-happyreading-
---
Naya tersenyum tipis mengingat kejadian sore tadi, menghabiskan waktu bersama Azzam hingga matahari terbenam membuatnya merasa ada kupu-kupu yang bertebangan di perutnya. Bahkan pelukkan hangat Azzam masih terasa di tubuhnya.
Lebay memang, tapi itulah faktanya!!
Naya mengambil ponselnya yang bergetar di nakas, dan membuka notifikasi w******p yang baru saja masuk. Naya mendesah pelan, ternyata itu hanya notifikasi dari grup kelas yang sedang membicarakan hal yang iya-iya.
Entah kenapa, Naya sangat berharap bahwa Azzam akan mengirimnya pesan atau ucapan selamat tidur untuknya. Ia tau bahwa sikapnya saat ini salah, tapi bolehkan Naya berharap kepada Azzam?
Ingin rasanya Naya egois dan mengambil Azzam dari Audrey, tapi ia masih mempunyai akal, ia bahkan tau bagaimana rasanya ketika seseorang yang kita sayang di ambil oleh orang lain, karena saat ini dia pun merasakannya.
Naya tersenyum tipis ketika satu notifikasi baru saja masuk di ponselnya.
Azzam
Nay?
Iy??
Lagi apa?
"Lagi mikirin kamu!!," gumam Naya lalu mengetik balasan untuk pesan Azzam.
Lg rbhan
Lo sndiri?
Iya gue sendiri
Naya berdecak ketika membaca jawaban polos Azzam, sepertinya lelaki itu tidak mengerti ketikannya.
Ck, bkn itu!! Mksd gue lo lg ap?
Lagi cari makan, lo udh makan?
Udh si, tp laper pen ngemil :((
"Peka dong peka!!," ujar Naya sambil menggigit ujung selimutnya gemas.Naya memutar tubuhnya menjadi tiarap dengan bantal yang ia jadi kan sanggahan.
Mau makan apa? Gue beliin nih, ntar gue makan di rumah lo aja.
"YESS!!," pekik Naya tanpa sadar dan langsung mendudukan tubuhnya.
Eh nggak usah, ntar ngerepotin.
Kagak kok, mau apaan?
Sate ayam ya??
Okee❤
Naya membulatkan matanya ketika melihat emot yang ada di room chat miliknya dan Azzam, jujur saja Naya sedang kesenangan sekarang.
Naya menggigit ujung bantalnya, wajahnya terasa panas. Kupu-kupu itu kembali hadir. Naya merasa geli namun tak apa. Gadis itu berguling-guling di kasur sambil senyum-senyum sendiri. Azzam yang ia rindukan kembali. Hari ini Naya boleh egois kan?
"Tenang aja Audrey, gue cuma minjem Azzam sebentar. Gue gak bakal ngambil dia dari lo karna gue tau gimana rasanya kalo orang yang kita sayang tiba-tiba di ambil dan udah jadi milik orang lain," gumam Naya menghela nafas.
Naya mengecek ponselnya, sudah 5 menit ia berguling-guling di kasur. Naya membuka aplikasi chat dan melihat ada beberapa chat yang belum di balasnya.
"Eh Bang Nando nge chat," gumam Naya membuka kolom chatnya bersama Nando.
Bang Nando
Nay
Buset lo lagi sibuk apa gimana? online tapi ga bales chat gue.
Astaga maaf, chat lo tenggelem bang anjir. Mana lo nge chatnya dari jam 4 sore.
Naya meringis pelan, merasa bersalah karna telat membalas pesan Nando. Nando mengirimnya pesan pukul 4 sore, sedangkan sekarang sudah jam 9 malam.
Naya tidak berbohong, chat Nando memang tenggelam oleh grup kelas dan chat teman-temannya yang menanyakan tugas, meminta jawaban pr, dan menanyakan materi.
Sebenarnya Naya tadi sore memang melihat chat Nando dari notifikasi bar. Niatnya Naya akan membalas pesan Nando setelah ia menjelaskan materi dengan temannya, namun setelah selesai menjelaskan materi, gadis itu malah meletakan ponselnya di nakas lalu bersiap karna akan bertemu dengan Nabila di taman.
Naya benar-benar lupa membalas pesan Nando dan terlebih lagi pesan Nando sudah tenggelam oleh grup kelas dan eskul.
Merasa tak ada tanda-tanda balas karena Nando tidak online, Naya akhirnya keluar dari kolom chat mereka dan beralih pada chat Azzam yang baru saja masuk. Azzam mengatakan bahwa dia sudah menuju ke rumah Naya.
Dengan cepat Naya menyibak selimutnya dan berlari ke meja rias untuk memperbaiki diri. Di ambilnya lipbalm dan liptint berwarna orange lalu segera memakainya, tak lupa juga dia memakai baby powder di wajahnya.
Setelah di rasa cukup, ia memperbaiki bajunya yang terlihat kusut dan berlari keluar dari kamar ketika mendengar teriakan Bundanya.
Sebelum keluar kamar, Naya menyempatkan dirinya ke meja rias dan mengambil acak parfume yang ada di sana. Naya menyemprotkan parfume itu acak lalu segera keluar dari kamar.
"Kenapa sih Bun?," tanya Naya yang baru saja turun dari tangga.
"Itu tuh ada temen kamu," balas Kirana sambil menunjuk ke arah ruang tamu dengan dagunya.
Entah kenapa Naya merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Tenang Naya!! Ini cuma makan biasa, jangan terlalu berharap lebih.
"Lama ya?," tanya Azzam mengalihkan pandangannya dari ponsel ketika melihat Naya duduk di hadapannya.
Naya menggeleng pelan "Biasa aja," jawabnya lalu mencepol asal rambutnya, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih.
"Oh ya, gue ambil piring sama sendok dulu ya," pamit Naya lalu berjalan menuju dapur.
Azzam menatap punggung Naya sejenak lalu menghela nafas, setelah itu ia kembali mengalihkan pandangan ke ponsel dan membalas pesan dari Audrey.
"Cewek lo ga marah lo kesini?," tanya Naya ketika baru saja sampai.
Azzam berdeham sebentar "Kagak lah," Naya menganggukan kepalanya, gue tau lo bohong Zam!
Naya tadi sempat melirik layar ponsel Azzam yang masih menampilkan kolom chat Azzam dengan Audrey. Nampaknya Azzam berbohong pada Audrey.
Audrey mengajak Azzam makan bersama, namun Azzam mengatakan bahwa ia harus menemani sang bunda di rumah karena adiknya sedang kurang enak badan dan Audrey percaya dengan hal itu.
"Btw, happy birthday Nay. Semoga panjang umur, sehat terus, bisa banggain orang tua lo, dan bisa dapet pacar yang baik," Naya berdecih pelan mendengar ucapan Azzam. Gimana bisa dapet pacar, kalo lo udah jadi milik orang lain?!!
"Yoi, makasih. Btw pesanan gue berapa nih?," tanya Naya lalu mengambil satu tusuk sate dan memakannya.
"Ga usahlah, gue yang bayarin," jawab Azzam sambil memakan nasi goreng miliknya.
"Mau nggak?," Azzam menyodorkan sendok berisi nasi goreng ke depan mulut Naya.
Naya menatap sendok itu dan membuka mulutnya, menerima suapan Azzam dengan senyuman tertahan. Dua kali gaess!!!!
Akhirnya mereka berdua makan dengan khidmat dan Azzam yang duluan menghabiskan makanannya. Azzam membereskan bekas makannya dan hendak berdiri untuk membuang sampah.
"Gausah, biar gue aja yang beresin nanti." Naya menahan Azzam agar tidak berdiri.
"Gapapa Nay, gue cuma mau buang bungkusan ini di depan kok," balas Azzam mengangkat bungkusan sisa makannya.
"Gausah gapapa, taro aja di situ." larang Naya menyurub Azzam meletakan bungkus makanannya di atas meja.
"Assalamualaikum," kedua remaja itu sontak mengalihkan pandangannya dan mendapat Regil di depan pintu.
"Waalaikumsalam," jawab Azzam dan Naya bersamaan.
Regil mengambil satu tusuk sate dan melahapnya dengan nikmat, tak menghiraukan gerutuan Naya. Sedangkan Azzam mengerutkan alisnya dengan ekspresi tak suka. Lalu kembali menetralkan ekspresinya saat mengetahui bahqa Regil adalah saudara Naya.
"Gue laper Nay, di rs tadi ga bisa makan," eluh Regil lalu meletakkan kepalanya di bahu sang adik.
Azzam yang melihat itu hanya tersenyum tipis. Sibling goals, pikirnya.
"Siapa yang sakit?," tanya Naya lanjut memakan satenya.
Naya memakan satenya dengan kepala Regil yang masih bersender di bahunya. Naya mengambil satu lontong dan menyuapkannya pada sang Abang.
"Nando," seketika Naya langsung berhenti mengunyah.
Entah kenapa dia merasa khawatir dengan keadaan Nando saat ini.
"Kok bisa?!," tanya Naya panik membuat Azzam mengernyitkan dahinya. Kenapa Naya harus khawatir?
"Kecelakaan," sahut Regil membuat Naya kaget.
"Terus keadaannya gimana?," tanya Naya khawatir.
"Lukanya lumayan banyak lah," balas Regil mengingat Nando mengalami luka goresan cukup banyak.
"Ada yang patah gak?," tanya Naya.
Regil menggeleng "Ga ada yang patah sih cuma luka luka aja," balas Regil membuat Naya sedikit lega.
"Kapan kecelakaannya?," tanya Naya.
"Tadi sore jam 4 lewat dikit kalo ga salah," balas Regil membuat Naya menunduk.
Apa Nando kecelakaan setelah mengirim pesan pada Naya? Atau Nando mengirim pesan kepada Naya untuk meminta pertolongan.
Naya menunduk merasa bersalah pada Nando. Di saat Nando kesusahan Naya justru mengabaikannya dan memilih bermain di taman bersama Azzam hingga sore tanpa menyadari bahwa Nando kesakitan di rumah sakit. Sedangkan Nando selalu ada di saat Naya sedih dan terpuruk.
Harusnya tadi Naya langsung membalas pesan Nando. Naya menyesal sekarang.
Azzam menunduk, siapa Nando sebenarnya? Mengapa Azzam merasa tak suka ketika Naya mengkhawatirkan lelaki itu?
"Gue pulang Nay," pamit Azzam dingin, setelah membuang bekas makanannya ke tempat sampah.
"Loh? Cepet banget," tanya Naya bingung.
"Gakpapa, gue pamit Bang," balas Azzam seraya berpamitan dengan Regil.
Naya beranjak dan mengantarkan Azzam sampai depan gerbang, Naya menatap punggung tegak Azzam dari belakang. Naya mengernyit, Azzam bahkan tak memperdulikannya.
"Lo kenapa?," tanya Naya ketika Azzam mulai menaiki motornya.
"Gue kenapa?," tanya Azzam datar dan.. Dingin?
"Lo marah?," tanya Naya ragu.
"Ngapain gue marah? Emang lo siapa?," Naya merasakan sesak di dadanya, kenapa Azzam dengan gampangnya berucap seperti itu.
"Ya, bukan siapa-siapa sih," jawab Naya terkekeh masam.
"Yaudah, gue pulang," pamit Azzam lalu menjalankan motornya, meninggalkan Naya yang sudah menitikan air mata.
Naya tak mengerti, apa salahnya? Kenapa Azzam selalu berubah-ubah? Setelah menerbangkannya, Azzam kembali menjatuhkannya dengan kalimat 'Emang lo siapa gue?,'.
Naya mengusap airmatanya lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Kemudian ia masuk ke dalam mendapati Regil yang memejamkan matanya.
"Terus sekarang Bang Nando siapa yang jagain?," tanya Naya membuat Regil membuka matanya.
"Mak bapaknya lah, siapa lagi?," balas Regil membuat Naya mengangguk.
"Ya kali aja di jagain cewenya," balas Naya membuat Regil mencebik.
"Gimana mau punya cewe kalo dianya aja naksirnya sama l--," Regil menutup mulutnya dan menepuk pelan bibirnya.
"Naksir sama siapa?," tanya Naya bingung.
Naya pikir Nando sudah memiliki kekasih mengingat Nando cukup tampan. Tak mungkin ada cowo setampan Nando jomblo.
"Kepo lo anak kecil," balas Regil membuat Naya meliriknya sinis.
"Gue udah gede ya," ujar Naya tak terima di katain anak kecil.
"Cowo yang tadi tuh siapa?," tanya Regil.
"Azzam," balas Naya.
"Pacar lo?," tanya Regil lagi.
Naya menggeleng pelan "Temen," balas Naya.
Regil tersenyum jenaka "Temen apa temen?," goda Regil membuat Naya memberengut kesal.
"Temen doang, lagian dia udah punya cewe." balas Naya membuat Regil ngangguk-ngangguk tidak jelas.
"Bagus-bagus," gumam Regil membuat Naya mengernyit
"Bagus kenapa?," tanya Naya bingung.
"Ya bagus kalo lo ga sama dia," ujar Regil membuat Naya tambah bingung.
"Kenapa emang?," tanya Naya.
"Mukanya ngeselin, muka-muka suka nyakitin cewe." balas Regil lalu berdiri.
"Gue ke atas dulu, mau mandi terus tidur." pamit Regil mencium pipi Naya sekilas.
Naya berteriak lalu mengusap pipinya yang menjadi sasaran empuk bibir Regil. Bukannya jijik, Naya hanya geli ketika Regil menciumnya tiba-tiba. Apalagi Regil jarang mencium pipinya.
Kemudian Naya tersadar dengan ucapan Regil tadi.
'muka-muka suka nyakitin cewe'
Naya terkekeh mengingatnya namun juva menyetujui ucapan sang abang karena ada benarnya juga. Azzam sudah menyakitinya. Eh, mungkin Azzam tak berniat menyakitinya, Naya sakit karena ekspetasinya sendiri.
Naya menghela nafas lalu memngambil bungkus bekas makanannya lalu keluar untuk membuangnya di tempat sampah. Naya sekalian menggembok pagarnya karena Regil sudah pulang dan jam sudah menunjukan pukul 22.25.
Naya masuk dan meletakan gelas bekas ia dan Azzam di atas nampan lalu membawanya ke dapur. Setelah membersih tempat makannya, Naya segera naik ke kamar.
Naya mengambil ponselnya di atas nakas dan membuka ponselnya. Naya membuka aplikasi chatting dan membalas chat Nabila. Gadis itu mengerutkan dahi melihat kolom chatnya dengan Nando. Laki-laki itu hanya membaca pesan Naya tanpa ada balasan lagi.
"Apa bang Nando marah sama gue?," gumam Naya menghela nafas.
✨✨✨
Naya berjalan menyusuri koridor dengan wajah muram, memikirkan sikap Azzam yang berubah-ubah membuat moodnya jelek, di tambah lagi ia sedikit khawatir dengan keadaan Nando di rumah sakit. Nando juga belum membalas pesannya dari kemaren.
Naya berdecak kesal, apa Nando marah dengannya? Mengapa ia tak membalas pesan Naya? Ingin bertanya pada Regil tapi Naya gengsi.
Naya merasa bahunya di rangkul seseorang, ia menolehkan kepalanya cepat dan menemukan Abel tersenyum ceria, di belakangnya ada Bela.
"Pagiii!!," ujar Abel bersemangat yang di balas dengan anggukan lesu oleh Naya.
"Kenapa lo?," tanya Bela lalu berjalan di samping kiri Naya.
"Pusing," jawab Naya asal. Tapi Naya memang pusing memikirkan Nando dan Azzam.
"Azzam lagi?," Bella bukannya tidak tahu perasaan sahabatnya ini, bukan hanya Bella yang lain pun begitu. Hanya saja mereka berpura-pura tidak tahu.
"Lo tau?," tanya Naya sedikit kaget.
"Sebenarnya lo anggap kita-kita ini apa sih Nay? Ya gue tau kita bersahabat baru setahun, tapi kenapa lo harus nutupin hal ini coba?," tanya Abel sedikit cemberut.
"Terkadang, orang juga punya privasi kali Bel, meskipun sama sahabatnya sendiri," bantah Bela membuat Naya tak enak hati.
"Maaf, gue cuma nggak mau nyusahin kalian karena perasaan gue yang sepihak ini," lirih Naya.
"No!," bantah Abel dan Bela setengah berteriak.
"Perasaan lo nggak sepihak, karena Azzam juga punya perasaan yang sama kayak lo," sambung Bela membuat Naya menunduk. Kalo Azzam memiliki perasaan yang sama, kenapa semalam dia menunjukkan bahwa semua yang sahabatnya omongin tadi tidak benar?
✨✨✨
Tbc
Thanks for read❤