Sikap Akhtar kepada mamanya pun sedikit berbeda setelah pertengkaran di restoran beberapa hari yang lalu. Akhtar pun lebih memilih menyibukkan dirinya. Karena ia pun tak ingin menyakiti hati mamanya lagi. Sebenarnya dirinya sudah merasa bersalah karena bicara kasar serta keras pada mamanya. Dia telah menyakiti perasaan mamanya. Maka dari itu Akhtar lebih baik menghindar sampai keadaan tenang. Dan mamanya pun tak akan memaksanya lagi untuk menikahi wanita yang bernama Shanum.
Namun rasa bersalahnya kembali muncul saat dia diberi kabar oleh pembantunya bahwa mamanya terjatuh di tangga. Tanpa memikirkan hal lain dirinya pun langsung menuju rumah sakit untuk melihat keadaan mamanya. Sesampainya di ruangan mamanya, mata Akhtar pun berkaca-kaca melihat mamanya tak sadarkan diri seperti sekarang.
“ Mama bangun ma, maafin Akhtar ma. Karena Akhtar mama jadi seperti ini. Akhtar lalai buat jagain mama. Akhtar mohon ma bangun. Akhtar ngga mau mama seperti ini. Akhtar janji ngga akan menyakiti hati mama lagi.” Ucapnya dengan menggenggam tangan mamanya. Akhtar memang lemah jika sudah dihadapkan dengan mamanya.
“ Akhtar.” Panggil mamanya dengan suaranya yang lemah. Akhtar pun langsung senang mendengar suara mamanya lagi.
“ Alhamdulillah, mama idah sadar. Biar Akhtar panggil dokter dulu ya ma.” Ucapnya, kemudian dia langsung mencari dokter.
Tak lama kemudian mamanya pun diperiksa oleh dokter. Akhtar yang terus mengawasi pun terlihat harapharap cemas. Ia takut ada sesuatu yang parah terjadi pada mamanya.
“ Gimana keadaan mama saya dok.”
“ Setelah melihat hasilnya, Alhamdulillah tak ada yang parah. Tapi ada tulang yang sedikit bengkok. Maka dari itu kita sarankan melakukan terapi untuk mengembalikan tulang tersebut seperti semula.” Jawab Dokter.
“ Saya ikut saja saran dokter aja, kalau itu memang yang terbaik untuk mama saya.” Balas Akhtar.
Setelah pemeriksaan selesai Akhtar kembali duduk disamping mamanya. Disana dia terus memandangi wajah mamanya dengan pandangan sendunya. Mama Akhtar pun terlihat pucat serta menahan rasa sakit.
“ Ma apa masih sakit.” Tanya Akhtar. Namun mamanya tak menjawab dia hanya membalas dengan anggukan serta memalingkan wajahnya darinya. Akhtar yang tahu kalau mamanya masih marah padanya pun merasa tak nyaman. Dia pun meraih tangan sang mama. “ Ma apa mama masih marah sama Akhtar.” Tanyanya lagi.
Tapi lagi hanya gerakan tubuh yang bicara dan belum juga ada ucapan. “ Apa yang bisa Akhtar lakukan agar mama bisa memaafkan Akhtar.” Tanyanya lagi.
“ Menikahlah dengan Shanum.” Jawab mamanya
Akhtar hanya bisa menghela nafas mendengar jawaban mamanya. “ Apa ngga ada cara lain selain itu ma.” Tanyanya.
Kemudian tangan mamanya pun langsung menggenggam tangan Akhtar. “ Tar tolong nak, bantu mama menjalankan nazar yang sudah mama ucapkan. Karena sebelum mama melaksanakannya hati mama ngga tenang. Dan banyak kejadian-kejadian kurang baik selama mama belum melaksanakannya tar. Seperti kemarin mama hampir mengalami kecelakaan lagi dan sekarang mama jatuh dari tangga. Please nak. Menikahlah dengan Shanum.” Balas mamanya.
“ Ma jangan terlalu percaya dengan hal seperti itu, karena itu semua hanya takhayul. Apa yang terjadi pada mama itu sebuah musibah.” Jawab Akhtar.
“ Mama pun tahu kalau itu semua musibah, tapi pasti ada penyebabnya tar. Itu semua bisa terjadi karena ada yang belum mama selesaikan. Mama mohon tar bantu mama.” Pinta mamanya dengan penuh harapan.
Akhtar pun jadi bingung harus menjawab apa. Dia langsung berdiri dan memandang kearah jendela. Tak lama kemudian ponsel Akhtar pun berdering.
Wajah Akhtar langsung terlihat berbeda, tangannya pun mengepal. “ APA.! Ok aku bakalan ke sana sekarang.”
“ Ada apa tar.” Tanya mamanya.
“ Ada sedikit masalah ma, nanti Akhtar ceritain ke mama. Tapi maaf ya ma Akhtar harus pergi sekarang.” Ucapnya dan melangkah keluar. Mama Akhtar sedih melihat putranya pergi begitu saja tanpa menjawab perintaannya. Namun ternyata sebelum Akhtar keluar dari ruangan mamanya. Di depan pintu ia berhenti dan berbalik memandang mamanya.
“ Untuk permintaan mama, akan Akhtar fikirkan. Tapi Akhtar mohon jangan teralu berharap ma.” Jawab Akhtar.
“ Makasih nak.” Balas mama Akhtar yang terlihat bahagia mendengar jawaban Akhtar. Ia tahu kalau Akhtar sudah berkata seperti itu. Dia akan benar-benar memikirkannya.
***
Sedangkan di pabriknya Akhtar terlihat begitu marah, karena salah satu cabang pabriknya habis terbakar. Dan dirinya mengalami kerugian besar, akibat kebakaran tersebut.
“ BOS.” Panggil asisten Akhtar.
“ Gimana apa kamu sudah mencarii tahu apa penyebabnya.” Tanya Akhtar.
“ Sudah bos, ada salah satu sambungan listrik yang rusak dan menyebabkan kebakaran tersebut.” Jawab asisten Akhtar yang bernama Yusril.
“ Kenapa ngga ada yang mengontrolnya, siapa yang jaga semalam.” Tanya Akhtar.
“ Yang jaga semalam satpam baru bos jadi mungkin belum terlalu paham degan tugasnya. Sekarang dia juga sudah dilarikan ke rumah sakit. Luka yang dia dapat cukup parah.” Jawab Yusril.
“ Ok kamu urus semuanya. Dan siapkan rapat untuk hari ini di kantor pusat.” Suruh Akhtar.
“ Siap bos.” Jawab Yusril yang langsung menjalankan tugas dari bosnya.
Begitu pula dengan Akhtar yang langsung menuju ke kantor pusat untuk menyelesaikan masalah ini.
***
Setelah mendapatkan kabar hbahwa bu Hanin masuk ke rumah sakit, Shanum pun bergegas menjenguknya di rumah sakit. Dia terlihat begitu panik mendengar kabar tersebut.
“ Assalamualaikum.” Salam Shanum.
“ Waalaikumsalam, Shanum.” Jawab bu Hanin yang bahagia Shanum dtang untuk menjenguknya.
“ Ya Allah ibu, kenapa ibu bisa seperti ini lagi. Shanum benar-benar khawatir saat tahu ibu masuk ke rumah sakit lagi.” Ungkap Shanum.
“ Ibu ngga papa kok num, Alhamdulillah ibu baik-baik aja nak. Kamu ngga perlu khawatir seperti itu nak.” Jawab Bu Hanin.
“ Syukurlah bu, tapi Shanum sedih melihat ibu terbaring seperti ini lagi.” Balas Shanum.
“ Ibu bahagia sekali ada yang memperhatikan ibu seperti ini. Ibu serasa memiliki anak perempuan num. Ibu juga kangen banget sama kamu nak.” Ujar bu Hanin.
“ Hanin juga kangen sama ibu.” Balasnya.
Dan mereka pun melanjutkan mengobrol banyak hal. Shanum pun bertanya penyebab bu Hanin jatuh dari tangga. Bu Hanin pun menanyakan tentang Wafi, dia sangat merindukan cucunya itu. Dan pada akhirnya beralihlah ke pembicaraan yang sempat tertunda waktu itu. Yaitu pertanyaan tentang bersediakah Shanum menjadi menantunya. Shanum pun belum memberi jawaban pada bu Hanin
“ Shanum, apa kamu sudah menentukan jawaban kamu nak.” Tanya Bu Hanin.
Sedangkan Shanum yang ditanya seperi itu pun langsung bingung. Karena dirinya masih ragu dengan jawaban yang akan ia sampaikan kepada bu Hanin.
“ Ibu ngga memaksa kamu untuk menjawab sekarang nak, jika memang kamu belum memiliki jawaban ibu akan menunggu lagi nak.” Ucap bu Hanin yang sebenarnya sudah tak sabar menunggu jawaban Shanum. Namun saat melihat wajah Shanum yang terlihat bingung jadi dia pun akan memberikan Shanum waktu lagi.
“ Ibu sebelum Shanum menjawab pertanyaan ibu, ada yang ingin Shanum katakan pada ibu.” Jawabnya.
“ Beberapa hari setelah ibu bertanya tentang masalah ini. Wafi bermimpi bertemu seorag lelaki. Dan dia memanggil laki-laki itu dengan panggilan ayah. Namun katanya saat dia mendekati laki-laki tersebut ia terkejut karena seseorang yang ia kira ayah Naufal ternyata bukan. Lakki-laki itu berbeda bu.” Ucap Shanum
“ Mungkin laki-laki yang ada di mimpi Wafi adalah Akhtar num, putri ibu.” Jawab bu Hanin.
Dan ternyata apa yang bu Hanin fikirkan pun sama dengan apa yang Shanum fikirkan selama beberapa hari ini.
“ Bu, Shanum pun pernah berfikir kearah itu. Mungkin ini salah satu petunjuk dari Allah bu. Bismillah bu Insyaallah Shanum bersedia menikah dengan putra ibu. Shanum niatkan semua ini karena Allah bu. Tapi bu jika nanti putra ibu menolaknya, Shanum mohon bu jangan pernah memaksanya. Shanum yakin jika memang dia jodoh Shanum pasti kami akan bersatu bu.” Ucap Shanum.
Dan bu Hanin pun langsung memeluk calon menantunya tersebut. Rona bahagia pun terpancar diwajahnya. Dia benar-benar bahagia akan memiliki menantu seperti Shanum.
“ Alhamdulillah num, ibu senang sekali dengarnya nak. Ibu janji num kalau ibu ngga akan pernah memaksa Akhtar. Ibu pun yakin kalau memang kalian berdua itu jodoh mau berbagai halangan menghadang pun tak akan pernah bisa memisahkan kalian nak.” Jawab bu Hanin.
“ Ibu tapi putra ibu pasti belum tahu masa lalu Shanum bu. Jika nanti dia tahu tentang Shanum yang sebenarnya dan menolak Shanum, Insyaallah Shanum ikhlas bu. Karena itu yang memang harus Shanum terima.”Ujar Shanum.
“ Num, ada sesuatu yang mau ibu katakan juga ke kamu nak. Saat ibu mengutarakan keinginan ibu untuk menjadikan kamu menantu pada Akhtar. Ibu menceritakan padanya bahwa kamu seorang janda beranak satu nak. Ibu tak mengatakan pada Akhtar kalau dulunya kamu pernah hamil di luar nikah sayang.” Ungkap bu Hanin.
Dan ucapan bu Hanin membuat Shanum terkejut. Kenapa bu Hanin membohongi putranya.
“ Kenapa ibu ngga jujur saja padanya bu. Dia berhak tahu tentang Shanum yang sebenarnya. Shanum tak ingin menutupi semuanya bu.” Pinta Shanum
“ Ibu mohon num untuk sementara ini biarkan dia tahu seperti yang ibu ceritakan num. Dan ibu mohon num bantu ibu untuk bisa membuat Akhtar kembali akan perasaan cinta pada seorang wanita. Ibu benar-benar sedih melihat Akhtar yang tak pernah bisa melupakan wanita yang pernah ia cintai. Wanita itu sudah meninggal num dia ngga mungkin kembali lagi. Jadi ibu mohon num simpanlah dulu masa lalu kamu nak. Nanti setelah kamu berhasil memiliki hati Akhtar baru kamu bisa menceritakan semua padaya, ibu yakin dia tetap menerima dirimu nak.” Jawab bu Hanin.
Shanum jadi tambah bingung, dia tak ingin membohongi orang lain. Apalagi membohongi laki-laki yang kemungkinan akan menjadi suaminya kelak. Ini tak sesuai dengan apa yang ada di hati Shanum. Tapi melihat wajah bu Hanin seperti ini pun Shanum merasa kasihan.
“ Tapi bu itu sama saja Shanum membohongi mas Akhtar bu.” Ujar Shanum.
“ Num semua itu masa lalu nak, yang ada didepan kamu saat ini itu masa depan. Tak salah jika kamu menutupi semuanya num. Karena ngga selamanya masa lalu kita harus kita ceritakan pada pasangan kita nak.” Ucap bu Hanin.
“ Tapi ngga dengan membohongi mas Akhtar bu.”
“ Iya ibu tahu num. tapi ibu melakukan ini pun untuk kebaikan kamu dan Akhtar sayang. Kamu mau kan.” Tanya bu Hanin dengan ragu Shanum pun mengangguk. “ Makasih ya num, oh iya mulai sekarang jangan panggil bu Hanin lagi sayang, kamu kan bakalan jadi menantu mama jadi mulai sekarang kamu panggil mama ya.” Pinta bu Hanin.
Terlihat di balik niqabnya ia pun tersenyum mendegar bu Hanin menyebut dirinya sebagai mama. Dengan sedikit perasaan canggung pun Shanum berusaha memanggi bu Hanin dengan panggilan mama.
“ Ya ma.” Ucapnya.
“ Ibu bahagis sekali num, ibu juga udah ngga sabar untuk mempersiapkan pernikahan kamu dengan Akhtar. Apalagi nanti di rumah ibu ngga akan merasa kesepian lagi karena ada kamu sama Wafi. Dan yang pasti bakalan ada cucu-cucu mama yang lainnya.” Ungkap bu Hanin dan hal tersebut membuat Shanum malu-malu.
“ Ibu, eh maksud Shanum mama. Tapi ma mas Akhtar kan belum tentu bersedia.” Balas Shanum dengan ragu.
“ Tenang aja sayang, mama yakin Akhtar akan bersedia sayang. Karena mama tahu sifat Akhtar.” Jawab mamanya dengan senyuman penuh arti.
Setelah pembicaraan itu selesai Shanum pun pamit pulang karena dia sudah terlalu lama meninggalkan Wafi di toko. Bu Hanin pun mengundang Shanum dan Wafi untuk makan bersama di rumahnya jika nanti dia sudah pulang, serta mengenalkan Shanum dengan Akhtar. Dan Shanum hanya bisa pasrah dan menerimanya.
Shanum pun keluar dengan sangat terburu-buru sampai ia tak menyadari dirinya menabrak seseorang.
“ Astagfirullahaladzim.” Ucapnya saat dia terjatuh. Dan orang yang ditabraknya pun terjatuh.
“ Gimana sih jalannya.” Omel lelaki tersebut sambil berdiri.
Dan Shanum langsung membungkukkan tubuhnya tanpa memandang laki-laki yang ditabraknya. Dia merasa bersalah. “ Maaf pak saya ngga sengaja, sekali lagi saya minta maaf pak.”
“ Maaf maaf. Makannya kalau ngga bisa ngliat di buka tuh kain di muka. Dasar cewe aneh. Ngga liat apa aku masih muda begini di panggil pak… pak.” Omel laki-laki tersebut sambil berjalan menjauh dari Shanum. Sedangkan Shanum hanya bisa mengelus dadanya serta ber istigfar mendengar ucapan laki-laki tadi.
Dan laki-laki yang menabrak Shanum tak lain adalah Akhtar yang akan mengunjungi mamanya lagi. Dengan keadaan yang masih kesal, Akhtar pun membuka pintu ruangan mamanya. Setibanya di dalam mamanya yang tadinya masih tersenyum bahagia membayangkan putranya akan segera menikah pun langsung berubah bingung melihat putranya uring-uringan sendiri.
“ Kamu kenapa sih tar ngomel-ngomel sendiri.” Tanya mamanya.
“ Kesel banget ma belum juga masalah di kantor selesai, eh di sini tiba-tiba di tabrak sama orang aneh sampai Akhtar jatuh.” Jawabnya.
“ Sabar tar, masalah ngga akan selesai kalau kamu ngomel-ngomel terus. Oh ya kamu ketemu ngga sama Shanum, tadi dia kesini lho dan dia juga belum lama keluar dari sini.” Tanya mamanya.
Hati Akhtar yang belum sembuh dengan kekesalannya pun bertambah lagi saat mendengar nama wanita yang akan mamanya jodohkan dengannya.
“ Aduh ma, Akhtar lagi emosi ma. Kenapa sih harus bahas masalah dia lagi emangnya ngga bisa ya kalau sehari aja ngga ngomongin wanita itu. Akhtar heran banget sama mama deh. Ini pertama kalinya mama menyanjung-nyanjung seorang wanita sampai sebegitunya.” Ujar Akhtar.
“ Ya jelas dong tar karena Shanum memang wanita yang baik dan pantas untuk mama puji, dan setelah ini bukan hanya mama yang akan terus memuji Shanum tapi begitu juga dengan kamu.” Ungkap mamanya.
“ Aduh ma, Akhtar kira mama belum sepenuhnya sembuh. Sekarang sebaiknya mama istirahat aja lagi. Biar ngga terus-terusan bicara ngelantur.” Suruh Akhtar.
“ Ihhhh siapa juga yang bicara ngelantur, mama serius tar. Karena tadi Shanum kesini buat nengokin mama serta memberi jawabannya. Dan jawaban Shanum iya tar. Dia bersedia menjadi isteri kamu dan menantu mama.” Jawab mamanya.Tapi ternyata ucapan mamanya membuat hati Akhtar semakin tak karuan. Saat ini dia benar-benar marah dengan keadaan yang terus-menerus memojokkannya.