Abimanyu benar-benar pusing. “Tapi, kamu sedang tidak baik-baik saja, Agni.” “Aku enggak papa kok, Mas. Beneran.” Abimanyu menghela nafasnya, memijit dahinya pusing ketika melihat Agni yang kini duduk diatas kasur kamar menatapnya begitu berharap. Ia sebanarnya tak tega untuk menolak keinginan Agni yang mungkin amat jarang ia dengar, kala itu ia berjanji apapun kemauan isterinya akan ia kabulkan. Akan tetapi harusnya waktu itu Abimanyu mmeberi pengecualian terhadap janjinya agar menolak permintaan Agni jika kondisi wanita itu membuatnya khawatir. “Aku pengen banget ke Vila kemaren, Mas. Udaranya sejuk. Aku juga lengen ajak anak-anak, mereka pasti senang. Lagi pula besok juga tanggal merah.” Agni tiba-tiba ingin pergi ke Vila Abi yang berada di puncak. Abimanyu akan langsung mengangguk

