KAK Raja is typing...
Kak Raja: Rumah Karina.
Lea mendesah kesal. Sekian lama typing, ternyata cuma mau ngomong itu doang? Dasar manusia gak berperasaan!
Lea berguling - guling di tempat tidur. Saat ini dia, Diandra dan Lili sedang berada di kamarnya menonton film genre action diatas karpet. Sementara Karren dan Lana masih istirahat.
Lea Cantik: Kakak pulang jam berapa? Lea nginap di rumah Eyang boleh?
Raja di seberang line diam saja meskipun statusnya sedang online. Mungkin pria itu tak hanya sedang chatting dengannya saja.
Entah kenapa pemikiran itu tiba - tiba membuatnya kesal. Padahal selama ini pria tak punya hati a.k.a suaminya itu sudah seringkali mengabaikan pesannya.
Lea Cantik: Kak Raja kok diam aja?
Lea Cantik: Padahal kan lagi online.
Kak Raja is typing...
Lea langsung terduduk melihat Raja sedang mengetik. Cepetan dong... Cepetan...
Kak Raja: Kuliah kamu besok gmn?
Lea membalas dengan cepat.
Lea Cantik: Lea gak ada kelas besok. Boleh gak? Lea mau nemenin Karren sama Lana besok.
Lea menggigit kukunya menunggu balasan dari Raja. Jantungnya berdetak kencang entah untuk alasan apa.
Kak Raja: Oke
Dan satu kata itu membuat bahu Lea luruh. Gadis itu langsung kehilangan semangat, padahal seharusnya ia gembira karena diizinkan menemani Karren dan Lana besok pagi.
Ada apa dengannya?
Lea melemparkan handphonenya keatas kasur dan membaringkan diri dengan malas. Ia menghela napas berkali - kali sambil matanya menatap langit - langit kamarnya yang putih bersih.
Dulu, waktu dengan Kak Elang dia tak pernah begini. Merasa berdebar - debar hanya karena satu pesan singkat. Dia selalu merasa secure karena tahu perhatian Kak Elang hanya padanya. Tapi dengan Kak Raja sungguh berbeda. Sikap cuek dan menyebalkan pria itu malah membuatnya geregetan sendiri.
Dia tak pernah marah saat kak Elang terlambat membalas pesannya, tapi selalu uring - uringan setiap kali Kak Raja mengabaikannya. Bahkan isi pesan bernada kemarahan dari suaminya itu lebih ia sukai daripada pesannya tak dibalas sama sekali.
Ia lebih menyukai bentakan Kak Raja setiap kali mengangkat telponnya daripada panggilannya tak diangkat sama sekali.
Crazy, right?
Ya, Lea tau itu!
Tapi ia tak mampu menahan dirinya untuk tidak bereaksi seperti itu. Ia bisa saja bersikap masa bodoh seperti Raja, tapi nyatanya ia tetap tak bisa. Mengganggu Kak Raja sudah menjadi kegiatan menyenangkan baginya akhir - akhir ini.
Ia akhirnya turun dari kasur dan bergabung dengan Lili dan Diandra yang masih asyik dengan film mereka. Mudah - mudahan film ini bisa mengalihkan sejenak Kak Raja dari otaknya.
***
Nyatanya kondisi Lea tak semakin membaik sampai ia kembali naik ke tempat tidur malam harinya. Ia masih saja teringat kak Raja-nya. Sedang apa, sudah makan atau belum, lagi dimana, apa masih di rumah Karina...
Perut kenyang pun tak bisa membawanya untuk langsung terlelap ke alam mimpi. Karren dan Lana juga sudah masuk ke kamar begitu mereka pulang dari makan malam di luar tadi. Kedua beradik bule itu antusias sekali menyantap nasi goreng seafood langganan Lea. Lea sempat kaget kedua temannya itu cukup menyukai nasi goreng, padahal selama ini mereka hanya makan roti dan gandum sebagai makanan pokok.
Ranjangnya mendadak terasa lebar sekali untuk ia tiduri seorang diri. Dan juga dingin. Biasanya ada Kak Raja yang tidur disampingnya meskipun pria itu seringkali menendangnya hingga jatuh ke lantai.
Lea membolak - balikkan badannya dengan gelisah. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan ia benar - benar tak bisa memicingkan mata sedetikpun. Baru kali ini ia kembali tidur sendiri setelah menikah, dan rasanya benar - benar tak menyenangkan.
Akhirnya, karena dorongan hati, ia mendial nomor Raja. Tak peduli entah pria itu sudah tidur ataupun sudah berlayar sampai ke benua manapun dalam mimpinya.
Lea terlonjak gembira begitu panggilannya diangkat oleh Raja di seberang sana.
'Ehm.. Halo...'
Suara bass dan serak khas bangun tidur milik Raja membuat Lea tak sadar menarik senyum.
"Kak Raja lagi ngapain? Udah tidur?"
'Menurut kamu?'
Lea menggigit bibir. "Oh, Lea ganggu ya? Ya udah deh, kakak lanjut tidur lagi..." katanya. Hatinya tiba - tiba saja terasa sedikit kesal begitu ia mengucapkan kata - kata itu.
'Tunggu...'
Lea yang sudah akan memutuskan panggilan mengurungkan niatnya.
'Kamu kenapa nelpon? Ada apa?' tanya Raja. Kali ini suara pria itu terdengar lebih segar dari sebelumnya.
"Hah? Oh, itu... Lea cuma gak bisa tidur aja..." katanya pelan.
'Kenapa?'
Lea diam. Detak jantungnya lagi - lagi berulah. Masa iya dia bilang 'gara -gara mikirin Kak Raja'?
'Aku juga gak bisa tidur, padahal lagi capek banget karena main sama Rizka dan Abay seharian...' kata Raja lagi.
"Emm... Udah minum s**u?" Lea berbasa – basi seraya menggigiti ujung kukunya.
'Udah, tadi dibawain sama bik Asti.'
"Oh..."
Mereka berdua diam. Hingga hampir satu menit kemudian Lea berinisiatif mengakhiri keheningan yang menyelimuti mereka.
"Kak, kayaknya Lea malam ini pulang aja deh. Tiba - tiba aja Lea jadi takut tidur sendiri..."
'Ha? Oh... Kamu mau pulang? Tapi kan, ini udah malam. Kamu tidur disana aja, besok baru pulang. Katanya mau nemenin teman kamu keliling Jakarta besok.'
"Tapi Lea gak bakal bisa tidur kalau disini,"
'Em... Kalau gitu aku minta Pak Ihsan buat jemput kamu.'
"Eh, nggak usah Kak, disini ada Pak Yamin, aku minta anterin sama dia aja."
'No, Aleah Mahendra! Pulang sama Pak Ihsan atau nggak pulang sama sekali!' kata Raja final.
Lea tersenyum lebar. Hatinya begitu gembira begitu Kak Raja memanggil namanya.
Aleah Mahendra.
Namanya tiba - tiba menjadi terdengar begitu indah di telinganya saat disebutkan oleh Kak Raja.
Fix! Lea memang sudah gila!
***
Sementara itu, di kediaman keluarga Mahendra, Raja langsung terlonjak dari atas kasur begitu sambungan telpon dari Lea terputus. Pria itu bergegas mengganti pakaian tidurnya dengan jins dan kaos v-neck lengan panjang kemudian menarik satu setelan kerja dari lemarinya sebelum menyambar kunci mobil dari atas nakas.
Senyum sumringah tak bisa lepas dari bibirnya. Setelah seharian otaknya kacau karena Lea, akhirnya saat ini ia bisa tersenyum selebar ini.
Kacau?
Ya, pikiran Raja sempat kacau memikirkan Lea yang dijadikan fantasi liar oleh para lelaki diluar sana. Lea istrinya, sudah sepantasnya hanya dialah yang boleh menjadikan gadis itu sebagai fantasi liarnya. Tapi dia bisa apa?
Gosh... Lea bahkan bukan selebriti ataupun model yang kerjaannya memang jual badan dan tampang, dia cuma Lea. Just Lea!
Just Lea, dan hanya karena i********: sialan itu dia sampai uring - uringan!
SHIT!
Dia sampai menghabiskan waktu seharian di rumah Karina hanya karena hal itu!
Raja langsung melesatkan mobilnya membelah jalan raya. Jalanan masih lumayan ramai meskipun jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.
Lewat setengah jam kemudian, ia tiba di rumah keluarga Adiwangsa. Pak Asep, satpam rumah itu langsung terbangun dari tidurnya begitu Raja membunyikan klakson. Pria paruh baya itu langsung membuka gerbang lebar - lebar setelah tercengir salah tingkah.
Raja kembali tak bisa menahan senyumannya begitu melihat lampu kamar Lea masih terang benderang. Gadis itu pasti sedang menunggu Pak Ihsan menjemputnya.
Ia masuk ke rumah dan menapaki anak tangga satu persatu sambil membayangkan bagaimana kira - kira reaksi Lea begitu melihat dirinyalah yang datang.
Perlahan - lahan ia membuka pintu kamar. Matanya langsung terarah kearah satu sosok yang sedang asyik membaca buku tebal diatas sofa.
Aleah, istrinya.
Gadis itu tampak terkejut bukan main melihat bahwa Raja lah yang membuka pintu kamarnya.
"Kak Raja?"
Raja masuk kedalam kamar mengabaikan panggilan kaget Lea. Pria itu meletakkan kunci mobil di atas nakas dan mengitari pandangan keseluruh penjuru kamar Lea yang bernuansa coklat, putih gading dan sedikit sentuhan purple. Ini adalah kali kedua ia masuk ke kamar ini setelah seminggu yang lalu saat Eyang keluar dari rumah sakit.
Bukannya ia benar - benar tertarik dengan dekorasi kamar itu, hanya saja ia tak tahu harus bersikap bagaimana begitu melihat Aleah yang memandangnya tak percaya. Dia sendiri juga heran, kenapa dia sampai kesini?
"Kak Raja... Kakak kok disini? Katanya tadi Pak Ihsan yang jemput Lea..." suara Lea yang terdengar takjub membuat Raja menolehkan kepalanya.
Iya, gue juga gak tau kenapa gue tiba - tiba sampai kesini!
"Itu... Pak Ihsan gak bisa ditelpon, makanya aku yang kesini. Daripada kamu nyusahin orang lain." katanya memberi alasan. Alasan palsu sebenarnya, karena dia bahkan tak menelpon Pak Ihsan sama sekali.
Lea tersenyum lebar, gadis itu berjalan dengan gembira kearah Raja dan berhenti tepat di depan suaminya itu.
"Lea senang Kakak yang datang. Lea boleh peluk kakak nggak?"
Raja membulatkan matanya tercengang dengan permintaan gadis didepannya itu. Baru kali ini Lea berinisiatif memeluknya duluan, selama ini Raja lah yang selalu mengambil first step. Dan gadis itu langsung syok sampai hampir pingsan. Tapi malam ini...
Belum sempat ia menjawab pertanyaan Lea dan mengemukakan kebingungannya, Lea sudah menubruk tubuhnya dan memeluknya erat. Raja sampai terbatuk begitu lengan gadis itu melingkari lehernya sambil tertawa kecil.
Raja balas memeluk tubuh mungil itu dengan senang hati. Gundahnya seharian ini perlahan menguap. Hampir dua menit mereka berpelukan sampai Raja bisa merasakan detak jantung Lea yang bersahutan dengan degup jantungnya sendiri.
Ada sensasi lain yang timbul saat menyadari bahwa mereka sedang berada dalam posisi sedekat ini. Intensitas degupan jantungnya jadi meningkat membuat tenggorokannya tiba - tiba terasa kering.
Ia buru - buru melepaskan pelukannya sebelum Lea sempat menyadari hal itu. Gadis itu tersenyum semakin lebar, memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi.
Kenapa malam ini dia merasa Lea lebih cantik dari biasanya?
Bukan... Bukan... Bukan lebih cantik, tapi lebih...dewasa?
Apa karena gaun tidur motif bunga sakura yang dipakai gadis itu?
Atau rambutnya yang sedikit di curly di bagian bawahnya?
Entahlah... Tapi yang jelas, dia tak bisa menahan dirinya untuk tidak mendekatkan wajahnya kearah Lea...
Bibir mereka akhirnya menyatu. Raja sempat merasakan kekagetan Lea dari cengkraman erat gadis itu di lehernya. Tapi hanya sejenak karena dua detik kemudian Lea sudah santai kembali, bahkan ikut memejamkan mata dan membalas ciuman darinya meskipun masih kaku dan malu - malu.
"Miss me?" tanya Raja pelan.
Lea langsung mengangguk pelan.
Raja terkekeh geli. "Kamu udah semakin mahir berciuman. Kalau begini caranya kita bisa punya anak tahun depan."
Lea mengerjapkan matanya. Masih berusaha mengembalikan seratus persen kesadarannya setelah serangan bibir dari suaminya.
"So, kapan kita bisa lanjut ke pelajaran selanjutnya?" tanya Raja lagi. Kali ini lengkap dengan seringai jahilnya.
Lea masih diam.
Pelajaran? Pelajaran apa? Memangnya aku ada minta diajari sesuatu sama Kak Raja?
"Kamu nggak berfikir kita hanya hidup berdua selamanya, kan Aleah?"
"Hah?"
"Karina sudah punya dua, kita seenggaknya harus punya tiga. Aku nggak suka dikalahkan dengan anak - anak Dirgantara itu!"
Lea mengernyit. "Apaan yang dua kak?"
Raja langsung terbahak kemudian menggeleng. "Lupakan, besok kita bahas lagi. Udah, kamu tidur sekarang. Otak bodohmu itu sudah cukup capek bekerja sepertinya..."
"Kita gak jadi pulang?"
"Kita tidur disini aja malam ini. Aku udah lama juga gak ketemu Eyang."
Lea memgangguk dan dengan cepat naik ke tempat tidur, meninggalkan Raja yang masih saja menggelengkan kepala dan tertawa geli melihat wajah istrinya yang masih bingung itu.
Aleah... Aleah... Jelas - jelas tadi aku ngomongin soal anak, kok masih nanya aja sih? Kamu itu beneran bodoh atau bagaimana?