PDS 2

1603 Words
Happy Reading! Cerita ini aku Re-publish ya, semoga kalian suka dan yang belum sempat baca silahkan baca. Tapi jangan lupa tap love ya. . . Luvina dan Gita duduk di kantin kampus. Sesekali melihat Pak Fahri yang sedang menikmati makan siangnya. Banyak wanita yang berlomba-lomba ingin duduk makan bersamanya, ada juga yang berbisik dan sesekali histeris. Luvina hanya tertawa kecil melihatnya. 'Dasar ABG!' "Lo ketawa? Abis putus cinta kok ketawa, sih? Lo nggak sakit kan, Vin?" tanya Gita memegang jidat Luvina. Luvina melepas tangan Gita. "Apaan sih, Git, lo pikir gue sakit karena putus cinta? Ya ampun! Hello ... sekarang zamannya bukan nangis-nangisan pas putus cinta, tahu nggak? Move on. Gue tuh ketawain mereka, yang gila banget liatin Pak Fahri!" kata Luvina. Gita menoleh melihatnya dan ikut tertawa. "Kirain ... tapi lo nggak lagi patah hati, kan? Butuh tisu?" "Apaan sih, Git. Nggak lah, gue udah move on di detik kemudian setelah gue putusin Candra tadi," kataku. "Haa! Secepat itu? Bener nggak, lo?" "Yah ... bener lah, ngapain nangis coba?" "Nggak ada penghalang lagi dong, ya. Sekarang lo musti terima perjodohan nyokap lo," kata Gita mengingatkanku. Ya benar, apa lagi yang aku pikirkan? Luvina menghela napas panjang, sesuatu yang membuatnya bingung adalah pilihan sulit ini. Luvina nggak mungkin ngecewain Mama, yang sudah memilih hidup sebagai single parents selama ini. Membesarkannya dan Bang Aldo. ♥♥♥ Sudah hampir jam tujuh malam, Luvina baru sampai di rumah dan tanpa menoleh langsung masuk ke kamar. Bi Ijah mengetuk pintu, dan Luvina mempersilakannya masuk. "Ada apa, Bi?" "Nyonya manggil Non untuk makan malam sama-sama." "Bang Aldo udah pulang?" "Udah, Non, dari sore tadi." "Kak Prita?" "Udah, Non. Pulangnya bareng Den Aldo!" "Ya sudah, Bi, aku bersih-bersih dulu." Sepeninggal Bi Ijah, Luvina mengempaskan tubuh di atas ranjang yang berukuran king size. Mengabaikan sejenak panggilan Mama untuk makan malam bersama. Jika harus membahas tentang perjodohan lagi benar-benar membuat Luvina stress berat, tapi aku tak mungkin menentang. Selama ini Mama mengorbankan banyak hal untuknya. Rasanya Luvina harus menerima, meskipun hati menentang. Beberapa menit kemudian setelah berganti pakaian dan mencuci muka, Luvina keluar dari kamar. Rumahnya memang tak berlantai dua, tapi rumah ini cukup besar dan luas. Ada lima kamar dan beberapa ruangan tak terpakai, yang dijadikan gudang serta ruang kerja Bang Aldo. "Lama amat sih, Dek. Ayo, makan!" panggil Bang Aldo—kakak kandung Luvina— dan Prita, istrinya. Mereka sudah berada di meja makan. Lalu Luvina duduk di hadapan mereka, sesekali melirik Mama yang sedang membantu memuat nasi di piringku. Mama memang tahu selera dan sebanyak apa Luvina makan. Prita memberi kode dan Luvina tersenyum. Mama memang sudah biasa mengurus Luvina. Dan, Luvina tinggal makan saja. Sebagai ibu yang sesekali menjelma sebagai sosok ayah membuat Luvina sedih, Mama selalu bersikap tegas tapi hatinya benar-benar baik. Dia malaikat tak bersayap. "Bagaimana, sudah ada keputusan? Pekan ini keluarga Dermawan akan berkunjung, loh." Kalimat pembukaan Mama membuat mood makan Luvina seketika hilang. Pembahasan yang benar-benar tak luput dari rumah ini, di mana pun dan kapan pun. Prita dan Aldo menatap Luvina. Luvina menghela napas panjang sekali, agar bisa yakin dengan keputusannya. "Baiklah, Ma. Luvi mau," katanya singkat. Tapi jelas, kan? Luvina menerimanya. Apalagi yang ia harapkan. Toh, Mama juga menginginkan yang terbaik untuknya. Mama menatap dengan mata memicing, meyakinkan jika mendengar jawaban putrinya dengan baik. "Kenapa ... kalian menatapku?" tanya Luvina heran. "Kamu yakin, Nak?" tanya Mama, dan berbalik membuat Luvina bingung. "Maksud, Mama?" "Yah, maksud Mama, hm ... bagus. Jadi, kunjungan keluarga Dermawan tak akan sia-sia. Bersiaplah." "Tapi, bukannya kamu ngebet pengin lihat orangnya dulu, Vin?" tanya Kak Prita. "Ah, nggak perlu, Kak. Biar saja, Luvi yakin pilihan Mama adalah yang terbaik dan akan membuatku bahagia." Kata-kata Luvina membuat Mama dan Bang Aldo tersenyum. ♥♥♥ Setelah keputusan yang aku buat, akhirnya Mama terus saja tersenyum. Luvina lega, karena kebahagiaannya adalah bahagia Luvina. Mama mempersiapkan beberapa kue dan beberapa menu makan malam untuk keluarga Dermawan. Luvina sudah yakin dan pasrah akan pilihannya. Semoga pilihan ini akan membahagiakan Luvina, termasuk Mama. Apa yang aku takut dan ragukan? Tidak lain dan tidak bukan, karena meski aku pernah bertemu dengannya, tetap saja dia itu misterius. Bahkan namanya saja Luvina tidak tahu. Prita menyikut Luvina. "Ada apa, Kak?" tanya Luvina. "Woah, Kakak baru saja dengar apa yang Mama bicarakan." "Apa itu, Kak?" "Ternyata, calon suamimu itu akan datang malam ini. Pria yang akan dijodohkan dengan kamu, sudah hampir seminggu di Indonesia. Jadi tenang saja, kita akhirnya akan memecahkan misteri ini," ujar Prita. "Yang bener, Kak? Tapi, kata Mama, kan—" "Mama pasti ingin membuatmu penasaran." "Syukurlah." "Kamu seneng, kan?" "Biasa aja, Kak. Ini kan bukan pernikahan yang Luvi inginkan," kataku. "Tapi, Dek, Candra bagaimana? Dia tahu kamu menyetujui perjodohan ini?" "Jangan menyebut nama lelaki b******k itu lagi, Kak. Aku jadi nggak mood." "Memangnya kenapa?" "Dia kedapatan selingkuh dengan junior di kampus." "Woah, bener katamu, dia b******k!" "Luvina, Prita, kemari, Nak!" panggil Mama. Keluarga Dermawan sudah tiba, dan duduk di kursi tamu. Luvina duduk di samping Mama, sementara Prita di samping Aldo. Jantung berdebar ketika yang akan mereka bicarakan adalah pernikahannya. "Nah, ini putriku yang akan dijodohkan sama anakmu, Ran!" tutur Mama. Luvina mencium punggung tangan kedua orang tua calon suaminya. "Dia ... cantik. Sama sepertimu, Lus. Kamu membesarkan anak yang baik, santun pula," puji Rana. "Hm ... makasih, Ran. Kamu berlebihan." "Kebetulan putraku sudah seminggu di Jakarta, Lus. Dia ada pekerjaan di sini, jadi terbang duluan. Kami baru saja menyusulnya kemarin." "Kalian tinggal di mana?" tanya Mama. "Di hotel." Terdengar suara hentakan kaki yang membuat Luvina menoleh. Luvina melihat seorang lelaki tampan berjas dengan setelan mahal, membuatnya menatap dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. "Maafkan, saya terlambat," kata lelaki itu. Pria itu ... Fahri Will Dermawan. Dosenku? Luvina beranjak dari duduk. Ia tatap Fahri yang sedang menyalami Mama, Aldo, dan Prita. Woah! Aku melupakan satu hal, ternyata Pak Fahri memang bermarga Dermawan. Kenapa aku tak menyadarinya? "Ada apa, Nak?" tanya Mama heran. "Kamu sudah mengenal Fahri, Nak?" tanya Rana, membuat lamunan Luvina buyar seketika dan kembali duduk. "Ada apa, Dek? Dia tampan, kan?" bisik Prita. Luvina masih berdiam diri dan tertegun melihat Fahri di sini. "Oh, iya, ini putraku, Lus. Namanya Fahri." Rana mengenalkan. Luvina mencoba meminum segelas air yang diberikan Prita untuknya. "Anakmu tampan sekali, Ran!" "Nanti kita akan memiliki cucu yang setampan dan secantik mereka, kan?" canda Rana, membuat Luvina tersedak minuman. Luvina melihat dari ujung mata, Fahri tengah tertawa kecil. "Hei, pelan-pelan, Dek!" tutur Aldo. "Apa kamu kaget melihat Fahri tampan?" goda Prita. Luvina kemudian memperbaiki posisi duduknya. Aishh, benar-benar memalukan. Luvina bertingkah seperti anak kecil saja di depan Pak Fahri. "Apa kamu mengenal Nak Fahri?" tanya Mama. Aku mengangguk. "Iya, Ma. Pak Fahri ini, dosen mata kuliah Informatika di kampusku," kata Luvina dengan lancar. "Benarkah? Kebetulan sekali ya, Nak!" ujar Rana. "Fahri ini ingin memberikan ilmu yang dia kuasai pada mahasiswa yang mungkin membutuhkannya. Padahal dia ini adalah ahli warisku, dan dia yang akan mewarisi seluruh perusahaan dan aset yang kami miliki. Tapi dia lebih menginginkan agar sementara waktu berkarir sebagai dosen dulu, sebelum menjadi CEO menggantikan ayahnya nanti. Sebagai orang tua, kami harus bagaimana lagi selain memberikannya kebebasan," ujar Pak Habib Dermawan, papanya Fahri. Ternyata lelaki ini bukan hanya dosen. "Benar-benar tipe idealmu kan, Luvina? Mapan tapi sederhana." Prita menyikut Luvina. "Perkenalkan Nak Fahri, ini anak pertama Tante, namanya Aldo, dan ini Prita istrinya. Lalu ini anak bontot Tante yang akan dijodohkan sama kamu, namanya Luvina." "Iya, Tante!" Fahri mengangguk. Apa ini? Kenapa Pak Fahri tak terkejut melihatku? Kenapa dia bertingkah seakan sudah mengetahui semuanya? Mama, Aldo juga kedua orang tua Fahri mengobrol akrab, sedangkan Luvina di sini masih keheranan. Luvina raih segelas air putih untuk memulihkan kesadarannya. "Berhenti minum, Dek, nanti kamu kembung loh," kata Prita mencoba menghentikan Luvina. "Cubit Luvi, Kak!" kataku. "Apaan sih, Dek?" "Ini bukan mimpi, kan?" "Ini bukan mimpi, Luvina. Ini kenyataan." "Jika ini kenyataan, terus nama calon suami Luvi, siapa?" "Masa nama calon suamimu saja nggak tahu? Namanya Fahri Will Dermawan. "Benar, kan? Luvi nggak mimpi, Kak." "Sebenarnya, ada apa? Apa kamu membuat masalah dengan dia di kampus?" Di ujung sana, Fahri sedang tertawa kecil melihat tingkah Luvina yang tengah menyadarkan diri. "Ya nggak lah, Kak. Luvi nggak buat masalah." "Terus, kenapa?" "Yah, Luvi nggak nyangka aja, Kak!" "Ya, sudah. Kakak ke abangmu dulu, dia manggil," tutur Prita, lalu meninggalkan Luvina sendiri. "Ehemm." Suara deheman membuat Luvina menoleh. Luvina melihat Pak Fahri sedang bersandar di tembok menghadapnya. Ya Tuhan. Dia tampan sekali. Menawan dan menarik, tapi hatiku tak bergetar. "Kamu pasti terkejut, kan?" tanya Fahri. Apa dia harus bertanya lagi setelah sudah jelas jawabannya ada di wajahku? "Apa Bapak sudah mengetahui semuanya?" tanya Luvina. Fahri mengangguk. "Berarti Bapak memang sudah tahu? Jadi, yang tadi pagi di kampus ... Bapak sudah akan menikah itu, dengan saya?" "Of Course, Luvina!" Entah kenapa, ada kelegaan di hati melihat betapa tampannya calon suaminya ini. Mamanya memang sangat pintar menyimpan kebenaran tentang anak menantu yang di banggakannya. "Berbicara informal saja denganku, Luv!" ujar Fahri. Pria dewasa berusia tiga puluh satu tahun, memiliki segalanya, kekayaan, pendidikan, kepintaran dan ketampanan. "Saya nggak mungkin berbicara informal. Bapak kan dosen saya," kata Luvina. "Tapi, aku ini tetap calon suamimu," kekehnya. Kenapa tak ada raut wajah ketidaksukaan pada Pak Fahri? Kenapa dia terlihat biasa saja dengan perjodohan ini? Luvina menggaruk rambut belakang yang tidak gatal. Entah kenapa, pertanyaannya sekarang menuju pada Fahri. Dia seakan tak mempermasalahkan dengan perjodohan ini. Luvina benar-benar pangling, dulu Fahri sewaktu kecil adalah lelaki kecil yang gendut, kuat makan, malas dan berkacamata tebal. Tapi sekarang? Terlihat berbeda sekali, seperti bumi dan langit perbedaannya. Inkonsistensi kata ganti antara aku dan saya ... saya samakan jadi aku
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD