FZ | 19

1390 Words
-happy reading- --- "Gue mau nanya deh sama lo," Azzam menoleh menatap Nabila yang juga menatapnya "Siapa cowok yang naksir sama Naya?," tanya Nabila membuat Azzam terkejut. Azzam menaikan satu alisnya "Lo tau dari siapa kalo ada yang naksir sama dia?," Nabila terkekeh dan memukul pelan kepala Azzam "Si Naya cerita b**o!," jawab Nabila sedikit nge gas. Naya tuh kalo ada apa-apa emang ceritanya ke Nabila. Ibaratnya, udah ga ada lagi rahasia di antara mereka berdua. Naya menceritakan semua apa yang dia alami pada Nabila, begitupun Nabila. Kedua remaja itu saling terbuka satu sama lain. Namun hanya mereka, tidak dengan teman-temannya yang lain. Azzam meringis pelan sambil mengusap kepalanya. Nabila tuh kalo mukul ga sakit, tapi perih aja gitu. "Gue bakal ngasih tau siapa cowok yang naksir sama dia. Tapi, lo harus lebih dulu ngasih tau gue siapa cowok yang Naya taksir sekarang, gimana?," Nabila tampak berpikir sejenak kemudian dia menganggukan kepalanya menerima tawaran Azzam 'maafin gue Naya!! 'Batinnya. "Jadi, siapa cowok yang Naya taksir sekarang?," Nabila menghembuskan nafasnya pelan. "Lo," Nabila dapat melihat raut terkejut di wajah Azzam. "Maksudnya?," tanya Azzam bingung. "Cowok yang Naya taksir itu elo Azzam!! Dia bahkan naksir lo dari kelas 10," ujar Nabila sedikit kesal. "Udah puas kan lo?! Sekarang kasih tau gue!!," tagih Nabila meminta jawaban Azzam. "Gue, orang yang naksir Naya itu gue Bil," Nabila memekik seraya menutup mulutnya. "Tapi lo baru aja jadian sama Audrey seminggu yang lalu!! Gimana bisa lo naksir Naya?!!," tanya Nabila seraya menatap Azzam. "Gue naksir sama dia sejak kepindahan gue kesini, gue kira itu perasaan biasa. Tapi, lama kelamaan perasaan itu makin jelas," jelas Azzam membuat Nabila menggelengkan kepalanya tak percaya. "Terus kenapa lo nembak Audrey Bambank?!!," kesal Nabila. "Waktu Randy bilang ada cowok yang mau nembak dia, itu sebenarnya gue. Tapi ditolak sama Naya karna katanya ada acara keluarga. Sampai gue mutusin buat ngajak lu pada jalan ke kedai es krim waktu itu. Nah, terus gue ngeliat Abian megang bibir Naya. Terus gue cemburu, gue marah, gue pikir Naya bohong kalo dia bilang ada acara keluarga. Dengan emosi yang masih ada di diri gue, gue mutusin pulang kerumah dan ketemu Audrey di pinggir jalan. Dan begonya gue justru langsung nembak dia saat itu juga, yang sialnya di terima sama dia," jelas Azzam panjang lebar. "b**o!! Dan lu tau Naya sekarang ga turun sekolah karna apa?!!,". "Karna sakit?," "Itu alasan kedua!!," "Jadi?," "Menghindar dari lo!!," "Lo berdua tuh sama-sama ga peka anjir, sama-sama g****k! Tapi lo lebih g****k! Lo gila apa gimana kalo si Naya naksir sama Abian, jelas-jelas dia deketnya sama lo!," omel Nabila gregetan. Nabila berdecak memukul Azzam berulang kali karena gemas, kenapa dua orang ini sangat tidak peka?! Nabila pikir Azzam sudah mengetahui perasaan Naya. Namun apa? Laki-laki itu justru mengira Naya menyukai Abian. "Naya pernah bilang kalo dia lagi naksir sama cowo yang inisialnya 'A'." ujar Azzam pelan. "Terus?," tanya Nabila menunggu Azzam menyambung ucapannya. "Gue kira A yang di maksud sama Naya tuh Abian," sambung Azzam membuat Nabila hampir berteriak kesal. "A yang di maksud Naya tuh Azzam anjir Azzam!!!!," ujar Nabila gregetan. "Ya kan gue ga tau Bil," balas  Azzam dengan polosnya. "Udahlah anjir terserah lo aja udah! Capek gue capek!!!,'' Naya menghembuskan nafasnya kasar, ingin rasanya memarahi Nabila yang dengan santainya memberitahu Azzam perasaannya saat ini. Tapi, ia baru menyadari kalo Nabila tidak kembali ke tempatnya duduk, Naya menatap suasana taman yang ada di komplek rumahnya. Pasti Nabila kabur!! Tadi Naya bersama Nabila di taman. Namun setelah menceritakan hal tadi, gadis itu izin pergi membeli minuman. Namun sudah 10 menit, Nabila tak kunjung datang. Pasti Nabila melarikan diri karna ia tau bahwa Naya akan memarahinya. "Bila b**o banget sih!!!," gumam Naya memukul kepalanya berulang kali. Naya berdecak kesal, jadi sekarang Azzam sudah mengetahui perasaanya? Tapi Naya tersenyum tipis, setidaknya Naya tidak perlu repot-repot confess kepada Azzam lagi. "Jangan di pukul dong kepalanya," seorang cowok menahan lengan Naya, membuat gadis itu mendongak kesal. "Azzam!!," pekik Naya kaget dan langsung menutup wajahnya yang memerah. Kaget banget ya neng?? "Kaget banget sih Nay," ujar Azzam terkekeh lalu duduk di samping Naya. Naya menggerutu dalam hati, jelas saja ia kaget karena sudah beberapa minggu ini Azzam menghindarinya dan sekarang tiba-tiba muncul seolah ga terjadi apa-apa. Naya menggeser sedikit tubuhnya "Ya kagetlah!! Kan beberapa minggu ini lo menghindar dari gue," sindir Naya membuat Azzam terdiam. "Sorry," Naya mencibir pelan. "Sorry aja ga cukup buat gue,". "Terus lo mau apa?," "Beliin seblak super pedes di sono!," pinta Naya sambil menunjuk penjual seblak di pinggir taman. Azzam mengangguk dan pergi meninggalkan Naya, disaat itu juga Naya menghembuskan nafasnya lega. Bersama Azzam membuat jantungnya ingin copot saja!! ✨✨✨ Azzam menatap gadis yang sedang memakan seblak yang baru saja di belinya dengan perasaan yang tak bisa di artikan. Dia mencintai Naya, ah tidak! ia bahkan sudah menyanyangi Naya. Azzam menunduk mengingat omongan Nabila tempo lalu, Naya terlalu pintar menyembunyikan perasaannya. Azzam menunduk pelan, membayangkan rasa sakit yang Naya rasakan saat mengetahui hubungannya dengan Audrey. "Jangan natap gitu!!," ujar Naya malu membuat Azzam mengacak gemas rambutnya. "Gemesin," ujar Azzam tanpa sadar. "Apa?," beo Naya membuat Azzam menggaruk tengkuknya tak gatal. "Gue pengen seblak," ujar Azzam menatap seporsi seblak yang ada di tangan Naya. Azzam memajukan tubuhnya membuat Naya refleks mundur lalu tertawa pelan sambil geleng-geleng kepala. Naya mengambil satu seblak menggunakan tusukan sate dan menyuapkannya ke mulut Azzam. "Enak ga?," tanya Naya melihat wajah Azzam yang sedang mengunyah. Enak lah! Kan di suapin hehe. "Enak," jawab Azzam lalu meminum minuman Naya. Naya tersedak ketika melihat Azzam menyentuhkan bibirnya dengan bibir botol air mineral miliknya. Ciuman ga langsung sama Azzam dong!!!! Azzam menepuk pundak Naya dan memberikan botol air mineral Naya yang sudah sisa setengah. "Pelan-pelan dong, Nay," ujar Azzam sambil mengelus pundak Naya. Naya terdiam, apakah Azzam benar-benar memiliki perasaan yang sama dengannya. Sejujurnya ia senang, Azzam yang ia rindukan sudah kembali. Tapi, satu yang membuatnya sedih, Azzam sudah menjadi milik orang lain. "Kenapa muka lo sedih gitu?," tanya Azzam. Naya menggeleng, ia harus bersikap seolah-olah tidak mengetahui perasaan Azzam kepadanya agar Azzam tidak merasa canggung berada di dekatnya. "Main ayunan kuy!!," ajak Naya lalu berjalan santai ke arah ayunan yang di sediakan di taman tersebut. Azzam menatap punggung Naya, kemudian ikut berdiri dan berjalan disamping Naya. Azzam tersenyum miris, kenapa gadis di sampingnya ini sangat pandai menyembunyikan perasaannya? Mengapa juga ia dengan mudah memaafkannya, padahal ia sudah menyakiti hatinya. Ingin saja Azzam mengatakan bahwa ia sangat menyayangi gadis ini, tapi entah kenapa lidahnya terasa kelu saat ingin melakukan hal itu. Azzam menatap Naya yang sudah duduk di ayunan itu, kemudian ia tersenyum ketika melihat Naya mendorong ayunan itu menggunakan kakinya. "Adek umur berapa dek?," tanya Azzam kemudian memegang tali ayunan yang Naya duduki dan mendorongnya dengan pelan. Naya mendongak dan menatap dagu Azzam. "Umur 5 tahun kak," balas Naya lalu tertawa. "Kenceng-kenceng!!," sambung Naya lagi. Azzam tersenyum jahil kemudian mendorong ayunan yang Naya duduki dengan kencang, membuat Naya berteriak ketakutan. "AZZAMMMM HUWAAA BUNDAAA NAY TAKUTTTT!!!," teriak Naya memegang tali ayunan. Azzam berlari kedepan ayunan "Nay lompat ntar gue tangkep!," perintah Azzam membuat Naya menggelengkan kepalanya takut. "Takut!! Ntar jatuh," rengek Naya, berharap ayunan ini segera berhenti bergerak. "Nggak bakal!! Percaya sama gue," Naya memejamkan matanya dan segera melompat ketika ayunan itu ter-ayun kedepan. Naya pikir ia akan merasakan bagaimana kerasnya aspal, namun nyatanya ia merasakan tubuh hangat seseorang yang memeluknya. Naya membuka matanya dan mendongak untuk menatap Azzam yang juga menatapnya dengan tatapan khawatir. Keduanya saling memandang tanpa ada yang mau memutuskan kontak mata itu, bayangan Audrey seketika muncul membuat Naya segera mendorong d**a bidang Azzam. "Lo nggak papa kan?," tanya Azzam khawatir. "Sa-santuy," jawab Naya sedikit gugup. Azzam tersenyum tipis, melihat wajah Naya yang merona karna ulahnya begitu menggemaskan. "Gue berasa meluk tulang masa," ujar Azzam menatap Naya jahil. "IHH LU NGEJEK GUE YA?!!!!," pekik Naya tak terima lalu memukul lengan Azzam. Azzam tertawa lalu menahan lengan Naya yang hendak memukulnya, dan setelah ia mendapat kedua lengan Naya, ia langsung menarik lengan Naya ke belakang sehingga kepala Naya terbentur di d**a bidangnya. Naya mematung, lagi dan lagi jantungnya berdetak lebih cepat. Disisi lain Azzam pun merasakan hal yang sama. Ingin rasanya ia menghentikan waktu dan menikmati moment ini lebih lama lagi. ✨✨✨ Tbc Rasanya lupa alur itu nggak enak ya :(( Maapkan aku yang slow up guys mwehehe Thanks for read❤
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD