"Apa mas ada buat salah?" Netranya menatap penuh selidik. "Enggak ada. Mas enggak pernah salah sedikit pun. Akulah yang salah karena sudah hadir di kehidupan kalian," jawabku pelan yang seketika membuat dahi Mas William berkerut dalam. Kulepas paksa cekalannya, lalu pergi dengan langkah lebih lebar dan cepat. Mengabaikan dirinya yang terus memanggil di belakang sana. "Lusi, kemarilah! Kita makan sama-sama. Alex sudah lapar." Tak kugubris juga ajakan Indira. Hanya terus melangkah cepat menuju kamar tanpa menoleh pada keduanya sama sekali. Lagipula, sejak kapan dia jadi berubah ramah seperti itu? Biasanya, Indira selalu memberikan tatapan sinis dan menunjukkan sikap permusuhan denganku, sama seperti putranya. Hatiku sakit. Aku gagal mengendalikan perasaan ini. Perasaan cinta untuknya tel

