8. MSC

2100 Words
Keesokan harinya Shanum kembali dengan aktivitasnya dengan datang ke toko bunga miliknya. Hari ini dirinya pun ta ada orderan, karena tak ada sewa untuk sebuah acara. Jadi dia tetap berada di toko bunga. Ketika dirinya sedang merapikan bunga-bunga miliknya ia teringat pembicaraan semalan dengan bu Hanin. Flashback on Shanum langsung melepaskan genggaman tangan bu Hanin. Dia langsung menggelengkan kepalanya, dia bersikeras menolak lamaran bu Hanin. Dia merasa tak pantas menjadi menantu bu Hanin, apalagi mengingat masa lalunya. “ Ngga bu, Shanum mohon jangan meminta Shanum untuk menjadi menantu ibu. Shanum ngga bisa bu, dan Shanum ngga pantas. Bu Hanin bisa mendapatkan menantu yang jauh lebih baik lagi. Putra ibu pasti akan memilih wanita yang terbaik.” Tolak Shanum dengan cepat. Tapi bu Hanin kembali menggenggam tangan Shanum. “ Jangan bicara seperti itu num. Mungkin awal niatan ibu dulu menginginkan kamu menjadi menantu ibu itu salah. Ibu ingin menjalankan nazar yang pernah ibu ucapkan. Tapi sekarang setelah ibu mengenal kamu, ibu yakin Allah memang sudah merencanakan ini semua nak. Ibu tulus num, ibu ingin kamu menjadi menantu ibu. Tak pernah ibu memandangmu sebelah mata, itu hanya masa lalumu num. ibu yakin Shanum yang sekarang adalah wanita yang luar biasa. Kamu mau kan nak menjadi menantu ibu.” Ucap bu Hanin penuh harap. “ Ketika Shanum mendengar nazar yang ibu buat di rumah sakit dulu, Shanum merasa bersalah. Tapi Shanum benar-benar ngga bisa bu membantu ibu menjalankan nazar itu. Dan juga Shanum sama sekali tak mengenal putra ibu. Belum tentu juga dia bisa menerima keadaan Shanum dan mau menerima Wafi. Bu Shanum mohon fikirkan baik-baik permintaan ibu ini. Shanum ngga mau ibu menyesal dengan ucapan ibu.” Balas Shanum. “ Bismillah num, mungkin ini jalan Allah mempertemukan kita nak. Insyaallah ibu ngga menyesal dengan ucapan ibu. Jika ada baik buruknya nanti, pasti itu pun rencana dari Allah num. Karena kehidupan ngga akan selamanya berjalan dengan baik nak.” Balas bu Hanin. “ Tapi bu…” Ujar Shanum yang belum selesai langsung dipotong oleh bu Hanin. “ Kalau tentang putra ibu Shanum tenang saja nak, ibu yang akan bicara dengannya. Shanum tinggal jawab saja nak.” Ucap bu Hanin. Shanum hanya diam,dia pun menatap bu Hanin yang begitu berharap menanti jawaban Shanum. Lalu Shanum mencoba menutuo mata dan menarik nafas panjang sebelum membalas ucapan bu Hanin. “ Bu ngga mudah bagi Shanum menjawab pertanyaan bu Hanin, apalagi diposisi seperti Shanum saat ini. Shanum butuh waktu bud an Shanum ngga akan jawab pertanyaan ibu sekarang. Untuk menjawab pertanyaan ibu, Shanum butuh petunjuk dari Allah bu.” Balasnya. “ Ibu tahu ngga mudah mengambil keputusan ini nak, ibu akan kasih kamu waktu num. Yakinkanlah dirimu terlebih dahulu nak.” Ujar bu Hanin. “ Ibu kalau nanti jawaban Shanum mungkin bukan yang ibu harapkan, Shanum mohon ibu jangan marah dan benci ke Shanum ya.” Pintanya. Bu Hanin pun langsung memeluk Shanum. “ Ngga num, ibu ngga akan marah ibu akan menerima keputusanmu. Walaupun sebenarnya ibu berharap sekali kamu mau menerimanya nak.” Ungkap bu Hanin. Dan Shanum hanya membalas dengan senyuman terpaksanya. Flshback off. “ Assalamualaikum.” Terdengar suara anak kecil mengucapkan salam. Shanum yang awalnya sedang melamum pun langsung tersadar dan mendekat kearah suara salam tersebut. “ Waalaikumsalam.” Balas Shanum dengan tersenyum sekaligus terkejut saat putranya ada didepannya. “ Kok Wafi udah pulang jam segini nak. Terus Wafi pulang sama siapa sayang.” Tanya Shanum “ Wafi pulang lebih awal bunda, tadi tiba-tiba bu gurunya mau ada acara.” Jawab Wafi. “ Terus Wafi pulang sama siapa, kok bu guru ngga telfon bunda sih.” Tanyanya lagi. “ Assalamualaikum.” Salam seseorang yang masuk ke dalam toko. “ Waalaikumsalam, mas Naufal.” Balas Shanum sekaligus terkejut. “ Wafi pulang sama aku num, katanya tadi bu guru Wafi udah nelfonin kamu berulang kali tapi ngga kamu angkat. Jadi dia balik nelfon aku. Untung aja aku udah pulang.” Jawab Naufal. Shanum pun langsung mengingat bahwa ponselnya aja diruangannya, dia lupa membawanya. “ Astagfirullah, Shanum dari tadi emang ngga megang ponsel mas. Maaf ya mas, Shanum jadi ngrepotin mas Naufal. Padahal mas Naufal kan baru pulang.” Sesalnya. “ Ngga papa num, aku memang sengaja mau kesini kok, mau ketemu jagoan ayah yang katanya udah kangen banget sama ayahnya.” Balas Naufal sambil memeluk Wafi dengan erat. “ Bunda ayah beliin Wafi ini, bagus kan.” Ucap Wafi yang girang saat mendapatkan oleh-oleh dari Naufal. Sedangkan Shanum terlihat tak suka karena Naufal terlalu memanjakan Wafi. “ Mas.” “ Sekali-kali num, kan ngga tiap hari juga.” Balas Naufal yang sudah paham dengan ekspresi Shanum saat ini. “ Bunda, Wafi mainan ini dulu ya.” Pamitnya yang langsung mengajak salah satu karyawan bundanya untuk menemaninya bermain. Setelah itu Naufal dan Shanum duduk untuk mengobrol. “ Apa kabar num.” Tanya Naufal. “ Alhamdulillah baik mas. Tapi keliatannya ada yang lagi ngga baik deh.” Ledek Shanum karena Naufal terlihat begitu muram, walau dia berusaha menutupinya Shanum tetap tahu. “ Emang ya aku itu paling ngga bisa nipu kamu. Tahu aja kalau aku lagi ada masalah.” Jawab Naufal. Shanum pun tersenyum dibalik niqabnya. “ Ada apa mas.” “ Mama num.” ucap Naufal. Dan Shanum langsung tahu jika Naufal sudah menyebutkan mamanya. " Dia terus terusan desek aku num, aku benar-benar pusing num.” “ Mas mungkin ini yang terbaik buat kamu, coba dong mas jangan terus-terusan menutup diri seperti ini. Mau sampai kapan.” Kesal Shanum. “ Sampai kamu nerima aku.” Jawabnya dengan asal. “ Mas jangan bercanda deh.” “ Setiap aku bilang begitu pasti kamu selalu bilang bercanda, aku serius num.” Ucap Naufal penuh penekanan. “ Aku juga selalu serius dengan jawaban aku mas.” Balas Shanum. “ Apa kamu masih memikirkan laki-laki itu.” Tebakan Naufal seolah-olah membuat jantung Shanum berhenti. “ Cukup mas, ngga perlu bawa-bawa dia dalam masalah kita. Dia sama sekali ngga ada hubungannya dengan jawabanku mas.” “ Ok… ok maaf. Aku ngga tahu harus jawab dengan apa lagi num. Ditambah lagi sekarang papa Nasha juga ikut-ikutan seperti mama, dia juga mau menjodohkanku dengan Nasha. Aku pusing num.” ucap Naufal sambil menggaruk-garuk rambutnya. “ Coba mas buka mata dan hati kamu buat Nasha. Aku yakin jika sedikit saja kamu bisa membukanya pasti kamu akan mudah menerimanya. Ditambah lagi Nasha memang gadis yang baik dan solehah. Dia pantas untuk kamu cintai mas.” Jawab Shanum yang mencoba meyakinkan Naufal. “ Tau ahhh. Lama lama pusing sendiri mending aku mainan sama Wafi.” Balas Naufal yang berlenggang meninggalkan Shanum sendiri. Setelah melihat Naufal pergi Shanum jadi berucap dalam hatinya. “ Apa iya aku harus menikah dulu dengan laki-laki lain, sehingga mas Naufal mau membuka hatinya untuk wanita lain.” *** Dilain tempat yaitu tepatnya di daerah dimana seorang Akhtar mampu mengembangkan usahanya. Tak heran banyak yang mengenalnya, dengan kekayaan yang ia miliki. Hampir perkebunan serta peternakan yang ia kembangkan berjalan dengan lancar. Ditambah lagi beberapa pabrik makanan serta s**u yang ia kelola sudah menyebar di pasaran. Namun dia yang tak mudah beradaptasi dengan orang lain pun sering menjadi pembicaraan karyawannya. Karena Akhtar jarang sekali mau bergabung serta menyapa para karyawannya. Hal itu pun diketahui ibunya, apalagi gosip miring tentang putranya sudah membuat kepala ibunya pusing. Dia mendengar gosip bahwa putranya  itu seorang gay. Karena tak pernah sekalipun Akhtar terlihat berjalan dengan seorang wanita. Bu Hanin pun sering kali berusaha menjodohkan Akhtar dengan anak dari teman-temannya tapi tak pernah berhasil. Dan yang selalu menjadi prioritas Akhtar yaitu pekerjaan. Seperti hari ini dia sedang berkunjung ke salah satu pabriknya. Tapi ketenangannya pun terusik saat mamanya datang menemuinya. “ AKHTAR.” Panggil sang mama. Akhtar pun berusaha menutupi telinganya karena suara mamanya benar-benar sangat nyaring terdengar ditelinga. “ Ngga perlu pura-pura ngga deger deh.” Dan Ahtar pun hanya menarik nafas saat mamanya berkata seperti itu. Dan sekarang dia sudah ada didepannya. “ Kok tumben mama ke pabrik, emangnya mama ngga ada arisan atau pengajian gitu.” Tanya Akhtar. “ Ngledek mama kamu ya.” “ Ya Allah ma siapa juga yang ngeledek mama, Akhtar kan Cuma tanya.” “ Ngga usah banyak bicara, mama mau ajak kamu makan siang.” Ajaknya. Kemudian hati Akhtar pun langsung merasa tak enak. Pasti ada sesuatu yang akan mamanya bicarakan dengannya. “ Tumben ma.” Tanyanya. “ Ngga perlu bicara lagi, sekarang kamu ikut mama.” Ucap bu Hanin yang langsung menarik tangan putranya. Akhtar yang ditarik pun hanya bisa pasrah. Mereka berdua pun langsung makan di salah tempat makan milik mereka, yang tak jauh dari pabriknya. Restoran yang terlihat begitu asri dengan dikelilingi perkebunan berbagai macam buah dan sayuran. Dan bu Hanin sendiri yang mendesain restoran tersebut. Setelah memesan makanan bu Hanin pun langsung mengutarakan apa yang ada dalam hatinya saat ini. “ Apa kamu udah nemu wanita yang akan menjadi menantu mama.” Tanya bu Hanin tanpa basa basi. “ Ya Allah ma, sampai kapan sih mama menanyakan hal yang sama terus. Telinga Akhtar sampai bosan dengernya ma.” Jawabnya. “ Mama pun udah bosan dengan jawaban kamu ma, telinga mama pun bosan denger kamu dibicarakan oleh banyak orang. Mereka bilang kamu itu gay tar.” Ucap mamanya. Dan mata Akhtar langsung melotot. Tak lama kemudian dirinya pun tertawa. “ Ya Allah ma, gosip murahan seperti itu ngapain didengerin sih.” Ujar Akhtar. “ Walaupun itu gosip murahan dan ngga bener. Tapi bisa jadi besar kalau kamu ngga mengklarifikasi segera tar. Dan mama punya ide supaya gosip itu cepat hilang. Sebaiknya kamu cepat menikah tar.” Saran mamanya kembali membuat Akhtar tertawa. “ Ya Allah ma, kenapa bahas nikah lagi sih. Cewk aja ngga punya mama mau nyuruh Akhtar nikah.” Balasnya. “ Tenang aja tar mama udah nemuin wanita yang cocok buat jadi isteri kamu dan bisa jadi menantu idaman mama.” Jawab mamanya. “ Siapa lagi sih ma, udah deh ma. Memangnya mama ngga lelah apa nglakuin ini terus untuk Akhtar.” Tanya Akhtar dengan malas “ Mama ngga akan pernah lelah sampai kamu bersedia menerima calon yang mama ajukan. Akhtar mama ingin melihat kamu menikah.” Ucap mamanya. “ Ma berapa kali sih Akhtar harus bilang ke mama, please ma beri Akhtar ruang untuk menentukan jalan hidup Akhtar.” Jawabnya. “ Tapi kalau kali ini kamu menolak wanita yang mama pilihkan untukmu, itu tandanya kamu ingin mama melakukan dosa karena tak menjalankan nazar yang pernah mama ucapkan dulu.” Ucap mama Akhtar. Tadinya Akhtar acuh, namun setelah endengar ucapan mamanya dia jadi penasaran dan tak paham. “ Apa maksud mama.” Tanyanya. “ Mama mau kamu menikah dengan wanita yang telah menolong mama dulu tar.” Jawab mamanya. “ APA.” Balas Akhtar yang sangat terkejut. Seingatnya wanita yang menolong mamanya dulu itu sudah menikah, maka dari itu dia terkejut. Karena tiba-tiba mamanya menyuruh dirinya untuk menikahi wanita tersebut. “ Apa mama bercanda, please ma cara mama bercanda itu ngga lucu.” “ Mama ngga bercanda tar, mama serius.” Balas mamanya. “ Mama tapi wanita itu sudah menikah, dia udah punya anak ma. Apa mama mau nyuruh Akhtar menikahi wanita yang sudah menjadi isteri orang.” Bantahnya. “ Dia belum menikah tar.” “ Tapi kata mama dia sudah punya anak, itu tandanya dia sudah menikah ma. Please ma jangan pernah suruh Akhtar utuk merusak rumah tangga orang lain.” Jawabnya asal sebelum mengetahui cerita sebenarnya. “ Mana mungkin mama menyuruh kamu untuk merusak rumah tangga orang lain. Mama serius tar dia belum menikah. Jadi mama ingin kamu menikahinya tar. Tolong bantu mama untuk menjalankan nazar yang telah mama ucapkan nak.” Pinta mamanya. “ Ngga ma, ngga mungkin Akhtar menikah dengannya. Akhtar ngga tahu siapa dia, Akhtar ngga mengenal dia ma. Tolong ma jangan paksa Akhtar untuk menikahi wanita yang ngga pernah Akhtar kenal.” Jawab Akhtar. “ Mama ngga mungkin mengenalkanmu dengan wanita yang buruk tar. Mama sudah beberapa kali bertemu dengannya dan mama yakin dia wanita yang baik untukmu tar.” “ Tunggu dulu, waktu itu mama pernah bilang kalau dia sudah memiliki anak kan. Terus sekarang mama bilang dia belum menikah Sebenarnya mana yang bener sih ma.” Tanya Akhtar lagi yang tak paham dengan ucapan mamanya. “ Dia memang sudah memiliki putra tar, dia seorang single parent.” Ucap mamanya. Dan Akhtar langsung berdiri dari tempat duduknya serta tertawa garing. Saat ini dia  menertawakan sendiri nasibnya yang benar-benar tak beruntung untuk masalah cinta. “ Jadi maksud mama Aktar harus menikahi seorang janda beranak satu.” Tanyanya. Dan mama Akhtar langsung mengangguk. “ Iya dia memang seorang janda beranak satu.” Jawab mamanya. “ Udah ma, cukup pernikahan itu bukan suatu lelucon. Dan apa kata orang di luar sana kalau sampai mereka tahu bahwa Akhtar Farzan Wijaya menikahi seorang janda beranak satu. Akhtar yakin dia wanita yang ngga benar Buktinya dia sampai bisa bercerai dengan suaminya.” Jawab Akhtar dengan nada mengejek. PLAK Akhtar sangat terkejut saat dirinya mendapatkan tamparan dari mamanya sendiri. “ Mama, Mama tampar Akhtar hanya untuk membea wanita yang baru sebentar mama kenal.” “ Ya mama memang membelanya. Karena dia memang pantas untuk mama bela. Dan kamu jangan bicara sembarangan tentangnya apalagi menyebutnya dengan asal. Karena dia pun punya nama. Nama dia adalah SHANUM.” Akhtar pun langsung mengepalkan kedua tangannya. Dia benar-benar emosi saat tahu mamanya lebih membela orang lain dibandingkan anaknya sendiri. “ SHANUM.” Ucap Akhtar dengan emosi. “ Orang yang sudah meninggal tak akan pernah bisa kembali lagi tar. Dan menurut mama orang yang tak pernah bisa move on dari masa lalunya adalah orang bodoh. Karena dia selalu terperangkap disana tanpa mau membuka dirinya sendiri untuk maju dan lebih baik lagi.” Balas mama Akhtar. Beliau pun sudah kesal pada putranya sendiri. Jadi dia pun langsung meninggalkan resoran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD