Begitu mendengar Athaya menyetujui perjodohan, tak tunggu lama lagi Dewi dan Winata segera mengajukan lamaran dan menyelenggarakan pernikahan secepatnya. Dalam waktu seminggu, lamaran dan semua persiapan pernikahan sudah selesai.
Tentu saja berlangsung secara sederhana. Sebagian besar dana Gabrian yang tanggung mengingat keadaan Winata sedang tak memungkinkan untuk mengeluarkan dana yang besar.
Hari Minggu, Athaya dan Miguel akan dinyatakan sebagai pasangan suami istri. Hanya dengan pertemuan singkat dan sebagian besar tak menyenangkan, Miguel bisa bersanding dengan putri bungsu dari pemimpin perusahaan besar yang akan menyelamatkan perusahaan Papanya dan hubungannya dengan Viona.
Walau katanya ‘sederhana’, faktanya pernikahan itu tetaplah mewah. Ruangan besar disulap menjadi aula pernikahan, didominasi warna putih. Prasmanan sepanjang enam meja terdapat di samping deretan kursi tamu, dua meja terpisah untuk dessert. Singgasananya memang cukup sederhana, tapi harganya jauh dari sederhana.
Gaun pernikahan Athaya dipilih oleh Miguel. Gaun putih panjang dengan banyak hiasan di bajunya. Mahkota kecil menghias rambut panjang Athaya, lengkap dengan gayanya yang mengikat sebagian rambutnya ke belakang sehingga hanya poni yang menutupi wajahnya.
Sementara Miguel pakaian formal standar warna putih. Tuxedo lengkap hingga sepatu pantofel pria. Tampak lebih tampan dengan rambutnya yang dipakaikan minyak rambut.
“Duhh, tamunya masih banyak lagi,” gerutu Miguel melihat panjangnya antrean tamu yang harus disalami. Tamu itu sebagian besar rekan bisnis Winata dan Gabrian.
Athaya melirik pria yang beberapa waktu lalu itu resmi menjadi suaminya, lalu menuliskan sesuatu di notes yang selalu dia bawa.
Notes : Kakak capek?
Miguel berdecak. “Ya jelaslah cape. Lo pikir berdiri seharian gak cape? Mana gue harus senyum terus lagi. Aduh, sakit nih pipi gue.”
Kalau Mama dan Papanya tak ada di sana, Miguel tak akan mau berlama-lama lagi di sini. Selain panas dan pegal, cewek gagu itu membuatnya dongkol. Sudah berapa pasang mata yang meliriknya karena Athaya menuliskan sesuatu dan menunjukkan padanya? Jangan sampai mereka tahu kebenarannya.
Mata Miguel menajam saat mendapati seseorang berkacamata hitam berdiri di belakang deretan kursi sambil menutup mulutnya. Ekspresinya sedih memandang mereka berdua. Sontak Miguel berlari mengejar wanita yang menjauh itu, mengabaikan tatapan heran para tamu dan Athaya sendiri.
“Sayang! Viona!” seru Miguel. Viona berlari ke area parkiran, tempat yang cukup sepi untuk berbicara. Miguel berhasil menarik tangannya membuat Viona memberontak dan semakin kencang menangis.
“Hey, kenapa nangis, hm?” Miguel menarik kacamatanya, mengusap air mata di pipi Viona penuh perhatian.
“K-kamu pikir liat tunangan sendiri nikah sama c-cewek lain gak sakit?” ujar Viona tersedu-sedu. Dia berusaha meredam tangisnya, tapi ketakutan kalau akhirnya Miguel mencintai istrinya membuatnya khawatir dan kembali menangis.
Miguel merangkum wajah Viona, lalu mengecup kedua matanya. Percayalah, hanya Viona wanita yang paling dia cintai, bahkan Mamanya yang terkadang licik itu tak begitu besar memberi pengaruh pada Miguel. “Maaf, Sayang. ‘Kan ini semua juga demi kita.”
Viona mendongak, mengusap kasar matanya yang memerah. “Serius ‘kan kita gak perlu putus? Gimana kalau dia ngadu?”
“Dia gak akan pernah berani. Aku pastikan itu,” kata Miguel lalu menarik Viona ke pelukannya, mengelus rambutnya sayang. Rasa cintanya masih sebesar saat kuliah dulu, tak berubah—malah semakin besar. “Udah, jangan nangis. Malaikatku ini gak boleh sedih,” bujuknya.
“Ck. Kamu bisa-bisanya gombal gini. Awas aja ke istri kamu itu kamu manis juga kayak gini.”
“Gak bakal lah, cuma ke kamu aku bisa gini, Sayang.”
Miguel bersumpah dalam hati bahwa dia tak akan mencintai atau sedikit pun mengacuhkan Athaya. Wanita itu tak berhak mendapat semua yang harusnya milik Viona. Alih-alih cinta, Athaya hanya akan dapat kebenciannya.
*
Selesai acara nangis-nangis plus janji berjanji, Miguel berjalan gontai kembali ke dalam. Akan jadi pertanyaan kalau dia keluar terlalu lama, terutama Mama dan Papanya yang sejak Miguel masuk terus memelototinya bak memberi peringatan. Kedua mertuanya serta Hasna juga mengawasinya sampai duduk di samping Athaya.
Baru saja Athaya ingin menulis untuk bertanya dari mana suaminya, Miguel berujar, “Diem. Jangan ganggu gue.”
Athaya mengangguk. Miguel sepertinya sedang dalam perasaan buruk dilihat dari rahangnya yang mengeras dan tatapannya yang menajam. Baiklah, Athaya juga tak ingin Miguel semakin marah padanya.
Hasna yang melihat ada yang tak beres ingin menghampiri adiknya, tapi Angela menarik tangannya dan menggeleng—sadar apa yang akan dia lakukan. “Huhh, oke. Aku cuma mau nawarin Ay makan, Ma.”
Tatapannya sinis setiap kali beradu dengan Miguel, masih yakin kalau pria itu memiliki niat lain dan tak sungguhan mencintai adiknya. “Ay, mau makan gak? Biar aku ambilin,” tawar Hasna. Dia melirik Miguel yang juga meliriknya. “Apa liat-liat? Gue gak bakal nawarin elo ya.”
“Gue juga gak ngarep, sih,” dengus Miguel.
Athaya tersenyum sambil menggeleng.
“Ya udah. Nanti kalau laper panggil aja ya.” Hasna menajamkan sorot matanya pada Miguel, seolah memperingatinya kalau macam-macam.
Teman-teman Miguel yang berjumlah tiga orang memasuki area panggung pengantin—hendak menyelamati Miguel selaku teman kuliah mereka dan memberi kado yang disimpan di ujung tangga panggung.
“Oy, Mig! Dah nikah aja lo, bukan sama si Viona lagi,” kata seorang pria yang pakai kemeja biru dongker. Dia mendekatkan wajahnya pada Athaya sontak membuat wanita itu mundur. “Hai, kenalan dong, cantik. Nama gue Vano.”
“Gue Fano. Hehe, canda Fano. Nama gue Ferran,” kata pria yang memakai baju batik pendek.
“Woy es kutub! Kenalan juga dong sama harimnya si Migi.”
Pria yang satu lagi mendengus. “Alvin.”
Athaya hendak menuliskan namanya, tapi Miguel merampas notesnya dan memasukkannya ke saku dalam tuksedo. Teman-temannya melongo heran dengan kelakuan pria itu. “Namanya Athaya. Udahh, lo pada sana pergi. Ngalangin orang mau salaman itu,” ujar Miguel.
“Bentarlahhh. Lagian lo tau-tau udah kawin aja,” kata Ferran.
“Hush! Bukan kawin, Fer, nikah,” ralat Vano.
“Lah emang bedanya apa?”
“Kawin itu proses ‘itu-‘itunya, Bambang.”
“Ohh, berarti nanti malem kado gue kepake yaa?”
“Emangnya lo ngado apa, Van?”
“Pelindung si little Migi dong.”
“g****k,” umpat Alvin.
Jawaban Vano mengundang tawa teman-temannya termasuk Athaya yang terkekeh tanpa suara, tapi tidak dengan Miguel. Ingatkan Miguel untuk membuang kado dari Bram.
“Lo kalau mau kasih yang gitu ke gue aja yang belom halal napa,” celetuk Ferran.
“Lah, elu beli sendiri. Ngeklub tiap hari bisa masa beli gituan aja kagak.”
“Suttt! Udah yok, tuh kasian ibu-ibu di belakang udah melototin,” kata Vano menarik kedua temannya. “Eh, istrinya Migi, selamet yak,” sambungnya sebelum meninggalkan panggung pengantin.
“Yoklah cus! Kita abisin prasmanannya.”
Setelah mereka pergi, Miguel menarik lengan Athaya mendekat. Sorot matanya setia menatap wanita itu tajam walau mereka sedang menjadi sorotan semua orang, bahkan orang tua wanita itu bisa dengan mudah melihatnya.
“Jangan nunjukin ke orang-orang kalau lo gagu. Jangan sampai reputasi gue rusak gara-gara punya istri gak bisa ngomong kayak lo,” desisnya berbisik. Athaya mengangguk patuh. “Satu lagi. Jangan sampai lo ngadu ke siapa pun kalau sikap gue begini. Kalau sampe ada yang tau, lo gue cerai. Mau?”
Wanita itu menggeleng.
“Makanya jangan coba-coba cari masalah sama gue.” Athaya meletakkan tangan di d**a, bermaksud meminta maaf. “Kalau ada kolega bisnis gue, lo senyum aja kayak orang normal. Awas kalau orang sampe tau lo gagu.”
Miguel mendorong pelan Athaya agar kembali menjauh, lalu menepuk-nepuk tuksedonya seolah-olah Athaya menghantarkan debu.
“Wahh, putri Pak Gabrian cantik ya,” puji seorang tamu. Athaya menunduk, antara senang dan sedih karena mereka tak tahu kalau Athaya memiliki kekurangan fisik.
“Iya, Jeng. Udah cantik, kayaknya baik gitu ya,” kata yang lain menimpali.
“Pak Gabrian mah emang sukses keluarganya. Tuh, Hasna aja jadi model terkenal. Ini adiknya jadi apa ya?”
Athaya semakin menunduk, diam-diam menutup telinganya. Tolong, hentikan. Dia benci seseorang berspekulasi tinggi tentangnya, tapi nyatanya begitu tahu dia bisu mereka langsung mencemooh. Athaya tak ingin Papanya yang menjadi bahan ejekan.
Miguel melihat bagaimana wanita itu terganggu, tapi dia tak berbuat apa pun. Bukan urusannya.
***
Acara selesai malam hari karena tamu yang datang lebih banyak dari tamu yang diundang. Rencana seharusnya sore sudah selesai, nyatanya saat matahari tenggelam mereka baru bisa pulang.
“Nak Miguel, nginap dulu ya di rumah?” tanya Angela. Mereka sedang di parkiran untuk pulang ke rumah masing-masing. Gabrian, Winata, dan Miguel; keluarga masing-masing berjalan ke mobil yang berbeda.
Miguel yang sudah membuka pintu mobil hendak masuk tak jadi. “Saya gak bisa, Tante. Besok harus ke luar kota,” katanya.
“Loh, tapi Ay ‘kan belum beres-beres bajunya,” Angela melirik Athaya yang tampak murung. “Emangnya kamu gak cuti?”
Dewi melirik putranya sinis. Tanpa bilang pun dia tahu ke mana tujuannya. Dan itu tak boleh terjadi, keluarga Gabrian tak boleh sedikit pun kehilangan respek terhadap mereka. “Gimana kalau nanti Migi jemput Athaya pas pulang dari luar kota aja?” sarannya.
“Terus malam pertama mereka?”
“Jeng, soal itu mah gampang. Soal ranjang itu ‘kan hak suami, jadi karena Migi belum bisa makanya ditunda aja dulu. Iya ‘kan, Athaya?” Athaya mengangguk lesu.
Angela mendesah. “Ya udah. Sebenernya saya juga belum siap melepas Ay, jadi sampai kamu pulang Athaya masih di rumah kami.”
“Ya udah, saya duluan Tante, Ma, Pa,” pamit Miguel masuk ke mobilnya, langsung tancap gas ke tempat tujuan.
Athaya juga langsung masuk mobil, perasaannya tak tenang karena Miguel terus memakai nada tajam setiap berbicara dengannya. Apa dia salah? Apa Miguel merasa bersalah karena menabrak Athaya waktu itu makanya dia kaku?
Entahlah, tubuhnya terlalu lelah untuk memaksa otaknya berpikir.
“Ish! Kesel banget sih, Ma. Emangnya Mama gak liat mereka cuma pencitraan doang? Hasna yakin kalau cowok batu itu juga gak setuju kok sama pernikahan ini, cuma demi dapet bantuan dari Papa,” gerutu Hasna di dalam mobil.
Gabrian menajamkan tatapannya lewat kaca spion pada Hasna, menunjuk Athaya dengan lirikan matanya. Angela juga mengedipkan matanya.
Ah, Hasna ikut melirik Athaya tak enak. “Em—maksudnya cowok bebas kayak gitu mana mau sih nikah muda kalau bukan suruhan orang tua? Lagian Athaya terlalu baik buat dia.”
Athaya mengisyaratkan, [Ayo pulang.]
“Oke, gak ada yang ketinggalan, ‘kan?” tanya Gabrian. Ketiga wanita beda usia itu kompak menggeleng, barulah Gabrian melajukan mobilnya.
Hasna masih melirik Athaya menyelidik. Dia yakin ada yang berubah dari Athaya, dan dia yakin kalau penyebabnya Miguel. “Ay? Tadi cowok batu itu ngomong apa aja ke kamu?”
Karena ini Hasna, Athaya mencari notes yang biasanya menggantung di lehernya. Memeriksa di saku, bawah kursi mobil, sampai jaring untuk menyimpan barang di belakang jok. Gabrian melihatnya, lalu bertanya, “Loh, Ay, notes kamu mana? Tadi ‘kan dibawa.”
Oh, Athaya baru ingat kalau tadi Miguel merampasnya. Notesnya masih ada pada pria itu.
Athaya menggeleng. [Aku lupa.] lalu memejamkan matanya, berusaha tertidur—atau paling tidak sedang tak mau ditanya macam-macam lagi. Namun, memejam hanya membuatnya makin kepikiran dengan perilaku yang suaminya.
Kenapa Miguel membencinya? Bagaimana rumah tangga mereka kalau Miguel tak juga menghilangkan kebenciannya?
***
Hayoo, udah makin benci belum sama Miguel?? Sabar, simpen dulu. Belum apa-apa nih. Siapkan aja stok sabar kalian kalau tim Athaya. Cerai aja yok, Ay. gedek lah saya sama cowok modelan kayak begitu.