Part 8

1843 Words
“Eh, apa-apaan lo?”   Athaya merasakan dorongan pada tubuhnya sehingga dia terkesiap, terbangun dari mimpinya. Kepalanya pusing karena dibangunkan tiba-tiba, juga detak jantungnya menguat sebab terkejut.   Miguel sudah berkacak pinggang, marah menghadap Athaya. Kelihatannya dia juga sama-sama baru bangun karena wajahnya masih terlihat bak wajah bantal. “Apa yang gue bilang jangan nyentuh gue?” tanyanya sinis.   Pria itu marah karena saat terbangun, mereka sudah berpelukan di atas kasur. Dan egonya mengatakan kalau Athaya yang memeluk dan menerobos wilayah kasurnya, tanpa berpikir panjang kalau dia sedang berada di kasur bagian Athaya.   “Ngelunjak ya lo. Mulai besok kita bakal pisah kamar. Gak mau tau gue, walau lo istri gue gak mau gue nyentuh lo. Lama-lama bakal ngelunjak kalau gue baikin terus.”    Athaya menggeleng-geleng, menjelaskan pakai bahasa tubuh kalau semalam Miguel yang melanggar batas duluan.   “Apaan sih? Lo ngejek gue hah?!” Miguel makin murka. “Ah udahlah. Sana lo siap-siap, bentar lagi nyokap lo dateng. Gue siap-siap di kamar lain.”   Miguel menyambar handuknya di gantungan baju, berniat untuk mandi di kamar lain yang ada bajunya. Suara ‘blam!’ kuat menyentak Athaya akibat Miguel membanting pintu. Wanita itu hanya bisa elus d**a.   ***   Sesuai janjinya, Angela datang sekitar jam 8 pagi—sendirian. Dewi membagikan lokasi rumahnya sehingga Angela yang menyetir sendiri tidak nyasar. Angela dan Dewi tidak sedekat itu untuk berkunjung ke rumah masing-masing hanya untuk cipika-cipiki.   “Haii, Ngel.” Dewi menyambutnya dengan pelukan singkat dan sentuhan di pipi.   “Hai, Wi,” balas Angela melirik ke dalam. “Athaya mana?”   Dewi meringis, “Aduhh, baru aja sampe udah ditanyain anaknya. Duduk dulu, itu Athaya masih di atas sama Miguel.”   “Pak Winata gak ada?”   “Iya, biasalah masalah kantor. Dia juga pengennya ikut gabung di sini, tapi ya gimana. Kerjaannya gak bisa ditinggal,” ujar Dewi. “Duduk dulu, nih Bi Arni udah masakin banyak makanan. Kebetulan juga ‘kan sering ada tamu penting jadi stok kue masih banyak.”   Angela mangut-mangut, sejujurnya tidak merasa informasi itu penting. Dewi kedengaran hanya sedang membanggakan keluarganya, padahal Angela dan keluarganya yang menolong keluarga wanita itu sampai menjodohkan anak masing-masing.   Persis seperti Dewi yang dulu, gengsinya selangit.   “Oh ya, gimana kabar perusahaan? Udah membaik?” tanya Angela. Dia mengambil kue kering di toples—sepertinya memang diperuntukkan bagi tamu.   “Kalau membaik sih udah, tapi kita belum bisa leha-leha. Suamiku kerja dari pagi ketemu pagi lagi buat perusahaan.”   “Miguel juga sampe ke luar kota demi kerjaan. Bertanggung jawab banget ya,” ujar Angela setengah menyindir. Mementingkan perusahaan demi istrinya? Kedengaran wah sekali bagi putra tunggal yang berjuang untuk menyelamatkan perusahaan, tapi nilainya nol di keluarga sang istri.   Senyum Dewi makin lebar saja—merasa kalau itu sanjungan sepenuhnya. “Ahh, biasalah anakku. Emang pekerja keras orangnya, sulit diam aja kalau gak ada kerjaan.”   “Athaya gimana? Dia baik?”   “Baik kok. Cuma ya itu, mungkin belum kenal jadi jarang ikut kumpul di bawah, ngurung terus di atas,” kata Dewi kedengaran mengadu.   Mata Angela menyipit curiga. Dia bukannya tak sadar kalau keramahtamahan teman SMA-nya itu tidak sepenuhnya murni, Dewi memang terkenal sebagai wanita yang pandai bersilat lidah. Makanya Angela ingin memastikan sendiri keadaan Athaya dengan berkunjung ke sini.   Semoga putrinya memang baik-baik saja.   Athaya dan Miguel turun bergandengan, tepatnya Athaya mengekori Miguel. Mereka menggunakan baju rumahan yang santai. Miguel tersenyum lebar bak sedang mempertontonkan rumah tangganya yang baik-baik saja.   Alih-alih memperhatikan kedua pasutri, Angela malah memperhatikan cara berjalan Athaya. Biasa saja. Itu artinya Miguel belum menyentuh putrinya menimbulkan pertanyaan, kenapa? Sudah jelas dia ada di rumah sejak semalam, alasan apa yang mendasari dia tak mengambil haknya?   “Ay.” Angela memeluk Athaya singkat, lalu mengacak rambutnya.   Athaya mendongak, lalu menegakkan masing-masing jari telunjuk sedang yang lainnya mengepal. Telunjuk kanan memutari telunjuk kiri di bagian atas. Berganti dengan ibu jari kanan menegak, menyentuh telunjuk kiri. [Kapan sampai?]   “Baru aja. Kamu baik-baik aja, ‘kan?”   “Baik dong, Ngel. Miguel ‘kan suami yang baik,” sosor Dewi merangkul putranya meski tingginya jauh beda.   Dalam hati Angela mencibir. Dewi terus saja mencoba membanggakan keluarganya dan melebih-lebihkannya, terdengar dibuat-buat dan alai.   Orang hebat tak perlu menunjukkan kualitas diri sendiri terhadap orang lain, tapi orang lain yang akan mengungkapkan betapa hebat orang itu.   Angela tersenyum kecil. “Eh, Nak Miguel tumben ada di rumah.”   “Iya, Tante. Saya sengaja libur soalnya ‘kan Tante mau datang.”   “Padahal gak usah merasa gak enak gitu, Tante gak keberatan kalau kamu tetap kerja.”   Miguel dan Dewi saling lirik, menangkap maksud tak enak dari perkataan Angela. Seolah dia tak suka Miguel ada di sana dan bolos kerja demi kedatangan Angela.   Padahal memang maksudnya begitu, Miguel bisa meluangkan waktunya saat Angela datang, tapi tak bisa cuti barang sehari untuk menjemput Athaya.   “Maksudnya?” tanya Dewi.   “Aku gak mau Miguel bolos kerja cuma karena aku mau datang. Bukan tamu penting lhoo, harusnya gak usah libur-libur gitu,” kata Angela sambil terkekeh.   “Ohh, gitu.”   “Ehm, ayo Tante kita makan dulu. Sayang kalau nanti nyisa, udah dimasakin banyak nih.”   “Yuk.”   Angela menarik Athaya untuk duduk di sampingnya, sedangkan Miguel di seberang di samping Dewi. Untunglah Miguel tak perlu duduk di samping gadis bisu itu atau mood-nya akan anjlok seketika.   “Ay, kamu mau makan sama apa?” tanya Angela. Di meja makan memang sudah tersaji banyak sekali lauk pauk, entah seberapa banyak piring. Panjang meja yang bisa menampung 8 orang itu nyaris penuh diisi makanan.   Athaya mengedikkan bahu, tak tahu harus mengambil apa. “Ayam mau?” Dia mengangguk sehingga Angela menyendokkan nasi dan mengambilkan paha ayam untuknya.   Miguel tanpa sengaja melihatnya, lalu melirik sang mama yang sibuk mengambil makan untuk diri sendiri. Seketika pria itu merasa sendu tak beralasan.   Sejak kecil, Miguel sudah kekurangan kasih sayang. Dia diasuh oleh babby sitter tanpa pernah merasakan kehangatan Dewi merawatnya. Jangankan menyiapkan nasi, di setiap hari bahagianya orang tuanya tak pernah datang.   Sibuk melamun, tau-tau Athaya menaruh piring lengkap dengan nasi dan lauk pauknya di depan. Miguel menatapnya penuh tanya, tapi Athaya tak melihatnya dan fokus makan.   “Oh ya, Athaya umur berapa?”   Athaya menunjukkan angka 2 dan 0. [20.]   “Beda enam tahun dong ya sama Migi,” ujar Dewi. “Padahal seumuran sama Hasna ya, udah saling kenal pula.”   Miguel menyikut mamanya membuat Dewi sadar kalau kedua wanita di depannya berhenti mengunyah. Aduh, keceplosan lagi. “E-eh, maksudnya Athaya masih terlalu muda, jauh bedanya gitu. Tapi ya dua-duanya yang mau baguslah.”   Wajah Angela mengeras, tak mengurangi kesebalannya pada Dewi. Dia bertanya, “Kapan kalian akan pindah ke rumah sendiri?” Pertanyaan itu ditujukan untuk Miguel.   “Kan saya udah bilang, Tan, gak mungkin sekarang-sekarang. Saya juga kasian kalau Athaya sering ditinggal sendirian di rumah, makanya di sini ‘kan ada Mama.”   “Kalau masalahnya rumah, papanya Ay bisa beliin.”   Tampaknya Angela memang ingin memancing keributan, makanya Athaya menarik ujung dress-nya dan mengusap kepalan tangan kiri dengan telapak tangan kanan terbuka. [Udah.]   Dewi membela Miguel, “Hm, bukan gitu, Ngel. Miguel cuma memikirkan Athaya, ‘kan? Ini semua demi kebaikannya.”   Angela sama sekali tak ingin mendengar keduanya, beralih pada Athaya. “Ay, menurut kamu gimana?”   [Aku mau di sini.]   Wanita dua—satu—anak itu menghela napas. “Oke. Aku gak akan ikut campur soal rumah tangga putriku, kuharap dia bahagia tanpa tekanan,” katanya. “Oh ya, boleh aku ajak Ay jalan-jalan?”   Dengan gugup Dewi menjawab, “T-tentu aja.” Namun, matanya memperingati Athaya seolah bilang, ‘Jangan mengadu.’   ***   Angela mengajak Athaya berkendara tak tentu arah, yang penting Angela ingin Athaya tidak memikirkan apa pun yang mungkin terjadi di rumah itu. “Ay, kamu beneran bahagia, ‘kan?” tanya Angela pada akhirnya setelah lama mereka terdiam.   Athaya tak langsung menjawab, memilin tangannya sebelum mengangguk.   “Gak bohong?” Kali ini dia tak berani menjawabnya, merasa tak yakin dengan pikirannya sendiri. “Kenapa, Ay? Cerita sama Mama.”   Saat membuka ponselnya, ada titik merah di sudut layar membuatnya mendesah pelan. Athaya menulis di ponselnya. Notes : Aku gugup di deket miguel ma. Dia ganteng, aku enggak. Dia tinggi, aku enggak. Dia bisa ngomong, aku enggak.   Sang mama terkekeh, memutuskan untuk memarkirkan mobilnya di bahu jalan yang lumayan sepi. “Sayang, suami kamu itu harusnya bisa menerima semua kekurangan kamu. Kekurangan itu wajar, tapi bukan untuk diratapi. Dia melengkapinya, bukan menuntut kamu jadi sempurna.”   Notes : Kalau dia gak mau?   “Biarpun dia gak mau, kamu harus tetap menjalankan tugas dan kewajiban seorang istri. Hukumnya dosa Nak kalau melawan suami.”   Notes : Kalau dianya yang gak mau aku deketin?   Kening Angela mengerut. Ini Athaya sedang mengandai-andai atau memang Miguel bersikap demikian? “Gak mau dideketin? Kenapa?”   Athaya menunduk, lalu menulis lagi. Notes : Malu.   “Kalau Miguel masih belum terbuka sama kamu, kamu yang melangkah duluan. Coba ambil hatinya, penuhi semua keinginan dan kebutuhannya. Lambat laun, dia bakal menerima kamu sepenuh hati.”   Apa mungkin bisa? Miguel mungkin tak menerimanya karena bisu, lalu Athaya harus bagaimana? Mengharapkannya saja dia tak begitu berani.   Angela mengelus rambut Athaya membuatnya menatap sang mama. “Ay, tapi kalau dia udah main tangan dan kurang ajar, kamu harus kasih tau Mama. Detik itu juga Mama akan jemput kamu.” Athaya mengangguk pasti, tapi dalam hati meragukannya.   Mungkinkah suatu saat nanti dia terlalu lelah mengharapkan suaminya, lantas Athaya bisa mengatakan semuanya?   ***   “Siniin hape lo.”   Tanpa tanya lagi, Miguel merampas ponsel Athaya di tas kecilnya dan mengotak-atik benda sejuta umat itu. Rupanya sebelum Athaya pergi, dia menyalakan perekam suara untuk mendengarkan apa saja yang dibicarakan mereka.   Miguel mendengarkan dengan seksama, alis matanya menukik serius. Dia langsung menatap Athaya saat mendengar jeda Angela berbicara, lalu topik pembicaraannya sudah berbeda.   “Apa yang lo bilang?” tanyanya mencengkeram lengan Athaya. “Ini apa yang lo bilang?!”   Takut-takut Athaya mengambil ponselnya di tangan Miguel, membuka aplikasi catatan. Dia tak sempat dan tak berniat menyimpannya, tapi aplikasi itu otomatis menyimpan sendiri. Setelah itu menunjukkan ketikannya pada Miguel.   “Maksud lo apa ngomongin gue gini ke nyokap lo hah? Lo gak berhak.”   Miguel hendak pergi, tapi tak jadi dan kembali menghadap Athaya. Bahkan wanita itu tak diberi kesempatan mandi dan berganti baju sehabis jalan-jalan dengan Angela. “Oh, gue lupa nyampein sesuatu yang penting.”   “Pertama, lo gak usah ngarep gue bakal serius nikah sama lo. Seperti yang lo tau, lo gak lebih dari aset keluarga gue buat dapetin suntikan dana.”   “Kedua, pernikahan ini gak akan bertahan lama. Paling lama satu tahun, tapi gue bertaruh enam bulan lo udah gak nyaman.”   “Dan ketiga, lo gak lebih dari perusak hubungan orang. Gue sebelumnya dan sampe saat ini masih tunangan. Tunangan gue namanya Viona, jauh lebih cantik dan sempurna daripada lo. Jadi lo ingat batasan lo, kita gak akan pernah kayak pasutri biasa,” kata Miguel tajam, tak mempedulikan reaksi Athaya dan langsung keluar kamar—meninggalkannya.   ***   Gimana? Udah makin jengkel sama Miguel? Waktu dan tempat dipersilakan untuk menghujat.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD