Pagi-pagi sekali Vanta sudah dikejutkan oleh sebuah suara, ”Tata! Miss you, Honey!”
Dua tangan yang mulus melingkari lehernya. Siapa lagi yang memangilnya dengan panggilan itu kalau bukan Jessi. Temannya yang suka bersikap genit kepadanya cuma Jessi. Yang berani nempel-nempel dan gelayut-gelayut ke Vanta cuma Jessi. Vanta nggak seakrab itu dengan teman-teman cewek di jurusannya meski dia sering dikerumuni teman-teman untuk membantu mengajari tugas mereka.
Hubungan timbal balik dan hubungan persahabatan jelas beda. Apa lagi dia cenderung memisahkan diri saat kelas berakhir. Lebih sering menolak ajakan temannya untuk makan bersama dan pergi menemui Jessi.
Entahlah, dia suka berada di dekat gadis cerewet yang tidak pernah kehabisan bahan obrolan itu. Seperti dulu, dia selalu cocok berteman dengan gadis yang ceria. Sifat mereka yang berbanding terbalik malah terasa klop.
”Apa sih lo? Pagi-pagi udah heboh. Gue masih normal ya,” sahut Vanta seraya melepaskan kedua tangan itu.
”Abisnya lo jadi ganteng, sih!” Gadis yang rambutnya dicat dengan warna ash brown itu tidak menyerah untuk menggoda Vanta, kali ini ia bergelayut manja di lengan Vanta.
Kemarin Vanta memotong rambutnya sangat pendek, walaupun sebetulnya masih bisa diselamatkan sebatas bahu, tapi dia terlanjur kesal. Tidak segan-segan meminta penata rambut memotong rambutnya sebatas leher.
Senyum manis yang tersungging di bibir Jessi segera berubah menjadi raut serius. ”Lo pas pulang kemarin nggak pa-pa, kan?”
“Iya, tenang aja.”
“Nggak trauma ke kampus, kan?”
“... Kayaknya nggak.”
“Nggak berusaha buat ‘budir’ kan?” tanya Jessi penuh kekhawatiran.
“Budir?” Vanta menatap cewek itu bingung.
“Bunuh diri.”
“Ya ampun Jesslyn, pikiran lo ya! Mana mungkin gue setolol itu?” Lalu melanjutkan, “Tapi....”
Sambil memperbaiki posisi tali ransel di sebelah bahunya Vanta berkata lagi, “Gue sempet mikir mau cuti kuliah sampe si Kunyuk itu lulus.”
“Hah? Jangan dongg...! Gue baru seneng, lo lebih banyak cerita ke gue sekarang.” Mengerucutkan bibir sambil mengguncang lengan Vanta. “Jujur tadinya gue ngerasa obrolan kita satu arah biarpun sering bareng. Lebih banyak gue yang nyerocos ketimbang lo.”
Vanta tersenyum samar. “Sorry, gue cuma... memang ngerasa nggak ada hal istimewa yang perlu diceritain. Tapi gue selalu dengerin dan perhatiin curhatan lo kok!”
Ada banyak hal yang tidak bisa diceritakannya pada Jessi. Ia belum siap untuk kembali mempercayai orang lain. Masih ada yang terasa mengganjal di hatinya. Bukan berarti ia tidak percaya pada Jessi. Hanya saja, rasa takut dan waspada itu masih ada.
“Iya gue tau. Lo tuh kayak kotak misteri, kadang orang sulit nebak lo. Tapi semenjak perang lo sama Alvin, lo jadi lebih ekspresif.”
“Kayaknya itu bukan ekspresif, makan hati yang ada.”
Jessi menanggapi dengan kekehan.
Kemudian Vanta melirik jam di ponselnya. Bicara dengan nada terburu. “Eh, udah dulu ya, gue ada kelas ni.”
”Gue juga setengah jam lagi ada kelas. Bye...,” ujar Jessi sambil melambaikan tangannya berkedip-kedip genit. Mirip lampu bohlam rusak.
Vanta hanya menyeringai geli. Mereka berpisah di pecahan lorong kampus, masuk ke dalam lift yang berbeda. Meski kemarin baru saja terjadi hal menggemparkan antara Vanta dan Alvin, suasana kampus pagi itu tetap sama. Ramai oleh mahasiswa yang hendak mengikuti kelas.
Semua tetap berjalan seperti biasa. Hanya Vanta yang berbeda. Dia, penampilannya, dan sakit hatinya. Hari-hari perkuliahan damai yang semula ia jalani telah berubah.
***
Malam ini adalah jadwal kerja untuk Vanta. Sudah hampir dua bulan ia menjadi waitress pengganti selama tiga bulan di sebuah Café & Bar kecil yang letaknya agak jauh dari daerah kampus.
Ini kali kedua Vata bekerja sambilan. Salah satu hal yang tak pernah diceritakannya pada Jessi. Sebelumnya ia pernah bekerja tetap sebagai barista. Namun karena jadwal kuliah yang padat, dia harus berhenti.
Kerika teman baristanya menawarkan pekerjaan ini, Vanta merasa jam kerjanya tidak mengganggu waktu kuliah. Dan lagi hanya tiga bulan untuk menggantikan waitress yang cuti. Setelah coba melamar ternyata dia diterima. Mungkin bisa dibilang berkat privilege kenalannya.
“Beres-beres gih, Ta. Kamu pulang duluan aja,” kata waitress yang lain.
Vanta melirik jarum pendek jam pada pergelangan tangannya yang berada di angka sepuluh. “Kak Windy sama yang lain gimana?”
Kak Windy, teman kerja Vanta, berumur dua puluh enam tahun. Tingginya hampir sama dengan Vanta. Rambutnya yang panjang sebahu tetap dapat menampilkan keayuan khas Jawa. Dia juga wanita yang ramah.
Sebenarnya Windy terkejut ketika melihat rambut pendek Vanta saat baru datang tadi. Sejak melihat Vanta, ia mengagumi rambut hitam Vanta yang panjang. Sangat disayangkan, kini rambut panjang itu malah tidak mencapai bahu.
“Sebentar lagi kan memang waktunya pulang, tenang aja,” ujar kak Windy lembut.
“Hmm, oke deh. Aku ganti baju dulu ya, Kak.”
Vanta berbegas ke toilet dan mengganti pakaian. Ia terpaksa harus memesan ojek online, karena mengendarai motor di malam hari tidak memungkinkan untuknya. Setelah selesai mengganti seragam dengan pakaian bebasnya, ia pamit pada seluruh teman-temannya, kemudian pulang.
Sialnya, sejak tadi halaman aplikasi terus saja menampilkan pencarian. Vanta belum mendapat driver sama sekali. Karena tak sabar akhirnya ia mulai melangkah menuju jalan besar. Berjalan dengan tenang di pinggir jalan yang taka da trotoar itu.
Tiba-tiba dari arah berlawanan terdapat sebuah motor yang melaju pelan. Sosok pria yang mengendarai motor itu terlihat mencurigakan. Pria itu mengamati Vanta dari ujung kepala sampai ujung kaki, membuatnya risih.
Diam-diam Vanta melirik dengan ekor mata sambil tetap berjalan, ia tidak menghentikan langkahnya sama sekali. Setelah motor pria itu berpapasan melewatinya, ia mendengar dari belakang suara motor yang menderu mendekatinya.
“Cewek... mau kemana malem-malem gini? Ikut Abang aja, yuk.” Pria yang tadi mengamatinya telah memutar tujuan mengikuti arah Vanta berjalan.
Vanta tidak mempedulikan ocehan-ocehan pria itu, malah mempercepat langkahnya. Dia melirik tak nyaman lantaran orang aneh tersebut masih mengikutinya.
“Hai... sombong amat sih, nggak usah jual mahal gitu dong.” Motor itu berhenti tepat di depan Vanta, menghalangi jalannya.
Dia hendak menghindar menjauhi orang itu. Namun sebelum sempat menjauh, pria mencurigakan tersebut mencekal tangannya.
“Apa sih?! Lepas!” bentak Vanta berusaha menghempas tangannya yang dicekal.
“Duh, galaknya si geulis. Nanti dianter pulang, kok.”
“Nggak usah, minggir!” Dengan emosi sekali lagi Vanta menarik paksa pergelangan tangannya yang dicengkram, tapi tenaga orang itu terlalu kuat.
Ia berusaha memberontak sekuat tenaga. Alih-alih berhasil, orang itu malah menangkap pergelangan tangannya yang sebelah lagi.
“Lepasin, nggak?!” Semakin ia berontak, semakin kuat cekalan pria itu.
Saat itu jalanan tidak terlalu sepi. Masih ada beberapa pengendara mobil yang berlalu lalang. Tapi tidak satu pun orang yang peduli. Vanta terus berdoa dalam hati agar ada seseorang yang menolongnya.
Merasa perlawanannya tidak berarti, ia mencoba untuk berteriak mencari pertolongan. Pria itu terus menarik tangannya hingga ia bisa merasakan perih yang teramat.
Dewi keberuntungan berpihak padanya kali ini. Sorotan lampu mobil mengarah kepada mereka. Membuat keduanya menunduk dan menyipitkan mata dari silaunya lampu tembak mobil. Lebih merasa beruntung lagi, mobil itu berhenti di dekat mereka. Dan si pengendara keluar dari mobil berwarna merah terang itu.
“Lepasin tangan lo atau lo bakal berurusan sama gue.”