Part 17

1728 Words
SEJAK bangun tidur pagi ini Raja seperti orang linglung. Sesekali ia berguling - guling diatas sofa, sesekali ia mengganggu Mommy di dapur, sesekali ia main game di ponsel, dan sesekali ia menonton acara gosip di televisi. Tapi tak ada satupun dari kegiatan itu yang membuatnya benar - benar betah. Lea sudah menghilang begitu ia membuka mata. Kata Mommy gadis itu ke bandara menjemput temannya yang baru datang dari Inggris . Raja mendengus kemudian mematikan televisi. Awalnya ia sudah berencana mengajak Lea untuk menemaninya berkuda dengan Aldrich Adyastha, CEO Primaganda Global dan juga Ken Dirgantara, sepupunya sekaligus pemilik Zk Entertaintment. Tapi langsung ia batalkan karena istrinya juga sudah raib ke bandara. Untung saja Aldrich tak protes sama sekali. Pria itu malah senang karena bisa menghabiskan waktu dengan istrinya yang sedang hamil tua. Mengusir kejenuhan, ia mengotak - atik handphonenya. Mengecek panggilan masuk, email, dan beberapa akun media sosialnya. Entah bagaimana prosesnya tiba - tiba saja tangannya sudah menulis nama Lea di kolom pencarian. Tak perlu terlalu lama mencari nama akun gadis kecil itu, karena Lea memang cukup mencolok bahkan di dunia maya sekalipun. Untung saja akunnya tidak di private, jadi Raja bisa scrolling sepuasnya foto - foto yang di posting gadis itu. Raja mengernyit, ia sedikit tidak percaya gadis seperti Lea hanya memiliki tak lebih dari 85 foto di akun instagramnya, padahal followers nya mencapai dua belas ribu lebih. Dan dari sekian banyak foto - foto itu, hanya beberapa saja yang benar - benar menunjukkan wajah full Lea, selebihnya hanya sekedar siluet, atau diburamkan, atau ditutup dengan sesuatu. Sedangkan postingannya saja hampir mencapai lima ratus postingan. Ini dia yang terlalu narsis atau Lea yang memang kurang update? Sementara foto - foto lain adalah foto - foto makanan, sunset dan sunrise, foto pemandangan dan kebun - kebun bunga, serta taman dan pantai yang Raja yakin tidak berlokasi di Indonesia. Juga beberapa foto dengan Eyang, kedua sahabatnya dan juga Ergan dan Elang. Tapi tak ada satupun fotonya dengan kedua orang tuanya dan juga Maurene, kakaknya di Australia. Foto terakhir yang diunggah gadis itu adalah foto henna dan buket bunga yang Raja ketahui adalah buket pernikahan mereka tiga minggu yang lalu. Caption nya pun tak ada yang berbahasa Indonesia, tapi berbahasa Inggris, Perancis, Spanyol dan Rusia. Meski hanya terdiri dari beberapa kata yang ditulis oleh gadis itu, tapi antusiasme para followersnya tidak main - main. Terlebih lagi followers lokal yang kebanyakan adalah para abg alay dan lebay. Padahal menurut Raja tak ada yang spesial dari foto - foto itu. Lea hanya membalas seadanya. Tak terlena sama sekali dengan komentar 'kakak cantik' ataupun 'kak Lea idola aku' dan komentar - komentar sejenis itu. Tapi gadis itu bisa membalas panjang lebar komentar seseorang yang menyapanya dengan bahasa Spanyol. Entah apa yang mereka bicarakan Raja pun tak mengerti, karena ia tak mengerti bahasa Spanyol sama sekali. At all! Melihat Lea yang luwes membalas komentar - komentar itu dengan banyak bahasa asing, Raja jadi bertanya - tanya. Sebenarnya gadis itu bisa bicara dengan bahasa apa saja? Ia tahu Lea hidup berpindah - pindah negara sejak kecil, sudah pasti gadis itu bisa bicara dengan banyak bahasa. Tapi Raja juga tahu, mempelajari bahasa tidak mudah, apalagi dari nol dan bahasa itu cukup asing di telinga dan susah dilafalkan. Hmm... dia jadi penasaran ingin mendengar gadis itu berbahasa Spanyol! Ia memfollow Lea terlebih dahulu sebelum pindah ke akun Lili dan Diandra. Tak seperti Lea, akun kedua gadis itu malah banyak sekali foto. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Postingan mereka bahkan hampir mencapai seribu foto dan video. Terlebih lagi di akun Lili, Raja mendapati sangat banyak foto Lea dengan wajah penuh dan senyum lebar, yang entah ini berkah atau musibah, membuat gadis itu menuai pujian habis - habisan. Sementara di akun Diandra juga terdapat foto Lea yang kebanyakan diambil secara candid. Ada juga beberapa foto gadis itu dengan abang - abang Diandra saat perayaan anniversary Tuan dan Nyonya Pratama. Shit! Dia jadi kepikiran omongan Diandra malam itu! Raja melemparkan ponselnya keatas sofa. Ia bergegas ke dapur dan membuka kulkas, kemudian menyambar sekaleng minuman dingin untuk meredakan rasa gerah dan tak nyaman di hatinya. Wajar kan kalau dia tak terima istrinya dijadikan objek fantasi liar oleh pria lain? Sialan! Bukannya tenang, ia semakin gelisah setelah menenggak habis minuman kalengnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Think, Raja... Think... Apa dia harus menelfon Lea sekarang? Tapi buat apa?? *** Lea berdiri di pintu sambil tersenyum lebar. Gadis itu bahagia melihat Eyang yang tampak terlihat cerah hari ini. Ia baru saja mengantar Karren dan Lana beristirahat di kamar tamu. Kedua gadis Inggris itu kelelahan dan mengalami jet lag karena terlalu lama berada diatas awan. Eyang duduk di gazebo dengan Diandra dan Lili. Kedua sahabatnya itu langsung datang ke rumah begitu Karren dan Lana tiba. Diandra dan Lili sejak dulu memang begitu, suka heboh sendiri jika ada temannya dari luar negeri datang berkunjung ke Indonesia. Semboyan mereka, sahabat Lea adalah sahabat mereka juga. Jadi mereka juga ikut melayani tamu - tamu Lea itu dengan baik. Nambah - nambah teman katanya. Kapan lagi bisa temenan sama bule asli? Kata Lili. Jadi mereka tak menyia - nyiakan kesempatan emas sama sekali. Plus mempertajam bahasa inggris mereka. Karena meski mereka sudah seringkali mendengar Lea mengoceh, sensasinya tetap terasa berbeda jika manusia - manusia pirang itu yang berbicara. "Eyang sempat kaget juga si Lana itu bisa ngomong bahasa Indonesia walaupun sedikit - sedikit." kata Eyang. "Iya, Lili juga gak nyangka loh Eyang, niat banget mereka mau belajar cuma buat liburan ke Bali doang." Lea mengambil tempat duduk di sebelah Diandra. "Pernah dengar istilah language is eyes, gak?" "Ya, dengan bahasa kita mengerti banyak hal, belajar banyak hal, dan faham banyak hal." kata Diandra. Lea mengangguk. "Aku nggak akan pergi kesuatu negara kalau aku nggak bisa bahasa negara itu sama sekali. At least buat nanya jalan atau beli makan, lah. Gak kebayangkan kalau tiba - tiba kita sesat atau kelaparan tapi gak tau nyari hotel atau restoran yang halal dimana?" "Kan bisa bahasa inggris?" "Emang, bahasa inggris bahasa internasional. Tapi sensasinya tetap aja beda dengan bahasa asli negara itu. Sama aja dengan perbedaan reaksi kalian saat denger aku ngomong english sama Karren dan Lanavay, sensasinya beda kan? Gitu juga sama aku. Lagipula gak ada ruginya kok belajar bahasa asing..." kata Lea. Lili dan Diandra menatap Lea kesal. "Iya deh, yang punya kecerdasan linguistik diatas rata - rata mah beda, ya gak Di?" kata Lili. Diandra mengangguk cepat. Lea mengedikkan bahu kemudian tertawa terpingkal - pingkal. Bukan karena pujian Lili, tapi karena tak tahan melihat ekspresi kedua sahabatnya yang sudah ‘manyun’ itu. "Bedewe baswey, laki lo kenapa gak ikutan kesini, Le?" tanya Diandra begitu obrolan tentang inggris - inggris ini selesai. Lea menyibakkan rambut panjangnya yang sedikit mengganggu ke belakang bahu. "Pas aku berangkat tadi kak Raja masih bobo ganteng." Lili dan Diandra langsung bersuit - suit heboh. "Baru ngaku kalau kak Raja ganteng? Selama ini kemana aja?" Lea tertawa. "Selama ini kak Raja ganteng, kok. Emang aku pernah bilang dia jelek?" Lili dan Diandra terdiam. Iya juga, Lea memang tak pernah mengatakan kak Raja itu jelek, kok. "Jelas ganteng dong, kalau nggak mana mau Eyang jadiin dia cucu menantu?" kata Eyang. Wanita tua itu menggoda Lea. "Percuma juga ganteng kalau cucu Eyang ini masih perawan ting - ting sampai sekarang!" celetuk Diandra. "Diandra!" teriak Lea. Mukanya perlahan merona merah. Sementara itu, Eyang memandang Lea dengan takjub. Kemudian bertanya dengan nada tak percaya. "Kamu beneran belum diapa - apain sama suamimu Le?" Lea mengerutkan dahi. Bingung mau menjawab pertanyaan Eyang bagaimana. Maksud diapa - apain ini gimana sih? "Maksud Eyang berhubungan suami - istri." kata Eyang lagi begitu menyadari ekspresi bingung dari raut cucunya. Pipi Lea merona. Tapi kemudian ia perlahan mengangguk. "Kenapa?" tanya Eyang lagi. Lea menatap Eyang serba salah. Sementara Lili dan Diandra sudah cekikikan tak jelas. Katanya sahabat, best friend forever!  Tapi kok tega ngebiarin sahabatnya dipojokin begini? Jahat banget! "Anu... Itu Eyang..." "Kenapa Aleah? Jangan bilang karena kamu datang bulan, karena Eyang hapal sekali sudah hampir sebulan kalian menikah!" Lea aja gak kepikiran alasan datang bulan, loh Eyang! "Anu,itu...Kata Kak Raja pelan - pelan dulu, Eyang. Kenal dulu diri masing - masing, gitu..." Eyang menggerutu gemas dengan kepolosan cucunya itu, tapi baru saja akan bicara, Diandra langsung menginterupsi. "Iya, tapi Kak Raja ngomong gitu sebab Lea baru dicium aja udah hampir mau pingsan, Eyang!" "Kalau nggak, bulan depan kita pasti udah dengar berita baik Eyang. Cicit Eyang..." Lili menimpali. Eyang memijat pangkal hidungnya. Beliau tahu cucunya yang satu itu memang ajaib, tapi tak menyangka bakal jadi seajaib ini. "Trus, mau sampai kapan kalian begini?" tanya Eyang. Lea mengangkat bahu. Ia juga tak tahu. Raja juga tak pernah sekalipun membahas hal ini. "Raja itu laki - laki, Le! Laki - laki dewasa. Dan kamu istrinya. Memang dalam pernikahan itu bukan hanya semata tentang tempat tidur, tapi itu hak suamimu. Dosa kalau kamu abaikan." Kak Raja juga gak pernah minta, berarti dia gak dosa kan, ya? "Nasehat Eyang, jangan lama - lama. Nanti dia jenuh cuma gara - gara nungguin kamu. Suamimu itu kaya, duitnya banyak. Umur tujuh puluh saja bakalan masih banyak yang antri, apalagi masih belum tiga puluh." Lea meringis. Tak sanggup membayangkan Kak Raja cari istri baru di umurnya ke tujuh puluh tahun. Dengan rambut ubanan dan perut buncit... "Tapi Lea gak ngerti harus gimana, Eyang..." "Masa hal beginian harus Eyang juga yang ajarin?" kata Eyang gemas seraya menatap Lea, Diandra dan Lili bergantian. "Kamu bisa mulai dengan lebih mendekatkan diri, mengobrol, bercanda, kirim sms, kalau perlu pas dia lagi baring - baring terkam aja sekalian." Lea terpekik. Sementara Diandra dan Lili sudah tertawa berguling - guling. Pasti lagi ngebayangin adegan Lea nerkam kak Raja, trus ditendang sampai jatuh ke lantai. Tega! "Kamu ingat gak pesan Eyang dulu? Suami itu paling suka dimanja sama istrinya. Siapin bajunya, sediain makanannya, persiapkan tempat tidurnya... Kamu amalkan gak itu semua?" Lea menggeleng. Selama hampir sebulan jadi istri Raja dia tak pernah melakukan apapun untuk pria itu. Semua yang dikatakan Eyang itu sudah dikerjakan ART. Eyang berdecak. "Nah itu dia. Kamu gak boleh lepas tangan begitu aja urusan suamimu Lea. Meskipun banyak ART, tapi istri Raja itu kamu. Dan sudah kewajiban istri melayani suami. Ngerti?" Lea mengangguk pelan. "Ini juga berlaku buat kalian, Lili dan Diandra. Jangan ketawa! Nanti kalau punya suami urus sendiri keperluan suami selagi mampu. Emang mau suami kalian jadi suaminya ART?"  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD