STNK Siapa Itu, Mas?

1181 Words
STNK SIAPA ITU, MAS? "Apakah Mas Rio bertemu dengan Gendis? Mengapa perasaanku tak enak?" batin Sifa dalam hati melihat gerak-gerik sang suami yang tak beres. Sifa tak berani menanyakan lebih lanjut pada Rio, suaminya. Dia hanya bisa berdoa dalam hati semoga itu hanya ketakutannya saja. Karena dia tak ingin kejadian dua tahun lalu terulang lagi. Rasanya cukup sudah dia merasakan sakitnya dikhianati suami sendiri. Dia sedang mencoba menata rumah tangganya untuk lebih bisa baik lagi. Akankah ini juga hancur untuk kedua kali? "Bagaimana, Nduk? Kau jadi pulang besok?" tanya Abah Furqon. "Entahlah, Bah! Sifa juga tak tahu bagaimana, Bah. Wong Sifa sama Farhat ini hanya manut dan ikut saja bagaimana keputusan Mas Rio. Kalau Sifa sendiri menganggur saja tak masalah pulang kapan pun. Karena Sifa memang tak memiliki acara yang khusus besok. Kalau pun harus menginap lagi di Surabaya pun, rasanya tak masalah," jawab Sifa. "Begitupun Farhat bukankah Farhat masih masuk sekolah tiga hari lagi?" tanya Sifa pada Abahnya. Karena selama ini memang Farhat lebih banyak ikut dengan sang Abah jadi tentu Abahnya lebih mengerti jadwal Farhat. Itu terjadi karena dia bersekolah di pondok dekat rumah keluarganya. Sejak dua tahun lalu, semenjak hubungan Gendhis dan Rio tercium. "Iya masih tiga hari lagi, Nduk! Abah punya rencna lain, kalau kalian tak keberatan kita di sini barang sebentar lagi saja. Besok kita bisa ke kebun binatang Prigen. Rasanya kalau kita sudah di Ponorogo kita tak bisa kemana-mana lagi. Susah mencari waktu untuk bisa bersama, kalau Abah nganggur suamimu yang sibuk, ataupun sebaliknya. Abah sibuk, Rio nganggur. Begitu saja terus, mumpung kita di luar kota di puaskan saja jalan- jalannya. Bagaimana menurutmu, Nduk?" tanya Abah Furqon. "Toh akan susah mencari waktu untuk bersama keluarga besar seperti ini lagi," sambung Abah Furqon. "Setuju, Bah! Tinggal keputusan Mas Rio saja," jawab Sifa tersenyum bahagia. Jika di pikir lagi dia juga lama tak jalan- jalan bersama suami dan anaknya. "Bagaimana menurut pendapatmu, nak Rio?" tanya Abah Furqon melihat sang menantu yang lebih banyak diam hari ini semenjak pulang dari mall bermain bersama anak dan istrinya. Rio masih saja diam dan tidak menjawab. Karena dia tak mendengar pertanyaan mertuanya itu. Dia terus melamun, dalam benaknya sudah memikirkan berbagai macam pertanyaan tentang siapakah anak yang bersama Gendis di stroller tadi. Kalau memang itu anak kandungnya rasanya cukup masuk akal juga, mengingat mereka telah berpisah selama dua tahun. Rio pun yakin bahwa bayi di stroller itu berusia satu tahun mungkin lebih pun hanya beberapa bulan. Karena dia pernah memiliki anak sehingga bisa memprediksi umur bayi iyu. "Bagaimana Nak Rio?" tanya Abah Furqon sekali lagi. Namun Rio tetap dian tak bergeming apalai menjawab. Dia masih asyik saja melamun. "Rio!" panggil Abah Furqon sambil menepuk tangan Rio perlahan, menyadarkan sang menantu dari lamunannya. "Eh! Oh! Abah ada apa?" tanya Rio sambil tergagap karena kaget dengan tepukan mertuanya. "Masya Allah! Kau kok melamun dari tadi, Le? Ada apa sebenarnya? Apa yang menganggu pikiranmu?" tanya Abah Furqon. "Maafkan Rio Bah! Maaf karena tidak fokus karena ada beberapa pekerjaan yang mengganjal di hati," kata Rio mencari alasan. "Bagaimana Bah? Ada apa?" tanya Rio lagi. "Begini, besok rencananya kita memperpanjang hari di Surabaya. Apakah pekerjaanmu bisa di tinggal? Apakah Dimas bisa menyelesaikan pekerjaannya? Kalau memang bisa dan sanggup Abah rencananya ingin membawa Farhat ke kebun binatang dan Sifa, Le! Rasanya kok sudah lama sekali toh Kita tidak pergi bersama keluarga begini, mumpung kita di luar kota dan ada kesempatannya. Kalau di tunda lagi entah kita bisa ke sana kapan," usul Abah Furqon. "Em terserah Abah saja bagaimana baiknya, tapi sepertinya besok kok Rio tidak bisa ikut karena ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa tinggalkan oleh Rio. Karena ada beberap meeting dan zoom yang harus Rio hadiri, Bah! Beberapa kali meeting juga dengan Dimas," jelas Rio. Dia memang tidak mengada-ngada alasan itu. Karena memang besok dia memerlukan zoom meeting dengan para karyawannya perusahaan. Dua tahun ini perusahaan milik Rio sudah lumayan besar berkembang. Bahkan karena pelampiasan sakit hatinya Rio gila bekerja sampai dia sudah bisa mendirikan biro jasa dan PO sendiri. "Baiklah kalau begitu, Nak! Biarkan Sifa dan Farhat saja yang ikut sama Abah. Apakah kau mengizinkannya?" tanya Abah Furqon lagi yang di balas anggukan Rio. Bagaimanapun juga Abah Furqon juga sadar diri bahwa dia tidak berhak lagi mengatur anak perempuannya karena lebih berhak Rio suaminya dari pada orang tua kandungnya. Meskipun Abah Furqon masih sakit hati dengan Rio atas perlakuannya pada Sifa namun karena Sifa masih berpegang teguh mempertahankan rumah tangganya akhirnya sebagai orang tua Abah Furqon hanya bisa merelakan saja. Toh putrinya sudah besar dan paling tahu dengan keadaan dirinya sendiri. "Bah, kalau boleh Rio besok akan di rumah sini saja. Rencananya Rio akan menggunakan ruang tamu ini untuk zoom meeting. Apakah boleh?" tanya Rio izin kepada mertuanya karena ini adalah rumah mereka bukan rumah sendiri. "Hoalah, Rio! Kau itu kayak sama siapa saja. Tentulah boleh! Kok begitu saja izin," ucap Abah Rio. "Karena kalo meeting bersama anak- anak suara mereka akan sedikit berisik, Bah! Takut ada yang terganggu mungkin," ucap Rio meminta izin. "Tak apa-apa, Le! Pakailah rumah ini sesukamu," ujar Abah Furqon. Rio pun mengobrol bersama keluarga istrinya lagi. Dia sejenak mau melupakan tentang Gendis meskipun tak munafik pikirannya masih memikirkan gadis itu. Sampai waktu malam tiba saat mereka bersiap untuk tidur Sifa pun meminta Rio mengelus perutnya. Rio dengan telaten mengelus perut Sifa yang sudah makin membuncit. "Apa kau yakin ikut Abah jalan-jalan, Dek? Bukannya Mas melarangmu untuk ikut. Mas hanya sedikit ngeri dan takut saja melihat perutmu sudah begini besarnya. Mas takut kau kaget ketika ada singa mengaum dan melahirkan sewaktu-waktu di sana," kata Rio yang di balas tabokan mesra dari Sifa. "Ihhh! Mas Rio, tidaklah! Insya Allah tak masalah, Mas! Wong hpl nya saja masih lumayan lama," ujar Sifa menenangkan suaminya. "Baiklah kalau kau begitu. Mas rido', kalau kau memang ingin pergi ke sana. Pergilah bersama Abah dan Farhat, tapi maaf aku tak bisa menemanimu karena ada beberapa pekerjaan yang tak bisa di tinggalkan dan harus tetap aku handle sendiri," ujar Rio yang di balas anggukan oleh Sifa. Karena Sifa juga paham kesibukan suaminya selama ini murni mencari nafkah untuk mereka. Toh selama ini memang tak ada masalah baginya. Rio tak ikut karena pekerjaan dan mereka memang sedang berada di rumah Abahnya, tak mungkin Rio akan bertindak macam-macam pikir Sifa. Sifa pun terlelap karena keenakan perutnya dielus oleh Rio. Saat Rio sudah memastikan Sifa tidur, dia pun membuka HPnya lagi. Dia melihat potret mobil BMW yang di gunakan Gendis serta Pohan tadi, dia pun mencoba melacak plat nomor itu dan jelas di sana tertera nama Pohan Wijaya. Rio meneliti lagi alamatnya yang tercantum. Untungnya alamat itu Surabaya. "Baiklah ini mungkin langkah pertama yang bisa aku ambil! Aku akan mencari Gendhis dengan mengutit Pohan! Tentulah dia akan bertemu dengan Gendis, jika tidak besok mungkin besoknya lagi setidaknya saat aku berada di sini aku memiliki kesempatan untuk memata-matai mobil itu," batin Rio dalam hati. "Toh aku bisa melakukan zoom meeting sambil berada dalam mobil," ucap Rio lagi. "Mas apa yang kau lakukan? Alamat dan STNK siapa itu?" tanya Sifa lagi APA ALASAN RIO KALI INI? BERSAMBUNG SEASON 1 Ketika Suamiku Meminta Poligami
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD