BAB 8

1573 Words
Suasana sarapan pagi di keluarga Dimitri berbeda dari biasanya. Keadaan rumah yang ramai nyatanya membuat suasana di keluarga ini terasa hidup. Sifat Mr. Martin serta Reynart yang serius selalu dicairkan oleh Vera, akan tetapi gadis itu cukup bersyukur dengan kehadiran ketiga teman kakaknya sekarang. “Ibu, Ayah, aku sepertinya harus segera berangkat sebelum telat,” pekik Vera yang baru sadar jika jam sudah menunjukkan waktunya untuk berangkat. Axele yang mendengar pamitan dari gadis itu pun tampak mengernyit. Apakah Vera sekolah? “Ya, dia sedang duduk di kelas tiga SMA.” Axele langsung menatap tajam Reynart yang lagi dan lagi menggunakan kekuatan wizardnya untuk membaca pikiran serta berbicara dengannya. Reynart hanya mempertahankan wajah datar miliknya seolah tidak melakukan apa-apa. “Kakak-kakak semua ... Vera berangkat duluan ya. Dahh,” pamit gadis itu yang kemudian berlari kecil keluar dari rumah Dimitri. “Reynart sudah memberitahu kalian tentang kuliah, kan?” tanya Mr. Martin. “Sudah, Paman,” jawab Luc mewakili. “Oh iya, aku hanya ingin mengingatkan jika dunia manusia jauh berbeda dengan dunia kalian. Di sini kalian tidak dianjurkan menggunakan kekuatan kecuali dalam keadaan terdesak. Dan juga jangan sekali-kali berubah menunjukkan wujud asli kalian kepada manusia karena itu akan menimbulkan masalah. Dan satu lagi, kalian boleh pergi berburu beberapa hari sekali. Karena rumah ini dekat hutan, aku rasa itu akan memudahkan kalian,” jelas Mr. Martin. “Terima kasih untu segalanya, Mr. Maaf sudah banyak merepotkan,” ujar Axele. Luc yang terbiasa memanggil orang tua teman-temannya dengan sebutan bibi dan paman ternyata berbeda dengan Axele yang sudah nyaman dengan Mr dan Mrs. Tentu keluarga Damitri ini tidak mempermasalahkan panggilan itu. “Sama-sama, Nak. Kau fokuslah untuk mencari matemu. Anggap saja kuliah ini sebagai kamuflase semata,” jawab Mr. Martin yang diangguki oleh Axele. Mereka segera menghabiskan sarapan dengan cepat karena sama dengan Vera, keeempatnya juga harus segera berangkat. Keempat orang ini berangkat menggunakan mobil milik Reynart tentu saja pria itu yang akan menyetir. “Rey, nanti kau ajari aku mengendarai benda ini. Menurutku kendaraan ini cukup keren,” celoteh Luc di dalam mobil. “Ya, nanti aku akan mengajari kalian,” sahut Rey dengan mata yang fokus ke jalanan. Setelah Axele amati baik-baik, bisa dikatakan rumah Rey masuk ke dalam hutan, hanya saja di dalam hutan ini ada jalan beraspal. Tentunya sepanjang perjalanan hanya ada pohon-pohon yang menjulang tinggi. “Nanti malam aku ingin coba berburu di hutan ini,” kata Luc membuat Frey mengangguk setuju. “Kau ikut, Axele?” tanya pria ini yang sejak tadi tidak mendengar suara temannya itu. “Hmm.” Luc cukup maklum dengan sifat irit bicara Axele. Dan Luc masih ingat dengan perkataan Reynart tentang takdir hidup Axele yang buruk. “Bagaimana denganmu, Rey? Kau ikut?” tanya Luc kepada temannya yang satunya. “Tidak. Tentunya kau tau Luc kalau bangsa wizard tidak berburu,” jawab Reynart. “Ya aku tau itu. Tapi, mungkin saja kau ingin ikut dan melihat kehebatan kami dalam berburu,” sahut Luc dengan pedenya. “Maaf, aku tidak berminat sama sekali,” jawab Reynart yang malah membuat Luc terlihat kesal dibuatnya. Mereka tidak menyadari jika Axele sejak tadi hanya diam yang pada dasarnya pria itu sedang menerka-nerka tentang matenya yang berasal dari dunia manusia. Sungguh takdir yang bisa dikatakan tidak begitu baik. Jika belahan jiwa Axele adalah manusia, maka hidupnya tidak abadi dan tidak sama seperti Axele dan teman-temannya. Lantas apa yang bisa diharapkan dari matenya itu? *** “Lihatlah, gadis itu terus saja menatap Axele dengan terang-terangan,” bisik Luc kepada ketiganya membuat Frey serta Reynart mengikuti arah pandang pria ini kecuali Axele tentunya. “Manusiawi,” komentar Reynart. “Tapi, kan, kita bukan manusia,” balas Luc dengan suara kecilnya. Bisa bahaya jika manusia-manusia ini tahu bahwa mereka berasal dari dunia lain. “Yang aku bicarakan adalah mereka, Luc. Sifat gadis-gadis ini sudah sering aku lihat. Mereka mengincar pria tampan untuk menjadi target.” “Ha? Target? Terdengar sedikit seram,” seloroh Luc. “Hm, mereka akan melakukan segala cara untuk mendapatkan pria incaran mereka meskipun harus bertarung sekalipun.” “Astaga, terdengar bar-bar sekali. Apakah di sini tidak ada mate?” tanya Luc. Reynart menggeleng, “Dunia ini sangat berbeda, Rey. Dunia manusia lebih mengutamakan perasaan. Jika perasaanmu mengatakan kau menyukainya, maka kau bisa berjuang untuk mendapatkannya sekalipun dia sudah memiliki pasangan,” jelas pria ini. “Egois sekali sifat manusia ini,” komentar Luc. Reynart tampak terkekeh mendengar ucapan temannya ini, maklum mereka belum tahu betul dunia manusia seperti apa. “Kau hanya melihat salah satu sifat mereka. Kau harus melihat sifat-sifat mereka yang lainnya juga,” imbuh Reynart. “Hai.” Obrolan mereka terhenti tatkala gadis yang tadi Luc bicarakan menghampiri sekumpulan makhluk ini, dan menarik minat kepada Axele yang sejak tadi hanya diam. “Hai,” balas Reynart. Ketiga temannya masih baru di dunia manusia, jadi biarlah Reynart yang akan menangani hal ini. Melihat sikap Axele yang hanya diam saat mereka berangkat membuat Reynart paham jika keadaan Axele belum stabil. “Bolehkah aku berkenalan dengan kalian? Kalian anak baru di kampus ini?” tanya gadis itu dengan ramah. “Iya, kami baru masuk hari ini. Dan ya, perkenalkan namaku Reynart, ini Luc dan Frey, terus dia Axele,” jelas Reynart yang memperkenalkan satu persatu dari teman-temannya itu. Luc dan Frey hanya menampilkan senyum kecil mereka dengan Frey yang menatap tajam gadis ini. Jangan tanyakan bagaimana sikap posesif yang dimiliki oleh seorang mate. “Namaku Jessica,” kata gadis itu. “Jika kalian membutuhkan bantuan untuk berkeliling kampus, aku bisa menemani kalian. Jadi, jangan ragu untuk meminta bantuanku, ya,” lanjutnya. “Terima kasih, Jes atas tawaranmu,” sanggah Reynart. Melihat pria yang dia incar tidak menunjukkan respons, gadis bernama Jessica itu pun pamit undur diri. “Gadis itu benar-benar dengan terang-terangan menunjukkan ketertarikan kepadamu,” ujar Luc kepada Axele yang tampak cuek. “Kau tidak merasakan dia adalah matemu, kan? Kau merasakannya atau tidak?” tanya Luc bertubi-tubi. Pertanyaan dari Luc membuat Axele tersadar bahwa dirinya tidak tahu bagaimana cara mengetahui bahwa belahan jiwanya telah dia temukan. Lantas, Axele langsung menatap Luc serta Frey dengan serius. Benar kata Luc sebelum mereka berangkat ke sini, ternyata hanya Luc serta Frey yang memiliki pengalaman menemukan mate. “Luc, bisakah kau membertiahuku bagaimana rasanya ketika menemukan belahan jiwamu? Aku sama sekali lupa untuk menanyakan hal ini kepada Wizard Berta,” papar Axele. “Kau jangan tanya padaku, tanyakan pada dirimu sendiri,” jawab Luc yang tentu saja tidak disukai oleh Axele. “Ish, kamu harus menjelaskan hal ini secara pelan-pelan kepada Axele. Ini adalah yang pertama untuknya, jadi tentu saja dia tidak mengerti,” serobot Frey yang geram melihat pasangannya yang selalu mempermainkan temannya sendiri. Axele lebih berminat mendengar penjelasan Frey daripada Luc yang menyebalkan untuknya. “Begini, ikatan mate itu adalah ikatan yang sakral. Benar kata Luc jika yang bisa merasakan itu hanya kalian yang ditakdirkan bersama. Jadi, Pangeran Axele akan merasakan perasaan itu ketika berhadapan dan berdekatan langsung dengan belahan jiwamu. Kalau kami para bangsa werewolf biasanya mengetahui dari aromanya. Aroma mate berbeda dengan aroma werewolf lainnya.” “Dan itulah yang aku rasakan ketika bertemu dengan Frey pertama kali,” timpal Luc seakan bangga karena di antara pertemanan mereka, dirinyalah yang menemukan mate pertama kali. Axele pun mengangguk paham. “Dan bagaimana dengan gadis barusan? Dia bukan matemu, kan?” tanya Luc lagi. “Tentu bukan,” jawab Axele tegas. “Aku tidak berminat dengan gadis seperti dia,” imbuhnya lagi. Axele memang blak-blakan dalam menyampaikan pendapatnya, tidak peduli dirinya sedang berhadapan dengan siapa. Di sebuah rumah besar yang tentunya tidak sebesar milik keluarga Dimitri, terdapat seorang gadis yang sedang mengobati luka-luka di tubuhnya. Gadis itu sedang menahan perih yang teramat sakit ketika bersentuhan langsung bersentuhan dengan kapas yang dia tetesi alkohol. “Sstt.” Gadis ini menekuk bibirnya guna menahan segala sakit yang ia dapat di tangannya itu. “CELE!!” Teriakan yang berasal dari luar kamarnya membuat gadis ini buru-buru membereskan P3K-nya. “CELE!” Dengan cepat gadis ini menghampiri sang pemilik suara itu. Dirinya disambut oleh wanita yang menatapnya garang dengan kedua tangan yang terlipat di pinggangnya. Celesse Slania Farahilde, gadis berusia 19 tahun yang hidup bersama keluarga bibinya. Anak yatim piatu ini sering mendapat perlakuan buruk dari sang bibi padahal ia berada di dalam rumahnya sendiri. Ya, rumah besar ini adalah milik orang tua Celesse, akan tetapi semenjak kedua orang tuanya meninggal, sang bibi beserta keluarganya mengambil alih rumah ini dengan alasan akan merawat gadis ini yang pada kenyataannya adalah berbanding terbalik dengan itu. “Dasar tidak tau diuntung! Kenapa kau lama sekali untuk datang, hah!” sentak bibinya membuat gadis itu menutup matanya. Jika dalam keadaan seperti ini Celesse berpikir kenapa dulu dia tidak ikut saja dengan kedua orang tuanya yang tiada dari pada harus menerima perlakuan buruk dari keluarga bibinya. “Aku ... aku sedang mengobati lukaku, Bi,” jawab Celesse dengan bibir yang bergetar. Wanita itu langsung menarik tangan Celesse yang terluka. Bukannya mengobati atau memberi pilihan untuk ke rumah sakit, wanita ini malah menekan luka tersebut yang tentu saja menimbulkan ringisan dari bibir Celesse. “Bibi ... sakit,” lirih gadis ini yang menahan rasa sakit itu. “Sakit? Jangan pikirkan sakit itu, pekerjaanmu belum selesai, Celesse. Kau lupa untuk menyiapkan bajuku untuk pergi hari ini? Cepat selesaikan tugasmu! Jika tidak, kau tidak akan mendapat makan malam hari ini!” sentak sang bibi yang langsung membuat Celesse bergegas ke kamar bibinya itu. Celesse memandang sendu kamar milik mendiang kedua orang tuanya ini yang sudah banyak perubahan karena perintah dari bibinya itu. Celesse berjalan ke arah lemari dan mulai mengeluarkan baju milik sang bibi. Celesse sudah diperlakukan seperti ini sejak lama. Sang bibi mengancam dirinya akan membakar rumah ini jika Celesse berani bercerita ke semua orang tentang perlakuan yang dia terima. Celesse tentu tidak ingin melihat rumah milik orang tuanya hangus, banyak kenangan yang dirinya dapat di rumah ini. Yang bisa Celesse lakukan adalah tetap menerima dan menjalani semuanya meskipun itu terdengar sulit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD