Agni - 4

1603 Words
“Saya hanya tidak mau nanti Abian berpikir yang tidak-tidak. Kenapa hanya dikamarnya tidak ada Ac? Sedangkan di kamar saudaranya ada, walau sekalipun ia tidak meminta. Saya tidak mau Abian berpikir seperti itu. Itu akan membuatnya sedih.” Benar. Menjadi orang tua tiri bukanlah hal perkara yang mudah. Apalagi jika memiliki anak kandung dari pernikahan sebelumnya. Hal sekecil apapun, entah lebih baik atau buruk pasti akan membuatnya meraskan hal itu. Dan, itu juga yang membuat Abimanyu lebih berhati-hari bersikap pada Abian. “Aku enggak kepikaran sampai sana, terima kasih, Mas, sudah memperdulikan Abian.” Abimanyu hanya mengangguk dan berkata bahwa Abian juga putranya. Pria itu lalu melirik jam di tangannya, sudah pukul setengah sepuluh ternyata. “Kamu siap-siap, kita akan menjemput Daffi.” Agni mengangguk sambil menutup tempat berisi potongan buah yang sudah ia kupas kulitnya dan dipotong lebih kecil. Rencananya itu akan ia bawa untuk dimakan Kadaffi saat di perjalanan pulang. Mengingat anak itu memiliki selara makan yang besar, seperti Ayahnya. “Ibukkkkk!” Teriakan nyaring Kadaffi terdengar ketika anak itu baru saja keluar dari kelasnya. Abimanyu yang melihat itu tersenyum kecil, ini pertama kalinya bocah lima tahun itu sesemangat ini ketika dijemput. Biasanya anak itu akan mengeluh karena dirinya akan bosan jika telah pulang sekolah karena Abimanyu harus kembali bekerja dan anak itu aka ikut ke kantornya.  Ada sesuatu yang menghangat di hatinya kala melihat Kadaffi dengan lancarnya bercoleteh riang tentang kegiatannya di sekolah. Sedikit penyesalan di hati Abimanyu untuk membuat Kadaffi merasakan kasih sayang seorang ibu lebih awal. Namun apakah ia akan bertemu dengan wanita seperti Agni? Seorang isteri yang dengan ikhlasnya menerima bahwa dihati sang suami masih terukir jelas nama almarhum isterinya. Abimanyu menghela nafasnya panjang lalu mendongakan kepalanya menatap langit cerah berwarna biru. Apakah disana Melisa bahagia? Atau sedih karena ada sesosok wanita yang bukan dirinya menjadi isteri dari Abimanyu juga ibu dari anak-anaknya. “AYAHHHH!” Lengkingan dari Kadaffi membuat Abimanyu tersadar bahwa ia masih berada didepan gerbang sekolah anaknya sedangkan Agni dan Kadaffi sudah berada didepan pintu mobil. “Ayah kok melamun?” tanya Kadaffi dengan bibir mengerucut ketika mereka sudah berada didalam mobil. “Ayah enggak melamun.” “Daffi sih owh aja,” jawab anak itu membuat Agni dan Abimanyu terkejut. “Daffi belajarnya dari Kak Raka heheh,” ujarnya kemudian sambil memasang wajah imut ketika melihat Ayahnya hendak memarahinya. “Jangan diulangin.” “Oke boss!” “Ibukk-ibukk!” Kadaffi menarik-narik lengan baju Agni ketika mobil telah berjalan. Anak itu duduk dibelakang sendiri sedangkan Agni berada disamping Abimanyu yang sedang menyentir. “Sini Daffi pangku Ibu,” ujarnya ketika melihat sang anak hendak bercerita. Kadaffi tersenyum lebar ketika Agni menyuruhnya duduk dipangkuan. “Daffi ceritanya sambil makan buah, oke?” tanya Agni sambil membuka kotak buah yang ia bawa dari rumah tadi. Anak itu mengangguk semangat. “Ibuuk-ibukkk!” “Hemm, Daffi mau cerita apa?” “Tadi Elsa patahin krayonya Daffi, aku kesel,” ujarnya dengan bibir cemberut dengan ekspresi kesal namun tetap membuka mulutnya ketika Agni menyuapkan potongan semangka. Abimanyu yang hanya menjadi pendengar terkekeh didalam hatinya melihat tingkah bungsunya. “Terus, truss... Elsa minta maaf aku maafin. Teros katanya dia mau ganti krayonnya dan datang ke rumah. Aku enggak mau!” Abimanyu menyolek lengan Agni ketika melihat wanita itu kebingugan. Pria itu menjelaskan bahwa Elsa adalah anak Raisa dan Banyu, yang merupakan penghuni komplek perumahan mereka. Banyu merupakan teman Abimanyu yang cukup dekat. “Kenapa Kadaffi enggak mau Elsa gantiin krayonya dan datang ke rumah?” “Nanwti Ewsla—-“ “Makan dulu baru bicara Daffi.” Kadaffi langsung mengunyah makannya dengan cepat, Agni yang melihatnya terkekeh sambil mengambil tisu yang berara di dashboard mobil dan mengelepnya pada pipi Daffi yang berair. “Nanti Elsa bawa adik-adiknya. Aku enggak suka!” ujarnya terdengar kesal namun lucu. “Mau melon ibuu,” ucapnya ketika Agni menyuapkan Apel. Sedikit demi sedikit Agni jadi lebih tahu buah kesukaan Kadaffi. “Adik-adiknya masih kecil. Aku enggak suka nanti kalo udah selesai bermain. Semua mainan aku penuh iler adiknya. Terus adik-adiknya berisik, suka nangis, suka kencing di robot aku.” Agni mengelus pelan puncuk kepala Kadaffi lalu menciumnya pelan. Anak itu langsung merebahkan kepalanya di d**a Agni ketika telah selesai menghabiskan satu kotak buah-buahan. “Daffi enggak boleh gitu sama Elsa. Harusnya Daffi bantuin Elsa jaga adik-adiknya, diajak main, diajari disayang-sayang.” “Mereka bukan adik aku.” “Emang Daffi mau punya adik?” celetuk Abimanyu yang ikut bergabung sambil membelokan mobilnya masuk ke komplek. “Mau! Nanti kalo aku punya adik boleh ilerin mainan aku. Nanti kan bisa dicuci di mesin cuci!” ujarnya anak itu ceria yang membuat Agni dan Abimanyu tersenyum. “Buahnya habis?” tanya Abimanyu. “Tinggal sisa apel lagi, Mas. Mau?” tanya Agni. “Boleh,” jawab Abimanyu sambil memperlambat mobilnya ketika telah memasuki komplek perumahannya yang dihuni pasangan yang kebanyakan memiliki anak kecil. “Aku suapin aja, Mas.” Abimanyu mengangguk. “Ciee, ciee ibu suapin ayah!” ———- “Bian, ke gerbang bareng yuk?!” “Boleh.” Abian mengangguk sambil memakai tas miliknya. Jam pulang sekolah telah berbunyi bebera menit yang lalu dan kini ia dan teman sebangkunya akan menuju gerbang sekolah. Mereka tidak akan dijemput oleh Abimanyu. Maksudnya, Abian dan Araka. Orang yang sama-sama mereka panggil Ayah itu mengatakan agar mereka pulang dengan menggunakan angkutan umum bersama, selain mengatakan bahwa mereka harus mandiri, Abimanyu juga ingin ikatan antar keduanya juga semakin kuat. Saat melewati toilet, mereka dikejutkan dengan kedatangan dua orang lelaki berbaju putih abu-abu yang nampak hendak berkelahi sebab salah satunya sedang memegangi kerah baju yang lain. Sekolah mereka memang gabungan tingkat SMA dan SMP dalam satu yayasan. Teman sebangku Abian menyuruhnya untuk tidak perlu memperdulikan dua manusia yang mungkin salah satunya akan berakhir babak belur. Namun, Abian tidak bisa saat matanya terpaku menatap sesosok yang ia kenal. Araka Bimasena. Lelaki itu kini tengah melayangkan tatapan membunuhnya pada sesosok yang sedang ia pegang kerahnya. “Ayoo, Abian! Kita enggak usah ikut campur!” “Kamu pulang deluan, aku ada urusan sebentar.” Temannya mau tak mau mengangguk walau nampak tak ikhlas. Abian tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya semula. Bocah lelaki itu hanya memandangi perkelahian itu dari jarak beberapa meter. Sedikit ada rasa kagumnya saat melihat Araka dalam sekejap membanting tubuh lawannya. Namun cepat bocah lelaki itu menggelengkan kepalanya dan menepuk-nepuk pipinya. Itu perbuatan buruk dan bukan perilaku anak baik. Anak baik tidak akan berkelahi dengan teman sekolahnya. Benar bukan? “Woi Raka! Lo mau bunuh orang!” Tiba-tiba seorang laki-laki berpakaian putih abu-abu menarik Araka menjauh dari lawannya yang sudah babak belur. Lawannya itu nampak kesusahan untuk bangkit namun Araka masih ingin nampak menghajarnya. Entah apa yang diperbuat lelaki sehingga Araka bisa semarah ini. Wajah remaja laki-laki itu memerah. Giginya bergelematuk menahan emosinya. Lelaki yang sudah babak belur itu terkekeh dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah. “Gue masih nahan diri. Enggak lucu kan cucu pemilik yayasan babak belur di sekolahnya sendiri,” ujarnya sambil terus berusaha bangkit dengan memegangi dinding. “Kalo lo emang laki, gue tunggu di gudang belakang sekolah.” Araka sudah hendak kembali menghajar lelaki itu lagi namun temannya yang bernama Fatur tadi menahannya. Lelaki itu menghela nafasnya sambil membersihkan bajunya yang lumayan teracak. Ada beberap bagian yang berubah warna menjadi kecoklatan. “Lo kalo mau bunuh orang jangan depan  gue, males nanti jadi saksi kasus lo!” Araka hanya mendengus mendengar candaan dari Fatur, temannya sejak kecil hingga sekarang. Pria itu akan meninggalkan tempatnya tadi namun Fatur segera menahannya. “Lo mau nemuin Alex digudang belakang sekolah?” Araka menggangguk.  “Lo gila! Kalo dinyiapin bala bantuan gimana?”  Araka ingin mengatakan bahwa ia bisa mengatasinya namun saat netra matanya menangkap sesosok anak lelaki dengan pakain putih biru berjalan mendekat ke arahnya. Araka berdecak sinis. “Ngapain lo disini?” Fatur menyadari bahwa orang itu adalah adik Araka. Ia sempat hadir dipernikahan Ayah dan Ibu tiri Araka. “Aku bakal aduin perbuatan kakak sama Ayah.” Araka mendengus, dengan cepat ia mendekat ke arah Abian dan menarik kerah bajunya. Fatur yang melihat itu memelotokan matanya. “Woi gila! Itu adek lo!” Entah sudah keberapa kalinya Fatur meneriaki Araka dengan sebutan gila. Gila! “Lo mau aduin ini sama Ayah? Biar lo dikatain hebat?! Emang bener ya, anak sama ibu sama. Suka cari muka!” Abian sama sekali tidak merubah raut wajahnya yang tak bisa dikatakan. Tersenyum tidak, namun anak itu nampak wajahnya sama sekali tidak merasa terancam. “Aku enggak bakal aduin ini, kalo Kak Raka pulang sama aku sekarang.” Araka mengerutkan dahinya saat mendengar perkaraan Abian. “Dan, lo mau gue dibilang penakut sama Alex!?” serunya didepan wajah Bian. “Gue bakal aduin ini sama Opa Kafeel kalo lo beranem lagi.” Fatur ikut ikutan membuat Araka emosi. Akhirnya pria itu hanya bisa menghela nafasnya dan melepaskan tangannya dari kerah Abian. Opa Kafeel adalah orang yang yang sangat hormati melebihi ayahnya sendiri. Dengan kesal akhirnya Araka mengambil tasnya yang tadi terjatuh dan berjalan menuju gerbang. Abian yang melihatnya sedikit lega. “Thanks Kak Fatur!” ujarnya sambil tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Fatur yang membalasnya. Kemudian anak lelaki itu menyusul Araka dari belakang. Karena kakaknya itu bilang untuk jaga jarak darinya setidaknya satu meter. Namun saat hendak menyeberang, Abian dengan cepat berlari ingin menyeberang karena bis yang akan mereka tumpangi akan segera berangkat. Namun belum ia sempat menyeberang, ia berhenti begerak saat tasnya di tarik dari belakanh oleh seseorang. “Kalo mau mati, jauh-jauh dari gue. Males nanti gue ditanya.” Dan benar saja, setelahnya sebuah truk melintas membuat Abian menghela nafasnya. “Makasih Kak!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD