Agni - 51

1862 Words

“Aaa lagi...” Arasi menggeleng, perutnya sudah terasa penuh sejak Agni tak henti-hentinya menyuapkannya bubur yang membuatnya benar-benar seperti orang sakit. “Minum dulu, nak. Biar enggak serat.” Bocah dua belas tahun itu sedikit mengangkat tubuhnya ketika Agni membantunya minum. Dua kali teguk sudah membuat tenggorokannya terasa lega. “Bentar lagi minum obat ya.” Agni mengingatkan. “Kepalanya masih pusing?” tanya Agni merapikan selimut Arasi. Wanita itu menghela nafasnya, sejak baru bangun dari pingsannya Arasi belum sama sekali membuka suara. Abimanyu yang berdiri tak jauh darinya ikut menatap khawatir. “Kalo merasa masih pusing, nanti bilang sama Ibu atau Ayah, Kak. Biar ke dokter,” ujar Abimanyu masih merasa cemas walau dokter yang baru menangani Arasi mengatakan bahwa bocah itu h

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD