Part 6

2542 Words
Miguel tidak ada perjalanan ke luar kota atau yang bersangkutan dengan pekerjaannya. Tujuannya tentu tak lain ke rumah Viona, seperti dugaan Dewi. Miguel butuh wanita itu sebelum harus banyak bersandiwara di depan orang-orang tentang seberapa cinta dia terhadap Athaya.   Rumah untuknya dan Athaya yang dibelikan Gabrian tak jauh dari sini, makanya jika ada kesempatan bagus Miguel bisa bebas berkunjung. Sengaja lokasinya di sana karena dekat dengan panti asuhan, kata Gabrian waktu itu. Baru Miguel tahu kalau Athaya sering ke panti asuhan.   Dan sebenarnya, dia tak peduli sama sekali dengan wanita itu.   Ting! Tong!   Seperti biasa, Viona hanya sering menerimanya sebagai tamu—juga sedikit orang yang tahu dia tinggal di sana. Saat Miguel menekan bel, artinya pria itu ingin Viona yang menghampirinya lebih dulu.   Muka sebal Viona terpampang saat pintu besar itu ditarik ke dalam. Wanita itu sudah siap tidur dengan piyamanya. Tak ada rentangan tangan yang menarik Miguel untuk memeluknya.   “Hey, kenapa?” tanya Miguel. Jas pernikahannya masih melekat, begitu pula parfum yang menyengat di pelaminan.   Viona berbalik dengan langkah kesal. Meninggalkan Miguel di ambang pintu.   “Sayang, aku butuh kamu sebelum serumah sama cewek gagu tadi,” kata Miguel mengekori sang kekasih yang tampaknya sedang merajuk. Miguel menarik Viona untuk berbalik, menahannya saat Viona memberontak ingin pergi.   Miguel menangkup pipi Viona membuat wanita itu mengalihkan tatapannya dengan bibir mencebik. “Hey, kenapa hm?” tanya Miguel lembut. Viona jarang merajuk, biasanya dia akan bersikap dewasa dan melihatnya dari sisi lain. Namun, Miguel tahu ini salahnya. Wajar kalau dia marah.   “Ya mau gimana pun aku tetap sebel, Mig. Aku serasa simpanan kamu tau gak?” gerutu Viona memainkan dasi Miguel, lalu melepasnya kaitannya.   “Siapa yang simpanan, hm? Kamu atau dia?”   “Aku.”   “Tapi pemilik hati aku ‘kan cuma kamu. Yang ketemu aku duluan ‘kan kamu.” Miguel mengambil tangan Viona, lalu mengecupnya berulang-ulang. “Dia gak akan bisa rebut posisi kamu, Sayang.”   Viona menyembunyikan senyumnya. “Ih, bisa-bisanya udah jadi suami orang masih gombal ke cewek lain.”   “Cewek lainnya ‘kan tunangan sendiri.”   “Au ah.”   Miguel tersenyum manis, lalu mengajak Viona ke meja makan—duduk di sana. Jika Miguel bisa masak, dia sangat ingin membuatkan Viona sesuatu sebagai tanda cintanya. Sayangnya dia tak bisa, jadinya Miguel membiarkan Viona memesan semua makanan yang dia inginkan.   “Apa aja? Junkfood juga boleh?” tanya Viona senang. Miguel memang sering membelikannya makan, tapi paling tidak membiarkannya makan junkfood.   “Anything for you,” balas Miguel setengah hati.   “Yes!” Tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini, Viona memesan junkfood sebanyak-banyaknya—tak peduli kalau nanti tidak habis. Apalagi membayangkan kalau Miguel akan jarang mengunjunginya membuat Viona sedang ingin makan gila-gilaan.   Sehari-hari, Viona tidak bekerja. Awalnya dia masih bekerja sebagai designer, tapi Miguel menyuruhnya berhenti—cukup diam di rumah. Semua keperluannya Miguel yang tanggung, mulai dari uang bulanan sampai transportasi. Mereka sudah seperti pasangan kumpul kebo, tepatnya Viona seperti wanita simpanan yang hanya didatangi saat Miguel ingin.   “Masih sebel?” tanya Miguel terkekeh melihat Viona makan lahap sekali, antara doyan dan kesal padanya.   Dengan mulut penuh, Viona menjawab, “Masih. Aku kesel tau. Udah lama sama kamu cuma bisa jadi tunangan, eh dia? Baru ketemu kemarin udah nikah. Kalau bukan untuk kebaikan kita udah aku putusin tau.”   “Emangnya kamu berani putusin aku?”   “Beranilah. ‘Kan yang bucin kamu.”   “Nanti aku tinggal pulang nangiss.”   Viona cemberut, meletakkan potongan pizza di kotaknya lalu memeluk lengan Miguel. “Hem, gak jadi. Udah kamu di sini aja temenin aku.”   Miguel mengelus puncak kepala Viona sambil mengecupnya sayang. “Terus gimana sama istri aku?”   “Kan kamu yang bilang, ratunya tetap aku. Jadi kamu harus lebih nurutin aku,” ujar Viona bersungut-sungut, lalu menyantap kembali berkotak-kotak makanan cepat saja sambil sesekali menyuapi Miguel.   “Siap, Sayang.”   Padahal Miguel baru saja menikah siang tadi, memiliki tanggung jawab baru dengan status yang baru. Akan tetapi, pada dasarnya dia tak suka terkekang dengan sebuah hubungan, terlebih menurutnya pernikahan ini tidak serius. Athaya hanya sebuah alat untuknya dan keluarga.   ***   Sudah sore hari, tapi Miguel tak menunjukkan batang hidungnya untuk menjemput Athaya. Wanita itu menunggunya di balkon kamar sejak siang, ingin melihat langsung sang suami datang dengan mobil hitamnya.   Hasna menghampiri adik angkatnya, tahu kalau sejak tadi dia menunggu di sana. “Ay, kapan si cowok buluk itu sampe?” tanyanya sebal. Athaya menatapnya penuh tanya—tajam. “Miguel maksudnya,” ralat Hasna, lupa kalau Athaya paling tidak suka nama suaminya diganti-ganti.   Athaya mengetik di ponselnya : Gak tau.   “Loh, kamu gak telepon dia?”   Jangankan tukeran nomor, meliriknya saja Miguel enggan. Athaya membalas : aku gak punya nomernya.   “Dia gak ngasih ke kamu?” tanya Hasna tak habis pikir, makin dongkol dengan teman sekampusnya dulu itu. Enggak heran sih, tapi Hasna lebih kasihan ke Athaya. Pasalnya ini kali pertamanya berhubungan dengan lelaki, Athaya kelihatan sekali polos dan mudah dibohongi.   Athaya menggeleng.   “Gimana sih? Istri gak dikabarin sama sekali, parah banget.”   Seperti biasa, Athaya hanya bisa menunduk dan menatap ke jalan aspal. Banyak mobil hitam lewat, tapi yang ditunggu-tunggu tak datang juga.   Pegal, Hasna duduk di kursi balkon. Berdiri sebentar saja kakinya sudah minta duduk, apa kabar Athaya yang berdiri sejak tadi. “Nanti kalau kalian udah tinggal bareng-bareng terus dia macem-macem, kamu bilang ya. Atau kalau udah kepepet banget, tendang aja anunya,” hasutnya.   Athaya menggeleng marah, lalu mengetik : Gak boleh, gak baik.   “Ya elah Ay, cowok kayak gitu gak ada baik-baiknya apa harus dibaikin?”   [Dia suami aku.]   “Iya iya. Aku gak bakal ngaku juga kok,” ujar Hasna.   Serius, Hasna takut kalau Miguel macam-macam. Athaya tak akan bilang kalau tidak dipaksa, seperti dulu saat dia di-bully di sekolah negeri biasa sebelum masuk sekolah khusus disabilitas. Walau sudah mendapatkan lebam akibat perlakuan teman-temannya yang keterlaluan, Athaya enggan bilang siapa orangnya.   Sang kakak berdiri, mengeluarkan kunci mobilnya dari saku depan. “Ikut aku yuk jalan-jalan, nanti ‘kan kamu udah gak di sini lagi. Pasti jarang banget bisa ketemunya.”   Athaya melirik sekali lagi ke jalan, seolah meyakinkan haruskah dia pergi. Namun, tetap saja Miguel tak tampak di mana pun. Akhirnya dia mengangguk, mengikuti Hasna turun ke bawah.   Sambil mendengarkan lagu yang diputar dari tape mobil, Hasna mengajaknya keliling kota, mengitari pusat keramaian dan menunjukkan gedung-gedung tinggi itu pada Athaya.   “Nah, ini namanya Museum Fatahillah. Kamu belum pernah ke sana, ‘kan? Nanti deh kalau ada waktu kita ke sana ya,” kata Hasna menunjuk bangunan besar di seberang jalan. Athaya mengangguk-angguk, menunggu saat itu tiba.   “Kita ke mana dong nih? Aku lagi pengen belanja, ke mall yuk.” Lagi-lagi Athaya mengangguk.   Sepanjang perjalanan, Athaya melihat gedung-gedung tinggi dan banyak orang berjalan di trotoar. Jendelanya di buka lebar-lebar menikmati angin yang meniup rambutnya.   Athaya jarang ke pusat kota, paling jauh ke panti. Itu pun terbilang menjorok ke pemukiman padat. Hanya sesekali bersama Gabrian sekeluarga, tapi sekarang Papanya terlalu sibuk jadi mereka jarang pergi sama-sama.   Sampai di mall, Hasna menarik Athaya ke lantai 3. Athaya memegang baju lengannya kuat-kuat saat naik eskalator. Di lantai 3, Hasna masuk ke toko pakaian, toko keempat dari eskalator.   “Ay, kamu mau beli apa?” tanya Hasna melihat-lihat pakaian, menggesernya hangernya ke kiri dan kanan untuk mencari baju yang ingin dia beli. Athaya mengedikkan bahu, tak punya keinginan spesifik. Dia ‘kan tidak niat belanja, Hasna yang mengajaknya.   Setelah mengambil dua potong baju atasan, Hasna menariknya ke bagian err pakaian dalam. “Ay, coba ini.” Hasna menyodorkan pakaian tipis berjaring, menyatu dengan bra dan celana dalam. Athaya yang melihatnya saja malu, melirik kanan-kiri untuk memastikan tak ada yang lihat, lalu menggeleng kuat-kuat.   Lingerie.   “Kenapa? Aku yang beliin kok.”   Athaya tetap menolaknya. Yang benar saja, tak akan pernah dia pakai.   “Kamu mau nyenengin Miguel, ‘kan?” bisik Hasna. Athaya meliriknya ragu, lalu mengangguk pelan. “Kalau mau, nanti pakai ini ya.”   Bagaimana bisa pakaian kurang bahan begitu menyenangkan suaminya? Sama saja dengan pakaian dalam, hanya lebih menarik. Apa bagus kalau Athaya yang pakai dan Miguel akan suka?   Hasna terus menatapnya sambil mengangguk—meyakinkan. Alhasil percaya pada pengalamannya yang lebih banyak soal pria, Athaya memasukkannya ke keranjang belanjaan. Terlalu malu kalau orang-orang tahu apa yang dia beli.   Semoga Miguel benar bisa senang dan mulai menerima Athaya.   Athaya seharian ini membiasakan diri mengetik pakai ponsel. Dia tak memakai notesnya lagi bukan karena notesnya ada di Miguel, notesnya ada banyak di rumah.Selain tak ingin Miguel marah lagi, dia juga tak ingin Hasna merasa malu kalau orang-orang tahu dia bicara lewat tulisan di notes. Makanya kalau di ponsel kayaknya tidak terlalu aneh.   Namun, Athaya tetap menginginkan notes favoritnya di Miguel.   “Ay, makan dulu yuk.” Hasna menariknya ke restoran di lantai dua. Pelanggannya tak sebanyak restoran lain makanya Hasna membawanya ke sana, Athaya sering tak nyaman bila terlalu banyak orang.   Mereka sudah memegang masing-masing buku menu. “Kamu mau makan apa?”   “Mau seafood gak?” Athaya menggeleng di balik buku menunya. “Oh iya, ‘kan kamu ada alergi udang ya?”   Tak mengerti maksudnya apa dengan bahasa Inggris, Athaya menutup buku menunya dan membiarkan Hasna memilih. “Ya udah, mashed potato aja mau?” Athaya mengangguk.   “Mbak!” panggil Hasna pada pelayan di dekatnya. “Mashed potato satu, salad satu, chocolatte dua.”   Setelah mbak itu pergi membawa pesanan mereka, Athaya bertanya : Kamu cuma salad?   “Hem, aku gak mau tambah gendut, Ay,” gerutu Hasna menekan kedua pipinya sehingga bibinya jadi maju cemberut.   Athaya tersenyum, lalu mengetik : Kamu cantik.   “Iya, Ay, tapi model kayak aku harus langsing atau enggak sepi job. Cantik aja gak cukup.”   Yahh, Athaya memang tak akan mengerti dunia penuh glamor kakaknya yang sempurna. Cantik, sukses, terkenal. Sempurna, tapi ternyata ada satu kekurangan dari kesempurnaan itu. Hasna harus membatasi asupan gizinya, terutama karbohidrat dan lemak yang menaikkan berat badannya.   Mbak tadi kembali dengan nampan berisi pesanan mereka. “Ini Kak, pesanannya. Selamat menikmati.”   “Kamu mau tambah? Ternyata isinya dikit banget, Ay,” kata Hasna saat melihat isi piring Athaya ternyata sedikit. Mungkin habis dalam beberapa suap saja. Hasna kira isinya akan banyak karena kentangnya dihancurkan, tapi ternyata kentang yang dipakai begitu sedikit.   Athaya menggeleng, langsung menyendok kentang tumbuk itu. Hasna juga menyantap salad sayurnya meski rasanya tak begitu enak demi menjaga berat badan.   “Gak nyangka ya, baru kemarin kita tiap hari sarapan. Eh, kamu udah nikah aja. Besok gak bisa sering-sering ketemu.”   [Aku masih mau ke panti.] ketik Athaya.   “Oh iya, masih bisa ketemu ya di panti. Ntar deh tiap hari aku mampir ya.”   Mashed potato Athaya sudah habis sementara salad Hasna masih tersisa banyak. Entah memang porsi makan Athaya yang sedikit atau Hasna terlalu malas memakannya.   “Yakin gak mau tambah?” Athaya menggeleng membuat Hasna meletakkan beberapa lembar uang untuk membayar makanannya ke billing. “Udah yuk. Kita belanja lagi.”   Kali ini Hasna menariknya ke toko tas, tak jauh dari restoran tadi. Seolah sudah tahu banyak tentang jenis tas, Hasna memperhatikan detail bahan tas sampai ke modelnya. “Ay, kamu mau tas?” Athaya menolak.   “Sepatu?” Athaya menggeleng lagi. Hasna berdecak, Athaya sulit sekali menemukan barang yang dia inginkan. “Maunya apa dong?”   [Buat kamu aja.]   “Kenapa sih ngetiknya di ponsel? Udah jelas kamu gak nyaman, kenapa gak di notes aja?”   [Aku pengen pake hape aja.]   “Ya udah, terserah kamu.”   Athaya mengikuti Hasna berkeliling toko itu, mencari barang yang dia suka. Selain tas dan sepatu, toko itu lengkap menjual aksesoris pria dan wanita. “Ay, kamu cari-cari deh yang kamu suka. Apa aja, aku yang bakal bayar. Aku mau ke bagian sana dulu ya, bakal banyak tanya sama pegawainya jadi kamu mending cari sendiri yang kamu suka.”   Baru saja Athaya hendak mengetikkan sesuatu, Hasna sudah menyela, “Pokoknya gak mau tau, kamu harus ambil sesuatu. Awas kalau enggak.” Dia langsung pergi dan larut dalam acara belanjanya.   Dia melihat sebuah tas berwarna violet, lalu melirik harganya. Hihh, melihat digit yang tertera membuatnya ngeri. Hanya untuk satu tas saja bisa dipakai beli bakso segerobak. Goodie bag lamanya saja sangat murah dan tahan lama.   Matanya terpaku pada rak dasi di dekat jendela besar toko. Pikirannya tertuju pada Miguel saat melihat dasi itu, dasi yang sama saat pernikahan. Apa Miguel akan senang kalau Athaya membelikan satu untuknya?   Tak sengaja Athaya melihat seseorang yang berdiri sedang memainkan ponsel di luar sana, seseorang yang dia kenal. Athaya mengucek matanya, takut salah lihat. Benar, itu Miguel. Ponsel di tangannya bergetar.   +62891******** : Gue gak bisa balik sekarang, besok gua jemput   Lho, maksudnya? Sudah jelas Miguel ada di luar sana, berarti dia sudah pulang. Lalu pulang dari mana yang Miguel maksud?   Athaya hendak menghampiri suaminya. Namun seseorang lebih dulu menggandeng Miguel sambil tersenyum lebar menenteng banyak tas belanjaan. Miguel ikut tersenyum, mengajaknya pergi.   Siapa wanita itu? Kenapa Miguel sangat mudah tersenyum padanya, tapi pada Athaya selalu sinis?   “Ay, gimana? Udah ketemu mau apa?” tanya Hasna tiba-tiba sudah ada di sampingnya. “Ish, jadi kamu belum milih?”   Hasna heran Athaya tak menggubrisnya, malah menatap ke luar jendela. Hasna mengikuti arah pandangannya, tapi hanya menemukan orang-orang berlalu lalang. “Ay? Kamu liatin siapa sih?”   Athaya menggeleng dengan tatapan kosong, meletakkan kepalan tangannya di bawah dagu dengan jari telunjuk menegak dan mendorongnya ke depan, seperti isyarat terima kasih. [Pulang.] Dia mengambil satu dasi asal dan meletakkan di keranjang yang dibawa Hasna.   “Eh, ini belanjanya gimana? Bayar dulu dong.”   ***   Malam hari Miguel juga belum datang. Athaya malas mengatakan kalau dia tak jadi datang hari ini, tanpa sengaja membuat keluarganya tetap menunggu.   “Ay, Miguel belum sampe juga?” tanya Angela melirik ke pintu utama.   Athaya meletakkan alat makannya, lalu mengetik di ponsel : Katanya belum pulang malam ini.   “Ohh, ya udah gak papa. Kamu di sini aja lama-lama dulu, Mama masih belum terbiasa kalau kamu gak ada.”   Dia tak menjawab, mengelap bibirnya dengan tisu dan menyimpan piringnya ke wastafel. Gerakannya cepat seakan terburu-buru, lalu pergi ke atas tanpa menyampaikan apa-apa lagi.   Gabrian, Angela, dan Hasna menatapnya heran. Ada yang tidak biasa dari Athaya hari ini, khususnya beberapa hari ke belakang. “Ma, Mama ngerasa Ay beda gak sih?” tanya Hasna sambil mengaduk makanannya.   “Beda gimana?”   “Kayak lebih pendiem gitu, murung-murung."   Gabrian mengangguk menimpali. “Papa juga ngerasa Ay beda sejak dijodohkan. Apa dia sebenarnya terpaksa menerima?”   “Kenapa juga harus terpaksa, Pa? Kita ‘kan gak neken dia,” kata Angela.   “Mama kayak gak tau Ay aja,” balas Hasna, menyinggung soal Athaya yang sulit bilang apa yang terjadi. “Ya terus gimana? Udah terlanjur.”   “Kita tunggu aja beberapa waktu. Kalau Athaya gak nyaman sama pernikahan ini, baru kita putuskan ke depannya bakal bagaimana,” putus Gabrian, berharap semoga ini yang terbaik.   *** Btw, kalian ngerasa gak sih bahasa yang dipakai Athaya kalau ngetik agak aneh? Aku sengaja. Bukannya bermaksud apa ya, tapi ada temenku yang juga tuna rungu, disabilitas. Ya dia kalau ngechat (maaf) kadang suka gak jelas. Cuma ini buat cerita ‘kan dan Athaya juga bisa denger sendiri, jadi ya gitu deh, masih bisa dipahami dan gak aneh banget. Cmiiw.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD