Konspirasi Pak Aswin

1198 Words
Aku meringis. Cubitan Mura benar-benar sakit. Suasana juga jadi canggung. Mura terus menunduk seperti ingin menyembunyikan wajahnya. Sementara aku, aku hanya bisa menggaruk-garuk kepala seperti orang bodoh yang tidak tahu apa yang mesti dikerjakan. “Emm, di sini dingin, kita masuk ajah, yuk,” ajakku. Mura mengangguk. Aku dan Mura sama-sama beranjak. Namun, baru juga tanganku meraba gagang pintu. Tiba-tiba terdengar suara aneh seram. Mirip ringkikkan kuda, tetapi bukan. Menyusul juga suara cekikikkan keras. Mura langsung memelukku. Aku tidak buru-buru masuk, melainkan mengamati tempat sekitar. Gelap, tidak kelihatan sesuatu yang mencurigakan di sekitar sini. Tidak ada hantu, sepotong manusia juga tidak kelihatan. Jadi, dari mana suara aneh seram itu berasal? “M-masuk ...,” bisik Mura, ketakutan. Suaranya bergetar. Sebenarnya aku ingin memeriksa ke sekitaran rumah. Namun, Mura terlihat begitu ketakutan. Kalau aku bawa Mura, jadinya malah tidak leluasa. Lagian, kasihan Mura, dia benar-benar kelihatan takut. “Kamu jangan takut, kan ada saya.” Aku berusaha menenangkan Mura. Langkahku sedikit sulit karena Mura terus merangkulku erat. Saat pintu didorong, terdengar suara derit lumayan nyaring. Di rumah ini hanya ada dua pelita, satu di kamar dan satu lagi di tanganku. Otomatis, di ruangan utama gelap. Saat pelita di tanganku memasuki pintu, pendarnya menghalau gulita. Ada seseorang di dalam di rumah. Seseorang dengan jubah panjang berwarna hitam, wajahnya tidak kelihatan, seperti juga tidak memiliki wajah. Namun, sklera matanya tampak putih, kontras di keremangan. Apa dia hantu? Mura mencengkeram kausku dengan eratnya. Peduli sosok itu hantu atau bukan. Yang jelas, sosok itu memegang pisau. Mata pisau tampak mengilap di keremangan. Mendadak hatiku seperti tenggelam, berubah dingin, sedingin lempengan pisau. Bahaya! Aku memperingatkan diri. Segera aku menarik pinggang Mura dan membawanya lari. Bersamaan dengan itu, kulemparkan pelita pada sosok yang memegang pisau tersebut. Udara di luar dingin, kontur tanah di sisi sungai agak lembap. Aku dan Mura berlari menerobos kegelapan. Di belakang terdengar suara langkah mengejar. Bukan langkah satu orang, tetapi seperti beberapa orang. Ke mana orang-orang yang ditempatkan Pak Aswin untuk menjaga aku dan Mura? Apakah mereka semua benar-benar telah berkhianat? Aku benar-benar tidak mengerti. “Akh ....” Mura mengeluh tertahan. “Kamu kenapa?” Aku menghentikan langkah. Tubuh Mura gemetaran dan dingin. Belum sempat Mura menjelaskan kenapa dia mengeluh kesakitan, sosok yang mengejar kami sudah datang. Pertama hanya satu orang, kemudian muncul yang lainnya. Ya, aku yakin mereka itu orang, bukan hantu. Keadaan benar-benar gelap, hanya mengandalkan pendar bintang dan rembulan kekuningan di atas sana. Aku tidak bisa melihat wajah orang-orang itu. Semakin mereka maju, semakin aku dan Mura mundur, hingga tanpa sadar sudah berdiri di tepian sungai. Di antara mereka ada yang membawa senjata tajam. Sementara aku hanya sendirian, sedangkan mereka ada lima-enam orang. Kalau aku sendirian mungkin masih berani nekat. Masalahnya sekarang ada Mura. Bagaimana kalau saat aku sibuk menghadapi mereka, salah satu dari mereka ada yang menyakiti Mura. Byur! Tanpa berpikir lagi, segera aku menceburkan diri ke sungai. Aku membiarkan tubuhku hanyut sembari mendekap Mura. Tak terdengar suara jebur lagi setelah aku menjatuhkan diri. Berarti tidak ada orang yang mengejar melalui sungai. Namun, aku mendengar suara langkah ribut di sisian sungai. Walau dangkal, sungai ini berarus. Selain itu, terdapat juga batu-batu besar. Saat mendapati batu cukup besar, segera aku bersembunyi di baliknya. Napasku lumayan terengah karena saat menghanyutkan diri, hanya beberapa kali aku menongolkan kepala ke permukaan air untuk mengambil napas. Sebab, aku takut saat menongolkan kepala ada yang melempariku dengan batu atau malah pisau. Terdengar suara langkah berhenti di tepian sungai. Jantungku berdebar keras. Apa mereka tahu aku sembunyi di sini? Aku mendekap Mura erat-erat. “Kita kehilangan jejak,” kata seseorang. “Tidak masalah,” sahut yang lainnya. Jantungku berhenti berdetak. Suara Pak Aswin. Benar, suara Pak Aswin. Aku tidak mungkin salah. “Sebenarnya pengejaran ini tidak perlu. Mura sudah terkena panah beracun. Di sini jauh dari perumahan, apalagi puskesmas. Jadi, Mura pasti mati ...,” sambung suara Pak Aswin. Disusul pula oleh tawanya yang terkekeh-kekeh. Pak Aswin! Dia? Aku meraba tubuh Mura dan kudapati sebatang anak panah pendek memang menancap di pinggang kiri Mura. “Gimana sama Ali?” tanya seseorang lagi. “Biarkan saja,” jawab santai suara yang sama persis dengan Pak Aswin itu. Kemudian, aku mendengar suara langkah menjauh. Pak Aswin! Apakah semua ini rencana dia? Jadi, Pak Aswin sengaja memanfaatkanku. Dia bersikap begitu baik terhadapku tidak lain hanya untuk memanfaatkan aku saja. Tenung menikah dengan botol segala macam pun, semua itu hanya karangan belaka? Atau, orang yang menenung Mura dengan botol sebenarnya adalah Pak Aswin sendiri. Apa mungkin semua ini berhubungan dengan harta kekayaan. Semua usaha yang kini dimiliki Pak Aswin adalah warisan dari orang tua Ma Esih. Mura putri tunggal Pak Aswin dan Mak Esih—yang secara otomatis akan menjadi pewaris tunggal. Lalu, kenapa Pak Aswin menginginkan harta kekayaan itu? Hanya ada satu kemungkinan! Ya, hanya ada satu, kecuali Pak Aswin memiliki anak lain, tidak ada alasan lain yang lebih logis kecuali itu. Pak Aswin main seleweng dari Mak Esih. Pantas sikap Pak Aswin begitu baik terhadapku, dia sengaja melakukannya. Dia pun mengarang cerita bahwa ada yang ingin mencelakai aku dan Mura. Dengan begitu, saat terjadi sesuatu dengan Mura, maka aku akan mencurigai orang yang katanya menenung Mura itu. Dan karena Pak Aswin bersikap sangat baik kepadaku, maka aku tidak mungkin mencurigainya. Setelah Mura meninggal, aku pasti akan pulang ke kampung atau disuruh pulang ke kampung oleh Pak Aswin. Lalu, lambat laun, Pak Aswin pun akan menyingkirkan Mak Esih. Sakit karena kehilangan Mura akan menjadi alasan paling masuk akal untuk membuat orang-orang percaya kalau Mak Esih meninggalkan karena sakit. Ketika Ma Esih meninggal, semua harta kekayaan akan jatuh kepada Pak Aswin. Dia pun akan menjadi duda yang kesepian, ditinggal anak dan istri. Setelah menunggu beberapa bulan, Pak Aswin kemudian akan menikahi selingkuhannya. Tidak akan ada orang yang curiga juga tidak akan ada orang yang mencibir si perempuan selingkuhan itu. Nama keduanya tetap akan baik dan bersih. Sempurna! Benar-benar rencana yang sempurna. Jangan-jangan, ramuan yang katanya dapat membuat Mura tidak dapat menolakku itu pun sengaja Pak Aswin berikan dengan maksud lain. Mungkin saja dia berencana membunuhku dan Mura saat melakukan itu. Ketika dua manusia sedang berhubungan badan, kewaspadaannya bukankah pasti pudar. Benar-benar rencana yang keji! *** Setelah memastikan mereka semua pergi, segera aku membawa Mura ke tepi sungai. Panah berukuran kecil sudah aku cabut ketika di dalam air. Dalam kegelapan, sorot mata Mura pun tampak redup. Aku yakin Mura juga mendengar suara yang sama persis dengan Pak Aswin itu atau kemungkinan besar dia memang betul-betul Pak Aswin. Perasaan Mura pasti hancur. Apakah Mura juga memiliki pemikiran dan kesimpulan yang sama dengan yang ada di dalam kepalaku? Benarkah Pak Aswin yang berada di balik semua kejadian ini ataukah pemikiranku keliru. Jika pemikiranku keliru, kenapa suara orang tadi bisa sama persis dengan Pak Aswin? Lebih daripada itu, apa Mura bisa bertahan? Lambat-lambat, kelopak mata Mura menutup, tubuhnya demam tinggi. Ya Allah, Mura. Di sini tengah hutan, jauh dari pemukiman, apalagi puskesmas. Di sisi lain, racun di tubuh Mura mulai bereaksi dan menyebar. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku hanya bisa diam menyaksikan Mura mati perlahan. Aku menempatkan Mura ke punggung dan mulai berjalan cepat setengah berlari. Harus lari ke mana? Ya Allah, sesungguhnya hidup mati manusia ada di tangan-Mu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD