BAB 17

1561 Words
Kali ini mereka sudah tidak berbeda mobil, kelima orang ini berada di dalam satu mobil dengan Reynart dan Axele duduk di depan, sedangkan Luc, Frey dan Celesse duduk di belakang. Tentunya beberapa penghuni di dalam mobil ini nampak was-was dengan Axele, kecuali Celesse yang tidak tahu apa-apa. Axele pun tahu jika rasa sakit itu kembali kambuh, dan dia harus segera mendapat penawarnya. “Luc, sepertinya nanti kau saja yang bawa mobilku. Aku sedang ada urusan,” seloroh Reynart yang melempar kunci mobil miliknya yang dengan sigap ditangkap oleh Luc. “Frey, bagaimana kalau kita—” “Ikut aku,” potong Axele dengan cepat yang menarik Celesse menjauh dari teman-teman mereka. Luc dan Reynart pun tahu apa yang akan dilakukan temannya itu, berbeda dengan Frey yang nampak terkejut dan ingin menyusul mereka tetapi dihalangi oleh Luc. “Biarkan mereka, Frey,” ucap Luc yang mau tidak mau Frey pun memilih menurut. Celesse nampak bingung dengan sikap Axele yang berubah sejak kemarin. Di awal mereka bertemu, pria ini menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Celesse, tetapi sekarang berbeda. Dan tanpa Celesse sadari, ternyata Axele membawanya ke ruang musik. “Kenapa kita ke-mmmppt—” Belum sempat gadis itu bertanya, bibirnya sudah dibungkam oleh Axele dengan bibir yang dingin itu. Untuk kedua kalinya Celesse pun terkejut karena pria ini melakukan hal seperti ini secara tiba-tiba. Celesse yang masih sadar pun dengan cepat menjauhkan dirinya dan mendorong d**a Axele hingga bibir mereka terlepas serta Celesse yang mundur beberapa langkah. “A-Apa yang kamu lakukan?!” sentaknya tanpa sadar. Axele masih menatap bibir Celesse yang seakan menjadi candu untuknya. Tahu ke mana arah pandang pria itu, Celesse dengan sigap menutup mulutnya membuat Axele terkekeh dalam hati. Setidaknya sekarang rasa sakit itu sedikit mereda. “Dadaku kembali sakit, jadi aku butuh obatnya,” tutur Axele. “Aku kemarin sudah katakan untuk pergi ke dokter, kenapa kamu malah tidak mau. Dan apa ini? Kamu butuh obat dan malah menciumku sembarangan. Ini adalah kedua kalinya kamu menciumku tanpa ijin,” ucap Celesse dengan nada marahnya. Mendengar perkataan gadis ini membuat Axele menjadi berpikir yang lain. “Apakah itu artinya jika aku meminta ijinmu lebih dulu, aku boleh menciummu?” tanyanya. “TIDAK! Jangan mengada-ngada. Ish! Dasar pria m***m!” cecar Celesse yang segera pergi dari sana meninggalkan Axele yang tergelak di tempatnya. Pria itu menatap kepergian sang mate dengan memegang dadanya yang sudah tak terasa sakit lagi. “Mungkin memang lebih baik aku menciummu setiap hari dari pada mengubahmu menjadi sama sepertiku,” lirih Axele yang mulai melangkahkan kakinya mengikuti langkah kecil Celesse. Karena rasa sakitnya sudah sedikit mereda, Axele jadi bisa berdekatan dengan matenya itu. Kedatangan keduanya nampak disambut tatapan bingung oleh ketiga temannya terutama ekspresi Celesse yang menunjukkan wajah kesalnya, sedangkan Axele hanya menampilkan raut wajah datar biasanya. Celesse duduk tepat di sebelah Frey, sedangkan Axele duduk di sebelah Reynart, dan Luc duduk sendirian di belakang kedua gadis ini. “Kamu kenapa, Cel?” tanya Frey. Celesse menggeleng dengan cepat. “Bibirmu kenapa?” tanya Frey tiba-tiba yang dengan refleks memegang bibirnya itu. Seketika gadis ini pun mengingat adegan barusan. “Dan kenapa pipimu merah? Kamu sakit?” tanya Frey bertubu-tubi. “Ti-tidak, kok. Aku baik-baik saja,” jawab Celesse gugup. Luc yang melihat gelagat Celesse yang aneh pun tahu jika temannya pasti sudah melancarakan aksinya. Luc pun mengetikkan sesuatu di ponsel pintar miliknya. Perhatian Axele sedikit teralihkan ketika merasakan getaran dari saku celananya, dengan sigap dia pun mengambil ponselnya, ternyata sebuah pesan dari Luc. Luc: kau benar-benar m***m. Lihatlah gadismu, pipinya memerah. Apa yang kau lakukan kepadanya? Axele: hal yang sama yang kau lakukan kepada Frey Luc: sial! Axele pun sudah tidak lagi membalas pesan milik Luc dan memilih untuk fokus menatap Celesse. Tentunya Celesse tahu jika sedari tadi mata pria itu tertuju padanya. Tentunya Celesse belum bisa memaafkan tindakan Axele yang seenaknya. “Guys, gue cuma ngasih tau kalau dosennya hari ini tidak masuk,” ucap salah satu pria yang memasuki kelas. Terdengar pekikan keras dari beberapa mahasiswa, namun ada juga yang mengeluh kesal. “Yeay, berarti hari ini kita free,” papar Frey dengan senang. “Bukankah ini tidak adil, Frey? Aku baru saja mengikuti kegiatan kampus,” keluh Celesse. Ini adalah hari kedua dia pergi ke kampus, di mana di hari pertama saja dia tidak masuk kelas juga. Sungguh hari yang menyedihkan. “Sudahlah, Cel, masih ada hari esok. Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja? Pergi nonton mungkin,” usul Frey. “Setuju!” sahut Luc yang mendengar usulan matenya itu yang membuat kedua gadis ini menoleh kepadanya. “Ada satu film bagus yang baru tayang. Aku mendapat info ini dari internet,” jelas Luc lagi. “Apa yang kalian bicarakan?” tanya Reynart diiku oleh Axele dengan mata yang selalu menjurus kepada Celesse namun gadis itu abaikan. “Mereka ingin nonton film katanya,” ungkap Luc. “Oh, pergilah. Aku rasa kalian juga butuh refreshing. Dan ya, sepertinya aku tidak bisa ikut karena ada urusan, aku sudah memberitahu kalian tadi,” sahut Reynart. “Baiklah, Rey. Ayo, kita berangkat sekarang sebelum kehabisan tiket,” ucap Luc bersemangat. Entah kenapa pria ini sangat bersemangat ketika bisa keluar seperti ini. Sepertinya Celesse tahu akhir dari perjalanan ini jika tanpa seorang Reynart. Luc dan Frey akan berduaan, dan dirinya harus berakhir dengan pria m***m yang selalu mencuri ciumannya. Celesse sudah akan menarik Frey untuk duduk di bangku belakang mobil, akan tetapi Luc memaksa untuk Frey duduk di sebelahnya. “Ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan untuk kita,” ucap Luc benar-benar sangat bersemangat. “Kita hanya akan menonton film. Apakah kamu tidak pernah menonton film, Luc?” balas Celesse yang duduk tepat di belakang pria ini. “Film? Aku terlalu malas untuk menonton film, lebih enak menonton kecantikan Frey setiap saat,” ujar pria itu membuat Celesse ingin muntah. Frey pun merasa malu dengan perkataan matenya. “Kamu benar-benar membuatku malu,” gumam Frey yang masih bisa didengar oleh mereka. Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di mall. Dan seperti biasa keadaan benar-benar ramai. Celesse baru saja akan menggandeng Frey untuk jalan berdua, tetapi tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh sebuah tangan besar yang dingin. Refleks dia pun menoleh dan terkejut. “Apa yang kamu—” “Aku hanya menahanmu untuk tidak mengganggu mereka,” potong Axele dengan menunjuk pasangan kekasih di depan mereka menggunakan ekor matanya. Celesse pun terdiam, benar kata Axele jika Frey dan Luc masihlah menjadi pasangan. Tidak bagus juga merusak pasangan seperti mereka. “Lebih baik kau bersamaku, setidaknya mereka butuh menghabiskan waktu berdua bersama pasangannya,” ungkap Axele. Begitu juga dengan kita, batinnya. Celesse seperti setuju dengan perkataan Axele. Celesse dan Axele duduk di bangku tunggu sedangkan Luc serta Frey nampak mengantri tiket. “Apakah kau mau aku belikan sesuatu? Makanan atau minuman, mungkin?” tanya Axele membuka percakapan. “Tidak perlu. Setelah nonton kita juga akan pergi makan, kan. Jadi, nanti saja makannya, dan aku masih kenyang dengan sarapan tadi,” jawab Celesse. Axele mengangguk paham. “Untung saja kita nggak telat. Lebih baik kita masuk dulu, filmya tiga menit lagi mau dimulai ternyata,” ungkap Luc yang baru datang. Keempatnya pun bergegas menuju ke studio dengan didampingi oleh penjaga pintu bioskop yang mengarahkan mereka ke tempat duduk masing-masing. Sialnya adalah tempat duduk mereka terpisah. Tentunya seperti kata Axele tadi, Celesse tidak ingin mengganggu kebersamaan pasangan itu. Dan mau tidak mau dia pun harus duduk bersebelahan dengan Axele, sedangkan kursi Luc dan Frey nampak sedikit jauh dari mereka. “Bukankah kita seperti berada di barisan belakang? Dan tidak ada orang juga di deretan ini. Kenapa Luc memesan kursi di sini? Padahal di depan sana masih ada beberapa yang kosong,” ujar Celesse yang nampak protes. “Sst, diamlah, Cele. Film sudah mau dimulai,” kata Axele yang membuat gadis ini pun bungkam. Lampu bioskop dimatikan dan penerangan hanya dari layar besar di depan sana. Celesse masih tidak nyaman dengan duduknya. “Diamlah,” bisik Axele dengan tangan yang menggenggam tangan mungil Celesse di mana gadis itu dengan refleks melepaskan tautan tangan mereka. Keduanya pun fokus ke layar di depan sana. Dan sialnya adalah ini film horor yang Celesse tidak sukai, apalagi bercerita tentang manusia penghisap darah alias vampir. Axele yang sadar jika ini adalah film vampir tampak bingung ketika Luc memilih film seperti ini. “AAA!!” Dan seperti kebanyakan film horor pada umumnya, akan ada hal yang mengejutkan di setiap adegan menegangkan. Sialnya adalah Celesse dengan refleks memegang tangan dingin milik Axele. Dan Celesse sadar jika tangan pria itu selalu dingin, bukan tangan saja tetapi seluruh badannya, itulah yang dia rasakan kemarin. Kenapa Luc memilih film seperti ini? Benar-benar menyebalkan, batin Celesse yang mengutuk pria di sana. “Astaga!” pekik gadis ini lagi dengan tangan yang menutup matanya, Axele pun nampak bingung. “Kau kenapa?” “Itu, si vampirnya tadi gigit leher ceweknya,” tutur Celesse. Benar-benar banyak darah dalam film ini dan Celesse tentu tidak suka. “Itu vampir, tugasnya memang gigit mangsanya,” jelas Axele santai. “Tapi tetapi saja, pasti rasanya sakit sekali,” balas Celesse yang tidak bisa membayangkan betapa sakitnya perempuan di dalam film itu meskipun ini hanyalah akting. “Benar, tapi lama kelamaan tidaklah sakit,” kata Axele membuat gadis itu mengernyit dan menatap wajah pria di sampingnya dengan minimnya cahaya di tempat ini. “Kenapa kamu yakin jika rasanya tidaklah sakit? Apakah kamu pernah mencobanya? Tentunya tidak mungkin,” tutur Celesse dengan suara renyah miliknya, kedua orang ini seperitnya sudah tidak fokus dengan film yang merek tonton. “Aku belum pernah mencobanya, tetapi jika kau mau, aku bisa membuatmu mencobanya,” terang Axele dengan senyum semiriknya yang semakin membuat Celesse tidak paham. Melihat keterdiaman gadis ini membuat Axele paham jika Celesse tidak mengerti dengan yang dia katakan. “Sudahlah, lupakan, fokus ke filmnya, Cele,” tegur pria ini yang membuat gadis ini kembali fokus ke depan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD