BAB 9

1280 Words
Keempat makhluk immortal ini seperti biasa berada di kampus. Axele sepertinya sudah memahami arti dari ikatan mate. Bahkan sepertinya pria ini mulai sadar jika dia benar-benar membutuhkan wanitanya yang kelak menjadi ratu di kerajaannya itu. Jika memang bahwa belahan jiwa Axele adalah seorang manusia, maka mau tidak mau pria ini harus bekerja ekstra agar bisa menjaga wanita itu. Setidaknya Axele tidak ingin jika kutukan itu benar terjadi bahwa vampir akan musnah setelah keturunan ketujuh. Axele akan benar-benar membantah kutukan itu. “Kalian pulanglah lebih dulu. Aku masih memiliki beberapa urusan,” sergah Reynart tampak terburu-buru, entah apa yang pria itu akan lakukan yang jelas baik Luc, Frey, serta Axele nampak tak peduli. “Luc, bawalah mobilku,” perintah Reynart kemudian yang melempar kunci mobil miliknya. Beberapa hari ini Reynart memang sudah mengajari kedua temannya ini mengendarai mobil. Karena mereka adalah makhluk immortal, jadi tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk memahami hal semudah ini. Reynart bergegas kembali masuk ke dalam kampus sedangkan ketiga temannya sudah pergi menggunakan mobilnya itu. Seorang gadis dengan hoddie serta celana jeans miliknya nampak tergesa-gesa memasuki area kampus. Gadis yang memakai masker itu nampak tidak peduli dengan tatapan dari beberapa penghuni kampus. Satu hal yang pasti, dirinya sedang terburu-buru sekarang. Langkah gadis ini seketika terhenti saat mendapati orang yang sejak tadi ia cari. “Jessica,” panggilnya membuat beberapa gadis di sekumpulan itu pun menoleh. Gadis bernama Jessica pun langsung berdiri dari duduknya dan tanpa berkata-kata langsung menyeret gadis yang memanggil namanya itu. “Kau kenapa memanggil namaku di saat aku berkumpul dengan teman-temanku? Kau lupa peraturan yang aku buat, Cele?!” sentak Jessica. Ya, gadis yang sejak tadi berlari tidak tentu arah adalah Celesse. Dia diminta Jessica untuk membawakan tugas sepupunya itu ke kampus. Tentu saja Jessica tidak ingin teman-temannya tahu mengenai Celesse, untuk itulah dia selalu meminta gadis ini memakai masker dan pakaian tertutup. “Maafkan aku,” lirih Celesse dengan kepala tertunduk. Jessica langsung merampas makalah yang sepupunya itu pegang. “Kau selalu saja membuatku kesal.” Bukannya berterima kasih, gadis ini malah memaki Celesse. Celesse pun hanya diam, dia sudah mengenal sifat anak dari bibinya ini sejak lama. Terkadang Celesse iri ketika melihat Jessica bisa meneruskan pendidikannya, sedangkan Celesse tidak memiliki kesempatan itu. “Jessica.” Suara berat yang datang dari belakang tubuh Celesse membuat Jessica nampak tegang. “Oh, ha-i, Rey,” jawab Jessica gugup. Dialah Reynart, pria itu tidak sengaja melihat Jessica yang nampak mencurigakan bersama seorang gadis yang memakai hoddie kebesaran di tubuhnya serta masker padahal hari ini langit nampak panas. “Kau pulanglah!” bisik Jessica cepat yang diangguki oleh Celesse. Sebelum Reynart sampai di tempat gadis itu, Celesse sudah melesat pergi dengan kaki kecilnya yang berlari. Reynart memandang kepergian gadis tadi dengan kernyitan di dahinya. “Ada apa, Rey?” tanya Jessica yang mengalihkan perhatian pria ini. “Oh, ini aku lupa menitipkan salah satu tugas dari Josh. Dia menitipkan ini untukmu. Kalian berada di kelas seni yang sama, bukan?” tanya Reynart yang diangguki oleh gadis itu. Jessica pun menerima tugas milik Josh itu. Pantas saja dirinya tadi tidak melihat pemuda itu. “Terima kasih, Rey,” ucap Jessica ramah. Sebenarnya sifat Jessica tidak jauh beda dari ibunya, keduanya sama-sama bermuka dua. Baik di luar akan tetapi sungguh biadab ketika di dalam rumah dalam memperlakukan Celesse. Reynart pun mengangguk dan dia hendak pergi, namun dicegah oleh Jessica. “Apakah kamu sibuk hari ini? Aku dan teman-temanku berencana untuk ke kafe. Jika mau, kamu bisa ikut,” tawar Jessica. Bukan tanpa alasan gadis ini mendekati Reynart, dia hanya ingin dekat dengan kumpulan pertemanan Reynart terutama Axele yang sangat dingin itu. Jessica sepertinya benar-benar tertantang untuk menaklukan pria itu. “Baiklah,” setujui Reynart, lagipula mobilnya juga sudah dibawa pulang oleh Luc. Bermain dan mengobrol sebentar juga bukanlah hal yang buruk untuk Reynart ambil. Di rumah keluarga Dimitri, lebih tepatnya kamar milik Axele. Pria itu nampak gelisah dalam tidurnya. Tadi saat pulang dari kampus dirinya merasakan sedikit sakit di bagian d**a, namun itu tidaklah berlangsung lama. Axele mengira dirinya butuh banyak istirahat karena terlalu sering ikut dengan Luc dan Frey berburu di hutan. “Tolong ... tolong aku.” Axele mendengar suara seorang gadis meminta pertolongan kepadanya, akan tetapi dia tidak tahu darimana asal suara itu. “Tolong aku, Axele. Tolong ....” Suara itu kembali terdengar. Axele mendengar seperti menahan kesakitan, apa mungkin gadis yang bersuara itu sedang terluka? Akan tetapi kenapa dia tahu nama Axele? “Kak Axele!” Sentakan keras akhirnya mampu membangunkan pria ini. Nampak peluh membasahi sebagain bajunya. Axele memandang seorang gadis yang berdiri menjulang di samping ranjang miliknya. Vera. Apa mungkin suara tadi adalah suara gadis ini? “Iya, Ver? Ada apa?” tanya Axele mencoba mengatur napasnya. “Seharusnya aku yang bertanya. Kak Axele kenapa sampai berkeringat banyak seperti ini?” tanya Vera balik membuat Axele mengernyit. “Aku tidak apa-apa. Bukannya tadi kamu yang membangunkanku untuk meminta tolong? Kamu kenapa? Apa kamu sakit? Suaramu terdengar sedang menahan sesuatu,” tutur pria ini yang malah membuat Vera bingung. “Tidak. Aku baru saja membangunkan Kak Axele. Tadi aku sudah mengetuk pintu, akan tetapi Kak Axele tidak mendengarnya, maka aku menerobos masuk dan melihat Kak Axele tidur dengan gerakan gelisah,” jelas gadis ini. Axele pun sadar jika suara-suara itu bukan dari Vera. Lantas siapa? “Sudahlah lupakan. Ada apa kamu ke kamarku?” tanya Axele mengalihkan pembicaraan mereka. “Bolehkah aku pinjam charger ponsel Kak Axele? Sepertinya punyaku rusak,” jawab gadis ini. Axele mengangguk dan segera memberikan charger miliknya. Semenjak mereka berada di dunia manusia, Reynart memberikan ponsel untuk tiap temannya, katanya agar memudahkan mereka berkomunikasi. “Terima kasih, Kak,” ucap gadis ini yang kemudian pergi keluar dari kamar Axele. Pria itu memandang jam yang sudah menunjukkan pukul lima sore. Axele pun tidak sadar jika dirinya ketiduran. Dengan cepat pria ini beranjak dari kasur dan menuju ke kamar mandi. Mungkin dia butuh bersih-bersih dulu. Tidur dalam keadaan yang tidak baik sepertinya mempengaruhi mimpinya. *** “Bagaimana kalau kita ke kota lain? Bisa saja pasanganmu tidak berada di sini, Axel,” usul Luc ketika mereka sedang berkumpul di salah satu gazebo yang ada di kampus mereka. Dan jangan lupakan Frey yang terus saja menempel pada diri Luc membuat Axele geram dibuatnya. Reynart hanya bisa menahan tawanya. “Apa kau lupa apa yang dikatakan Mr. Martin dan Ayahku? Dia ada di sini, di kota ini, Luc,” balas Axele. “Ya, ya, aku tau. Tapi, apa yang kita dapat? Sudah hampir tiga bulan kita mencari wanitamu itu,” sahut Luc. Axele menutup kedua matanya, apa yang dikatakan Luc ada benarnya. Bahkan dia sudah memeriksa seluruh kota ini. Entah Mr. Martin dan ayahnya yang salah, atau dirinya yang tak bisa menemukan pasangannya. Tiga bulan juga mereka mencari hal yang tentu tidak ada kepastiannya. “Sudahlah, kita bisa mencari besok lagi. Bagaimana kalau nanti malam kita ke hutan?” ajak Frey yang masih setia berada di sisi Luc. Luc pun mengangguk setuju. “Ya, lebih baik kita berburu. Sudah lima hari aku tidak berburu.” “Aku tidak bisa ikut,” sahut Reynart. Pria itu selalu saja tidak ikut ketika mereka akan berburu ke hutan. Reynart memang adalah bangsa wizard, jadi dia tidak berburu. “Ya, ya, aku tau kau akan bermesraan dengan buku-buku tuamu itu,” celoteh Luc dengan suara tawanya. Bahkan Axele tak mengerti ketika Reynart lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar, terkadang dia juga memergoki pria itu berakhir dengan buku-buku yang berserakan di sekitar kasurnya. “Sebenarnya aku penasaran dengan buku-buku yang kau baca,” celetuk Axele. Luc dan Frey pun ikut memusatkan perhatiannya kepada Reynart. “Hanya buku mengenai wizard,” jawab Reynart. “Sudahlah, lebih baik kita masuk ke kelas,” ajak Frey. Meskipun kegiatan mereka di kampus hanyalah kamuflase, tetapi mereka tetap harus masuk ke dalam kelas. “Aku benci kelas-kelas itu. Cepatlah menemukan pasanganmu itu, Axel. Aku sudah lelah berada di dunia manusia ini,” sahut Luc. Keempatnya pun berjalan ke kelas mereka yang memang berada dalam satu kelas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD