Gagal Cium

973 Words
Manusia berencana, Allah Maha Menentukan. Semula, Mura memberi batasan guling di tengah ranjang. Namun, pada akhirnya dia tidur dengan merangkul erat diriku. Setelah Mura pulas, diam-diam aku kecup keningnya. Jemariku mengelus pipi gembilnya, lantas merapikan rambutnya, mengusapi kepalanya. Cantik. Aku tersenyum sendiri, rasanya hatiku begitu manis. Sekali lagi aku mengecup ubun-ubun Mura, berdoa, kemudian memejam. Namun, tidurku tidak pulas. Sebab, beberapa kali Mura terjaga, bahkan mengigau. Tiap kali terjaga, wajah Mura pasti dipenuhi keringat, jemarinya juga dingin. “Enggak apa-apa, enggak ada apa-apa. Saya di dekat kamu.” Begitulah aku menenangkan Mura sembari menepuk-nepuk punggungnya. Dalam kondisi seperti ini, aku merasa Mura benar-benar mirip anak kecil. Besok, aku harus menemui orang yang ditempatkan Pak Aswin agar jangan lagi menakut-nakuti Mura. Aku memang bahagia bisa memeluk Mura. Namun, melihatnya ketakutan dan gelisah, hatiku pun menjadi kecut. Kasihan Mura. Biarlah aku mencari jalan lain untuk memenangkan hatinya, tanpa harus menakutinya. *** Menjelang subuh, Mura sudah terjaga, aku pun demikian. “Kita shalat Subuh dulu, yuk,” kataku sembari mengusapi rambut Mura. Kepala Mura yang semula menyusup di dadaku mendongak. “Kalau ... ada ... ada hantu gimana?” Aku ingin tertawa, tetapi aku tidak tertawa. Ketakutan Mura sama sekali bukan bahan tertawaan. Aku tersenyum, lembut. Aku tatapi mata indah Mura dengan segenap perasaan yang ada di dalam hati. “Jangan takut, manusia derajatnya lebih tinggi dari hantu. Kalau melihat hantu, Ammar bin Yasir menghantamnya dengan batu. Hantu memang ada, tetapi mereka nggak bisa membunuh manusia, hanya bisa menakut-nakuti. Semakin kita takut, semakin setan di atas angin dan semakin lemahlah kita. Namun, kalau kita berani, setanlah yang akan lemah.” Aku pandangi Mura, mengelusi kepalanya. Mura mengedip, kemudian menggigit bibir. Sudah jelas, Mura masih merasa takut. “Kamu ... emmm, Mura lebih takut hantu apa takut murka Allah?” tanyaku. Mura tidak menjawab. Namun, dia lekas beranjak duduk—rupanya dia lebih suka menjawab dengan tindakan, bukan kata-kata. Aku tersenyum bangga, lantas menepuk-nepuk kepala Mura. Mura terus menjawil kaus di pinggangku. Bahkan, saat pipis dan wudu pun harus aku tunggui—walau harus dengan posisi membelakanginya. Suasana rumah kecil ini remang-remang karena hanya mengandalkan penerangan dari lampu minyak. Bagiku yang sudah biasa, sama sekali tidak terasa angker. Namun, bagi Mura yang dalam keadaan takut, suasana remang-remang ini pasti membuatnya tambah takut. Kami shalat subuh berjamaah, Mura mencium tanganku. Saat kami duduk berhadapan, tiba-tiba terdengar suara “wek” seram yang nyaring dari luar rumah. Sontak Mura melompat ke arahku. Aku yang tidak siap menerima beban akhirnya malah jatuh terkapar. “I-itu ... suara apa?” lirih Mura. Masih terkapar, aku menepuk-nepuk punggung Mura. “Mungkin suara monyet atau lutung. Kan di sini banyak hutan.” “Tapi ... ta—” Aku menukas, “Kalaupun itu suara hantu, kamu juga nggak perlu khawatir, ada saya. Hantu model apa pun bakal saya hadapi dan nggak akan saya biarkan menyakiti kamu, seujung kuku pun enggak.” Aku merasakan Mura mencengkeram erat kedua lengan atasku. Namun, detak jantungnya yang semula berdegup-degup kencang, perlahan mulai tenang. Sebaliknya, jantungku malah terus berdebar-debar tidak keruan. “Ra ... Mura ...,” lirihku setelah beberapa saat. “Huh?” “Berat,” ratapku. Mura cepat-cepat bangun, dia duduk dengan kepala tertunduk rendah—mungkin malu. Namun, jemari kecilnya masih tetap menjawil kaus di pinggangku. Gemas banget. Aku bangkit duduk dan langsung merangkul Mura, mengecup ubun-ubunnya yang masih dilapisi kain mukena. Ternyata Mura diam saja aku peluk. Mungkin karena suara aneh “wek” mirip monyet atau lutung masih terdengar sesekali. Pagi yang indah. Gusti Allah, terima kasih untuk pagi yang manis ini. *** Menjelang terang tanah, ketakutan Mura sudah mulai mereda. Suara aneh apa pun juga sudah tidak terdengar lagi. Namun, dia masih tidak mau ditinggal sendirian. Ke mana pun aku melangkah, Mura pasti ikut. Aku membuka semua jendela agar udara yang masih sangat segar dapat masuk. Dingin tetapi juga segar. “Lihat ....” Aku menunjuk awan yang bergumpal-gumpal seperti embe (domba). Arsiran oranye dan merah muda lembut menghiasi cakrawala. “Cantik, ya,” sambungku kemudian. “Iya.” Mura memandangi pemandangan indah itu dengan terpesona. “Tapi masih kalah cantik sama wajah kamu,” kataku dengan tulus. Kalau sudah sayang, memang apa pun akan terlihat lebih bagus, lebih indah, lebih cantik. Bukan gombal, tetapi di mataku saat ini, memang wajah Mura jauh lebih menarik, lebih indah, lebih cantik, dari gumpalan awan yang indah itu. Mura mengatupkan bibirnya. Dia memalingkan pandangan ke arah lain, menghindari tatapanku. Menggemaskan. Nekat, aku meraih punggung Mura dan menariknya ke dalam pelukan. Mura tampak terkejut dan berusaha melepaskan diri. Namun, langsung terdiam saat aku memegangi pergelangan tangan kanannya dan menatap langsung ke matanya. Kami saling bertatapan. Tanganku yang lain tetap menahan punggungnya agar dia tidak bisa ke mana-mana. Aku bisa merasakan deru hangat napas Mura. “Masih ada sepuluh malam lagi, loh. Kan semalam juga kamu peluk-peluk saya, kenapa sekarang jadi malu-malu?” Aku sengaja menggodanya. Mura menggigit bibir, melengoskan wajah. Aku malah sengaja mendekatkan wajahku pada wajah Mura. Saat wajahku semakin dekat, Mura memejamkan matanya kuat-kuat—ekspresinya sama persis dengan anak kecil yang takut di suntik. Tadinya aku hanya bercanda, hanya ingin mengisenginya saja. Namun, melihat reaksinya yang seperti ini, aku jadi benar-benar ingin mengecup bibir ranumnya. Jantungku sendiri berdebar luar biasa keras, semakin dekat semakin keras. Bahkan, saat hampir tidak berjarak, rasanya jantung ini mau melompat keluar dari tempatnya. Namun, mendadak terdengar suara. Kruuuk! Tiba-tiba perutku keruyukan. Pergerakanku terhenti, Mura juga membuka matanya. Seperti balon yang ditusuk jarum, hancur sudah, fokusku berantakan sudah. Pada saat itu pula Mura menarik tubuhnya, mundur dua langkah, menjaga jarak. Agaknya rasa takutnya masih ada. Dia tidak ingin aku perlakukan mesra, tetapi juga takut kalau jauh-jauh dariku. Ah, lucunya. Aku menghela napas. Dasar perut nggak tau diri, nggak tau situasi! Dipecat juga nih perut dari tubuh. Eh, harus dimutilasi, dong. Yaudahlah, mau gimana lagi. Usaha lagi lain kali, Al.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD