Jam dinding menujukan pukul tiga malam, namun Agni tak lagi bisa memejamkan matanya. Rasa sakit pada bagian dadannya membuat rasa kantuk itu lenyap seketika. Harusnya kini ia menutup matanya dan terlelap bersama sang suami yang berada disampingnya, namun karena hal itu kini matanya terbuka sempurna. Ringisan-ringsan kecil keluar dari bibirnya ketika ia tidak bisa lagi menahan rasa sakit. Abimanyu yang berada disamping isterinya terbangun ketika merasakan pergerakan disampingnya, ia memperhatikan isterinya yang meringgis. Nampaknya Agni belum sadar bahwa ia telah membangunlan suaminya. “Kenapa, hm?” Agni sontak menoleh ke arah kirinya, melihat Abimanyu yang sedang menguap terbangun karenanya. Wanita itu menggigit bibirnya, ia ingin mengatakan namun ragu. Ia tidak ingin membebankan suam

