CHAPTER 11

2804 Words
Di taman belakang, kini sudah tertata rapih bangku dan meja yang sudah di penuhi makanan serta minuman yang sengaja Boma siapkan sebagai hidangan. Terlihat Boma sedang sibuk membakar jagung di atas bara api sedangkan ketiga temannya itu Nugi, Delon dan Adrian sedang asik makan dan minum sambil berbincang – bincang tanpa berniat membantu Boma. " Emang gak ada akhlak lo pada jadi temen! " Teriak Boma kesal melihat temannya tidak ada yang berniat membantunya yang sibuk sendiri. " Dari tadi gua bakar sate ayam, terus sekarang bakar jagung sendirian gak ada yang bantu. lo semua pada tinggal makan doang! " Boma terus saja menggerutu kesal.   " Sabar Boma! Ayo lanjut bakar lagi. Gue semangatin lo dari sini! " Sahut Nugi yang duduk manis sambil memakan satu tusuk Sate Ayam.   " Kan, lo sendiri yang bilang tadi siang. Gue masih inget banget lo bilang kayak gini... " Delon berhenti sebentar mengingat ucapan Boma tadi siang sebelum akhirnya bicara.   " Udah lo pada tinggal makan aja nanti malem, gue yang persiapin semuanya! " Jelas Delon meniru suara Boma. " Lo kan, bilang gitu Bom! Yaudah berarti kita tinggal duduk manis aja dong. semuanya kan, lo yang persiapin. " Lanjut Delon membuat Boma menyesal telah berkata seperti itu tadi siang.   " Setan emang lo ye! " Boma terus saja membakar jagung itu agar segera matang, ia melirik ke arah pintu masuk taman yang kini terlihat Casilda dan Bian berjalan mendekat.   " Akhirnya, yang ditunggu – tunggu datang juga! " Teriak Boma, seketika yang lainnya menoreh mengikuti arah mata Boma saat ini tertuju.   Boma menghentikan aktivitasnya itu dan berjalan mendekat ke arah mereka berdua yang baru saja datang.   " Casilda, malam ini ada banyak makanan. Pokoknya lo harus bantu habisin ya! " seru Boma, penuh semangat.   " Wah, emang ada acara apa, nih? " Tanya Casilda melihat saat ini cukup banyak makanan.   " Cuma acara kecil – kecilan aja, sih. " Jawab Boma.   " Sinih duduk, Casie. berdiri mulu emang gak pegel apa? " Celetuk Delon menarik bangku untuk Casilda duduk. Gadis itu segera berjalan menuju bangku tersebut dan duduk di sana, sedangkan Bian saat ini masih berdiri di tempat.   " Liat tuh cowo idaman lo berdiri mulu kayak lagi upacara. " Ucap Delon menunjuk ke arah Bian.   Casilda tertawa pelan melihat Bian yang entah kenapa tidak berniat duduk, ia tetap berdiri memandangi sekelilingnya, tidak jelas apa maksud dari lelaki itu.    " Bian, sinih duduk. " Casilda menepuk kursi kosong di sebelahnya.   " Iya. " Balas Bian. Akhirnya, lelaki itu berjalan mendekat dan duduk di samping Casilda.   " Oh, jadi Bian maunya di suruh duduk sama Casilda. " Ledek Nugi mendapat tatapan sinis dari bian.   " Nih, Casie. Cobain Sate Ayam montok, abang Delon yang bakar. Tingkat kematangannya pas dan sangat nikmat. Gak kayak Boma noh, bakar sate sampe gosong kayak areng. " Delon memberikan piring berisi beberapa tusuk sate itu ke arah Casilda yang kini sedang tertawa mendengar penjelasan Delon.     " Sate Ayam montok? " Tanya Casilda bingung, tapi kemudian casilda tertawa lagi. " Kenapa namanya gitu? "   " Gak apa – apa, sih. Biar lebih seksi aja gitu kedengerannya. " Jawab Delon asal.   " Emang dasar lo otak m***m! " Celetuk Bian dengan ekspresi datar.   " Fitnah! " Boma berjalan cepat mendekat ke arah mereka dan ikut duduk bersama. " Itu gua yang bakar sate nya, Casie. Lo Jangan percaya sama Delon! " Boma tak terima jika Delon mengaku – akui hasil jeripayah nya yang susah payah membakar sate sendirian.   " Nih, dia bertiga gak ada gunanya! Masa gue sebagai tuan rumah suruh bakar sendirian! " Keluh Boma menunjuk ketiga temannya itu.   " Gue coba ya. " Casilda mengambil satu tusuk sate tersebut dan memakannya, Boma diam menunggu reaksi Casilda.   " Gimana? Enak kan, gak gosong? " Tanya Boma penasaran.   Casilda diam sebentar sebelum akhirnya memberi jawaban tentang sate itu.   " Gosong sih, enggak. " Ucap Casilda.   " Alhamdulillah. Akhirnya, gue punya ke ahlian juga. Yaitu, bakar sate dengan kematangan pas! " Ucap Boma penuh syukur.   " Tapi . . . ." Ucap Casilda membuat Boma menatapnya heran.   " Tapi apa? "   " Tapi kurang mateng. Ini satenya masih agak mentah. " Lanjut Casilda, Boma memasang wajah kecewa.   " Masa, sih? Kalo yang ini gimana? " Boma memberi satu tusuk sate lagi kepada Casilda.   Casilda kembali memakan sate itu lagi. " Ini juga sama. Mungkin lo bakarnya kurang mateng. " Jelas Casilda. " Kayaknya, ini semua sate yang lo bakar belum sepenuhnya mateng deh, Bom! " Casilda melihat tekstur Sate Ayam tersebut yang masih berwarna agak kemerahan.   " Lo pasti berdusta, kan! " Kata Boma tak percaya.   " Dia mana mungkin bohong. Casilda kan, jago masak. Jadi, pasti dia tahu lah soal beginian! " Sahut Bian membela Casilda, sedangkan yang dibela kini tersipu malu.   Gadis itu tersenyum sambil menunduk.   " s****n! jadi, dari tadi kita makan Sate Ayam setengah mateng! " Teriak Delon menatap Boma geram. " Lo gimana sih, bakarnya Bom! " Delon berdiri melingkarkan tangannya di leher Boma dan mengunci leher Boma membuat lelaki itu Sesak Nafas karena lehernya seperti di cekik.   " Ya . . . Ya gue cuma bakar aja mana tau kalo ternyata belom mateng! Lo sih, gak pada bantuin gua. " Jawab Boma terengah – engah karena nafasnya terasa sesak.   " s**l!  tadi gua makan sate banyak banget lagi! " Seru Nugi yang kini terlihat sangat menyesal memakan Sate Ayam setengah matang ala Boma.   " Untung gue cuma makan satu. " Jawab Adrian santai. " Itu juga gak abis. "   Bian dan Casilda hanya bisa tertawa melihat Boma tengah di siksa oleh Delon dan Nugi kini ikut mengejar Boma yang berusaha lari.  Mereka terlihat seperti anak kecil yang sedang asik bermain lari - larian sambil tertawa lepas.   Casilda melihat ke arah mereka bertiga sambil tertawa tak henti – henti membuatnya terbatuk.   " Uhuk . . . Uhuk . . . " Melihat Casilda terbatuk dengan sigap Adrian memberikan Casilda segelas air putih agar gadis itu segera meminum untuk meredakan batuk.   " Nih, minum. " Ucap Adrian, Casilda segera mengambil segelas air itu.   " Makasih. " Jawab Casilda, ia segera meneguk air tersebut dengan terburu – buru hingga air nya sedikit tumpah membasahi mulut dan leher nya.   Bian sedikit merasa kecewa karena Adrian lebih cepat bertindak di banding nya. Adrian lebih dulu memberi Casilda minum, hal itu membuat Bian kini terdiam melihatnya.   Namun Bian berusaha menghilangkan fikiran itu. Melihat Casilda mengelap bibir dan lehernya yang basah dengan tangan kosong, Bian mengambil beberapa Tissue dengan segera memberikan kepada gadis itu.   " Nih, lap nya pakai ini. " Kata Bian memberikan Tissue itu kepada Casilda. Gadis itu diam tidak langsung mengambil Tissue itu.   Casilda tertegun melihat Bian memberinya tissue, menurutnya itu suatu tanda perhatian Bian kepadanya. Hal itulah yang membuatnya kini terdiam melamun karena terlalu senang, padahal itu hanyalah hal sederhana, tapi membuat Casilda seperti mematung.   Bian menatap Casilda bingung karena hanya diam saja tidak merespon Tissue yang ia berikan. Melihat Casilda yang tidak ada pergerakan, Bian langsung saja mengelap bibir Casilda yang basah itu lalu menuju lehernya yang juga sedikit basah.   Casilda yang kini sudah tersadar langsung menggeliat. " Eh… Geli Bian. " Ucapnya sambil menahan tangan Bian yang akan mengelap lehernya lagi dengan Tissue.   " Sini, biar aku aja sendiri. " Ucap Casilda lembut sambil mengambil Tissue itu dari tangan Bian.   " Makasih, ya. " Kata Casilda, ia mulai mengelap bagian yang basah itu sendiri dengan perasaan gugup mengingat bagaimana tadi Bian mengelap bibirnya.   Kini Bian terdiam bingung entah kenapa dirinya bisa selancang itu melakukan hal tadi kepada Casilda. Ia merasa seperti bukan dirinya yang biasa saat melakukan itu tangannya bergerak begitu saja. Bian merasa bersalah sedangkan Casilda merasa sangat senang.   Saat ini Delon dan Nugi sudah tidak mengejar Boma lagi, mereka berdua sedang membakar beberapa tusuk Sate Ayam yang masih belum matang tadi dan juga Jagung Bakar. Delon dan Nugi sudah tidak mempercayakan lagi urusan ini kepada Boma yang sama sekali tidak bisa diandalkan.   " Gue kesana dulu ya. " Ucap Adrian yang sadar merasa dirinya saat ini seperti nyamuk, ia memilih untuk pergi mendekat ke arah Nugi dan Delon. Adrian pergi menuju teman – temannya itu yang sedikit berada jauh dari Bian dan Casilda. Saat ini keadaan menjadi hening membuat keduanya jadi canggung. Casilda melirik ke arah Bian, saat Bian meliriknya kembali Casilda langsung berpura – pura mengalihkan padangannya ke arah lain.   " Boma kemana? " Tanya Casilda memecahkan keheningan, ia tidak melihat keberadaan Boma saat ini.   " Gak Tahu. " Singkat Bian, kemudian keadaan kembali hening.   " Casie? " Panggil Bian, gadis itu segera menoreh cepat. " Lo gak mau makan sesuatu? " Bian melirik ada banyak cemilan di atas meja, namun Casilda tidak berniat menyentuh makanan itu sejak tadi.   " Aku lagi gak pengen makan sesuatu. " Jawab Casilda sambil meremas – remas lututnya, ia merasa gugup setiap kali di dekat Bian.   " Oh. " Bian hanya ber – oh – ria saja.   " Casie? " Panggil Bian lagi, lelaki itu terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu namun di tahan. Entah apa yang membuat Bian terbebani untuk mengungkapkan apa yang ingin ia katakan.   " Iya, Bian? " Casilda menatapnya bingung.   " Gak jadi. " Bian menggeleng cepat membuat Casilda keheranan.   " Kenapa Bian? " Tanya Casilda penasaran.   " Um... " Baru saja Bian ingin bicara, Boma datang mendekat ke arahnya memecahkan suasana tegang antara keduanya saat ini. Entah dari mana lelaki itu kini baru muncul kembali membawa Kembang Api berbentuk tabung panjang.   " Eh Bian, Casilda. Ayo main petasan! Nih, tadi pas belanja makanan gue mampir ke tukang petasan. " Boma menunjukkan dua buah petasan yang berbentu panjang itu seperti Stik Drum.   Bian menarik nafasnya kesal melihat kedatangan Boma mengganggu dirinya yang saat ini ingin bicara serius dengan Casilda. " Nanti aja dulu! " Ucap Bian dengan malas.   " Ayo dong. " Paksa Boma.   " Ayo, Casie mau. " Baru saja Casilda ingin bangkit dari duduk, Bian menarik tangannya agar kembali duduk.   " Kenapa? " Tanya Casilda, tapi Bian hanya diam kemudian melirik Boma seraya mengedipkan matanya berkali - kali mengisyaratkan lelaki itu agar segera pergi meninggalkan mereka berdua.   " Kenapa, sih? Mata lo kelilipan? " Dengan polosnya Boma bertanya. Bian membelalakkan matanya menghadapi Boma yang benar - benar tidak mengerti maksudnya.   Disisi lain Nugi, Delon dan Adrian yang sejak tadi memantau Casilda dan Bian berduaan merasa terganggu sekaligus kesal melihat kedatangan Boma mengganggu Bian.   " Ngapain sih, tuh kepala botak! Bikin emosi aja! " Kata Delon geram. " Woy Boma! Sini! " Teriak Delon menyuruh Boma mendekat kepadanya. Boma pun segera berlari ke arah Delon.   " Apa, sih? " Tanya nya polos mendapat toyoran dari Nugi.   " Lo jangan ganggu dia! Biarin kasih mereka berdua waktu! " omel Delon.   " Ayo, kita main petasan? " Ajak Boma, namun tidak ada yang mendengarkannya. " Ah, payah lo semua! " keluh boma merasa tidak ada yang perduli.   " Gue penasaran, apa yang akan Bian katakan sama Casilda. " Ucap Nugi.   " Menurut lo Bian berani gak nembak casilda? " Tanya Adrian.   " Gue sih sedikit ragu. " Jawab Delon.   " Lo diem di sini aja sama kita. " Kata Nugi menyuruh boma diam di tempat agar tidak mengusik Bian dan Casilda.   " Iya – iya, bawel lo semua. " Gerutu Boma. " Korek mana korek? " Tanya Boma.   " Tuh, di sana. " Ucap Adrian menunjuk korek gas yang berada di atas meja, setelah itu ia dan yang lainnya kembali fokus memantau Bian dari jauh sedangkan Boma asik dengan dunianya sendiri.   Bian kini terdiam bingung. Ia memejamkan matanya sebentar, Bian jadi teringat sesuatu apa yang tadi Adrian katakan kepadanya. Kata – kata itu sangat mengganggu fikirannya.   " Perasaan orang bisa berubah setiap saat seiring berjalannya waktu! " " Jangan membohongi diri sendiri. Gue khawatir kalo nanti lo udah yakin dengan perasaan lo ke Casilda, tapi pada saat bersamaan Casilda nya yang udah gak yakin dengan perasaan dia ke lo masih sama atau tidak? "   Mata Bian kini terbuka lebar, ia menarik nafasnya dalam – dalam lalu menghembuskannya dengan pelan hingga beberapa kali seperti orang yang ingin melahirkan. Bian mengumpulkan semua nyalinya, sebelum akhirnya bangkit dari duduk dan berdiri di hadapan Casilda saat ini.   " Casie… gue pengen ngomong sesuatu sama lo. " Ucap Bian dengan cepat, Casilda segera mendongakan kepalanya menatap Bian yang kini lebih tinggi darinya.          " Kamu mau ngomong apa? " Casilda sudah siap mendengarkan apa yang akan Bian katakan.   Teman – teman Bian yang saat ini memantaunya dari jauh merasa senang melihat Bian seperti itu, mereka berfikir ternyata penilaian mereka salah terhadap Bian yang tidak berani mengungkapkan perasaannya.   Dari gerak – gerik Bian saat ini, teman – temannya menebak kalau Bian akan menyatakan cinta kepada Casilda.     " Itu baru temen gue! Gantleman! " Seru Delon, yang lainnya ikut mengangguk setuju sambil terus melihat ke arah sana menunggu adegan selanjutnya.   Bian masih berdiri di hadapan Casilda, ia menatap gadis itu dalam – dalam sedangkan yang di tatap kini tersipu malu. Casilda mengelum senyumnya yang ingin terukir lebar karena malu di tatap Bian seperti itu, ia merasa seperti mimpi karena lelaki yang sejak lama ia suka saat ini tengah berdiri dekat di hadapannya.   " Kamu mau ngomong apa, Bian? " Casilda mengulang pertanyaannya ketika melihat lelaki di hadapannya saat ini hanya terdiam.   Bian memejamkan mengerjapkan matanya berkali – kali sambil meneguk ludahnya susah payah karena rasa gugup menyelimutinya di tambah jantungnya yang berpacu cepat sekali, sebelum akhirnya Bian memberanikan diri untuk bicara.   " Casie, ayo kita pacaran. " Ucap Bian dengan serius.      Duar . . . .      Bersamaan saat Bian mengatakan itu kepada Casilda, bunyi petasan terdengar begitu kencang dan nyaring. Terlihat di atas langit Kembang Api itu berwarna – warni indah seperti air mancur.   “ Wah bagus banget. “ Casilda mendongakan kepalanya menatap ke atas langit.   Setelah selesai bicara kepada Casilda, Bian tersenyum lega karena berhasil mengajak casilda pacaran yang menurutnya sangat sulit dilakukan.           Bian memegang dadanya memastikan jantungnya tidak copot dan masih berdetak.   " Gila! petasannya keren banget! bunyi nya kayak kompor gas meledak! " Teriak Boma menatap ke atas langit sambil berdecak kagum melihat Kembang Api itu berwarna - warni di atas langit.   Adrian, Nugi dan Delon yang terkaget segera membalikan badan bersamaan menatap tajam ke arah Boma karena di yakini lelaki itu lah yang telah menyalahkan petasan tersebut secara tiba – tiba membuat kaget siapapun saat ini yang ada di taman. " Boma! " Teriak mereka bertiga bersamaan.   Disisi lain, Bian masih menunggu jawaban dari Casilda. Dia sangat gugup bercampur takut menunggu jawaban dari Casilda. Ternyata benar kata Casilda, bahwa sebenarnya hal yang paling di takuti itu bukan pada saat menyatakan cinta, tapi yang membuat takut yaitu ketika menunggu untuk mengetahui jawabannya! Diterima atau tidak?   " Gimana? " Tanya Bian menatap Casilda yang terdiam.   " Gimana apa nya? " Tanya Casilda yang terlihat bingung.   " Apa? " Teriak Bian membuat Casilda terkejut, sedetik kemudian Bian terdiam dengan raut wajah tak bersemangat.   " Emang tadi kamu bilang apa, Bian? " Tanya Casilda.   Bian mengernyitkan keningnya. " Emang lo gak denger tadi gue ngomong apa? " Tanya Bian kecewa.   Dengan santainya Casilda menggelengkan kepalanya. " Enggak. Emang tadi kamu ngomong apa? " Tanya Casilda. " Soalnya tadi berisik banget bunyi petasannya, jadi aku gak denger jelas kamu bilang apa. " Ucap Casilda santai, tapi membuat Bian seketika kehilangan oksigen untuk bernafas.   " Enggak. " Bian menggeleng cepat , ia tidak berniat untuk mengulangi apa yang ia katakan tadi. Bian segera pergi meninggalkan Casilda begitu saja, lalu berjalan ke arah teman – temannya.   " Bian kenapa, sih? " Casilda sendiri tidak mengerti dengan tingkah lelaki itu saat ini. Bian menepuk jidatnya sendiri, mengusap wajahnya dengan kasar. Dia merasa sangat kecewa karena sudah susah payah memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya, tapi semuanya gagal hanya karena bunyi sebuah petasan yang terdengar sangat kencang itu. " Gimana bian? Berhasil gak? " tanya delon kepada bian yang berjalan mendekat ke arahnya.   " Siapa yang nyalahin petasan? " Tanya Bian dengan nafas terengah - engah menampilkan raut wajah mengerikan alias sedang marah.   " Itu. " Semua tangan kini menunjuk ke arah Boma yang masih terlihat santai memegang petasan terakhir yang akan ia nyalakan.   Bian berjalan mendekat ke arah Boma yang sudah siap ingin menyalahkan petasan tersebut. Melihat Bian berjalan ke arahnya, Boma terlihat senang.   " Eh, Bian? Ayo, nih petasan terakhir lo aja yang nyalahin. " Boma memberikan petasan itu kepada Bian.   Bian mengambil petasan itu lalu mematahkannya menggunakan kedua tangannya Dengan sekuat tenaga hingga petasan itu terbelah dua membuat Boma takjub melihatnya. " Gila! Bian tenaga lo kuat banget! " Ucapnya santai sambil mengacungkan jempolnya. " Hebat banget lo! itu kan, keras banget! " Seru Boma menatap petasan itu yang kini abunya berserakan di rumput.   " Heh, Boma! Ini semua gara – gara lo! " Ucap Bian kesal karena Boma penyebabnya kegagalannya malam ini, setelah itu ia melemparkan petasan itu ke arah Boma.   " Lo kenapa, sih? lagi PMS ya? " Tanya Boma yang masih juga tak mengerti.   " Bodo amat! " Teriak Bian setelah itu ia pergi menjauh dari teman – temannya itu dan berjalan ke arah Casilda yang masih duduk.   " Ayo Kita Pulang. " Ajak Bian kepada Casilda, ia berjalan cepat tanpa menunggu Casilda yang kini mengejarnya berusaha ingin berjalan sejajar dengannya.   " Bian tunggu! " Teriak Casilda.   Boma dan yang lainnya menatap Bian tak mengerti. " Dia kenapa, sih? "   Adrian tersenyum simpul seperti sudah tau apa yang terjadi, feeling nya terlalu kuat sebagai teman dekatnya. " Mungkin sesuatu telah terjadi. "   " Kita tanya aja besok sama orangnya langsung. " Ucap Delon. ** TUNGGU PART BERIKUTNYA YA :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD