Seolah mengetahui kesedihan yang mereka alami, rintik hujan mulai turun membasahi sebagian bumi. Semilir angin yang terasa dingin hingga menusuk kulit membuat siapa saja memilih tetap berada di rumah. “Kak Bian,” panggil Agni ketika anaknya itu masuk ke dalam kamar sambil membawa segelas air putih untuk Kadaffi. “Iya, Bu?” tanya Abian sambil menyerahkan gelas itu kepada Agni. “Kak Rakanya suruh masuk, kasian, nak. Diluar hujan.” Agni mengatakannya sambil membantu Kadaffi duduk, bocah itu langsung meneguk minumannya dengan cepat. Begitu kehausan hingga menghabis airnya sekali tandas. Wanita itu mengelus dahi bocah lima tahun itu yang penuh keringat. Abian terdiam, matanya menatap sosok Kadaffi yang kini memeluk Agni dengan lesu. Namun, ia bisa melihat waiah bocah itu yang mulai memerah,

