Apakah Mereka Bertemu?

1184 Words
APAKAH MEREKA BERTEMU? Ternyata Pohan menuju kamar mandi. Rio pun segera menghampiri mobil itu dan tak menyia- nyiakan kesempatan itu. Dia menuju mobil itu lalu mengetuk kaca nya dari samping. Tapi dia bersembunyi dengan memiringkan badannya. Begitu kaca di buka oleh Gendhis, Rio memanggilnya. "Gendis," panggil Rio. Gendis pun menoleh ke arah suara yang memanggilnya dengan menengok sedikit. Dia terkejut melihat siapa yang berada di sampingnya. Sosok itu tertangkap di ujung ekor mata Gendhis, sosok itu menepi di arah sisi lain mobil. Gendhis langsung menutup mulutnya sangking kagetnya. Dia tak menyangka laki- laki itu bisa berdiri di hadapannya sekarang. Padahal mereka sudah berpisah hampir dua tahun dan lelaki itu tak menemukan keberadaannya. "Mengapa sekarang aku harus bertemu dia lagi?" batin Gendis dalam hati sambil langsung berusaha menutup jendela yang setengah terbuka itu. Namun dengan sigap dan tak kalah gesit Rio menghalanginya. Dia menaruh tangannya di sela-sela jendela menghalangi Gedhis yang berusaha menaikkan kaca jendela itu. Rio tak peduli sampai tangan Rio hampir terjepit. Tapi karena itu adalah mobil Pohan dan jenis mobil miliknya made in Eropa membuat Gendhis kesusahan. Mobil BMW keluaran terbaru itu memiliki fitur keamnan dan keslamatan yang tinggi. Mobil itu memiliki kecanggihan di atas rata-rata mobil Jepang. Mobil yang memiliki deteksi tinggi tingkat keselamatan penggunanya sehingga kaca jendela itu tidak mau naik akibat jari Rio. "Gendis! Jangan tutup, aku mohon! Gendhis!" teriak Rio sambil menggedor kaca mobil. "Gendhis! Tolong dengarkan aku sebentar saja! Tolong dengarkan aku," ujar Rio sambil menahan sakitnya di jari karena sempat terjepit sebentar. "Pergilah! Aku sudah tak ingin lagi berhubungan denganmu," ujar Gendis sambil berteriak histeris membuat bayinya juga menangis juga. "Gendis! Baby, please! Tolong dengarkan aku," bentak Rio sambil menahan air matanya. Jujur saja air matanya berlinang saat ini tanpa di kendalikan. Ingin rasanya Rio memeluk gadis itu dan meminta maaf atas semua yang pernah terjadi di masa lalunya. Gendhis wanita yang di cintainya, yang di carinya sampai dua tahun ini ada di hadapannya. Dia tak ingin kehilangannya lagi. "Pergilah, Mas! Pergi! Aku mohon," kata Gendhis memelas. "Ma! Ma!" teriak Kai bayi yang menangis itu memanggil Gendhis. "Aku sudah bahagia sekarang, Mas! Aku sudah lebih baik dan berdamai dengan hidupku sekarang. Jangan menemuiku lagi," bentak Gendis. "Gendhis! Aku mohon Gendhis," kata Rio masih mencoba membuka kunci pintu mobil dari jendela. "Tolong pergilah, Mas! Kasihan anakku menangis terus," ujar Gendis lagi sambil berusaha memukul tangan Rio agar keluar dari sisi jendela. "Tidak Gendis! Tidak! Tolong dengarkan aku dulu! Aku hanya ingin meminta kejelasanmu! Jangan membuatku tersiksa dengan kepergianmu yang tanpa penjelasan ini. Aku mohon Gendhis," bujuk Rio sambil sesekali mengusap air matanya dengan lengan tangan sebelah. "Gendhis! Kenapa kau pergi begitu saja tanpa pernah ada kejelasan? Kau tak memberikan kejelasan tentang semuanya! Jangan siksa aku begini Baby," kata Rio. "Gendhis dengarkan aku, saat kau pergi aku pernah datang berkali kali ke rumah kost itu sebelum adikmu mengganti gembok dan semua kunci. Aku menemukan tespek positif di kamar mandi! Apakah kau hamil anakku? Kau hamil sebelum pergi itu? Iya kan?" tanya Rio. Gendhis menangis sesegukan. Luka lama itu terbuka kembali. Luka yang selama ini dia pendam harus terpaksa terkoyak karena ucapan Rio lagi. Gendhis terdiam tapi tangannya terus memukul Rio agar keluar jendela. "Kenapa kau diam Gendhis? Benarkan dugaanku! Itu anakku kan? Gendhis sampai detik ini pun aku masih mencintaimu! Aku mohon Gendhis jangan begini!" ujar Rio. Gendhis sama sekali tak mau berbicara, dia tak memperdulikan semua ucapan Rio. Untunglah tak lama Pohan datang. Pohan kaget sekali melihat Rio yang sedang bertengkar dengan Gendhis apalagi di jendela mobilnya. Dengan sigap Pohan pun segera mendorong Rio agar jatuh. "Sialan, bagaimana dia bisa menemukan Gendis!" batin Pohan dalam hati. Gendhis langsung menaikkan kaca jendelanya. Dia segera memeluk putranya dalam dekapan. Dia percaya jika Pohan mampu menyelesaikan semuanya. "Tenanglah, Nak! Tenanglah, Kai! Kau terkejut ya? Maaf Ibu tadi membuatmu terkejut," ujar Gendis sambil memeluk dan mencium putranya. Dia mendekap putranya Kai itu erat-erat. 'Bugh!' Pohan menghantam wajah Rio di sisi kanan. Bogeman itumampu membuatnya merintih kesakitan di sudut bibirnya. Keluar darah sedikit yang mengering di ujung bibirnya. "Pergi kau!" bentak Pohan. Rio pun mundur beberapa langkah. Jika dari segi kekuatan tentulah dia kalah untuk melawan Pohan. Karena Pohan memiliki bentuk tubuh yang tinggi besar. Mau tak mau akhirnya pun Rio pergi meninggalkan Gendis dan Pohan di parkiran. Dia berjalan dengan lesu menuju ke dalam mall lagi dan menuju foodcourt sambil memegangi rahangnya yang rasanya sakit. Rio mengelap sudut mulutnya. Dia merasa perih karena mungkin bibirnya sekarang pecah terkena bogeman dari Pohan. Rio pun segera mencuci mukanya di kamar mandi lagi sebelum menemui Sifa dan Farhat di foodcourt. Setelah di rasa semua sudah beres Rio pun kembali menemui istri dan anaknya yang sudah menunggu. "Dari mana saja sampean to, Bi? Kok lama sekali?" keluh Sifa karena menunggu suaminya yang hampir satu jam pergi pamit ke kamar mandi namun dia baru kembali. "Maafkan aku ya, Umi! Maafkan Abi ya, Farhat! Lama antrinya," kata Rio mengelus kepala Farhat dan Sifa. "Loh, kenapa ujung bibirmu berdarah begitu, Mas?" tanya Sifa heran. Sifa ingat dengan jelas sebelum pergi ke kamar mandi wajahnya baik-baik saja. Namun sekarang wajah Rio terlihat memar di ujung bibir. "Oh tidak apa- apa, Dek! Ini tadi jatuh lalu terbentur," kilah Rio. Sifa pun sedikit curiga dengan gerak-gerik dan tingkah laku sang suami, namun dia tak berani menanyakan lebih jauh lagi. Karena dia benar benar tak ingin merusak suasana hati Rio. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk segera pergi setelah Rio menghabiskan makanannya. Mereka memutuskan untuk pergi balik ke rumah saudara Sifa. Lagi Sifa menemukan keganjilan, saat di mobil dalam perjalanan pulang, Rio terlihat lebih banyak diam. Dia bahkan terkesan menyetir sambil melamun seperti sedang memikirkan sesuatu. "Mas," panggil Sifa. Rio tetap diam tak bergeming. Dia seperti memikirkan sesuatu. "Mas!" panggil Sifa sedikit keras sambil mengelus tangan sang suami. "Astagfirulloh!" pekik Rio terkejut dengan usapan tangan Sifa. "Loh sampean kok menyetir sambil melamun, Mas?" tanya Sifa. "Eh, tidak! Mas kepikiran pekerjaan, Dek!" jawab Rio berbohong. Padahal sejak tadi dia sedang berusaha untuk mencerna semua yang terjadi barusan. Rio benar- benar mengira bahwa anak itu adalah anaknya. Tapi bagaimana juga cara membuktikannya, sedangkan dia tak tahu di mana Gendhis tinggal. Apa lagi mengingat sekarang Gendis bersama Pohan bukan dirinya lagi. Sepanjang perjalanan dia terus memikirkan cara untuk menemui Gendis lagi. Tapi rasanya percuma karena dia juga belum mendapatkan jawaban dan cara serta solusinya. "Kau kenapa, Mas? Aneh sekali. Apa yang sebenarnya kau pikirkan?" tanya Sifa melihat suaminya yang sedari tadi hanya melamun saja. Bahkan setelah di tegur Sifa pun dia masih sempat melamun lagi. "Eh tak apa- apa kok, Dek! Ini loh aku hanya terlalu bingung dengan rencana trip bulan depan kan salah satunya ada yang ke luar negeri lagi, umroh plus plus," sahut Rio mencari alasan yang logis. "Oh, mbok jangan terlalu di pikirkan, Mas! Ini kan bukan pertamanya melayani trip luar negeri," sambung Sifa yang di balas anggukan oleh Rio. Rio pun segera mengemudikan kendaraannya ke rumah orang tua ke rumah keponakan Sifa. "Apakah Mas Rio bertemu dengan Gendis? Mengapa perasaanku tak enak?" batin Sifa dalam hati melihat gerak-gerik sang suami yang tak beres. BERSAMBUNG Bersambung Baca SEASON 1 Ketika Suamiku Meminta Poligami
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD