10. MSC

2016 Words
Shanum bersama Wafi pun datang ke rumah bu Hanin. Dia mendapat kabar bahwa bu Hanin telah pulang dari rumah sakit. Dan hari ini Shanum dan juga Wafi di undang untuk makan malam bersama. Awalnya Shanum menolak dan merasa kurang nyaman. Namun bu Hanin dengan keras membujuk Shanum sehingga Shanum luluh dan bersedia datang ke rumahnya. Shanum merasa takjub saat memasuki rumah bu Hanin, ia kira bu Hanin tak sekaya ini. Tapi setelah melihat rumahnya Shanum pun langsung minder. Dan dia juga langsung berfikir apa iya dirinya pantas menjadi menantu serta isteri dari orang kaya seperti mereka. Dia pun langsung berfikir, pasti anak bu Hanin langsung menolaknya, apalagi dengan keadaannya seperti sekarang. “ Wahhhh, bunda rumah nenek besar banget.” Ucap Wafi yang juga ikut merasa takjub saat mendatangi rumah bu Hanin. “ Iya sayang.” Jawabnya. “ Mba Shanum.” Panggil seseorang saat Shanum dan Wafi masih berdiri di halaman rumah. Dan Shanum langsung menyalami wanita yang lebih tua darinya. “ Iya bu, Assalamualaikum.” Salam Shanum. “ Waalaikumsalam, mba. Panggil saja saya bi Ami. Oh iya mba Shanumnya udah di tungguin ibu lho. Ayo mba masuk.” Ajak bi Ami. “ Iya bu, eh maksud saya bi Ami.” Jawabnya sedikit gugup. Kemudian Shanum menggandeng tangan Wafi untuk masuk ke rumah besar tersebut. Lagi-lagi Shanum di buat takjub dengan isi dari rumah tersebut. Baginya keluarga bu Hanin pasti bukan keluarga biasa. “ Nenek.” Panggil Wafi saat melihat bu Hanin. Dan Shanum yang tadinya masih terbengong-bengong pun langsung sadar. Dan menyalami bu Hanin. “ Assalamualaikum ma.” Salamnya. “ Waalaikumsalam num. Mama seneng banget akhirnya Shanum sama Wafi main ke sini. Tapi mama masaknya belum selesai num. Maaf ya sayang.” Ucap bu Hanin. “ Aduh ibu. Niat Shanum ke sini kan buat silaturahmi bu. Tapi malah buat ibu kecapean. Padahal ibu baru keluar dari rumah sakit. Shanum jadi ngga enak hati.” Sesal Shanum. “ Husssh jangan bicara seperti itu num. Tadinya bi Ami yang magang buat masak tapi langsung mama tolak karena mama pingin Shanum ngerasain sendiri masakan mama nak. Apalagi nenek udah janji mau buatin cucu nenek ini pudding cokelat paling enak.” Balas bu Hanin yang terlihat begitu bahagia. “ Iya mba Shanum, padahal ibu baru sembuh tapi setelah dapat kabar mba Shanum mau datang. Ibu udah terlihat sangat bugar mba. Dia semangat banget buat masak.” Ujar bi Ami. “ Kalau gitu biar Shanum bantuin mama ya.” ucapnya. “ Shanum beneran mau bantuin mama sayang.” Tanya bu Hanin dan Shanum pu mengangguk. “ Wafi juga mau bantuin nenek masak.” Ucap Wafi yang ikut-ikutan. “ OK!! Kalau begini nenek masaknya tambah semangat karena dibantuin bunda sama Wafi.” Balasnya dan langsung menggandeng tangan Wafi untuk menuju dapur sedangkan Shanum mengikuti dari belakang. *** Akhtar pun dalam perjalanan pulang, sebenarnya dirinya sangat malas untuk pulang ke rumah. Apalagi saat dirinya tadi di telfon mamanya bahwa hari ini dia harus pulang lebih awal karena mamanya akan memperkenalkan dirinya dengan Shanum. Dia pun sudah mencoba berbagai alasan untuk menghindari pertemuan ini. Tapi apalah dayanya yang sulit sekali untuk menolak permintaan sang mama. Apalagi keadaan mamanya belum stabil, ia khawatir mamanya kenapa-napa lagi. “ Pasti dia wanita yang ngga bener, pasti dia melakukan ini dan mau menikah denganku karena dia tahu aku orang kaya. Dia pasti sengaja memanfaatkan kebaikan mama, Aku harus cari tahu apa motif dia sebenarnya. Biar nantinya mama ngga akan menyesal.” Ucapnya sendiri menebak-nebak niatan buruk Shanum. Sesampainya di rumah Akhtar mendengar suara yang begitu ramai di dalam rumah. Ia langsung menduga bahwa wanita yang di undang mamanya sudah datang. Akhtar berjalan tanpa menimbulkan suara, agar mamanya tak tahu kehadirannya. Tapi kali ini Akhtar sendiri yang di buat bengong saat melihat pemandangan yang sangat berbeda dari biasanya. Mamanya terlihat begitu bahagia memasak bersama seorang gadis berjilbab dengan anak kecil. Suasana di dapur penuh dengan canda tawa, tak terasa senyuman pun muncul di bibir Akhtar. “ Udah lama banget aku ngga ngliat mama tertawa sebahagia ini.” batinnya Dia pun langsung menuju kamarnya sebelum mamanya menyadari kepulangannya. Sedangkan bu Hanin, Shanum dan Wafi pun sudah selesai memasak. Mereka pun langsung menata masakannya di meja makan untuk di hidangkan. Selesai itu mereka pun langsung menunaikan ibadah shalat maghrib. Bu Hanin kembali kagum karena Shanum bisa mengajari putranya untuk melaksanakan shalat dengan benar. Kemudian setelah melaksanakan shalat mereka pun duduk di kursi makan sambil menunggu Akhtar yang belum juga terlihat. “ Kok jam segini Akhtar belum pulang juga ya, padahal tadi mama nyuruh dia buat pulang lebih awal.” Protes bu Hanin yang belum mengetahui Akhtar kembali. Bu Hanin pun langsung berusaha menghubungi Akhtar. “ Mas Akhtarnya sudah pulang dari tadi kok bu.” Jawab bi Ami yang sebenarnya tahu Akhtar telah kembali. “ Owalah kenapa kamu ngga bilang dari tadi.” “ Mas Akhtarnya yang nyuruh saya jangan bilang dulu ke ibu.” Jawab bi Ami “ Anak itu memang selalu begitu, bi panggil dia suruh turun sekarang juga.” Kesal bu Hanin “ Ngga perlu nyuruh bi Ami ma, Akhtar udah turun.” Balas Akhtar yang turun dari tangga dan mendekat kearah meja makan. Ketika Shanum mendengar suara Akhtar dirinya pun langsung menunduk. Apalagi saat Akhtar sudah duduk berseberangan dengannya. Perasaan canggung pun mulai timbul. “ Kenapa pulang dari tadi ngga bilang sih.” Protes bu Hanin. “ Orang mama lagi sibuk di dapur ya Akhtar ngga mau gangguin.” Jawabnya dengan suara ketus. Tatapannya pun langsung beralih menatap  Shanu dan Wafi secara bergantian. Tapi pandangan itu begitu menakutkan bagi Wafi. Karena Wafi yang masih begitu asing dengan sosok Akhtar pun merasa takut. Apalagi pandangan Akhtar benar-benar tak bersahabat. “ Tar jangan ngliatin mereka seperti itu dong, wajah kamu tuh nyeremin banget. Kan Wafi jadi takut. Kenalin ini Shanum wanita yang mama ceritain ke kamu, cantik kan dia.” Ucap bu Hanin. “ Jadi ini janda beranak satu yang mama ceritain ke Akhtar.” Sindirnya. “ Akhtar.” Cegah mamanya yang langsung menatap tak suka mendengar ucapan Akhtar. “ Tapi omongan Akhtar bener kan ma, tunggu gimana Akhtar mau nilai dia cantik atau ngga orang mukanya aja ditutupi semua kaya ninja.” Sindirnya lagi. “ Akhtar cukup, jaga sopan santun kamu. Mama ngga pernah ngajari kamu bicara seperti itu di hadapan orang lain.” Balas bu Hanin sedikit keras. “Maafkan Akhtar ya num.” “ Ngga papa kok ma, yang mas Akhtar ucapkan itu benar kok.” Jawab Shanum Sedangkan Akhtar langsung diam dia pun tak ingin merusak mood mamanya lagi. Namun tak lama kemudian ponselnya pun berdering. Dia langsung mengangkatnya. Setelah selesai menelfon Akhtar pun bangun dari duduknya, ia pamit karena ada urusan pekerjaan. “ Ma, Akhtar ngga bisa ikut makan malam. Ada urusan yang harus Akhtar selesaikan sekarang juga, Assalamualaikum.” Pamitnya. “ Waalaikumsalam, tapi tar kamu kan belum jawab pertanyaan mama yang kemarin-kemarin.” Tanya mamanya yang kesal karena Akhtar selalu mementingkan pekerjaan. “ Terserah mama aja, apapun yang buat mama seneng Akhtar setuju aja.” Jawabnya sambil berjalan keluar rumah. Dan bu Hanin langsung tersenyum lebar mendengar jawaban putranya. “ Makasih sayang.” Balasnya. Shanum yang mendengarkan hal tersebut pun langsung meremas jari jemarinya. Dalam hatinya saat ini benar-benar tak bosa ia deskripsikan. Apalagi mendengar jawaban Akhtar barusan. Itu tandanya Akhtar pun menyutujui perjodohan yang ngga masuk akal ini. “ Kamu sudah dengar kan num jawaban Akhtar barusan. Dia setuju untuk menikah dengan kamu. Memang awalnya semua ia lakukan karena mama. Tapi mama yakin kelak kamu pasti bisa membuatnya melakukan semua itu karena dia mencintaimu dan karena Allah. Bantu mama agar anak mama bisa menemukan cintanya lagi nak.” Ucap bu Hanin Shanum dengan malu-malu pun menjawab. “ Insyaallah bu.” Jawabnya. “ Bunda om tadi itu siapa kok dia keliatan serem banget sih.” Tanya Wafi. “ Oh tadi itu namanya om Akhtar sayang dia putra nenek.” Jawab bu Hanin. Kemudian pandangan Wafi langsung mengarah pada bundanya. Dia jadi teringat ucapan bundanya semalam tentang pembicaraan ayah baru. “Jadi dia yang bakalan jadi ayah baru Wafi.” Tanya Wafi. Dan Shanum pun langsung mengangguk mengiyakan. “ Jadi kamu sudah menceritakan semuanya pada Wafi num.” Tanya bu Hanin. “ Iya bu, Insyaallah Wafi akan mengerti sedikit demi sedikit bu.” Jawab Shanum. “ Tapi bunda kalau dia bakalan jadi ayah baru Wafi kenapa dia keliatan ngga suka sama Wafi dan bunda.” Tanya Wafi. “ Sayang om Akhtar bukannya ngga suka sama kita, tapi raut wajahnya seperti itu karena dia lagi banyak kerjaan yang harus di fikirin. Coba ingat-ingat kalau Wafi lagi banyak PR dari bu guru pasti Wafi pusingkan. Dan wajah Wafi pasti cemberut, iya kan.” Jawab Shanum. Agar putranya tak memiliki fikiran buruk tentang calon ayah barunya. “ Iya ya bun, kalau begitu kasihan dong om Akhtar.” Balas Wafi. “ Iya dan Wafi harus bantu dengan doa supaya pekerjaan om Akhtar segera selesai nak.” Balas Shanum. “ Dan mulai sekarang Wafi juga sudah bisa panggil om Akhtar dengan sebutan ayah ataupun papa sayang. Karena sebentar lagi om Akhtar akan jadi orang tua Wafi.” Ujar bu Hanin. Wafi pun mengangguk menyetujuinya. Tapi Shanum kembali teringat pembicaraannya dengan Wafi semalam. Flashback on. Shanum malam ini sedang menemani Wafi tidur. Tapi yang ditemani pun tak kunjung memejamkan matanya. Justru dia terus memandangi wajah bundanya. “ Sayang kenapa dari tadi kamu ngga tidur malah liatin bunda terus nak.” Tanya Shanum. “ Abisnya bunda cantik.” Jawabnya, tapi tangan Wafi kemudian beralih memegang bekas luka yang ada di wajah Shanum. “ Bunda apa ini sakit.” Tanyanya. Mendengar pertanyaan Wafi membuat hati Shanum terharu. “ Ngga kok, luka bunda kan udah sembuh sayang jadi ngga sakit lagi.” Jawabnya. “ Bunda kenapa sih kita ngga tinggal bareng ayah Naufal aja. Kan nanti kalau kita tinggal disana bunda ngga perlu cape kerja lagi. Nyari uang buat sekolah Wafi.” Tanya Wafi. Shanum yang mendngar itu pun langsung memeluk putranya. “ Sayang, dengerin bunda baik-baik ya. Bunda sama ayah Naufal ngga mungkin tinggal bareng nak. Karena bunda sama ayah Naufal ngga menikah sayang. Jadi kita ngga boleh tinggal bareng.” Jawabnya. “ Ya udah bunda nikah aja sama ayah Naufal jadi kita bisa tinggal bareng.” Balas Wafi. “ Ya ngga bisa dong sayang, kan ayah Naufal mau menikah sama tante Nasha dan mama juga mau menikah dengan orang lain.” Ujar Shanum mencoba memberikan pengertian pada putranya. “ Kenapa bunda menikah sama orang lain, kenapa ngga sama ayah Naufal aja.” Tanya Wafi terlihat kecewa. “ Karena Allah yang sudah menentukan siapa jodoh bunda dan siapa jodoh ayah Naufal. Nanti kalau bunda udah nikah Wafi bakalan punya dua ayah nak. Dan Wafi juga bakalan punya nenek. Wafi seneng kan.” Tanya Shanum yang mencoba mencairkan keadaan. “ Tapi Wafi kan ngga kenal sama orang itu bunda. Gimana Wafi mau seneng sama orang yang akan jadi ayah Wafi.” “ Sayang ada pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang. Makannya besok Wafi harus mencoba mengenalnya. Jadi Wafi bakalan sayang ke dia nak.” Jawabnya. “ Apa dia bakalan jadi ayah yang baik buat Wafi seperti ayah Naufal.” Tanyanya lagi. “ Insyaallah sayang. Wafi kenal kan sama nenek Hanin.” Tanya balik Shanum dan Wafi pun mengangguk. “ Nenek Hanin baik apa ngga ke Wafi.” “ Nenek Hanin baik banget ke Wafi, katanya dia juga sayang banget ke Wafi bunda. Memangnya kenapa bunda tanya seperti itu.” Tanya Wafi. “ Nah biasanya kalau ibunya baik anaknya baik apa ngga.” Tanya Shanum lagi. “ Pasti dong, kan yang ngajarin anak jadi baik itu ibunya” Jawab Wafi. “ Nah kalau nenek Hanin baik berarti anaknya nenek Hanin baik juga dong. Kalau begitu Wafi ngga boleh khawatir lagi, karena ayah baru Wafi pasti bakalan baik sama Wafi dan bunda.” Balas Shanum. “ Jadi ayah baru Wafi itu anaknya nenek Hanin.” Tanya Wafi. “ Iya sayang yang akan jadi ayah baru Wafi itu anaknya nenek Hanin. Namanya om Akhtar.” Jawab Shanum. Shanum akan terus memberikan pengertian pada putranya. Dia juga tak ingin Wafi terus-terusan bergantung pada Naufal. Salah satu alasan Shanum mau menerima lamaran bu Hanin pun karena Naufal. Ia ingin Naufal terus menerus mengharapkannya. Apalagi setelah mamanya Naufal meminta Shanum untuk mendekatkan Naufal dengan Nasha. Rasa bersalah dan tak nyaman pun timbul pada diri Shanum. Maka dari itu mungkin ini salah satu jalan yang Allah tunjukkan untuknya agar dia bisa terlepas dari Naufal. Dan akhirnya Naufal bisa membuka hatinya sedikit demi sedikit untuk Nasha. Shanum ingin sahabatnya ini menemukan kebahagiaannya sendiri dia tak ingin terus menerus merepotkan Naufal. Flashback off. Pandangan Shanum pun tak lepas dari Wafi dan tak terasa pula air matanya mengalir. Dia segera menghapusnya sebelum bu Hani dan Wafi menyadarinya.“ Bunda harap jalan yang bunda pilih ini benar. Bunda ingin memberikan Wafi kebahagiaan dengan memberikan Wafi seorang ayah yang selalu Wafi imi-impikan sedari dulu. Dan semoga laki-laki yang Allah pilihkan ini bisa menjadi ayah untuk Wafi. Ayah yang bisa menyayangi dan melinduungi Wafi sampai kapanpun dan dalam keadaan apapun. Bismillahirohmannirohim.”batin Shanum yang terus memantapkan hatinya, bahwa apa yang ia pilih kali ini semoga bener di ridhoi Allah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD