Unexpected

1274 Words
“Lepasin tangan lo atau lo bakal berurusan sama gue!” gertak cowok yang baru keluar dari mobil—dan ternyata adalah Alvin—seraya mencengkram kerah baju pria yang mencekal tangan Vanta. “Si-siapa lo?! Gue cuma mau anterin dia pulang kok, maksud gue baik,” ujar pria itu terbata. Vanta agak terperangah ketika mendapati orang yang menolongnya ternyata Alvin. Sebenarnya Tuhan mengirimkan penyelamat untuknya atau malah akan memasukkannya ke kandang buaya? Ditatapnya tajam lelaki m***m pengganggu Vanta seraya berkata, “Nggak perlu repot. Gue cowoknya, jadi jangan ganggu dia. Cepet lepasin tangan lo!” ‘WHAT? Cowok gue maksudnya?’ Vanta melongo, speechless. ‘Ih, nggak sudi! Tapi bodo amat deh, yang penting selamat dulu.’ Batin Vanta lagi. Pria itu langsung melepaskan cekalannya, refleks Alvin juga melepaskan cengkraman pada kerah baju pria itu dengan sentakan. Masih mengamati gerak-geriknya saat pria itu menstarter motor. Samar-samar terdengar u*****n saat dia hendak tancap gas. “Cih, b******k! Ada cowoknya!” “Ngapain lo malem-malem begini?” tanya Alvin mengagetkan Vanta. Yang ditanya kontan menoleh. “Lo sendiri ngapain?” Dia balik bertanya, lalu memegang pergelangan tangannya yang terasa sakit bekas cengkraman pria tadi. “Bukan urusan lo.” “Ya udah, nggak usah tau urusan gue juga!” ketus Vanta tidak mau kalah. Alvin berdecak. “Ni anak, udah ditolongin, bukannya bilang makasih.” “Terima kasih.” Vanta segera kembali berjalan. Malas lama-lama meladeni cowok itu. Baru selangkah maju, Alvin meraih kedua pundaknya dan menariknya untuk menghadap ke arah lelaki itu. ”Gue anter.” “Nggak, nggak usah. Sama orang yang tadi aja gue ngeri, apa lagi sama lo yang jelas-jelas neror gue terus?” Kalimat Vanta yang terus terang membuat Alvin mengangkat alisnya. Terdapat tawa pada sepasang sorot matanya. “Udah malem, ntar kalo lo dicegat sama orang nggak jelas kayak tadi lagi gimana? Jangan harap gue bisa nolongin lo lagi.” ‘Siapa juga yang ngarep dia tolongin?!’ Namun, Vanta tetap memikirkan ulang tawaran cowok itu. Ketika ingin memutuskan untuk menerima tawaran Alvin, tercium bau tembakau dari kemeja yang dikenakan Alvin. Samar-samar ia juga mencium bau lain. Sontak kedua alis Vanta menyatu. “Bau rokok, bau alkohol.” Bekerja di kafe membuat hidungnya lebih peka terhadap aroma yang tak asing itu. Cowok itu mengendus singkat bajunya. “Cuma dikit kok, tenang aja.” Mana mungkin sedikit sih kalau baunya aja membekas gitu, pikir Vanta. “Lo minum?” Gadis itu refleks menyuarakan pertanyaannya. Alvin melihat sarat keraguan pada wajah cewek di depannya. ”Gue nggak bakal mabuk cuma gara-gara minum sedikit doang. Ini gara-gara ketumpahan aja tadi.” Masih dengan perasaan mengambang antara percaya dan tidak percaya, Vanta berusaha meneliti raut dan sorot mata Alvin. Memastikan kalau cowok itu tidak terpengaruh alkohol. Apa benar anak ini masih sober? Dia bakal mengemudi dengan benar, kan? Nggak seperti berita yang pernah ada, kasus penabrakkan selusin manusia karena si pengendara mobil tersebut mabuk parah. Vanta jadi bergidik membayangkannya. Seakan bisa membaca pikiran perempuan di hadapannya, Alvin kembali meyakinkan, “Gue bakal hati-hati nyetirnya. Jangan kelamaan mikir.” Lelaki itu membukakan pintu di sisi kiri mobilnya, “Cepetan masuk. Gue juga mau pulang.” Sebelum Vanta mengeluarkan satu patah kata, cowok berhoodie abu-abu itu sudah keburu mendorongnya masuk ke dalam mobil. Alvin yang menyusul masuk di sebelahnya menyalakan mesin dan memasang sabuk pengaman. Duduk di dalam mobil cowok yang mengganggunya, bersebelahan dengannya, tidak pernah Vanta bayangkan akan terjadi. Siapa sangka orang yang akan menolongnya di tempat yang jauh dari kampus adalah makhluk abstrak satu ini. Bukan itu saja, Vanta juga baru pertama kali merasakan duduk di dalam mobil sport mewah seperti milik Alvin. Interior mobil dua pintu itu tidak berbeda dari penampilan luarnya, tampak mengagumkan. Pasti mobil ini sangat mahal. “Tumben lo nggak naik motor?” Cowok itu memulai percakapan. “Perlu gue jawab?” “Kalo nggak, ngapain gue nanya?” “Sekali lagi, bukan urusan lo,” sahut Vanta dingin. “Jawaban apaan tuh?” Vanta memutar bola matanya. Tidak mau meladeni lagi. Dia capek, berharap cowok itu nggak usah mengajaknya bicara. Pekerjaan sambilannya sebisa mungkin tidak ingin diketahui oleh teman kampus. Dia tidak mau dicap buruk karena bekerja sebagai waitres di sebuah café merangkap Bar itu. Pramusaji di café malam sering kali dikaitkan dengan hal yang meresahkan untuk anak kuliahan. Padahal café tempatnya bekerja cuma sebagai tempat santai orang-orang, tidak lebih. “Ke mana arah pulang ke rumah lo?” tanya Alvin kemudian. Vanta menunjukkan jalan menuju rumahnya. Beberapa saat mereka hanya duduk dalam keheningan. Keduanya tidak ada yang berniat bicara. Akhirnya Vanta mengeluarkan earphone dan ponsel dari dalam ransel. Alvin melirik Vanta yang duduk manis tanpa suara. ”Denger lagu apa sih lo?” Ditariknya earphone yang terpasang di telinga kanan cewek itu. Sebelah alisnya naik ketika tidak mendengar suara apa pun dari earphone itu. “Kok nggak nggak kedengeran apa-apa? Rusak ya?” Ya iyalah nggak kedengaran. Vanta nggak memutar lagu apa-apa kok. Cuma salah satu kebiasaannya menenangkan diri dan supaya dia nggak terlibat percakapan dengan laki-laki itu. Ralat. Maksudnya perdebatan, bukan percakapan. “Nggak kedengaran? Ni gue besarin volumenya.” Saking kreatifnya, Vanta mencari lagu di ponsel, memasang lagu itu dengan volume maksimal. Tidak lupa sebelumnya dia melepas earphone yang dipakainya di telinga kiri lebih dulu. “Haisss! Sialann!” pekik Alvin sambil melempar earphone milik Vanta. Gendang telinganya nyaris pecah. “Eh, di sebelah sana belok kiri. Gue turun di situ.” “Rumah lo di situ?” “Nggak, tapi udah deket. Gue nggak sebodoh itu langsung nunjukkin rumah gue ke elo! Kalo lo tau rumah gue, sewaktu-waktu bisa aja lo kirim bom ke rumah gue,” tuduh Vanta asal. “Heh, elo tuh kalo ngomong nggak pernah disaring dulu ya?” “Gue bukan tukang saringan.” Dia menarik earphone-nya dan menggulungnya ke ponsel. ”Stop! Di sini aja.” “Ya, ya, terserah lo deh,” Alvin menginjak rem. “Thanks.” Setelah satu kalimat singkat itu Vanta melompat turun dari mobil Alvin, menunggu sampai Alvin pergi dari tempat itu. “Kenapa diem di situ?” tanya Alvin membuka kaca mobilnya. “Nunggu lo pergi.” “Ya elah, kayak nggak rela pisah sama pacar aja lo.” Bukannya malu, bukan tersipu, Vanta malah meringis jijik memandangnya. Tolong deh, nggak ada yang sudi jadi pacar dia yang gosipnya m**o. “Udah sana, bawel amat sih jadi cowok!” Lelaki itu hanya berdecak seraya menutup kaca mobilnya. Setelah Alvin berputar meninggalkan tempat itu, ia berderap menuju rumahnya yang tidak jauh dari sana. “Udah pulang? Tumben cepet?” tanya mama ketika Vanta tiba di rumah. “Iya Ma, tadi lebih awal selesainya,” Vanta tidak berniat cerita pada mama kalau Alvin yang mengantarnya pulang. Pasti bisa bikin mama berasumsi kalau orang itu sebenarnya baik, dan bla... bla... bla... Jangan tertipu dengan kebaikan dia yang cuma satu kali, Ma. Ata sih tidak akan percaya sama cowok itu. Cowok yang baru memotong rambutnya? Big NO. Tapi kalau dia tidak percaya sedikit pun, apa yang melandasinya sehingga ia berani duduk semobil dengan cowok itu? Alvin juga yang telah menolongnya tadi. Kemudian teringat Alvin yang membahas soal pacar di depannya. Ih, amit-amit. Vanta nggak mau punya pacar kayak dia. Yang ada nanti di-bully tiap hari. Eh, ngapain ngayal jadi pacarnya cowok otak sengklek kayak gitu? Astaga.... Ia masih duduk melamun di tempat tidur. Disentuhnya rambut yang sekarang menjadi pendek. “Ya Tuhan, semoga orang itu cepet tobat. Kasian orang tuanya nanggung dosa dia. Yang lebih kasian lagi saya, ketiban sialnya terus. Buat keajaiban apa gitu biar dia jadi baik. Amin.” Kemudian ia merebahkan diri, ditariknya selimut. Vanta berharap besok dia nggak akan ketemu lagi dengan cowok itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD