Part 4

2009 Words
Setelah keluarga Winata pulang, Hasna mengeluarkan keluh kesahnya yang sejak tadi tertahan di ujung lidah. “Pa! Miguel itu bukan cowok baik-baik!” adunya, bahkan mereka masih di ruang tamu sehabis mengantar tamu-tamu itu ke luar rumah.   Gabrian mendesah, membuka kancing teratas kemejanya kegerahan. “Semuanya ‘kan Papa serahkan ke Ay. Papa gak maksa kalau Ay gak mau.”   “Pa, apa Papa gak tau sifat Ay? Kalau dia rasa ini semacam balas budi, jelas dia mau.”   Angela menoleh pada Athaya yang menunduk, menggenggam tangan gadis itu untuk menguatkannya. “Athaya. Kamu jangan merasa begitu ya, Sayang,” ujarnya memelas.   Athaya mengangguk. Dia ingin berkata sesuatu, tapi notes-nya ada di atas. Kakinya akan semakin sakit jika terus digerakkan, Gabrian juga tadi sudah menyuruhnya tak perlu ikut makan malam.   “Sebenernya Mama juga kurang suka sama keluarga mereka. Kenapa sih Papa setuju aja mereka pengen jodohin sama Athaya?” Angela bertanya, seolah berada dalam satu kubu dengan Hasna—melawan suaminya sendiri.   “Ma, gak ada salahnya coba, ‘kan? Setau Papa Miguel juga atasan yang bagus di kantornya. Dia banyak memenangkan kerja sama yang menguntungkan.”   “Pa, ini ‘kan Athaya. Athaya bukan properti yang harus Papa nilai dari segi itu.”   “Oke, Papa salah. Mau Papa tolak mereka, Ay?” tanya Gabrian pada Athaya.   Gadis itu terdiam, ditodong pertanyaan dadakan membuatnya blank. Entahlah, dia tak begitu ingin menerima, tapi juga tak ingin menolak. Walau Mamanya dan Hasna tampak kontra, tapi Athaya ingin menilai dari perspektifnya sendiri.   [Gak perlu. Aku belum tau.] balasnya lalu pergi ke kamar. Dia ingin merenung lebih lama di balkonnya bersama hembusan angin, biasanya akan mengantarkan pada keputusan dari kepala dingin.   Athaya tahu kalau Hasna mengikutinya, tapi dia tidak berhenti. Biar saja mereka—Hasna—bicara di kamar agar Athaya bisa mengambil notes dan menuliskannya.   “Ay, asal kamu tau ya? Miguel itu banyak ceweknya. Dia sering masuk dunia malam, ikutan pergaulan yang gak bener. Emangnya kamu mau punya suami kayak dia?” hasut Hasna.   Athaya menulis : Itu ‘kan dulu. Siapa tau dia sudah berubah.   “Duhh, Miguel itu bukan tipe cowok yang gampang berubah jadi baik. Pokoknya dia itu gak ada baik-baiknya buat kamu. Ya? Pokoknya kamu harus pikirin mateng-mateng,” sambung sang kakak angkat lalu pergi dari kamar Athaya.   Tak bisa dipungkiri ini adalah kali pertama ada seorang lelaki yang menginginkannya menjadi istri—walau untuk tujuan lain. Dia ... merasa diinginkan dengan kondisinya yang demikian. Dadanya berdentum lebih cepat, perasaan apa ini?   Jika ternyata semua yang dikatakan Kakaknya benar, apa harus Athaya menerimanya?   ***   “Argh! Sialan! Kenapa harus cewek gagu itu, sih?!” Miguel mendorong semua barang yang ada meja kerjanya, mengerang kesal. Terbayang-bayang saat dia menabrak dan membawa gadis tadi ke rumah sakit. Bukannya merasa bersalah, dia semakin muak.   Apa Athaya pikir Miguel akan merasa bersalah dan berubah sikap? Cih, mimpi. Kalau bukan karena perusahaan, kalau bukan karena Viona, Miguel tak akan sudi mempertaruhkan segala miliknya hanya untuk mendapat suntikan dana.   Dia mengeluarkan sebungkus rokok, lalu mengambil satu beserta pemantik api. Nikotin adalah pelampiasan paling sederhana saat Miguel tak mau menimbulkan masalah apa-apa lagi.   “Mama kayak gak ada temen lain aja. Lagian kalau kakaknya bukan Hasna jelas gue bakal pilih kakaknya,” desisnya menghembuskan asap rokok dari mulut dan hidung.   Sial! Kemarahannya tak cukup dengan satu batang rokok. Dia butuh mabuk sekarang juga.   Secepat mungkin Miguel mengendarai mobilnya ke klub langganannya. Mungkin segelas Macallan akan cukup untuknya. Entahlah, apa saja akan dia minum agar kesadarannya lenyap sementara. Paling tidak hanya mabuk yang bisa membuatnya bak terbang tinggi tak menyentuh tanah.   Begitu sampai, dia langsung masuk karena pelanggan VVIP. Tempatnya juga lebih mewah dibanding klub depan, klubnya itu hanya untuk pelanggan tetap dan tak bisa dimasuki oleh sembarangan orang.   “Macallan satu,” pesan Miguel duduk di kursi tinggi bar.   Padahal perusahaan Papanya sedang berada di ambang kebangkrutan, tapi putra satu-satunya malah menghambur-hamburkan uang dengan memesan segelas minuman mewah.   “Oy, bro! Tumben gue udah liat lo, biasanya jam sepuluh baru ke sini,” kata pemilik klub yang mengenal Miguel. Bagaimana tidak, pria itu sering kemari, apalagi kalau sedang bertengkar dengan kekasihnya.   “Berisik. Gue lagi banyak masalah,” decak Miguel langsung menyambar gelas kecil yang diasongkan sang bartender, Kai.   “Ya elah. Emangnya lo pikir bar kayak kafe yang didatengin orang-orang baik? Kebanyakan ya kalau gak dari sananya udah salah jalur, ya banyak masalah kayak lo.”   Segelas kecil minuman yang dibuat Kai memiliki kadar alkohol yang cukup tinggi, sehingga Miguel mulai mabuk. Meski sering minum, tapi gelas tadi setara dengan setengah botol wine biasa. Pantas saja harganya mahal dan selangit hanya untuk seteguk minuman.   Karena gelagat Miguel mulai dikuasai alkohol, beberapa wanita kekurangan bahan meliriknya lapar bak santapan empuk. Wajah tampan Miguel rupanya terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja.   Dua orang wanita berwajah genit mendekati Miguel yang merebahkan kepalanya di meja bar. “Hey, kok sendirian aja sih? Mau di—”   Miguel menghempaskan kasar tangan yang mencoba menyentuhnya. Dia menatap tajam dua wanita itu dengan mata yang mulai memerah. “Pergi! Gue gak butuh jalang kayak lo!”   Bukannya takut atau malu, dua wanita tadi kesal sebab sudah ditolak. Alhasil wanita-wanita lain hanya bisa gigit jari, wanita yang paling menarik saja sudah ditolak. Tak ada sudah kesempatannya mendekat.   “Eh, berhubung lo lagi suntuk, mau cewek gak? Lo gak akan tau gimana hebatnya goyangan cewek-cewek malam yang emang cari duitnya begitu.”   Tanpa diduga, Miguel berdiri dan mencengkeram kerah baju Andre kasar. “Jangan lo pikir karena gue lagi banyak masalah lo bisa seenaknya ngajak gue gak bener. Gue emang cowok b******k, tapi gak buat nidurin kalau gak serius. Lagian nanti kalau timbul masalah baru malah sial,” ujarnya tajam, lalu kembali duduk.   “Kasih gue segelas lagi.”   “Lo yakin gak mau pertimbangin tawaran gue buat kerja sama? Untungnya ‘kan bisa kita bagi dua—woo!” Andre sontak berseru saat Miguel menunjukkan gelagat hendak muntah. “Woy, lo kenapa? Lo udah gak kuat minum?”   Miguel menggeleng. “Gue gak papa,” katanya mengusap kasar wajahnya. “Kai, kasih gue minuman yang kadar alkoholnya paling tinggi.”   Tak berlama-lama Kai langsung membuatkannya. Harga minuman yang diminta lebih mahal daripada semua minuman di sini. Sebab Miguel sudah sering minum dan menaruh kartu kreditnya khusus untuk mabuk, maka Andre tak banyak tanya dan langsung menyuruh Kai membuatkannya.   “Wihh, kayaknya lo emang beneran ada masalah. Biasanya males banget kalau bener-bener teler,” komentar Andre melihat Miguel benar-benar berambisi untuk mabuk.   “Anj*ng! Kenapa harus gue sih yang nanggung bangkrut mereka? Gue ‘kan bukan boneka lo, bangs*t!”   Menyadari apa yang diucapkannya, Andre yang curiga menyuruh Kai untuk memeriksa kartu ATM-nya yang ditinggalkan untuk membayar minumannya. Dulu saat memberikan kartunya, Miguel juga memberi tahu pinnya pada Kai sehingga hanya dia yang tahu.   Bunyi ‘bip’ dengan lampu merah menyala saat Kai mencoba membayar tagihan dengan kartu Miguel. Berkali-kali coba, tak berubah sama sekali.   Andre berdecak. Mana pria itu sudah menghabiskan banyak minuman mahal lagi. “Bawa keluar,” perintahnya pada Kai. Kai memanggil sekuriti dengan lambaian tangannya, lalu menyuruh mereka berdua memegangi Miguel yang mabuk.   “Woy! Ngapain lo, bajing*n!”   Andre memeriksa celana dan baju Miguel, siapa tahu ada uang tunai. Nihil, tak ada apapun. “Ck. Dia bokek. Ntar ajalah, kalau enggak pake debt collector. Lo berdua, bawa keluar.”   Dua sekuriti itu membawa paksa Miguel yang meracau, “Sialan! Lo mau bawa gue berdua ke mana, hah? Surga?” Dia bertawa keras sekali sampai-sampai terdengar di tengah memekakkannya musik.   Miguel didorong begitu saja sampai tersungkur ke tanah. “Sialan lo!” umpatnya membersihkan baju dan celana. Akan tetapi, dia kesulitan berdiri karena dilanda pusing hebat. Akhirnya dia hanya bisa diam di pinggir jalan, menunduk sambil mencengkeram rambutnya.   “Argh!”   Samar-samar Miguel melihat seseorang menghampirinya. Tak jelas, gelapnya malam mengaburkan penglihatannya yang sudah tak kuat lagi terjaga. Dia pingsan.   ***   “Ahh, s**t! Pusing banget, bangs*t,” umpat Miguel membenamkan wajahnya di bantal.   Tunggu, bantal di kamarnya tak pernah sewangi ini. Lagi pula, ini bukan wangi parfumnya atau pengharum ruangan. Lalu, wangi apa?   Shit!   Miguel langsung bangun, sekejap kemudian mengerang karena masih pusing efek mabuk semalam, apalagi kadarnya lebih tinggi dari biasanya. Dia membeku ketika mendapati ruangan asing yang dia tempati itu bukan tempatnya.   Dia ingat kalau semalam dia mabuk dan pingsan, tapi siapa yang membawanya ke sini dia tak tahu. Tak mungkin ‘kan wanita-wanita kurang bahan yang membawanya?   “Hoek!” Miguel membekap mulutnya kuat-kuat, lalu berlari ke kamar mandi dan memuntahkan cairan bening dan kekuningan. Sialan, ini bagian paling menyebalkan dari mabuk.   “Lo!” seru Miguel saat kembali dari kamar mandi, Athaya datang membawa s**u beruang dan air mineral—meletakannya di nakas. Gadis itu menuliskan : Makan ini. Kata Mama bagus buat orang mabuk.   “Mati gue,” gumam Miguel.   Astaga, Miguel baru paham sisi gawatnya di mana. Itu artinya ini rumah Gabrian, tak menutup kemungkinan ‘kan kalau orang semalam itu Gabrian?   Bahaya. Bagaimana kalau Gabrian membatalkan perjodohan mereka karena melihat sendiri tingkah buruknya?     Athaya meletakkan ibu jari dan telunjuknya di depan d**a, ‘kamu.’ Lalu menunjuk kasur dan mengisyaratkan untuk tidur.   “Ngapain sih lo, hah? Lo pikir gue bakal ngerti yang kayak gitu?” sentak Miguel kasar.   Mungkin Miguel memang tak paham, maka Athaya kembali menuliskannya di notes : Duduk di kasur dulu aku kasih air s**u.   “Lo ... mau gue duduk di kasur?”   Athaya mengangguk.   Mau tak mau Miguel menurutinya. Duduk di tepi kasur dan menerima s**u beruang kaleng dari Athaya. Kalau memang meredakan mual habis mabuk ya syukur, Miguel sudah tak kuat harus muntah lagi. Setelah habis tak bersisa, Athaya kembali menyodorkan air mineral—diteguk habis oleh Miguel.   Dia menuliskan : Mama bilang kamu ditunggu di meja makan.   Miguel mendengus. “Nanti gue ke sana,” katanya terkesan malas. Athaya mengangguk, lalu keluar kamar.   Sial! Miguel mengacak-acak rambutnya kesal, lalu berjalan ke kamar mandi dan membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar. Bagaimana bisa di antara sejuta kemungkinan orang lain malam tadi, harus Gabrian yang menemukannya?   Dengan segan, dia keluar dari kamar tamu. Jaraknya tidak jauh dari meja makan sehingga dia bisa langsung melihat keempat orang itu sudah mulai makan. Buruknya, Miguel tak bisa kabur karena pintu utama harus melewati meja makan.   Menebalkan wajahnya, dia ikut bergabung setelah disambut Angela—duduk di samping Athaya. “Kemari, Miguel. Ayo makan sama-sama.”   “Iya, Tante,” balas Miguel segan. Baru saja dia hendak menyuap isi piring yang diambilkan Bi Tini, gerakan tangannya terhenti saat Gabrian membuka pembicaraan.   “Semalem saya liat kamu di pinggir jalan. Mabuk,”   “Om, saya ....”   “Saya ngerti kalau kamu sedang ada masalah, tapi mabuk sama sekali bukan solusinya.”   Di sebrangnya, Hasna memeletkan lidah mengejek. Kalau bukan sedang di rumahnya sendiri, Miguel akan mengajaknya ribut dan adu mulut seperti waktu kuliah.   “Saya tau perilaku saya salah. Maaf, Om,” kata Miguel menunduk.   “Kamu gak perlu minta maaf sama saya, kamu gak ada salah,” Gabrian berujar tenang sambil melanjutkan sarapannya. “Kalau yang kamu khawatirkan saya akan membatalkan perjodohan kamu dengan Athaya, ya, saya akan melakukannya.”   “Saya akan—”   Tiba-tiba Athaya berdiri dan menyilangkan tangannya, mengundang atensi semua orang termasuk Miguel. Dia bisa saja berbahasa isyarat pada Gabrian, tapi gadis itu malah menuliskan sesuatu dan memberikannya pada sang papa.   Gabrian terkejut. “Kamu serius?”   Athaya mengangguk mantap, melirik Miguel yang juga meliriknya penuh tanya.   Gabrian mendesah, sudah berjanji semua keputusan ada di tangan putrinya. “Miguel, sampaikan ke orang tua kamu kalau ... Athaya menerima perjodohan kalian.”   ***   Ingin bertanya, mengapa Ay?! Udah jelas cowok itu gak bener, hey! Tolak aja udah, biarkan dia menjadi selingkuhanku wkwk. Duhh, nih typo mulu pas ngetik bang migi jadi Dimas. belum move on dari cerita sebelah.   Tapi ya sudah lah. Janur kuning hendak melengkung, Mas Migi tak ada peluang lagi kurangkul. Mbak Viona juga gak bisa yeeeyy ada temen.   Oh ya, ada yang jadi pengen belajar bahasa isyarat karena Athaya? Aku sih jadi penasaran. Sekalian buat riset sih haha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD