Agni - 5

1498 Words
Beberapa orang menyadari bahwa waktu terus beralu. Namun beberapa malah mengabaikannya. Membiarkan setiap detik, menit dan jam terlewat tanpa memiliki sebuah arti. Kesalahan Abimanyu pada masa lalu, berusaha untuk tidak ia ulangi. Ia ingin memiliki lebih banyak waktu bersama keluarganya. Jadi, ketika Agni baru saja menyelesaikan sholat ashar-nya. Abimanyu masuk kedalam kamar mereka dengan membawa tas kantornya. Ia memutuskan untuk pulang lebih awal dari beberapa hari dalam seminggu. Agni yang melihat suaminya pulang, segera melepas mukenah dan merapikanya. Wanita itu mendekat ke arah Abimanyu yang berada didekat ranjang. Seutas senyuman lembut ia berikan pada lelaki yang sudah berjuang mencari nafkah diluar sana. Tangan lembutnya perlahan melepas dasi hingga satu persatu kancing baju Abimanyu. Hingga akhirnya suamnya itu hanya menggunakan kaos dan celana pendek.  Disetiap kegiatan Agni, tak pernah lepas dari pandangan Abimanyu. Senyumnya tak pernah tinggal. Seolah melepaskan bajunya adalah kegiatan yang menyenangkan. Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil. Padahal Abimanyu sudah mengatakan bahwa ia bisa melepas pakainnya sendiri.  Namun Agni tetap melakukan itu, bentuk terima kasih atas Abimanyu yang sudah bekerja keras katanya. “Mas mau sholat dulu?” tanya Agni yang dijawab anggukan suaminya. “Oh, iya, Mas. Aku mau bikin cemilan, mau yang goreng-goreng apa manis-manis?” tanya Agni lagi ketika Abimanyu hendak membuka pintu kamar mandi. Lelaki itu terdiam sebentar, memikir. “Goreng aja,” lalu masuk kedalam kamar mandi. Sebelum Agni turun kebawah, wanita itu menyempatkan untuk menyiapkan alat sholat Abimanyu. Ditengah perjalanan, Agni menghentikan langkahnya ketika melihat Abian dan Kadaffi bermain didekat tangga. Segera saja ia menghampiri anak-anaknya. “Lho kok, Bian sama Daffi main di tangga?” tanyanya sambil mengelus kepala Daffi yang berada didekatnya. “Bosan,” ujar Abian sambil menghela nafasnya. Kadaffi ikut mengangguk sambil menekan-nekan pipinya dengan kedua tangan.  “Ikut Ibu masak, yuk?” ajak Agni yang disambut antusias kedua anaknya. Ketiganya kemudian berjalan bersama menuruni tangga menuju dapur. Rencananya Agni ingin membuat tahu isi dan bakwan. Mungkin cukup menemani sore keluarganya agar tidak terlalu lapar menunggu waktu makan malam. Kebetulan juga semua anggota keluarganya berada di rumah semua. “Ibu, ibuuu! Kita buat apa?” tanya Daffi tak sabaran ketika Agni baru saja hendak membuka pintu kulkas. “Kita mau buat bakwa sama tahu isi!” “Woahhh!” Kadaffi berseru senang dengan mata membulat, anak itu juga bertepuk tangan. Agni yang melihatnya tersenyum lebar, padahal ia hanya membuat cemilan yang sederhana namun melihat antusias Kadaffi ia benar-benar bahagia. Wanita itu tahu bukan cemilannya yang membut Kadaffi bahagia, namun waktu kebersamaan yang membuat bocah itu begitu bersemangat. “Daffi bantu Ibu, ya? Sekarang cuci tangan dulu, minta tolong sama Kak Bian.” Kadaffi mengangguk patuh. Abian pun mengangkat Kadaffi sehingga anak itu bisa mencuci tangannya. Namun, anak kecil tetaplah anak kecil. Senang bercanda dan bermain. Tangan kecil Kadaffi menyipratkan air wastafel ke arah Abian membuat bocah lekaki itu membalasnya. Suasana dapur menjadi gaduh sekita dan Agni hanya bisa terkekeh namun segera melerainya sebelum kedua baju mereka basah-basah. “Udah-udah, main airnya nanti lagi,” lerai Agni yang diangguki keduanya namun masih sesekali tertawa. “Kak Bian tolong cuci bersih sayur-sayurannya ya.” Abian mengangguk cepat dan mengambil sayur-sayuran yang akan ia cuci. “Daffi tolong apa Ibu?” tanya Daffi ketika ia masih juga beri tugas. “Oh, iya, Ibu lupa. Daffi tolong bawain wadah ini ke meja ya?” “Siappp!”  Sedangkan wanita itu membuka kabinet yang berada diatas untuk mencari tepung namun ia tak mendapatkan pun. Perempuan itu menghela nafas, ia lupa membeli tepung kemaren. Untung saja didepan komplek, tak terlalu jauh ada minimarket dengan kelengkapan layaknya supermarket. “Kak Bian, Ibu bisa minta tolong enggak?” tanya Agni. Walau Abian adalah putranya tetap saja ia harus bertanya lebih dulu juga menggunakan kata tolong. Secara tak langsung anak akan merasa dihargai juga ikut-ikutan untuk menggunakan kata tolong. “Mau. Tolong apa, Bu?” tanyanya. “Bisa tolong beliin Ibu tepung didepan? Tepungnya habis. Nanti Ibu yang ngelanjutin bersihin wortel sama yang lainnya.” Abian mengangguk dan Agni memberikannya uang. “Sisanya buat belanja ya, Buk?” pinta Abian dan Agni mengangguk, wanita itu sengaja melebihkan uannya. “Beli es krim ya, Kak!” sahut Kadaffi yang sudah berada diatas meja makan. “Okeee!” “Hati-hati, Kak Bian!” Anak lelaki itu mengacungkan jempolnya. Agni kembali melanjutkan mencuci sayur-sayuran ketika indra pendengaran tak sengaja mendengar perdebatan ayah dan anak yang sedang menuruni tangga. Dilihatnya Abimanyu tampa gagah menunggunakan kaos dengan celana pendek. Araka disampingnya mengenakan celana joger dan sebuah hoodie. “Mau kemana lagi, Kak?” tanya Abimanyu pada putra sulungnya yang kini tengah cemberut. “Ke rumah Fatur, yah. Bentaran doang kok.” “Kamu ini malam ke rumah Fatur, sore juga. Rumah kamu itu disini atau dirumah Fatur?” tanya Abimanyu sambil bercanda juga heran dengan anaknya yang tak pernah betah di rumah. “Di pohon!” celetuk Kadaffi lalu tergelak membuat Abimanyu juga terkekeh lalu duduk dibangku meja makan dengan Kadaffi yang berada diatasnya. “Anak Ayah mau masak? Hmm?” tanya Abimanyu sambil menciumi putra sulungnya yang membuatnya kegelian. “Hahahah—- mau masak bakwa sama tahu isi Ayah.” Araka yang melihat kedetakan serta cara Ayahnya bicara dengan Kadaffi memutar bola matanya. Anak sulung memang selalu tersisihkan. “IBUUU TEPUNGNYA YANG BIASA ATAU SEGI LIMA MERAH!!” Orang-orang yang berada didapur kompak terkejut ketika mendengar teriakan Abian yang berada dipintu depan. Agni mengelus-elus dadanya, terkejut serta melirik ke arah Abimanyu namun pria itu hanya terkekeh ketika Abian masuk kedalam dapur dengan muka tak bersalah. “Ibu kata Oom yang jualan disana tepungnya yang biasa atau segilima merah?” tanya Abian membuat menggelengkan kepalanya. “Yang segilima ya, nak.” “Okee!” Kemudian anak itu kembali keluar dapur dengan berlari membuat Abimanyu memperingatinya untuk hati-hati. “Oke Ayahhh!” namun tetap berlari terdengar suaranya yang mulai semakin menjauh. “Masih mau main ke rumah Fatur?” tanya Abimanyu pada Araka yang sudah beberapa lama menjadi patung, berdiam saja. Abimanyu menghela nafasnya. “Kenapa memangnya Kakak mau ke rumah Fatur?” tanya Abimanyu akhirnya membuat Araka terdiam. “Mau godain Tante Chika!” seru Kadaffi menyebut janda kembanh tetangga Fatur membuat Araka memelototkan matanya begitu juga dengan Abimanyu. “Adek,” tegur Abimanyu membuat Kadaffi hanya terkekeh. Lalu tatapan pria dewasa itu kembali mengarah pada anaknya yang kini tatapannya kemana-mana. Araka bingung ingin menjawab apa. Ia sebenarnya tidak betah di rumahnya sendiri dak tak ada alasan untuknya berdiam diri dirumah. Bukan. Semua itu sudah ia lakukan sejak Melisa—ibu kandungnya masih ada. Ketika Ibunya sedang sibuk dengan adik keduanya dan Araka hanya seorang sendiri, ia menjadi lebih sering bermain di di rumah Fatur hingga sekarang ketika ia sudah beranjak remaja. Kini kebiasan itu membuatnya terikat dan Araka belum berani untuk keluar dari zona yang menurutnya aman. “Masih mau ke rumah Fatur?” Araka mengangguk lagi. Sebenarnya ia cukup jengah dengan sikap Ayahnya seperti bapak-bapak buncit yang takut anak gadisnya keluar malam. “Bantu Ibu dulu, baru Ayah izinkan.” “Moh.” “Di rumah aja kalo gitu,” ujar Abimanyu kembali bermain dengan Kadaffi. Araka menghela nafasnya, melirik ke arah Agni yanh ternyata melihat ke arahnya juga namun wanita itu dengan cepat kembali sibuk dengan sayur-sayurannya. Remaja lekaki itu menggaruk kepalanya kesal, masa ia harus memasak? Ia semakin terlihat seperti anak gadis. Akhirnya Araka menghela nafas dan mengangguk. “Mau,” ujarnya tak ikhlas membuat Abimanyu terkekeh. Ia yang memang dari awalnya sangat jarang bersama si sulung, penasaran jika anaknya yang pendiam itu memasak di dapur. “Assalamualaikum!”  “Walaikumsalam,” semuanya menjawab ketika Abian pulang dengan membawa kantong kresek.  “Makasih ya, Kak. Tepungnya taroh diatas meja aja.” Abian mengangguk lalu memberikan sepotong es krim pada Kadaffi.  Sedangkan Araka mendekat ke arah Agni namun anak itu tak mengatakan apapun membuatnya sedikit bingung. “Kak Raka butuh apa?” tanya Agni. “Bantu.” Agni terdiam lalu tersenyum lembut, ia meletakan sayuran-sayuran diatas meja dapur dan pisau. “Kak Raka tolong potongin bahan-bahannya ya?” tanya Agni yang dijawab Araka dengan dehaman.  Lalu wanita itu bergerak menuju ke arah meja makan yang hanya berjarak beberapa meter dari dapur. Agni meminta Abian yang sedang memakan es krim untuk membantu Araka yang sedang memotongi wortel. “Potongnya gimana ini?” tanya Araka sambil menatap datar ke arah Abimanyu yang baru masuk ke area dapur. “Diiris-iris aja, Kak,” ujar Abian mengingat pesan Agni sambil menjelit es krimnya. Sedangkan Agni kini berada di meja makan bersama Kadaffi diatasnya dan juga Abimanyu yang sedari tadi memperhatikan. “Daffi mau yang buka!” pinta anak itu bersemangat saat Agni hendak memotong bungkus tepung. Abimanyu bangkit dari duduknya dan membantu Kadaffi memegangi gunting. Jarak Agni dan Abimanyu cukup dekat, malah tubuh mereka bersentuhan. Sebenarnya tidak apa, toh, mereka juga sudah sah sebagai suami dan isteri. Namun setelah beberapa hari mereka menikah, ini pertama kalinya Agni bisa melihat Abimanyu sedekat ini, selain membantu melepaskan pakaian kerja suaminya. Rahang yang tegas, mata yang tajam, bentuk wajah yang rupawan, bentuk tubuh yang atletis membuat Abimanyu begitu ‘wah’ sebenarnya Agni tak lagi memikirkan lelaki rupawan nan tampan mengingat status janda dengan satu anak, terpenting baginya lelaki itu memiliki pribadi yang baik membuat Agni itu sudah cukup bagi Agni. Namun ketika akhirnya ia menikah dengan seorang Abimanyu Bimasena, ia langsung jatuh hati pada suaminya. “Ayah coba sini,” panggil Kadaffi sambil terkikik. Abimanyu mendekat dan bocah itu langsung mencoret wajah Ayahnya dengan tepung. Kadaffi tertawa melihat ekspresi terkejut Ayahnya. “Ayah balas yaa..” Abimanyu melakukan pembalasan membuat Kadaffi tertawa bahagia. “Udah Ayah sama Daffi, nanti tepungnya habis.” Bukannya mematuhi perkataan Agni, keduanya malah saling pandang membuat Agni curiga. “Serang Ibu jugaaa...” teriak Kadaffi sambil tertawa riang juga dengan Abimanyu yang mengotori tepung di muka Agni. Wanita itu akhir ikut tertawa. Sedangkan di dapur, Araka menahan emosinya melihat pemandangan dimana Abimanyu, Agni juga Kadaffi tertawa bermain tepung. Jadi ia sedikit menghentak-hentakan pisau pada wortel yang sedang ia potong. “Kok Kak Raka potongnya kayak gini, sih!!” “Kak mau goreng ayam?” tanya Agni lagi lebih tegas namun tidak keras. Agni baru selesai sholat  Abimanyu balik Buat gorengan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD