Miguel datang di siang hari setelah telat satu hari menjemput Athaya. Dia tidak memberi tahu Gabrian atau Angela sama sekali, dengan tanpa malunya datang ke rumah Gabrian.
Tidak tahu saja keluarga itu apa yang dia lakukan semalam.
“Siang, Om,” sapa Miguel menyalami Gabrian. Angela dan Hasna juga ada di sana, kebetulan sedang kumpul makan siang. Athaya masih di atas, belakangan ini memang sering telat bergabung.
“Sudah selesai urusannya?” tanya Gabrian, jika Miguel sadar sedang menyindirnya.
“Sudah, Om. Baru aja selesai pagi tadi, saya langsung kemari.”
“Boong banget,” cibir Hasna mendelik, lalu menyuap suapan besar pendukung kesalnya.
“Ya sudah. Kamu ke atas aja ya, Athaya masih siap-siap kayaknya,” saran Angela.
Miguel mengangguk, mau tak mau pergi ke lantai dua. Seperti yang diduganya, rumah ini tidak semewah dan seluas rumahnya. Tidak ada barang antik atau terkesan mahal, hanya banyak foto keluarga lengkap dengan 4 formasi.
Di pintu, menggantung tag kamar ‘Athaya’ sehingga Miguel langsung menekan kenop pintu dan mendorongnya. Kesan pertama yang dia dapat adalah girly, kamarnya didominasi merah muda. Ck, ini keluarga kaya beneran enggak sih? Miguel tidak melihat kesan mewahnya sama sekali.
Tatapannya jatuh pada wanita yang duduk di meja rias—melamun. Di belakangnya terdapat koper hitam ukuran sedang sudah siap tertutup rapat. “Ngapain bengong di sana? Buruan turun, gue gak punya banyak waktu,” decak Miguel berkacak pinggang di pintu.
Sia-sia Miguel bertanya, memangnya apa yang akan dia dapat? Athaya hanya menoleh sekilas, lalu kembali mematut cermin.
Miguel inisiatif—tepatnya cari muka—dengan membawakan koper Athaya ke bawah. Mempertahankan kesan menantu idaman itu penting, apalagi agar kerja sama ini bertahan lama.
Athaya menarik baju lengannya saat Miguel hendak menggeret koper sehingga pria itu berhenti dan menoleh sebal. Athaya mengetik : Notes aku mana?
“Ketinggalan di rumah. Udahlah, notes buluk gitu aja ditanyain. Ntar gue beliin yang banyak, sedus kalau lo mau.” Miguel menyentak lengan Athaya sampai terhempas, lalu keluar membawakan kopernya.
Athaya melirik lagi foto keluarganya di meja rias, titik fokus yang sejak tadi dia tuju. Mulai hari ini, dia akan meninggalkan rumah yang hangat dengan keharmonisan. Apa di rumah Miguel dia akan merasakan hal yang sama? Atau Athaya punya kesempatan menciptakannya sendiri?
Sekali lagi di depan pintu, Athaya merekam semua detail kamarnya. Setiap jengkal kamar ini memiliki kesan tersendiri membuatnya sulit untuk pergi, tapi tak berhak menetap. Sekarang dia sudah jadi istri seseorang, artinya ada orang lain yang harus dia turuti perintahnya.
“Tuh, Athayanya udah turun. Sini, Sayang,” panggil Angela menyuruh Athaya mendekat. Ada Gabrian dan Hasna juga di sana, tak lupa Miguel yang menggenggam pengeret kopernya.
Ibu dua anak itu mengelus rambut Athaya. “Baik-baik ya kamu sama Miguel. Jadi istri yang baik, jangan suka melawan suami.” Athaya mengangguk.
“Kalau dia macam-macam, inget, tendang aja anunya,” kata Hasna mendapat pelototan dari Angela.
“Hush! Kamu ini ngajarin yang gak bener.”
“Ih, bener, Ma. Dia itu cowok gak baik sejak kuliah.” Hasna mendelik terhadap Miguel. Lihat, di depan orang tuanya cowok tengil itu tak bisa berbuat apa-apa.
“Nak Miguel, jangan dengerin Hasna ya.”
“Iya, Tante. Dia emang gitu sejak kuliah,” kata Miguel, mengambil sebelah tangan Athaya untuk digenggam. “Saya sama Athaya pamit ya, Tante. Masih aja urusan juga, takutnya nanti telat nganter Athaya.”
“Kamu masih belum cuti?” tanya Gabrian heran. Seharusnya perusahaan memberikan cuti pernikahan, terlebih Miguel salah satu orang penting. Mudah mendapatkan izin di saat Papanya sendiri yang memimpin.
“Belum, Om. Sekarang ‘kan keadaan perusahaan lagi genting, lebih baik nanti saja ambil cutinya saat semua sudah membaik,” alibi Miguel. “Oh ya, Om, Tan, berhubung keadaan perusahaan sedang tidak baik, Miguel belum bisa beli rumah sekarang. Mungkin Athaya bisa tinggal bersama Mama dan Papa, supaya Mama ada temen juga.”
“Apa gak sebaiknya Athaya masih sama kami dulu?” Angela mengusulkan. Dia masih merasa tak enak dengan keluarga Dewi walau dia itu temannya dulu—teman jauh sih.
“Ma, Ay sudah nikah sekarang. Baiknya kalau dia ikut suami walau Miguel sedang sibuk,” kata Gabrian.
“Boleh besok kami mampir?”
Miguel melirik Athaya sekilas, lalu menjawab, “B-boleh, Tante.”
Angela memeluk putrinya yang akan meninggalkan rumah, Athaya terkesiap saking tiba-tibanya. “Mama pasti bakalan kangen sama kamu,” gumam Angela, lalu melepaskan pelukannya.
Giliran Hasna yang memberikan pelukan perpisahan pada adiknya. “Aku juga, Ay. Inget, tendang aja anunya.” Athaya tersenyum, tapi menggeleng-geleng mendengar saran kakaknya itu.
Gabrian tidak ikut memeluk Athaya, tapi hanya mengacak rambutnya. Athaya tersenyum, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat hatinya menghangat. “Bahagia ya, Nak. Kamu masih tetap bagian dari keluarga ini.”
Athaya membuka menegakkan jari-jari tangan kanannya, lalu meletakkan di bawah dagu dan menariknya ke depan. Isyarat terima kasih. Gabrian mengangguk.
“Yuk berangkat.”
Miguel menarik tangan Athaya keluar, sudah cukup melihat drama keluarga itu. Mereka seolah-olah akan berpisah lama, padahal masih satu kota. Angela juga besok mau ketemu, ya udah lah.
Senyum Miguel langsung lenyap begitu masuk mobil, raut wajahnya berubah datar sepenuhnya. Sorot matanya tajam, tatapan yang biasa Athaya dapatkan.
Saat mobil sudah bergerak maju, Athaya menarik-narik ujung baju Miguel. “Apaan sih? Ganggu aja lu bisanya,” umpatnya.
Athaya mengetikkan : Notes aku.
“Lu ganggu gue nyetir cuma karena buku buluk lo doang? Lo mikir gak kalau kita kecelakaan gimana, hah?!” bentak Miguel marah. Rasanya puas bisa melampiaskan amarahnya yang sejak tadi ditahan.
Athaya menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk lingkaran sedangkan jari yang lain menegak, meletakkannya di pipi dan mendorongnya maju. [Maaf.]
“Apaan sih lu kagak ngerti gua. Diem kalau enggak lo gue turunin di jalan.”
Athaya mengangguk pelan, menunduk dalam-dalam. Dia paling takut jika sudah dibentak karena Gabrian tak pernah membentaknya dengan nada tinggi, jika marah hanya menegurnya dengan nada rendah.
Tapi apa yang Miguel pedulikan jika tahu? Malahan mungkin akan dengan sengaja membentak agar Athaya tidak betah dan dengan sendirinya minta cerai.
Sampai di rumah Miguel, Athaya hanya melihat ke jendela. Rumah Miguel jauh lebih besar disertai taman luas dan lahan untuk parkir. Tapi Athaya tak banyak melihat-lihat, dia mengikuti Miguel masuk ke rumahnya. Pria itu masih berbaik hati membawakannya koper ke dalam.
Di pintu, Dewi menyambutnya—entah sungguhan atau hanya pura-pura hangat. Sedangkan Winata tak mau repot-repot, fokus pada laptopnya dan mengurusi pekerjaan kantor.
“Halo, Athaya,” sapa Dewi. Dia memeluk Athaya singkat.
Miguel merotasikan bola matanya malas, lalu mencibir, “Gak usah pura-pura kali, Ma. Dia gak akan berani ngadu kok.”
Dewi menatap Athaya. “Kamu gak akan ngadu ‘kan sama orang tua kamu?”
Athaya menggeleng, sekejap merasa takut dengan nada yang terdengar dari Dewi. Lembut, tapi seolah menyimpan bahaya di baliknya. Baru Athaya sadari kalau rumah ini begitu dingin, tak hangat seperti rumahnya. Dewi tak akan pernah menjadi seperti Angela dan Winata tak akan pernah seperti Gabrian.
Apa keputusannya datang ke rumah ini adalah pilihan buruk?
Sang mertua menepuk-nepuk puncak kepala Athaya. “Bagus. Jadi menantu yang baik atau kamu akan menyesal,” ancamnya mengintimidasi. “Migi, anter dia ke kamarnya.”
Miguel menyentak koper hingga menubruk Athaya. “Tuh, kamar lo yang itu. Bisa jalan sendiri ‘kan? Lo gak lumpuh, ‘kan?” sinisnya menunjuk kamar di dekat tangga. Tak peduli kalau istrinya akan kesulitan membawa koper itu ke lantai dua.
Athaya menggeleng meski Miguel tak melihat karena sudah pergi bergabung dengan kedua orang tuanya di ruang keluarga. Susah payah Athaya menaikkan koper satu demi satu anak tangga, walau ukurannya tak terlalu besar tapi Athaya membawa banyak pakaian di dalamnya.
“Migi, kamu jangan jahat-jahat sama dia. Gimana juga karena dia perusahaan Papa bisa kebantu,” ujar mertuanya. Sontak Athaya berhenti melangkah, diam di tempat untuk mendengar percakapan keluarga barunya itu.
“Ya abis udah gagu, ngeselin banget. Gegara buku buluk juga sampe ngerecokin pas nyetir,” gerutu Miguel. “Udahlah, istri pajangan doang kok. Calon istri aku ‘kan tetap Viona.”
Athaya tak mengerti kenapa dia harus sakit hati, tapi rasa sesak menyerbu dadanya. Sakit sekali, patah hati hebat yang pernah dia rasakan. Perasaan apa ini? Kenapa rasanya sakit sekali?
Bahkan air mata sudah berkumpul di ujung matanya, tapi Athaya mendongak agar tidak menetes. Dia tidak punya perasaan terhadap Miguel, seharusnya dia baik-baik saja mendengarnya.
Wanita itu teringat sesuatu. Viona, apa dia yang waktu itu bersama Miguel di mall?
***
Puas dengan tangisannya di kamar mandi, Athaya membasuh muka untuk menyamarkan bekas menangisnya. Tak berpengaruh sih, toh sejak siang tadi Miguel tidak ke kamar sama sekali. Dan ini sudah malam, jujur saja Athaya lapar tapi segan untuk turun ke bawah.
Untuk mengalihkan pikirannya akan lapar, Athaya bermain ponsel. Membuka sosial media anonimnya atau sekadar memainkan gim. Lalu satu chat muncul di pop-up notifikasinya.
Kakak : Ay, vc yuk.
You : Boleh tapi notes aku gak ada
Kakak : Mama sama Papa kangen ini /emoticon sedih
You : Okee
Sebelum mengangkat telepon Hasna, dia memastikan kalau mata dan hidungnya sudah tidak memerah. Angela itu sangat peka dengan wajahnya, maka Athaya harus bersikap sebaik mungkin agar mereka tidak curiga.
[“Athayaaaa yuhuuuu aku kangen sama kau.”] Suara cempreng Hasna langsung terdengar begitu Athaya menggeser tombol hijau. Tampaknya mereka sedang berkumpul di depan televisi, kegiatan rutin keluarga di mana Athaya sering ikut. Dia merindukannya.
Athaya menunjuk dirinya sendiri, lalu menegakkan masing-masing telunjuknya dengan jari lainnya terkepal. Membenturkan telunjuk kanan dan kiri sambil digerakkan ke samping. [Aku juga.]
[“Apa kata Ay, Pa?”] tanya Hasna pada Gabrian.
[“Dia juga.”]
[“Eh, gimana? Kalian udah malam pertama belom?”]
[“Hush! Nanyanya gitu amat kamu,”] tegur Angela menjitak Hasna membuat putri sulungnya meringis.
[“Ay udah makan?”] tanya Gabrian.
Belum, dia belum makan. Athaya benci bohong, tapi dia tak mungkin jujur dan memperkeruh suasana. Keluarganya akan berpikiran negatif tentang keluarga Miguel. Alhasil Athaya mengangguk pelan.
Mata Angela menyipit. [“Muka kamu kayak pucet. Kenapa?”]
Athaya menunjuk dirinya sendiri, lalu membuat simbol L pakai jari di sudut matanya dan menunjukkan isyarat tidur dengan telapak tangan di samping telinga. [Aku bangun tidur.]
[“Eh, si cowok buluk ke mana? Kok gak ada di kamar?”]
Wanita itu menunjuk ke bawah, lantai 1.
[“Adudududu, aku bakal jadi tante,”] celetuk Hasna, Athaya mendengus mendengarnya. Di pikirannya hanya ada bayi saja.
Giliran Gabrian yang menjitak kepala Hasna. [“Hishh, mau potong uang jajan?”]
[“Enggak ih, Papa. Becanda doang, baperan amat.”] Hasna menggerutu.
“Oy, cewek ga ....” Tiba-tiba pintu kamar Athaya terbuka sontak dia menoleh terkejut. Miguel tak kalah terkejutnya melihat mertuanya ada di layar virtual, apalagi Miguel keceplosan memanggil Athaya cewek gagu. Dengan posisi Athaya membelakangi Miguel sehingga kamera langsung menyorot padanya.
Raut wajahnya langsung berubah semringah, mendekati Athaya dengan senang hati bak sedang dimabuk cinta. “Eh, Om, Tante.”
Wajah garang Hasna terlihat jelas di layar. [“Manggil Athaya apa lo barusan hah?”]
“Enggak, orang gue manggilnya Athaya. Iya ‘kan?” tanya Miguel pada Athaya, di bawah tangannya mencubit wanita itu untuk bekerja sama. Spontan Athaya mengangguk.
[“Eh, lu mau malam pertama kapan?”]
[“Hasna!”]
[“Ih, Mama sama aja kayak Papa. ‘Kan aku kepo, Ma, pengen cepet-cepet punya keponakan juga.”]
[“Tapi gak baik nanya begitu, Hasna.”]
[“Iya, iya. Gak bakal lagi,”] gerutu Hasna. Haish, kepalanya benjol lama-lama dijitak mulu.
[“Miguel, Ay kayaknya lesu gitu. Dia gak apa-apa, ‘kan?”] tanya Angela khawatir. Layar ponsel dan penerangan yang cukup terang membuat mereka bisa melihat Athaya dengan sangat jelas.
Miguel menyentuh dahi Athaya membuat wanita itu deg-degan dan gugup. “Enggak, Tante. Badannya gak panas kok.”
[“Hati-hati ya kalau masak makanan. Ay alergi udang, terus tenggorokannya suka sakit ada obatnya bawa, ‘kan?”]
Pria itu mengangguk, dalam hati mencibir kalau Athaya itu pemilih dan lebai, dalam urusan makan saja banyak yang harus diperhatikan. “Tante besok jadi ke sini?” tanya Miguel. Penting kalau Angela jadi ke sini maka dia dan keluarganya harus mempersiapkan segalanya.
[“Jadi, tapi kayaknya Tante sendirian aja. Nih dua orang sok sibuk.”] Angela mendelik pada Gabrian dan Hasna.
[“Papa sibuk beneran, Ma. Tuh Hasna, cari uang tapi tetap minta uang sama Papa.”]
[“Ihhh, Paa. Diungkit-ungkit mulu.”]
“Ternyata Hasna manja juga ya, Om. Gak kayak di kampus, galak banget.” Miguel terkekeh pelan, menarik Athaya untuk memperhatikannya. Andai ini adalah sikap aslinya pada Athaya, dia akan menjadi wanita paling beruntung.
Hasna cemberut kesal. [“Eh lu diem ya dasar adik ipar gak ada akhlak.”]
[“Ay, udah dulu ya. Kamu istirahat gih, pasti masih capek ‘kan abis nikahan kemarin. Sekalian beradaptasi sama lingkungan baru kamu.”] Angela melambaikan tangan pada Athaya.
[“Dah Ayyy. Yang betah ya, entar kita ketemu di panti.”]
Tanpa tunggu waktu lama, Miguel segera mematikan panggilan video itu dan mencengkeram kedua lengan Athaya. “Ngomong apa aja lo sama mereka, hah? Lo gak ngaduin gue, ‘kan? Jawab!”
Athaya menggeleng, baru saja mau mengetik tapi Miguel menyelanya, “Awas kalau sampe lo macem-macem, gak akan gue biarin. Siniin hape lo.” Miguel merebut ponsel Athaya dan menghempaskan wanita itu ke ranjang. Athaya hanya bisa menunduk dan menahan tangisannya.
Miguel melakukan sesuatu pada ponsel Athaya dan menyinkronkan pada ponselnya sendiri. Lalu tak berapa lama, dia melemparkan ponsel Athaya ke ranjang. “Gue akan pantau semua chat lo, semua panggilan lo, gue bisa tau. Jadi jangan coba-coba ngadu yang macem-macem. Ngerti?!”
Athaya mengangguk patuh.
“Malem ini gua tidur sama lu. Cuma sebatas tidur, gue gak mau besok nyokap lo curiga macem-macem kalau kita ketahuan tidur pisah kamar.”
“Sana lo tidur duluan. Gue masih ada urusan di bawah.”
***
Tengah malam, Athaya terbangun karena merasa lapar dan tidurnya tak nyaman. Jujur saja, bantal yang dipakainya bau sekali. Bukan bau semacam rambut, tapi bau debu. Permukaan seprainya juga kasar membuat Athaya bertanya-tanya, kapan Miguel terakhir kali mencuci seprainya? Kok bisa nyaman tidur?
Saat Athaya berbalik, napasnya langsung tertahan. Bayangkan saja, jarak wajahnya dengan Miguel hanya beberapa senti, memajukan sedikit saja mereka sudah bersentuhan. Miguel begitu lelap dalam tidurnya.
Tanpa sadar lengan Athaya bergerak sendiri meraba wajah Miguel. Tampan sekali dengan proporsi tubuhnya yang sempurna. Bulu matanya lentik dan panjang, hidung tergolong mancung, dan alis tebal. Athaya tak bisa seenaknya menikmati di siang hari.
Bicara soal tidur, Miguel melanggar batas yang dia buat sendiri. Katanya, ‘Jangan ngelewatin batas ini atau lo tidur di luar.’ Batas yang dimaksud adalah guling yang diletakkan di tengah-tengah sebagai pembatas. Tapi Miguel sudah lewat jauh sekali dari tempatnya.
“Vionaa.” Igauan Miguel membuat Athaya tersadar dan menarik tangannya, memunggungi pria itu untuk menenangkan detak jantungnya yang berdetak tak karuan. Ahh, sakit ini lagi.
Ingat, Athaya, kamu hanya istri pajangan. Miguel hanya akan memiliki satu wanita yang sicintainya, seseorang bernama Viona.
***
Jujur ya, aku ini typo berapa kali coba ngetik Athaya Aiva-Aiva mulu. Aiva tuh tokoh sebelah, Sihir Sang Pembenci, aku belum move on makanya masih berasa daily up SSP. Sihirnya emang gak main-main nih, pantes aja duo-Di keteteran hehe.
Kuy lah, masa udah spoiler gitu gak penasaran sih? Yuk lah tap juga love yang sebelah.
Yuk love-nya loveeee. I need your loveeee. Buat aku semangat dengan love kalian hehe. Tadinya mau bikin scene mamanya datang sekalian, tapi dah kepanjangan buat yang besok aja ye.