GENDHIS & POHAN!
Untung saja Farhat anak yang patuh, dia menurut saja ketika orang tuanya mengajaknya pergi. Sifa segera menuntun Rio ke arah yang berlawanan agar mereka tak berpapasan dengan Gendis dan Pohan. Mereka pun memutuskan berjalan menuju foodcourt terdekat.
"Kau mau pesan apa, Bi? Biar Umi yang pesan, Abi jaga Farhat saja di sini. Mau makan apa?" tanya Sifa kepada sang suami.
"Kau yakin tak apa- apa? Bukannya perutmu kram?" tanya Rio sedikit khawatir dengan kondisi sang istri karena sejak tadi dia mengeluh perutnya kram. Maklum saja, Sifa sedang hamil tua, HPL tinggal seminggu kurang.
"Tidak kok, Bi! Umi tak apa, sekalian gerak bisar kaki tak bengkak. Mau makan kentang? CFC? mau Es teller 88?" tanya Sifa.
"Terserah kau saja, Mi! Kau jangan lupa pesankan makanan kesukaan Farhat. Dia paling suka kentang dan ayam goreng. Pesankanlah yang banyak, lama sekali aku tidak melihat Farhat makan dengan lahap. Apalagi dia akan kembali ke pondok atas sebentar lagi," perintah Rio kepada sang istri.
Sifa pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dia segera berjalan ke konter makanan memesan semua makanan yang dipesan oleh sang suami. Bukankah sekarang rumah tangga mereka nampak bahagia. Akur, bahkan dia bisa hamil lagi. Pengorbanannya dulu tak sia- sia. Bertahan saat sang suami sibuk mendua.
"Kau sudah membayarnya, Mi?" tanya Rio lagi sesaat setelah istrinya kembali ke meja tempat mereka menunggu makanan.
Sifa pun menganggukkan kepala dan tersenyum. Memang Rio sekarang sejauh sudah berubah, dia mulai peduli dengan keluarganya semenjak Gendhis pergi. Meskipun di awal-awal sangat berat dan sulit tapi jika terbiasa juga bisa. Rio mulai kembali ke jalan Allah SWT, pakaian yang dulu mulai di tinggalkan kembali di kenakan. Dia tak terlalu peduli lagi dengan penampilan beda saat dia puber dulu selalu tampail bak anak muda.
"Aku memang tak tahu bagaimana sebnarnya hati suamiku, tapi yang jelas dia sudah bisa melupakan keberadaan wanita itu," batin Sifa sambil terus menatap suaminya.
"Kau kenapa menatapku seperi itu?" bisik Rio pada Sifa lirih.
"Tidak, Bi! Umi kok baru sadar bahwa suami Umi ini tampan sekali. Apalagi memperhatikan Abi dengan Farhat yang makin besar, rasanya bagaikan pinang di belah menjadi dua saja," puji Sifa.
"Memang Mi, makin besar dia makin mirip denganku," ujar Rio memandang putranya yang kini sudah menginjak usia SD.
"Dek aku mau ke kamar mandi dulu ya!" pamit Rio pada istrinya.
Sifa mengangguk, memang Rio kini sedang memiliki kebiasaan dan pola hidup yang lebih sehat dengan lebih banyak mengkonsumsi air putih. Tetapi berdampak pada kantung kemihnya yang membuat dia sering pergi ke toilet karena beser.
Rio pun berjalan mencari toilet lelaki. Setelah selesai menunaikan hajatnya dia ingin segera kembali ke tempat istrinya. Namun baru saja beberapa langkah berjalan dia seperti melihat sekelebat bayangan wanita yang amat di kenalnya dulu. Wanita yang selama hampir daua tahun ini menghilang dari hidupnya tanpa jejak. Rio bahkan tak bisa menemukan keberadaannya lagi. Rio terdiam dia mencoba menghirup parfum yang di pakai wanita itu.
"Apakah itu benar- benar kamu? Apakah ini bukan sekedar mimpi?" batin Rio dari dalam hati.
Tanpa berpikir panjang dan membuang kesempatan emas, Rio pun segera mengendap mengendap dan mencari kemana bayangan itu pergi. Terlihat wanita itu mulai memasuki jajaran mainan anak di toys store. Terlihat wanita itu mendorong sebuah stroller bayi.
"Allah! Apakah kau sudah menikah? Siapa suami mu?" dalam hati Rio bertanya sendiri.
Rio menyipitkan matanya lagi saat wanita itu menoleh ke belakang Rio tercekat. Benar itu adalah Gendhis. Wanita yang di carinya sama dua tahun ini. Porposi tubuhnya masih sama, sintal dan padat, hanya saja rambutnya sekarang sudah berubah menjadi berwarna hitam dan curly. Kalau dulu dia lebih sering menggunakan rambut berwarna blonde atau pirang. Tak hanya itu semakin di amati cara berpakaiannya pun juga berubah. Dia tak lagi memakai pakaian yang mini dan seksi lagi. Dia mengenakan celana kulot panjang dengan turtel neck hitam tanpa lengan, tak mengurangi aura elegannya.
"Kau masih seksi dan binal seperti dulu," batin Rio lagi.
Perlahan dan pasti Rio pun ingin menghampiri Gendis. Dia sungguh merindukan wanita itu. Ingin rasanya dia memeluknya dan menanyakan semua penjelasan wanita itu. Namun saat ia mulai mendekat terlihat seorang lelaki menghampiri Gendis dan bayi di stroller itu. Rio pun mundur beberapa langkah dan bersembunyi di balik tumpukan rak buku yang ada di luar toko toys store. Dia melihat dan memastikan siapa lelaki itu, tak salah lagi itu adalah Pohan lelaki yang di jumpainya beberapa saat sebelum Gendis menghilang.
Rio menelan ludanya kasar, "Apakah lelaki itu tak kembali ke Singapura?" kata Rio dalam hati sambil terus mengawasi Gendhis.
"Mengapa mereka bisa bersama dengan Pohan? Mengapa Pohan yang mendorong stroller itu, menggantikan posisi Gendis yang asik memilih mainan?" batin Rio. Sejuta tanya berkecamuk di hatinya.
Dalam stroller itu terlihat seorang bayi mungkin berusia satu tahunan yang nampak menggemaskan dan lucu. Rio menyipitkan matanya lagi, "Apakah itu anak Gendhis dan Pohan?" batin Rio dalam hati lagi.
Namun Rio mencoba mengamati bayi itu lagi. Pipinya sangat gembul, bibirnya merah, kulitnya nampak putih dan bersih. Kalau itu memang anak Pohan mengapa matanya tidak sipit, padahal keturunan pikir Rio. Dia terus mengamati pergerakan mereka tapi dia juga tak berani berspekulasi lebih. Tak terasa sudah hampir tiga puluh menit dia mengutit Gndhis, Pohan dan bayi dalam stroller itu.
Saking lamanya sampai Sifa menelepon hp-nya berkali-kali untung saja HP tu tak memiliki suara yang nyaring, hanya bergetar saja. Dia pun mengusap layarnya untuk menjawab panggilang sang istri.
"Mas sampean lagi di mana? Kok lama sekali?" tanya Sifa.
"Apa makanannya sudah datang?" tanya balik Rio lagi.
"Sudah, Mas! Cepatlah kemari, kita makan lalu pulang. Abah sudah mengirim pesan berkali-kali," jawab Sifa.
"Iya, Dek! Tapi masih antri karena kamar mandi satunya rusak. Tunggu ya," kata Rio sambil menutup telponnya.
Rio pun segera memotret Gendhis dari jauh. Dia berniat mengikuti wanita itu, saat HP itu mengarahkan ke Gendhis namun saat hendak memotret rupanya mereka sudah beranjak pergi. Rupanya Gendhis maju untuk membayar di kasir, lalu keluar dari toko mainan. Gendis dan Pohan berjalan menuju lift turun. Rio mengikuti mereka dari belakang, dia menjaga jarak.
Meskipun dengan jarak yang lumayan jauh, namun dia masih bisa memantau keduanya sampai parkiran mobil. Dia terus mengikuti mereka, Gendis masuk di salah satu mobil dengan Pohan. Nampak bayi itu di gendong Gendhis. Sedangkan Pohan melipat stroller seperti keluarga yang bahagia. Dengan sigap Rio pun mencatat plat nomor itu, untung saja sebelum masuk dalam mobil tampak Pohan keluar mobil lagi.
Ternyata Pohan menuju kamar mandi. Rio pun segera menghampiri mobil itu dan tak menyia- nyiakan kesempatan itu. Dia menuju mobil itu lalu mengetuk kaca nya dari samping. Tapi dia bersembunyi dengan memiringkan badannya. Begitu kaca di buka oleh Gendhis, Rio memanggilnya.
"Gendis," panggil Rio.
APA YANG TERJADI SELANJUTNYA?
BERSAMBUNG
Bersambung
Baca SEASON 1 Ketika Suamiku Meminta Poligami