“Axel,” panggil Celesse gugup. Keduanya sedang berada di mobil yang sama di mana Axele benar-benar menunggu sang mate.
Celesse benar-benar merutuki kebodohannya karena bangun terlambat ditambah lagi semalam dia mengingat jika sedang berada di dalam mobil, akan tetapi dia terbangun di atas ranjang miliknya dengan Axele yang membangunkannya agar tidak terlambat. Sungguh memalukan.
“Terima kasih sudah membangunkanku,” lanjut Celesse. “Dan terima kasih juga untuk semalam.”
“Hmm. Besok-besok jangan terlambat lagi, apakah aku terlihat seperti supir bagimu?” ucap pria ini membuat Celesse tak bisa berkata-kata.
Axele sengaja mengatakan hal jahat seperti ini agar sang mate lebih menghargai waktu. Seperti yang kita tahu jika Celesse manusia, dan setiap waktu yang gadis ini miliki sangatlah berharga untuk Axele sendiri.
“Dan aku hanya ingin mengatakan kalau lusa kita akan ke sekolah Vera. Ada pameran di sana dan kita datang untuk mensupport gadis itu,” ungkap Axele yang diangguki oleh Celesse.
“Axel berhenti!” pekik gadis itu tiba-tiba membuat Axele reflek menginjak remnya. Untung saja mereka memakai sabuk pengaman. Tentu saja Axele tidak akan mengalami apa pun jika sesuatu hal terjadi, beda lagi dengan Celesse yang hanya manusia biasa. Dengan cepat pria ini pun menoleh dan menampilkan wajah datar miliknya, seketika nyali Celesse pun menciut.
“Apa?” tanya Axele menahan teriakan kesal miliknya.
“Em .. tidak ... tidak jadi,” jawab Celesse dengan kepala menunduk. Namun, sialnya tubuh gadis ini tidak bisa berbohong. Terdengar suara gemuruh yang berasal dari dalam perut Celesse membuat Axele paham jika sang mate lapar. Wajah Celesse pun memerah menahan malu dengan tangan yang memegang perutnya agar tidak semakin membuat dirinya malu.
“Aku ... aku tidak lapar, kok. Ini ... ini perutku hanya berbunyi,” terang Celesse agar pria ini tidak berpikir yang tidak-tidak.
Mendengar perkataan Celesse membuat Axele tersenyum tipis. Tanpa gadis ini sadari, Axele sudah berbelok ke arah minimarket. Celesse yang sadar jika pria itu sudah tidak ada di kemudi pun nampak terkejut. Sepertinya dirinya terlalu lama menunduk hingga tidak sadar jika mobil telah berhenti.
Tidak berapa lama, Axele kembali ke mobil dengan kantong kresek yang berisi makanan serta minuman. Diberikannya kresek itu kepada Celesse membuat wajah gadis ini memerah karena pasti Axele mendengar suara perutnya tadi.
“Makanlah, aku kasihan dengan cacing-cacing di dalam perumu itu,” perintah pria ini membuat Celesse semakin merutuki perutnya.
Perjalanan mereka ditemani oleh suara kunyahan mulut Celesse. Ternyata Axele membeli roti dan minuman serta beberap snack untuknya. Karena lapar, Celesse memilih memakan rotinya.
“Rey, kau kenapa? Sejak kemarin kau terlihat benar-benar aneh? Apa ada hal yang sudah terjadi?” tanya Luc ketika ketiganya berada di kantin karena kelas mereka diundur setengah jam lagi.
Terlihat Reynart menatap pasangan yang ada di depannya. “Ini tentang mate Axele,” ungkapnya. Luc dan Frey memusatkan perhatian mereka kepada teman mereka ini.
“Aku merasakan jika gadis itu sedang dalam bahaya,” terangnya membuat Luc menatap Rey dengan pandangan tidak percaya.
“Bukan para manusia yang mengincar Celesse, akan tetapi makhluk immortal.” Dan semakin bertambah tidak percayalah Luc saat itu.
“Jangan mengada-ngada, Rey. Untuk apa mereka mengincar Celesse?”
Frey memegang lengan sang mate membuat Luc menoleh kepadanya. “Itu bisa jadi, Luc. Coba kita pikirkan. Celesse adalah mate dari Axele di mana dia adalah calon raja vampir. Kamu tau sendiri jika Kerajaan Vampir adalah yang paling kuat saat ini.”
“Aku tau, Sayang. Tetapi semua raja-raja terdahulu makhluk immortal telah sepakat untuk membuat dunia ini damai. Sudah tidak ada lagi penindasan,” terang Luc.
“Tidak semua, Luc. Menurutku akan ada sekelompok makhluk yang tidak suka jika kita semua hidup damai, itulah siklus kehidupan. Bagaimana jika mereka mengincar Celesse untuk membuat semua kerajaan terbelah, bisa jadi adu domba mungkin,” papar Reynart yang mungkin masuk akal.
“Tapi ... apakah itu mungkin? Lagi pula Celesse berada di dekat Axele, tidak mungkin ada yang bisa menyakitinya.”
Reynart tertawa ringan. “Bagaimana dengan kejadian waktu itu? Jessica. Gadis itu hampir melukai mate Axele, dan kita sedikit terlambat tentunya,” sanggah Reynart yang tidak bisa dibantah oleh temannya.
“Apakah kau sudah berbicara dengan Axele?” tanya Luc.
“Belum. Aku berniat akan memberitahukan hari ini.”
“Mereka datang,” ucap Frey tiba-tiba yang melihat kedua orang yang mereka tunggu telah datang. Semuanya nampak diam dengan menampilkan wajah normal mereka.
“Hai, Cele, selamat pagi,” sapa Frey bersemangat seperti biasa.
Celesse pun menampilkan senyum hangatnya dan duduk tepat di sebelah temannya ini. “Selamat pagi, Frey,” sapa balik Celesse.
'Sayang, bisakah kamu membawa Celesse sedikit menjauh dari kita? Aku dan Reynart akan berbicara penting dengan Axele,' perintah Luc kepada sang mate dengan menggunaakn telepati yang bisa dilakukan oleh bangsa werewolf. Frey yang mendengar perintah Luc di dalam kepalanya pun langsung menampilkan senyum kecil miliknya pada Celesse.
“Cele, bisakah kamu menemaniku? Sepertinya aku butuh kamar mandi sekarang,” ajak Frey membuat temannya itu langsung berdiri dan kedua gadis ini segera pergi dari kantin membuat ketiga pria di sana menatap mereka.
“Axel, sepertinya kau harus tau satu hal. Aku baru dapat informasi dari Reynart barusan,” tutur Luc mengawali. Axele langsung memusatkan perhatiannya pada Reynart.
“Matemu sedang diincar oleh makhluk lain,” ungkap Reynart langsung tanpa berbasa-basi.
Terlihat rahang Axele yang mengeras. Dia baru saja bertemu dengan sang mate setelah sekian lama, dan siapa yang berani mengusik ketenangannya kali ini?
“Siapa mereka, Rey?” tanya pria ini dengan raut wajah yang tidak bersahabat.
“Aku masih menyelidikinya,” jawab Reynart.
“Selidiki dan beritahu aku siapa orang itu. Biar aku yang menghadapinya langsung,” balas Axele.
“Wait, wait, jangan gegabah, Axele. Mending kita pikirkan bagaimana cara agar Celesse dalam keadaan aman. Itu adalah hal utama yang harus kita perhatikan,” sela Luc yang nampak disetujui oleh Reynart.
“Aku sudah memberitahumu untuk mengubah Celesse, dengan alasan agar gadis itu bisa melindungi dirinya sendiri,” jelas Reynart membuat Luc nampak mengernyit tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh temannya ini.
“Sudah aku katakan, Rey, aku tidak akan pernah mau mengubahnya,” bantah Axele yang tetap pada pendiriannya.
“Tunggu, apa ini? Apa yang kalian bicarakan? Apakah ada hal yang tidak aku ketahui kali ini?” tanya Luc beruntun.
“Wizard Berta mengatakan jika rasa sakit di d**a Axele akan hilang jika dia meminum darah Celesse dan melakukan penyatuan, tentu saja Axele menolak dengan alasan dia tidak ingin melihat Celesse merasakan sakit dalam perubahannya menjadi bangsa immortal seperti kita,” jelas Reynart yang nampak membuat Luc terkejut di sini.
“Sungguh menyebalkan, entah kenapa aku membenci kutukan sialan itu, Axel,” papar Luc.
“Dan ya, aku tau bagaimana rasanya melihat mate kita kesakitan, aku benar-benar pernah merasakan di posisi itu,” lanjut Luc.
Axele pun tersenyum, akhirnya ada yang setuju dengan pemikirannya. “Dan sepertinya aku memiliki tugas untuk kalian,” ujar Axele menatap keduanya dengan pandangan serius.
“Bantu aku menjaga Celesse, jangan sampai makhluk-makhluk itu berhasil menangkapnya,” pinta pria ini membuat keduanya mengangguk paham. Inilah guna teman, saling membantu di saat membutuhkan, dan saling berbagi ketika kebahagiaan itu datang.