Axele baru saja meletakkan tubuh Celesse di kasurnya sendiri. Sepertinya mereka benar-benar menghabiskan waktu yang baik hari ini dan malah gadis itu kelelahan hingga tertidur di dalam mobil. Mau tidak mau Axele pun menggendong Celesse seorang diri. Pria itu sedikit berjongkok menyamakan tubuhnya dengan tinggi ranjang milik Celesse.
“Kamu sangat cantik sekali, Sayang,” puji Axele dengan membenarkan beberapa anak rambut yang menghalangi kecantikan gadis ini. Pandang pria ini terhenti pada bibir merah muda milik Celesse yang sudah dua kali ia cicipi.
“Maaf, Sayang, bibirmu benar-benar candu untukku.” Tepat setelah mengucapkan itu, Axele mendekatkan wajahnya pada wajah gadis yang tertidur ini. Benda kenyal itu langsung mendarat tepat di bibir Celesse. Axele melumatnya sedikit, tetapi dengan segera dia menghentikan aktifitasnya karena meras ada pergerakan dari gadisnya ini. Axele mengusap pelan kepala Celesse agar dia merasa tenang, terbukti usahanya berhasil.
“Good night,” ucap Axele yang diakhiri kecupan ringan di dahi Celesse.
Kemudian pria ini pun keluar dari kamar matenya itu, di mana ternyata ada Reynart yang menatap dirinya dengan pandangan serius. Mungkin temannya ini sudah menunggunya sejak tadi.
“Ayah ingin berbicara denganmu,” ungkap Reynart kemudian. Axele mengangguk paham. Kedua pria ini segera menuju ke ruang kerja milik Mr. Martin di mana pria berumur itu sudah menunggu mereka.
“Bagaimana dengan Celesse? Apakah dia baik-baik saja?” tanya Mr. Martin.
“Dia sudah tidur di dalam kamarnya, Mr,” jawab Axele.
“Baiklah,” jeda pria itu. “Axele, aku sudah berbicara dengan wizard Berta. Katanya sudah ada cara agar rasa sakit di dadamu hilang secara permanen, apakah itu benar?” tanyanya kemudian.
Axele mengangguk membenarkan. “Ya, Mr. Tapi aku tidak setuju dengan wizard Berta,” papar Axele.
“Kenapa kau tidak setuju? Bukankah ini akan memudahkanmu agar bisa bersatu dengan Celesse? Tentunya kau tidak mungkin setiap saat mencium dirinya, bukan?” sela Reynart yang ikut berada di dalam ruangan ayahnya.
“Aku tidak ingin membahayakan mateku sendiri, Rey,” jawab Axele yang tidak dipahami oleh Reynart. “Wizard Berta dan Ayahku menyarankan untuk mengubah Celesse menjadi vampir,” ungkapnya membuat Reynart tak terkejut sama sekali.
“Ayah, apakah itu benar?” tanya pria ini kepada ayahnya sendiri.
Mr. Martin mengangguk membenarkan perkataan Axele. “Itulah yang Ayah dapat dari wizard Berta. Axele harus meminum darah Celesse dan melakukan penyatuan agar bisa terbebas dari rasa sakit itu,” jelas Mr. Martin.
Reynart menatap temannya itu dengan pandangan serius, entah mengapa dirinya merasa kasihan dengan takdir Axele. Axele yang tahu tatapan dari temannya ini pun hanya bisa terkekeh, tumben sekali Reynart mengkhawatirkan dirinya. “Sudahlah, Rey. Aku tidak apa-apa. Keputusanku sudah bulat, aku tidak akan mengubah Celesse apalagi membuatnya kesakitan. Aku tidak akan sanggup melihat dia kesakitan,” ungkap Axele.
Tetapi, berbeda dengan Reynart yang tampak tidak setuju dengan keputusan Axele yang memilih merasakan sakit itu setiap saat dibandingkan mengubah Celesse.
“Mr. Martin, saya pamit undur diri,” kata Axele yang mulai beranjak dari duduknya. Reynart dengan cepat mengikuti langkah temannya itu.
“Axele, tunggu,” cegah pria itu membuat langkah temannya pun terhenti. Axele berbalik dan menatap Reynart langsung. “Apa kau benar-benar tidak akan mengubah Celesse?” tanyanya.
“Ya, aku tidak akan pernah mengubahnya, Rey,” putus Axele.
“Ini adalah kesempatanmu, Axele. Kalian bisa bersatu jika Celesse berubah menjadi makhluk abadi. Jika dia tetap menjadi manusia, dia akan pergi meninggalkanmu lebih dulu karena keabadian tidak dimiliki oleh manusia. Apakah kau tau hal ini?”
Axele tersenyum mendengar penjelasan dari Reynart. “Aku tau, Rey. Aku tau konsekuensi atas apa yang aku pilih sekarang. Perubahan dari manusia menjadi vampir tidaklah mudah. Celesse akan tersiksa, dan tingkatakan itu berbeda. Bisa hitungan hari, minggu, bulan, atau tahun, tergantung si orangnya sendiri. Lagi pula aku tidak ingin melihat Celesse tersiksa dengan perubahan itu. Aku tidak akan bisa menahan rasa sakit yang ia alami.”
“Ck, kan ada kau. Ada kita semua yang akan membantu kalian,” kekeh Reynart.
“Ini beda, Rey. Kau tidak akan tau bagaimana perubahan itu terjadi. Perubahan itu bisa saja membahayakan sekitarnya juga. Dan aku tidak ingin kalian menjadi incaran pertama Celesse yang haus akan darah,” jelas Axele yang membuat Reynart terdiam di tempatnya.
Melihat keterdiaman temannya membuat Axele tersenyum. “Aku akan isitirahat. Terima kasih, Rey, sudah mengkhawatirakan kami,” pamit Axele yang pergi meninggalkan Reynart yang diam membisu.
Berbeda dengan Axele, Reynart nyatanya lebih setuju jika Celesse diubah menjadi makhluk immortal seperti mereka. Bukan tanpa alasan Reynart berpikir seperti ini, itu karena dia tahu jika beberapa makhluk immortal di luar sana mengincar Celesse, akan tetapi dirinya masih belum mendapatkan alasan kenapa mereka mengincar gadis ini.
Beberapa hari ini Reynart nampak menyelidiki hal ini, untuk itulah dia sangat setuju jika gadis itu diubah. Setidaknya Celesse bisa menjaga dirinya sendiri ketika tidak ada Axele dan lainnya di sekitar gadis itu.
***
Sinar mentari yang masuk dari sela-sela jendela ternyata mengusik tidur cantik seorang gadis di dalam kamar sunyi miliknya. Bahkan gadis ini masih asyik bergelung dengan selimut lembut nan tebal miliknya.
Celesse merasa nyaman di dalam dunia mimpi karena di dalam mimpinya sekarang dia sedang sangat bahagia. Dirinya asyik menghabiskan waktu bersama dengan Axele. Entahlah, ada yang salah di sini, pria itu nampak berbeda dari biasanya.
Axele yang berada di dunia nyata nampak sudah siap untuk turun, akan tetapi entah kenapa langkah kakinya membawa dirinya menuju ke depan pintu kamar Celesse.
Dibukanya pelan pintu kamar matenya itu dengan pelan, dan seperti dugaannya jika Celesse masih tertidur pulas.
Pria ini mendekat ke ranjang, dia duduk di samping Celesse yang masih menutup kedua matanya. Tangan Axele bergerak menepuk pipi gadis itu dengan ringan membuat tidur sang tuan putri terganggu.
“Tunggu sebentar, Frey. Biarkan aku tidur lima menit lagi,” pintanya dengan mata yang masih menutup.
Celesse hanya mengubah arah tidurnya yang kini membelakangi Axele. Pria ini nampak tersenyum kecil melihat kelakuan menggemaskan sang mate.
Tidak ketinggalan akal, Axele membalik paksa tubuh gadis itu hingga membuat Celesse terkejut. Baru saja gadis ini hendak protes, bola matanya sudah membola terkejut melihat sosok Axele di dalam kamarnya. “Apa yang ka—”
“Cepatlah bangun, nanti kau terlambat ke kampus,” potong Axele lebih dulu dengan tubuh yang sudah menjulang tinggi di depan Celesse.
Gadis itu melirik jam dinding yang menempel di atas pintu kamar, seketika dirinya langsung melompat dari kasur membuat pria yang ada di sana terkejut, terlebih lagi tubuh gadis itu telah menghilang di balik pintu kamar mandi.
Axele hanya menggeleng melihat perilaku unik sang mate. Sepertinya dia harus mengajarkan Celesse bagaimana bangun pagi dengan baik dan benar. Pria itu pun mulai melangkahkan kakinya menuju ke lantai satu di mana sudah ada keluarga Dimitri dan teman-temannya.
“Kau sudah membangunkannya?” tanya Reynart yang seperti tahu jika Axele kembali dari kamar Celesse.
“Selamat pagi, Mr dan Mrs. Martin,” sapa Axele lebih dulu kepada sang pemilik rumah, Axele kemudian duduk di kursinya.
“Ya, aku sudah membangunkannya. Dan sepertinya kalian berangkatlah dulu, aku akan menunggunya,” ucap Axele kepada teman-temannya. Luc, Frey, serta Reynart tidak membantah ucapan pria ini.
“Ibu ... lusa di sekolah ada pameran, apakah Ayah dan Ibu bisa datang?” ucap gadis yang memakai seragam SMA-nya itu. Mrs. Martin terlihat melirik sang suami, hal ini tidak luput dari penglihatan Reynart serta teman-temannya.
“Sayang, sepertinya kami tidak bisa datang. Kami sedang ada urusan penting beberapa hari ini,” ucap Mr. Martin membuat ekspresi sendu nampak di wajah Vera.
“Memang pameran itu dibuka untuk umum?” timpal Luc. Vera pun mengangguk semangat. “Biar kita saja yang datang. Bagaimana, Rey?” tanya Luc. Seperti Axele, pria ini juga sudah menganggap Vera sebagai adiknya sendiri.
Terlihat Reynart terdiam sejenak, sebenarnya dia memiliki beberapa urusan untuk ia selidik, tetapi melihat raut wajah semangat dari sang adik membuat Reynart terpaksa mengangguk.
“Yeay! Pokoknya kakak semua harus datang, ya. Kak Axele jangan lupa ajak Kak Celesse juga,” kata Vera yang nampak kegirangan. Axele mengangguk setuju, lagi pula dia memang ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan matenya.