"Ayok, Pak!" ajak Naya mengulurkan tangannya untuk Nic bertumpuh. "Mamih tunggu kita disana...!" tunjuk Naya setelah berhasil membangunkan Nic. "Eemm... saya mau ke Mamih duluyah, Pak" lanjut Naya salah tingkah. Karena Nic tak kunjung menjawab perkataanya. Terlebih tatapan Nic yang intens semakin membuat Naya tak enak. Nic hanya mengangguk lemah sebagai jawabannya. Sesaat ia merasa sangat bersalah pada Naya. Ia telah berlaku kasar, tapi Naya justru meminjamkan bahunya untuk ia bersandar dalam lelahnya. Nic menatap punggung Naya yang pergi. Entah mengapa membuat senyum terbit di bibirnya. Ddriitt... driitt... "Nic mengangkat ponselnya. Dilihatnya Sera yang menelpon. Ia langsung mengangkat berharap kata penyemangat yang juga ia dapatkan persis seperti yang Naya lakukan padanya. "Halo

