Menjelang tengah hari, kejenuhan mulai menghampiriku.
Ditambah lagi, Mura yang sangat sulit diajak bicara. Dalam keadaan takut pun, dia lebih memilih banyak diam. Apalagi sekarang, ketakutannya sudah mulai berkurang karena hari telah terang-benderang.
Namun, aku tidak kehabisan akal. Di dapur sempat kulihat ada peralatan pancing. Dengan sedikit mengarang cerita perihal hantu-hantu yang menempati pohon-pohon besar. Mura akhirnya setuju menemaniku memancing—tentu saja dengan ekspresi dingin kaku dan terpaksa. Aku menunggu agak sore lebih dulu, sekitar pukul duaan, supaya teduh. Baru kemudian berangkat ke sungai. Kalau tengah hari betul-betul, kan panas.
Aku dan Mura menyusuri sisi sungai. Selain mencari tempat yang nyaman untuk memancing, pun harus mengambil jarak beberapa belas meter dari kakus. Walau kotoran langsung hanyut, tetap saja rasanya risih kalau memancing di dekat kakus.
Tempat yang nyaman itu pun berada di bawah pohon akasia besar. Teduh, rindang, dan kebetulan sedang berbunga.
“Duduk sini.” Aku menepuk tempat di sampingku.
Mura duduk dengan sedikit mengambil jarak, ekspresinya masih kaku dingin. Dia memeluk lutut dan memandangi air sungai dengan sorot murung.
Cantik.
Andai wajah cantik juga lucu itu dihiasi senyuman, pasti akan lebih menggemaskan.
Aku memasangkan jawilan dendeng sapi ke kail pancing. Lantas, melemparkannya ke sungai. Siapa tau, baru sebentar umpan dilempar, tali pancing sudah bergoyang. Seekor ikan tawes terpancing oleh kail. Ukurannya juga lumayan.
Mura tampak menampilkan ekspresi terkejut. Namun, matanya menampilkan binar yang cemerlang. Bahkan, tanpa aku suruh, dia duluan menyodorkan ember yang sudah diisi sedikit air sebelumnya.
Apa mungkin Mura menyukai ikan, ya?
Aku memasukkan ikan ke dalam ember.
Mura memeluk ember dengan kedua tangannya, sedangkan matanya menatap takjub ikan di dalam ember.
“Kamu suka ikan?” tanyaku.
“Huh?” Mura mendongak, kemudian menunduk lagi. Dia tidak menjawab.
Ya, aku dikacangin.
Ambyar hati ini!
Tapi nggak apa-apa.
Yang penting Mura kelihatan lebih ceria, nggak semurung sebelumnya.
Mungkin karena sungai di sini jarang dijamah orang, masih asri, ikannya pun banyak. Dalam waktu sekitar sejam saja—menurut perkiraanku—aku sudah mendapat sembilan ekor ikan. Macam-macam, ada tawes, palung, bekel, sama kebogerang.
Wajah Mura pun kelihatan lebih berseri, bersinar seperti embun pagi. Indah. Sesekali dia memasukkan tangannya ke dalam ember. Ya, kurang lebih mirip bocah SD yang kagum sama ikan hias yang dijual dua ribuan.
Aku menarik lagi pancing, seekor ikan bekel terkail. “Sudah banyak, gimana kalau kita pulang, terus bakar ikan. Hmm, kita bikin juga sambal tomatnya. Pasti enak.”
Mura mengangguk dan menjawab singkat, “Iya.”
Akhirnya Mura bicara juga.
Padahal, suaranya semerdu burung Murai. Jadi kebayang kalau nanti Mura punya anak, terus marah-marah. Aku pasti tidak keberatan mendengar suaranya terus-menerus. Aih, jadi ingin punya anak.
“Aku aja yang bawa ikannya.” Suara Mura membuyarkan lamunanku.
Mura memeluk erat ember berisi ikan-ikan. Seolah-olah dia takut banget kalau aku bakal merebutnya.
Kan, mirip bocah SD yang takut ikan hiasnya direbut orang.
Dasar kekanak-kanakkan.
Aku tersenyum dan mengangguk.
Mura bangkit berdiri. Namun, mendadak dia mengusap tengkuk, lantas membalik badan, kemudian menjerit histeris. Ember dalam pelukannya jatuh, airnya tumpah, ikan-ikan menggelepar. Mura melangkah mundur ketakutan, padahal di belakang sungai.
Saat aku ingin meraih Mura, sudah keburu terlambat. Mura terperosok dan terjerembap ke sungai. Suara jebur nyaring seketika menggema. Mura kelihatan panik, menggerakkan tangan serta kakinya tanpa beraturan.
Tentu saja aku segera melompat ke sungai dan meraih Mura. Sungai ini tidak dalam, hanya sebatas pundakku. Namun, tinggi Mura memang hanya sampai pertengahan lengan atasku. Wajar dia panik, ditambah kelihatannya tidak bisa berenang.
Begitu berhasil kuraih, Mura langsung memelukku erat-erat, tangisnya pecah.
Aku membawa Mura ke hilir dan mendudukkannya di bongkahan batu besar. Untung Mura langsung jatuh ke air, bukan menumbuk batu. Nggak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi kalau Mura jatuh menumbuk batu.
Aku memeluk dan berusaha membuatnya tenang.
Hantu, hanya itu yang Mura pekikkan sebelum jatuh terperosok tadi.
Masa iya siang bolong begini ada hantu.
“Kamu kenapa? Jangan takut, kan ada saya.” Aku menangkup wajah Mura setelah agak tenang, menatap matanya.
“H-hantu ....”
“Kamu lihat hantu?” Aku memastikan.
Mura mengangguk, air matanya meleleh.
Segera aku menghapus air matanya dan memeluknya lagi.
Mura nggak mungkin bohong.
Masalahnya, apa benar Mura melihat hantu? Apa jangan-jangan dia berhalusinasi karena terlalu takut. Namun, sepertinya tadi Mura tidak sedang dalam kondisi takut, malah cenderung ceria. Apa mungkin ada orang yang sengaja berdandan hantu dan menakuti Mura? Siapa? Apa motifnya? Apa suruhan Pak Aswin?
Kalau memang suruhan Pak Aswin, kenapa Pak Aswin seolah menutupi hal. Pun kalau memang suruhan Pak Aswin, bukankah agak keterlaluan dan bahaya. Bagaimana kalau Mura jatuh lantas membentur batu. Bagaimana kalau Mura cedera? Bagaimana kalau Mura syok.
Kalau memang bukan suruhan Pak Aswin, apa iya hantu betulan. Apa iya hantu bisa menampakkan diri di siang bolong begini. Rasanya sedikit janggal dan tidak masuk akal.
Lalu, apa mungkin orang jahil. Jika memang begitu, kenapa orang-orang suruhan Pak Aswin diam saja? Apa jangan-jangan semua orang suruhan Pak Aswin itu telah disuap. Telah berkhianat semua. Masa, iya? Memang ada anak buah Pak Aswin yang bisa memiliki pengaruh sebesar itu?
“K-kita pulang ajah ....” Tiba-tiba Mura mendongak.
Suara Mura kembali membuyarkan pikiranku yang sedang kusut.
Aku mengangguk, kemudian mengesun puncak kepala Mura—memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Nggak apa-apalah. Kan Mura memang istriku. Aih, basah-basahan begini jadi inget malam itu. Ditambah, Mura terus memelukku kencang. Kan jadi tambah kacau pikiran.
Aku membimbing Mura naik ke sisian sungai sembari terus merangkul bahunya. Aku memasukkan kembali ikan-ikan ke dalam ember. Gimana pun, sayang kalau ditinggal begitu saja. Ikan-ikan itu juga makhluk hidup, kematiannya nggak boleh sia-sia. Harus dimakan. Kalau enggak, gimana nanti jika arwah-arwah ikan itu menuntutku di akhirat karena aku sudah membunuh mereka, tetapi menyia-nyiakannya.
Sepanjang jalan, Mura terus memelukku, membuat jantungku berdentuman.
Dug-dug serrr!
***
Rumah.
Begitu tiba di rumah, hal pertama yang aku lakukan adalah mengambil handuk untuk Mura.
“Ngadep dinding, aku mau ganti baju!” seru Mura.
Sembari menghela napas, aku hanya bisa memutar badan menghadap dinding. Heran juga sama makhluk cantik ini. Ditinggal sendirian di kamar nggak mau, suka meluk-meluk kenceng. Tapi, giliran ganti baju nggak mau dilihatin. Padahal kan aku mau lihat.
“Udah selesai ...,” rengek Mura setelah beberapa saat.
Memang sudah selesai, Mura sudah berpakaian kering.
Aku melangkah ke lemari kayu tanpa cat, bahkan nggak dipelitur. Seperti Mura, aku juga basah kuyup. Jadi, harus cepat-cepat ganti pakaian supaya tidak masuk angin.
“Kalau mau lihat juga nggak apa-apa, kok,” godaku pada Mura yang sedang menundukkan kepala.
Mura tampak mendengus, kemudian melengoskan wajah.
Aku hanya bisa menyengir melihat tingkah Mura, menggemaskan banget.
Mendadak timbul pula ide jahil di benakku. Tanpa aba-aba, segera aku mengaduh sakit seperti dipukul orang. Berhasil. Secara refleks Mura menoleh ke arahku. Seketika itu juga mata Mura membeliak, mukanya memerah hebat. Beberapa kejap kemudian, baru dia berbalik memunggungi.
Aku tertawa.
Kali ini aku benar-benar tidak mampu menahan diri untuk tidak tertawa. Tingkah Mura itu, lucu-lucu menggoda.
Kira-kira, apa ya yang dipikirkan Mura saat melihatku polos. Hanya mengenakan celana dalam. Hahaha.
Setelah memakai celana, aku mendekati Mura dan menyentuh pipinya dengan jari telunjuk. Mura menepis lenganku tanpa berbalik.
“Sudah belum?” ketusnya.
Aku terkekeh. “Belum”
“Lama!” Ada nada kesal di sana.
“Ngadep sini,” godaku lagi.
“Nggak!”
“Jangan malu-malu, kan tadi juga dipeluk-peluk.” Aku menutuk-nutuk pinggang Mura dengan ujung telunjuk.
Mura berusaha menepis-nepis lenganku tanpa berbalik.
Semakin Mura bersikap seperti itu, semakin aku malah bertambah antusias menggodanya. Menggemaskan.
“Auuuuuu ....” Aku membuat suara tiruan serigala.
Siapa tahu, Mura langsung berbalik dan memelukku.
Ya, ampun!
Sepenakut ini dia? Hahahaha.
Aku balas merengkuh Mura dan berbisik di telinganya, “Cieeee meluk duluan ....”