaran, mengapa tiba-tiba bos barunya itu mengajak untuk makan malam. Yang lebih menakjubkan lagi lelaki itu mengajaknya untuk makan malam di restoran bintang lima. Luar biasa, Laras bagaikan mendapat belah duren. "Jangan percaya diri dulu." itu suara Candra, sedikit memukul telak dugaan Laras "Saya kesini cuman ingin sedekah." Sambung pria tersebut Laras terdiam, ia sedikit memanyunkan bibir. Apa wajahnya begitu terlihat sekali? Memang sih Laras itu doyan geratisan bahkan bisa dikatakan orang yang butuh sokongan tapi... ah Candra rasanya begitu keterlaluan. Dia menduga Candra tertarik padanya tapi mana mungkin pria setampan dan kaya raya seperti Candra menyukai dirinya yang super malas. Laras mencubit pelan dirinya. "Pak saya terima kalau bapak ingin sedekah, tapi.." Laras ingin menjelaskan karena sejujurnya dia tak terima dengan perkataan bosnya itu. "Karena kamu sepertinya membutuhkan, ya apa salahnya kan? Itung-itung juga sebagai kedekatan antara bos dan karyawan barunya." Candra tersenyum berwibawa sekali membuat Laras mengedipkan mata tak menyangka "Formalitas?" Tanya Laras, Candra mengangguk "Begitu ya." Laras mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ternyata diluar bos dan Karyawan juga harus menunjukkan formalitas ya?" Tanya Laras lagi, dan Candra mengangguki "Harus sebagai citra perusahaan." "Oke. Setidaknya saya mendapat tips untuk menjadi orang kaya." Candra mengangkat alis tak mengerti apa maksud dari wanita dihadapannya itu. Membiarkan Laras dengan pikirannya Candra asik menikmati makanan yang dipesan. Laras menurut Candra tidak begitu menyebalkan, meskipun diawal pertemuan mereka harus saling tuduh-menuduh akan tetapi ternyata Laras adalah wanita yang jujur dan apa adanya entahlah Candra begitu yakin bahwa Laras adalah pegawai yang kompetitif meskipun sedikit ceroboh. "Setelah ini kemana pak?" "Pulang, memangnya saya ingin mengajak kamu jalan-jalan begitu? Enak saja! biaya bahan bakarnya mahal." Tukas Candra membuat Laras manyun. "Pak saya hanya bertanya." Jawab Laras ketus, bosnya ini memang menyebalkan. Andai saja dia bukan manusia sudah Laras bacakan ayat kursi. "Ya sudah ayo kita pulang, besok jangan sampai telat." "Iya pak. Ada lagi?" "Dan satu, ambil Jas saya di tempat laundry." "Oke siap." Jawab Laras begitu semangat, untuk pekerjaan yang harus dia cintai Sebenarnya Laras adalah perempuan mujur menjadi sekretaris Candra, bayangkan saja di tempat kerjanya dulu Laras bahkan jarang makan malam bersama bosnya apalagi di tempat mewah seperti saat ini. Ini baru hari pertama dan Laras sudah merasakan makanan enak apalagi hari-hari berikutnya. Ya, walaupun harus menghadapi Candra yang super sempurna. Namun tidak masalah, demi tanah dan kehidupan yang layak Laras siap menghadapi apapun. Kelak dia akan pamer kepada para sepupu bahwa dia berhak untuk kaya dan hidup mewah. "Lihat saja nanti, aku akan pamer duit segepok." Gumam Laras menyemangati dirinya. Disampingnya Candra mengernyitkan dahi, melihat tingkah sekretarisnya itu. Namun memilih mengabaikan dan melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Di mobil hanya ada keheningan, Laras merasa amat bosan. Ia ingin memutar radio atau musik di ponselnya namun takut kena semprot al hasil dia memilih bersandar di jok mobil sembari menghayal. Sampai pada ahkirnya Candra menegur tingkahnya. "Dari pada gabut seperti itu, putar radio saja sana." Perintah pria tersebut Laras memperbaiki posisinya menjadi tegak. "Kemarin bapak larang saya.." "Suka-suka saya. Siapa disini bosnya?" "Bapak." "Ya sudah." Lagi-lagi hanya bisa mendesah, melawan pun percuma. Laras kemudian memutar radio yang sedang menampilkan musik-musik era dua ribuan yang saat ini hampir hilang digantikan dengan musik disko "Jangan pernah kau coba untuk berubah..." Laras bernyanyi kencang "Husst.. suara kamu berisik banget, lebih kenceng dari pada penyanyinya." Laras langsung kicep dan memutar bola matanya jenuh. Dalam hati ia merutuki bosnya sendiri, mudah-mudahan pria itu segera insaf dari sikap pengaturnya. "Besok ingat jangan sampai kamu telat, saya tidak terima alasan apapun." Candra mengingatkan lagi "Siap pak, saya akan berusaha untuk datang lebih awal." Ucap Laras "Harus begitu, perusahaan saya tidak menggaji orang malas seperti kamu." Wanita itu terdiam tidak berani menjawab karena memang kenyataannya seperti itu. Dia ahkirnya memilih memejamkan mata, sungguh Laras amat mengantuk. Tidak apa-apakan jika tidur di mobil bos? "Ngapain kamu merem?, awas aja kalau sampai ngiler. Perawatan mobil saya mahal." Sindir Candra membuat Laras memutar bola matanya jengah, wanita itu langsung merubah posisinya menjadi tegak. "Saya doakan bapak dapat pacar jorok." "Amit-amit." Candra mengetukkan tangannya ke dashboard. Lalu melototi Laras yang terkikik di jok mobil. "Makannya jangan terlalu sempurna deh pak." sindir Laras tak ingin kalah "Suka-suka saya, memangnya kamu siapa larang-larang!" "Laras pak," sahut wanita itu dengan polosnya, Candra memukul jidatnya bingung menghadapi Laras. Mobil Candra sudah sampai ditempat Laras mengistirahatkan tubuhnya. Wanita itu lalu keluar sembari menguap, rasa kantuk sudah tak dapat dibendung lagi. Laras ingin segera memeluk bantal guling yang penuh dengan gambaran pulau. "Saya pamit dulu." "Ya, hati-hati dijalan pak. Banyak begal."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD