PDS 3

1734 Words
Di kampus, Luvina sekali melihat Fahri yang sedang mengajar. Dia tak pernah mau melihat Luvina sama sekali. Melihatnya menjelaskan, membuat Luvina jadi bosan. Apa karena dia adalah calon suamiku? Lucu sekali rasanya, jika Luvina katakan akan menikah dengan sang dosen idola di kampus ini. Bagaimana perasaan para wanita-wanita kesepian itu jika mereka tahu? Sepertinya pernikahan Luvina akan dijuluki 'dosenku suamiku'. Jika membuat karangan fiksi tentang Luvina dan dosen itu. Pasti semuanya akan tertarik. "Lo kenapa?" bisik Gita. "Nggak kenapa-napa." "Lo marah ya, Vin? Karena gue nggak datang? Maafin gue kali, Vin. Gue nggak bisa ninggalin tante gue di rumah sakit. Jadi maaf, ya, gue jadi ngelewatin acara pertemuan lo. Tapi apa gunanya juga, coba? Gue nggak bakal lihat siapa calon suami lo meskipun gue dateng." Gita tidak datang ke rumah, karena harus menjaga Husna di rumah sakit. Tantenya masuk ke rumah sakit karena positif menderita tipes, jadi dia nggak punya waktu nemenin Luvina. Luvina tahu, tantenya itu adalah saudara satu-satunya setelah orang tua Gita tidak ada. Jadi Luvina bisa maklum kalau sahabatnuya itu lebih mengutamakan tantenya. Gita jadi tak tahu siapa calon suami Luvina, karena dia beranggapan calon suami sahabatnya tak hadir semalam. Jadi, sekarang Luvina bingung bagaimana harus memberitahu Gita, karena ia harus ekstra hati-hati memberitahunya jika tak ingin menjadi gosip nanti. Mata Luvina dan mata Pak Fahri bertemu, membuatnya sangat gugup. Luvina mengibaskan rambut ke belakang dan mencoba memahami apa yang dijelaskan Fahri. Aishh, kenapa aku jadi begini coba? Kekanak-kanakkan sekali, pertanyaanku saja belum terjawab? "Lo denger nggak sih, Vin?" tanya Gita lagi, membuat Luvina sesekali melihat Pak Fahri yang sedang duduk di kursinya. Dan dia pun sesekali melihat Luvina. Luvina dan Gita duduk di kursi taman. Taman di kampus ini memang benar-benar menyegarkan, jika berlama-lama di sini, rasanya adem, sejuk. Setiap masalah pasti bisa terlupakan sejenak. Tapi tidak untuk Luvina. "tadi diam saja , emang ada apaan, sih? Cerita, dong," tanya Gita penasaran. Luvina enggan menceritakan pada sahabatnya karena tak ingin satu kampus bergosip tentang dirinya. "Gue nggak kenapa-napa, Git!" "Terus, kenapa beberapa kali gue tanya, lo nggak jawab?" "Pertanyaan yang mana, sih?" "Pertemuan keluarga lo sama keluarga calon suami lo, gimana?" "Nggak ada yang istimewa, biasa aja." "Biasa aja? Woah, lo nganggap semua hal itu biasa aja, pasti gitu jawabannya." "Menyenangkan nggak, sih?" "Biasa aja, Git. Lo kan tahu perjodohan ini nggak gue harepin." "Terus, kapan hari H-nya?" "Bulan depan." "Tanggal?" "Sembilan." "Eah ... nggak lama lagi, dong." Luvina mengangguk. "Lo udah siap?" "Iya, gue emang harus siap, walaupun sebenarnya belum." "Lo emang anak yang baik, Vin!" "Ya elaah .... Sekarang aja lo bilang gue anak yang baik, kemaren-kemaren nggak, tuh." "Kemaren karena lo masih ragu." Luvina menghela napas panjang. "Woah, Bowo mau ketemu gue nih, Vin. Gimana, dong?" tanya Gita ketika melihat pesan teks di ponselnya yang berdenting. "Temui, dong." "Gue sama dia kan lagi marahan." "Lo emang marahannya mau berapa lama lagi sih, Git? Maafin aja kali, kesalahan dia kan nggak seberapa." "Baiklah, gue temuin, tapi lo gimana?" "Gimana apanya?" "Nggak apa-apa, lo di sini sendirian?" "Nggak apalah, emang gue anak kecil apa?" "Atau ... lo mau ikut gue aja?" "Ihh, apaan sih, Git, lo bagus ketemu pacar, lah gue? Ketemu siapa? Jadi kambing conge kalian? Pergi sana, Bowo pasti udah bete nungguin lo, move ... move," usir Luvina. "Ya udah, gue pergi, ya." Gita berjalan meninggalkan Luvina sendirian. Luvina menghela napas panjang, mengelus perutnya yang kekenyangan akibat makan makanan di kantin. Luvina memang terlahir cantik dan kaya, meski dia tak pernah berusaha terlihat cantik di depan orang lain. Dia tak pernah berusaha terlihat berkelas di depan orang lain. Perut kenyang, angin semilir yang meniup lembut, dan melamun adalah perpaduan sempurna untuk mengantarkan seseorang jatuh tertidur. Begitu juga dengan Luvina, dia tak sadar sudah terlelap dan berbaring di atas kursi. Dia bahkan tak sadar saat ada seseorang yang datang dan duduk di sampingnya. Fahri tersenyum simpul melihatnya. Cara tidur Luvina memang lucu dengan mulut terbuka, apalagi di bawah papar matahari. Fahri kagum, ketika sebagian wanita menghindari paparan matahari, Luvina tak melakukannya, Luvina seperti dulu, tetap apa adanya. Itulah yang Fahri kagumi dari sosok Luvina, sampai menyetujui perjodohan orang tuanya. Fahri memperbaiki gaya tidur Luvina, menyelimuti calon istrinya dengan jas yang semula dia pakai. Fahri meninggalkan taman lalu menuju ke ruangan berikutnya untuk mengajar, sambil menggeleng karena merasa lucu. **** Setelah makan malam, Luvina berjalan meninggalkan keluarganya di meja makan dan menuju ke kamar. Selama perjodohan itu, Luvina jadi banyak diam. Lussie yang melihat perubahan sikap putrinya mulai merasa bersalah karena di usia putrinya yang menginjak dua puluh lima tahun, ia harus mengekang putrinya untuk menikah dengan pilihannya. Lussie mulai merasa bersalah dan tak kuasa menahan amarahnya pada diri sendiri. Prita melihat suaminya, lalu memberi kode jika Lussie sedang berpikir keras. "Ma, ada apa? Apa Mama baik-baik saja?" tanya Aldo menyentuh lengan ibunya. "Hm. Oh ... Mama baik-baik saja, kalian lanjutkan makan. Mama akan menyusul Luvina," kata Lussie kepada putra dan menantunya. Luvina kini tengah duduk di beranda kamarnya, melihat sepi di luar sana. Ini kawasan elit, karena itu tak ada seorang pun yang akan lewat, kecuali mobil salah satu pemilik rumah di kawasan elit ini. Luvina menghela napas panjang dan merasakan sentuhan di pundaknya. Gadis itu mendongak dan melihat ibunya sedang tersenyum. "Duduk, Ma," ajak Luvina. Lussie duduk berhadapan dengan putrinya. "Ada apa, Ma?" tanya Luvina "Mama akan membatalkan perjodohan kamu dengan Fahri." "Tapi, kenapa, Ma?" "Mama sadar, jika ternyata selama ini, Mama terlalu mengekangmu, Nak. Mama juga tidak ingin melihatmu bersedih, meskipun Mama ingin sekali kamu bahagia dengan Fahri. Mama menjodohkanmu dengan Fahri karena dia lelaki yang baik, santun. Bukan hanya semata-mata karena Rana adalah teman Mama, dan Fahri adalah lelaki mapan dan sukses." "Luvi nggak apa-apa, Ma. Jadi, tidak perlu membatalkan perjodohan Luvi dan Pak Fahri," ujar Luvina mencoba bijaksana. "Mama nggak mungkin melihatmu terus-terusan diam seperti ini, Nak. Ada apa? Apa karena perjodohanmu? Atau, masalah lain?" "Sebenarnya Luvi hanya heran saja pada Pak Fahri, Ma. Kenapa dia bisa menjadi lelaki yang akan dijodohkan dengan Luvi? Dia dosen Luvi, dan--" "Dan ... kamu tak enak jika teman-teman kuliahmu sampai tahu bahwa kamu akan menikah dengan dosen?" "Yah itu, Ma." "Sayang, mereka berhak berpendapat. Jangan merasa tak enak. Fahri itu masih muda, Sayang. Dia berbakat karena itu dia menjadi dosen. Menjadi dosen itu juga hanya sementara saja. Kamu kan dengar kata Habib, bahwa dia hanya sementara menjadi dosen," ujar Lussie. "Iya, Ma, Luvi tahu." "Ada lagi yang kamu khawatirkan?" Luvina menggeleng "Udah nggak ada, Ma." "Ya sudah, beristirahatlah. Mama banyak kerjaan." "Kerjaan apa?" "Persiapan pernikahanmu. Mama harus melakukan banyak hal. Jadi, kamu hanya harus duduk diam dan menyaksikan Mama. Ini pernikahan anak bontot Mama, jadi Mama harus melakukan yang terbaik sendirian," seru Lussie. Luvina tersenyum simpul melihat kebahagiaan ibunya. Ibu yang selama ini hanya sendiri membesarkannya dan Aldo. Sepeninggal ibunya, Luvina membuka ponsel. Rasanya sudah sejak tadi terdengar banyak pesan Line dan Whatsaap baru. Grup kampus dan seruangannya ada di Line dan Whatsaap, membuat Luvina enggan membuka, tapi ia penasaran apa isinya karena sejak tadi berbunyi. Sepertinya seru. Luvina membuka ponsel dan melihat foto Fahri yang sedang menyelimuti seorang gadis di taman belakang kampus. Luvina membulatkan matanya, karena wanita yang ada di gambar itu, adalah dirinya. @Helmya Siapa sih wanita itu? Kenapa terlihat familiar ya? Woah, dia berani menikung kita! @Ria Jangan biarkan wanita k*****t ini menikung kita. @Fifian Kita harus memhancurkan dia besok! @Damar Woi, apaan sih, kalian ngeganggu tahu nggak? Ini udah malem waktunya tidur. @NellyM Pak Fahri itu sudah akan menikah, apa salahnya, sih? @Tania Menikah? Emang dia akan menikah dengan salah satu anak mahasiswa di kampus kita? Enggak, kan? Jangan sok menasehati deh, kalau nggak tahu. @Gitaputri Emang urusan kalian, ya? Mau tahu siapa yang di selimutin Pak Fahri? Iri apa cemburu? Diem deh, lo pada ganggu aja, tahu nggak? @Raditya Iya nih, pada ribut. Kirain ributin apaan, ternyata ributin Pak Fahri yang tampannya selangit, ya? @Dinalia Eh Dit @Raditya, dia itu bukan sekedar tampan. @Bowogit Kenapa nggak pada buat grup fans Pak Fahri saja, sih? Jangan di grup kampus, bikin malu aja lo, emang lo ruangan apaan sih pada? @Gitaputri Iya nih Yang @Bowogit pada nggak mau diem tahu nggak? Bikin puyeng! @Bowogit Nggak usah nimbrung, Yang @Gitaputri, leave aja dari sini. Pak Fahri udah mau nikah aja masih pada ngerebutin, nggak laku lo semua @Damar Gue setuju 100%! @Fifian Ehh lo pada kalau nggak suka nggak usah nimbrung keleus, kurang kerjaan amat sih, ngintip chitchat orang! @Raditya Lo pikir ini grup kalian aja @Fifian? Lo buka sana new group, nggak usah kicau di sini! @Helmya Woah, jika diperhatiin gue tahu tuh siapa cewek itu, Dia kan @Luvinaangel Mahasiswa Strata 2, inget nggak lo pada? @Candra Iya bener, ini kan Luvina, kekasih gue! @Gitaput Kekasih lo? Udah putus keleus. @Nathan Iya nih, wah gimana kalau yang kita serang Pak Fahri saja? Dia kan udah ngerebut cewek gua @Helmya Eh diam lo @Nathan, ngakunya lo cowok si Luvina itu ya! Lo nggak laku kali! @Nathan Iri lo? Luvina itu kelebihan cantiknya, kalau lo kekurangan pake banget, hahahaah @Helmya Awasssssss lo ya @Nathan, gue emang nggak secantik Luvina tapi gue lebih mahal dari dia. Lihat deh, dia biarin tuh Pak Fahri nyelimutin dia pake jas. Ganjen kan? Sengaja Pasti. @Gina Bener banget, Ganjen iyyuuu. @Damar Apa? Ganjen? Lo iri ya, pada? Kasihan deh lo, nggak laku! @Raditya Eh, lo pada fansnya Pak Fahri tapi cowok-cowok di sini fansnya @Luvinaangel, ngerti kaga lo? @Ciko k*****t emang lo pada, nggak tahu aturan grup ya? @Candra Besok bakal gue buat perhitungan sama Pak Fahri itu! Beraninya nyelimutin kekasih gue! @NellyM Buat saja ... mau lo, nilai lo eror semua? @Gitaput Wooii ... mantan keleus. @Bowogit Diam Yang @Gitaputri nggak usah nimbrung, Mereka pada jomblo jadi nggak ada yang chat mereka, makanya pada ribut, hahaha. @Nita k*****t lo, gue enggak jomblo ya! Sorry. Luvina mengempaskan tubuh di atas ranjang dan menaruh ponsel di atas nakas. Banyak chat yang tidak dia baca, karena menurutnya, semua temen sekampusnya itu pada tidak mau diam dan k*****t semua. Luvina menatap langit-langit kamar. Dia membayangkan jika dirinya memang mendapati jas wangi yang menutupi sebagian tubuhnya. Mungkin karena ia memakai pakaian yang kekurangan bahan dan terlalu terbuka, jadi membuat Fahri harus menyelimutinya. Luvina tersenyum simpul jika mengingatnya, lalu mencoha memejamkan mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD