Nittttt~

1191 Words
Aku balas merengkuh Mura dan berbisik di telinganya, “Cieeee meluk duluan ....” Mura diam saja. Namun, aku bisa merasakan wajah Mura yang menempel di dadaku menghangat. Dia pasti sedang malu banget. Hahaha. Malu tapi mau, eh takut. Mengelus rambut Mura, aku berkata dengan serius, “Kita shalat Ashar, ya, abis itu bakar ikan.” Mura menarik tubuhnya perlahan. Dia terus melengoskan wajah, tidak berani menatapku. “Pake bajunya,” desisnya. “Kenapa? Takut tergoda?” selorohku. Mura merengut, marah. Ya Allah, menggemaskan amat makhluk ciptaan-Mu ini. Setelah mengenakan baju, aku dan Mura lekas mengambil wudu. Usai menunaikan shalat, aku segera membuat api. Nasi liwet sisa tadi pagi dihangatkan. Sayang kalau dibuang, soalnya masih layak makan. Mura membersihkan ikan, sedangkan aku membuat tusukkan dari bambu sembari mengawasi api agar tidak padam. Dengan sendirinya, Mura tidak mau jauh-jauh dariku. Tentu saja bukan karena Mura sangat mencintaiku, melainkan takut hantu. Ah, aku tetap berterima kasih ke si hantu—entah hantu sungguhan ataupun jadi-jadian. Biar bagaimanapun, gara-gara dia, Mura menjadi lebih dekat denganku. Gara-gara si hantu juga, aku jadi memiliki banyak kesempatan dekat dengan Mura. Dipeluk-peluk lagi. Ketakutan Mura sedikit memudar saat melihat ikan bakar yang dibubuhi sambal cobek—sambal tomat pedas jahe merah. Saat masih muda dulu, aku memang memiliki beberapa cita-cita. Semula, aku ingin menjadi chef, sehingga aku lumayan bisa masak. Kedua, aku ingin menjadi penyair, sehingga gemar baca dan bisa sedikit membuat puisi. Terakhir, aku ingin menjadi ninja. Jadi, sedikit-sedikit memahami Karate. Namun, akhirnya aku hanya menjadi penggembala kambing di kampung, bersama Bapak. Kali ini Mura makan lebih lahap dari tadi pagi. Meski demikian, masih cukup sedikit porsinya menurut hitunganku. Untungnya, dia mau makan beberapa ikan tanpa nasi. Sikap Mura masih galak-galak menggoda, hahahaha. Misalnya, pas aku tawari bantuan buat memisahkan duri ikan dari dagingnya, dia nggak mau. Namun, saat pura-pura mau aku tinggal, dia langsung memeluk lenganku erat. Kan, galak-galak minta dipeluk. Gimana aku nggak gemas sama tingkahnya itu. Gimana pula aku nggak semakin jatuh cinta, coba? Mura, Mura. Cepatlah buka hati kamu. *** Malam. Saat malam menjelang, Mura semakin tidak mau jauh dariku. Bakda shalat Isya, aku mengajak Mura bersalawat. Tidak ada suara-suara aneh atau cekikikkan seram terdengar. Namun, Mura tetap kelihatan gelisah. Pandangannya acap kali berkeliaran ke sudut ruangan yang gelap tak terjangkau oleh penerangan lampu minyak. Aku mengusap wajah dan mengakhiri salawat. “Kamu nggak usah cemas, kan ada saya. Saya akan jagain kamu.” Mura hanya menunduk dan tidak menjawab. Aku mengusap kepala Mura, berharap bisa membuatnya lebih tenang. “Sudah malam, tidur ajah, ya.” “Mm, emmm.” Mura seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi ragu. “Apa?” tanyaku penasaran. “Aku ... mau ... buang hajat.” Aku mengedip. “Oh, yaudah. Hayuk saya antar.” Tanpa perlu dijelaskan lebih jauh pun aku tahu Mura ingin buang air besar. Sebab, kalau hanya sekadar buang air kecil, dia tidak akan secanggung seperti sekarang. Anehnya, semua tingkah Mura selalu menarik menurutku. Usai membawa air dalam ember, aku dan Mura menuju kakus di sisi sungai. Nggak terlalu jauh dari rumah. Sebab, rumah sendiri memang posisinya di sisi sungai. Di luar terasa dingin, angin berembus menggerakkan dedaunan. Langit juga berbintang, bulan kekuningan tampak menggantung dan tersenyum. Ya, seperti hatiku, tersenyum. Bila sedang bersama Mura, dalam keadaan apa pun, rasanya aku selalu ingin tersenyum. “Mau saya temenin di dalam?” tanyaku saat berada di depan bilik kakus. Aku mengangkat lampu minyak yang dimasukkan ke dalam toples dan toples diberi tali untuk menjinjing. Pendar cahaya menerangi wajah Mura yang selalu terlihat cantik lucu menggemaskan. Mura kelihatan bimbang, bulir keringat mengembun di keningnya. Kaku, dia menggeleng, kelihatan seperti terpaksa. “Kalau takut masuk sendirian saya temenin.” “Tapi ....” Mura menggigit bibir gelisah. “Nanti saya ngadep dinding, kamu tenang ajah.” Aku meyakinkan. “Bukan itu ....” “Terus?” “Kalau ... kalau ... bau gimana?” Wajah Mura merona hebat di bawah pendar pelita, cantik. Aku mengedip, kemudian terkekeh pelan. Mura benar-benar penakut ternyata. Namun, aku pun jadi mengetahui satu hal, Mura masih memikirkan kenyamananku. Mana tahu, di dalam hatinya dia mungkin saja tidak benar-benar tidak menyukaiku. Mungkin saja dia hanya butuh waktu untuk menerima kehadiranku dalam hidupnya. Aku membuka pintu, kemudian meletakkan ember di depan kakus. Lantas, segera menghadap pintu. Mura sempat menatapku dengan sorot yang tidak mampu kuartikan. Yang pasti bukan sorot dingin atau benci. Bagaimanapun cantik orangnya, kalau buang hajat tentu bau. Ya, pada dasarnya semua orang sama saja. Cantik tidak cantik hanyalah kulit luar. Kecantikan dapat memudar seiring waktu. Namun, kasih sayang yang dipupuk akan bertambah kuat seiring waktu. Aku pun mengagumi kecantikan Mura. Namun, rasa sayangku tidak semata karena wajah cantiknya. Aku mencintai diri Mura berserta segala kekurangannya—termasuk sifat dinginnya. “Udah selesai,” lirih Mura. “Eh!” Aku berbalik, Mura langsung menunduk. “Yaudah, ayuk ke rumah.” Aku mengambil ember yang sudah hampir kosong juga lampu dalam toples. Mura menggandeng lengan kananku. Di sisi rumah, ada semacam balkon atau serambi. Di sana ada sebuah bangku panjang dari kayu. Serambi menghadap sungai. Di jauh sana menjulang gunung yang kelihatan menghitam di kegelapan malam, mirip lukisan minyak. Lukisan alam. “Kita duduk sini dulu, ya.” Aku menggantungkan pelita dalam toples di paku. “Lihat pemandangannya, indah banget, loh.” Mura menatap ke sana, kemudian menatapku. Dia kelihatan cemas. “Kalau ... kalau ada hantu gimana?” “Kita tangkap! Terus nanti kita jual,” selorohku. Mura merengut, tetapi kali ini lain. Benar. Merengut Mura kali ini memang lain, kelihatan manja, bukan merajuk seperti yang lalu-lalu. Aku sampai harus menatapnya beberapa kejap untuk memastikan. Lantaran terus aku perhatikan, Mura akhirnya menunduk. “Eh, lihat! Kunang-kunang ....” Aku menunjuk ke depan. Mura mendongak, matanya memperlihatkan keterpesonaan. “Indah, ya,” ujarku, takjub. “Iya,” Mura mengakui. “Tapi, masih indah senyum kamu, sih. Sayang senyum kamu itu lebih langka dari kunang-kunang.” Aku menatap Mura lekat-lekat. Mura tampak terkejut. Dia salah tingkah, sudut mulutnya berkedut beberapa kali. Dia seperti ingin tersenyum, tetapi kaku. Entah karena malu, entah karena memang tidak ingin tersenyum, entah dia sudah lupa bagaimana caranya tersenyum. Apa pun itu, tetap saja dia membuatku gemas. “T-terima kasih ...,” lirih Mura pada akhirnya. “Hah?” Aku mengernyit, “terima kasih untuk?” “Sudah ... menemani aku ke kakus.” “Oh. Terus?” “Terus?” Mura mendongak, bingung. Tatapan aku dan Mura bertemu. “Cium ...,” godaku. Mata Mura membeliak, dia buru-buru menunduk. Aku terkekeh, kemudian menepuk pelan kepala Mura. “Bercanda.” Kaku, Mura tersenyum. Ya Allah, akhirnya aku bisa melihat Mura tersenyum. Indah. Terima kasih, Rabb. Terbawa perasaan, kepalaku mendadak bergerak, mendekati wajah Mura. Mura pun tidak berusaha menghindar. Angin berembus lirih. Arus sungai pun seakan berubah menjadi petikan kecapi yang melantunkan lagu romantis. Hawa yang dingin laksana bisikan lembut untuk mendekap orang terkasih. Aku dan Mura, hampir tak berjarak. Tapi kemudian .... Nittttttt! Mendadak terdengar suara alam—kentut—yang sepertinya coba ditahan-tahan. “Eh, suara apa itu?” kataku seraya menahan tawa. Tentu saja pergerakanku juga terhenti. Mura langsung mencubit keras pinggangku, membuatku mengaduh sungguhan—sakit sekali cubitannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD