"Maafkan Ibu yang baru bisa datang menjenguk mu kesini, Pangeran."
Gabriel berdiri defensif ketika Lauretta mencegat jalannya yang hendak ke arah taman Lotus yang terletak tepat di belakang istana Permaisuri.
Lauretta adalah selir yang paling berkuasa di istana selir, sekaligus Ibu dari adik tirinya, Falerious.
"Itu tidak perlu, saya baik-baik saja," balas Gabriel.
Meski dirinya masih berumur tujuh tahun, namun Gabriel bisa melihat bagaimana kerutan itu sempat hadir di wajah wanita cantik yang katanya mantan kepala dayang itu.
"Bagaimana bisa itu tidak perlu, Pangeran? Sedangkan Ibu tahu bagaimana sedih dan terlukanya Pangeran karena Yang Mulia Permaisuri meninggal begitu cepat." Lauretta berwajah sedih, bergerak mendekat dan berlutut di depan tubuh Gabriel yang kecil itu.
"Ibu hanya bisa melihat dari kejauhan saat Pangeran menangis di atas makan mendiang Yang Mulia Permaisuri. Walaupun Ibu ingin mendekat dan memeluk Pangeran, namun Ibu tidak memiliki keberanian."
Tidak ada reaksi berarti yang ditunjukan oleh Gabriel. Bocah cilik itu seakan mengerti jika apa yang ditujukan oleh Ibu tirinya hanya sandiwara. Bukan hanya Gabriel, melainkan para dayang yang ada di sana juga dapat mengerti maksud dari apa yang dilakukan Lauretta.
"Jika tidak ada lagi yang hendak Ibu katakan, saya permisi," ujar Gabriel.
Ucapannya bukanlah sebuah pertanyaan yang sesungguhnya karena tanpa menunggu jawaban dari Lauretta, ia sudah berjalan lebih dulu meninggalkan rombongan Lauretta yang entah hendak kemana.
"Bagaimana bisa dia bersandiwara sejelas itu. Bahkan anak yang lebih kecil dari Pangeran pun tidak akan percaya dengan semua ucapannya."
Caravan langsung menoleh dan memberikan tatapan peringatan pada dayang pribadi Gabriel itu. Meskipun begitu, Acelia justru mencebikkan bibirnya dan berjalan tergesa hingga hanya sejengkal di belakang Gabriel.
"Kau harus lebih memperhatikan ucapan mu, Acelia. Jika sesuatu terjadi padamu, aku mungkin tidak bisa melakukan apapun," tegur Gabriel.
Bukannya ketakutan, Acelia justru memandang sedih tuan kecilnya itu.
Gabriel seakan mengatakan bahwa saat ini Permaisuri sudah tidak ada, dimana tidak akan ada lagi orang baik hati yang mau repot-repot membela dayang yang tidak bersalah. Pilihan terburuknya adalah membiarkan saja jika memang terjadi sesuatu pada Acelia tanpa pertimbangan apapun.
"Saya mohon maaf, Pangeran. Saya akan menerima hukuman apapun yang Pangeran berikan," mohonnya.
Gabriel hanya menoleh sekilas sebelum kemudian kembali berjalan mendekati gazebo yang tampak cantik dengan banyaknya lotus dan daisy yang mengelilingi.
Ini adalah taman yang dirawat langsung oleh Ibundanya tercinta. Semua bunga dan tanaman disini adalah pilihan ibunya dan juga ditanam sendiri oleh Ibunya.
Garcia Van Aloysius, seorang putri dari Kerajaan seberang yang makmur dan damai. Terkenal memiliki hasil tambang yang memukau dan hasil tanah yang luar biasa kualitasnya. Seorang putri yang baik hati bak yang ada di dongeng, yang tidak segan menyentuh tubuh pelayan dan membela mereka.
Ibunya adalah orang yang sebaik itu hingga banyak pelayan yang berharap bisa melayaninya. Ibunya menjadi Permaisuri yang luar biasa, yang dicintai rakyat dan dikasihi para bangsawan.
Namun anehnya, ayahnya seperti tidak tertarik dengan sosok malaikat yang seperti itu. Meskipun Ibundanya tidak pernah mengeluh, tapi entah kenapa Gabriel seakan bisa merasakan kesepian yang dirasakan oleh Ibunya semasa hidup.
"Apakah Pangeran ingin minum teh lotus?" Acelia membungkuk, bertanya pada tuannya yang duduk termangu di kursi yang biasanya diduduki oleh mendiang Permaisuri itu.
Gabriel menggeleng tanpa menoleh ke arah dayang itu. Pandangannya hanya sibuk menatap hamparan daisy dan lotus yang dibatasi oleh seikat tali berwarna merah yang mencolok, lebih serupa pita.
Ia terdiam, kemudian menoleh pada Acelia lagi.
"Apakah Ibu selalu meminum teh lotus setiap duduk disini?" tanya Gabriel
Tanpa ragu, Acelia mengangguk.
"Benar, Pangeran. Yang Mulia Permaisuri selalu menikmati waktu dengan secangkir teh lotus sambil berbicara dengan Calista."
Mendengar nama seseorang yang menjadi dayang setia Ibunya itu, Gabriel baru tersadar jika dia belum melihat Calista lagi sejak terakhir kali bertemu di pemakaman.
"Dimana Calista?" tanyanya.
Keningnya berkerut ketika bukannya menjawab, Caravan dan Acelia justru saling bertukar pandang dengan tatapan ragu.
"Dimana Calista?" ulang Gabriel.
Acelia menunduk dalam, "Mohon maafkan saya karena baru memberitahu saat ini, tapi Calista sudah meninggalkan istana sejak kemarin malam, Pangeran."
Gabriel terkejut, dia bahkan langsung berdiri dengan mata membulat.
"Bagaimana...bagaimana mungkin Calista juga pergi meninggalkan aku?"
Entah kepada siapa dirinya bertanya, karena pertanyaan itu terasa tidak ditunjukan pada Acelia maupun Caravan.
"Jangan katakan itu, Pangeran. Calista tidak meninggalkan Pangeran, justru Calista pergi karena tidak ingin meninggalkan Pangeran," ralat Acelia.
Wanita itu sudah berlutut di depan Gabriel yang nampak terluka mendengar kabar kepergian Calista.
Bagi bocah kecil itu, Calista bukan hanya dayang kesayangan Ibunya. Melainkan juga pengasuh yang sudah menjaga Gabriel dari semenjak bayi, itulah yang pernah diceritakan oleh Ibunya.
"Bagaimana mana mungkin seperti itu? Dia pergi itu berarti meninggalkan aku, bagaimana mungkin tidak?"
Acelia menggeleng, kepalanya menunduk tidak berani bertatapan dengan wajah sedih tuannya.
"Istana selir meminta Calista untuk menjadi dayang pribadi Lauretta, dan Calista menolak karena hanya ingin setia pada Mendiang Permaisuri dan Pangeran saja. Itulah sebabnya Calista lebih memilih meninggalkan istana, Pangeran. Calista tidak sempat menemui Pangeran karena tidak ingin Pangeran menjadi lebih sedih," jelas Acelia. Suaranya sedikit bergetar karena merasakan kesedihan mengingat dayang yang lumayan dekat dengannya itu.
Gabriel menunduk, tidak menangis namun juga tidak mengatakan apapun.
Keadaan menjadi hening, yang terdengar hanya hembusan angin di antara tanaman lotus dan daisy. Tidak ada yang terdengar lagi di antara ketiga orang yang ada di sana, mereka hanya hanyut dengan perasaan gamang yang dirasakan masing-masing.
*
"Yang Mulia, hamba yang rendah ini menghadap Yang Mulia Raja."
Balendin melirik sekilas ke arah Lauretta yang membungkuk dalam.
"Apa perlu apa?" tanyanya dingin.
Lauretta berdiri dengan tegak, kepalanya menatap ke arah Balendin yang hanya duduk di singgasananya dengan tenang.
"Saya kemari karena menerima desakan dari penghuni istana selir. Mereka mengatakan bahwa posisi Permaisuri tidak seharusnya kosong terlalu lama, mereka meminta saya menyampaikan kepada Yang Mulia untuk segera memilih Permaisuri untuk menggantikan mendiang Permaisuri yang terdahulu."
Balendin tidak berkomentar. Dia sudah sangat mengerti jika hal ini lah yang membawa seorang kepala Selir repot-repot mendatanginya.
"Maafkan kelancangan saya Yang Mulia, saya sudah memperingatkan agar mereka bisa menahan diri. Karena bagaimanapun Yang Mulia Permaisuri baru saja berpulang, namun mereka terus menerus mendesak saya untuk menyampaikan kekhawatiran mereka. Menurut mereka, mereka akan menyetujui siapapun yang terpilih sebagai Permaisuri selanjutnya," Ujar Lauretta lagi.
Balendin bangkit dari duduknya, tangannya mengibaskan jubah kerajaan yang ia kenakan.
"Bukankah itu artinya kau sedang mengajukan dirimu sendiri?"
Pertanyaan yang diutarakan dengan nada dingin dan tidak ramah sama sekali itu, membuat Lauretta membatu.
Wanita itu langsung menundukkan kepalanya dalam, merasa tidak bisa menatap Raja yang berdiri di atas sana.
"Ampuni saya Yang Mulia! Bagaimana mungkin saya bisa memiliki keyakinan seperti itu? Saya bahkan tidak bisa dibandingkan dengan Permaisuri terdahulu, bagaimana mungkin saya memiliki niat untuk menggantikan nya? Mohon untuk tidak berpikir buruk tengah saya, Yang Mulia."
Balendin tersenyum miring, langkahnya bergerak menuruni undakan singgasana hingga berhasil berdiri di depan Lauretta.
"Itu bagus jika kau menyadari kapasitas mu, Kepala dayang. Maka biarkan posisi Permaisuri tetap kosong karena satu-satunya wanita yang pantas sudah tidak ada," balasnya dingin.
Kemudian langkahnya ia teruskan, menyongsong pintu yang sudah dibuka lebar oleh pelayannya.
Sedangkan Lauretta masih berdiri dengan kedua tangan yang terkepal. Amarahnya melonjak naik ketika Raja menyebutnya kepala dayang. Status yang sudah sejak lama dirinya tinggalkan dan merangkak naik dengan susah payah.
"Bahkan kepala dayang ini sudah melahirkan anak dengan darah mu," desisnya.
Segera ia berbalik, berjalan dengan tergesa-gesa membuat para dayang yang mengikutinya tergopoh karena kesulitan mengejar langkah Lauretta.
Ketika dirinya sampai di kediaman selir, tangannya membuka pintu dengan segera tanpa menunggu pengawal yang membukakan untuknya. Ia berderap cepat, menghampiri anak lelaki yang sedang duduk diam dengan buku di tangannya dan jendela yang terbuka.
"Falerious! Falerious!" teriaknya.
Bocah kecil itu menoleh, wajah lugunya menatap sang ibu dengan bingung.
"Apakah Ibu baru saja berlari?" tanyanya sambil memegangi pipi ibunya yang berkeringat.
Lauretta mengabaikan pertanyaan putranya, tangannya hinggap di atas kepala Falerious dan mengusap nya pelan.
"Tumbuhlah menjadi anak yang cerdas, Nak. Karena nantinya kau lah yang akan menjadi Putra Mahkota kerajaan ini," ucapnya dengan senyum lebar.
Falerious menatap bingung ibunya, "Bukankah Putra Mahkota adalah Kak Gabriel? Bagaimana mungkin jadi aku?"
Mendengar pertanyaan bodoh dari anaknya, Lauretta menggeram marah. Tangannya yang tadi mengusap Falerious dengan lembut, kini berubah mencengkeram rambut coklat terang anaknya hingga Falerious mengaduh kesakitan.
"Jika aku bilang kamu yang akan jadi Putra Mahkota, maka itulah yang akan terjadi. Jangan pernah menyebut nama anak itu sekalipun di depan Ibu. Apa kamu mengerti?"
Dengan segera, Falerious yang baru berusia enam tahun itu mengangguk. Ia akan berpura-pura mengerti jikapun pada kenyatannya tidak, karena rasa perih yang ia rasakan di kepalanya adalah satu-satunya yang ingin dia akhiri saat ini.
"Bagus! Memang seperti itulah harusnya anakku. Kau bahkan bisa lebih cerdas dari anak itu karena kau anak Raja. Ingat itu baik-baik Falerious, kau yang akan menjadi Putra Mahkota."
Setelah mengatakan itu, Lauretta berbalik keluar meninggalkan Falerious yang terjatuh ke lantai karena merasa ketakutan.
Seperti itulah dirinya membesarkan Falerious, anak dengan darah Raja yang susah payah dirinya dapatkan dengan bebagai siasat. Makanya Lauretta tidak akan pernah menyerah, hingga kelak tujuannya benar-benar bisa tercapai.
Yaitu membuat Falerious naik tahta menggantikan Gabriel yang seroang Putra Mahkota, setelah itu terjadi yang selanjutnya Lauretta lakukan adalah membuat Balendin turun dari tahta yang akan menjadi milik anaknya.
Sebuah rencana yang sempurna dan mengagumkan.
**