MENGUTIT
"Mas apa yang kau lakukan? Alamat dan STNK siapa itu?" tanya Sifa lagi.
"Hah? Oh ini Dek, bukanlah masalah penting. Ini hanya STNK! Jadi itu loh, Dek! Tadi itu lho Mas di parkiran mall melihat mobil bagus sekali ternyata itu adalah mobil keluaran terbaru," kata Rio setengah tergagap mendapatis ang istri tiba- tiba bangun dan memergokinya sedang mencari tahu STNK yang di pegangnya.
"Lalu kok Mas pingin sekali! Mobilnya keren dan bagus sekali, Dek! Nih sampai sengaja tak foto," ucap Rio memperlihatkan Hpnya. Tampak di layar memang foto mobil berwarna hitam.
"Masya Allah! Bagus sekali yo, Mas," kata Sifa setuju dengan pendapat suaminya.
"Mas coba lihat pajaknya, Dek! Ternyata mahal sekali, sampai bisa buat beli motor satu," ujar Rio sambil memperbesar tulisan biaya pajak kendaraan tanpa memperlihatkan namanya agar sang istri percaya.
"Lailahaillallah,Mas! Itu hanya biaya pajak tahunan saja, Mas? Mahalnya!" komentar Sifa.
"Wes jangan Mas! Beli mobil yang biasa-biasa saja yang penting kan tidak kehujanan dan tidak kepanasan," ujar Sifa. Rio pun mengangguk setuju, untung saja Sifa itu gampang sekali di bodohi.
"Sudah ayo tidur, Dek! Mata Mas sudah sepet sekali, lagian ini juga sudah malam. Kau kan besok masih harus ikut dengan Abah ke kebun binatang," uja Rio.
Sifa pun membalas dengan anggukan. Rio pun kembali mencoba untuk tidur, meskipun dalam benaknya menyimpan sejuta tanya. Dan memikirkan cara bagaimana dia bisa menemui gadis pujaan hatinya itu lagi. Masih banyak yang mengganj di hati, apakah hubungan Gendhis dan Pohan? Apakah mereka sudah menikah atau hanya sekedar pacaran saja.
keesokan paginya Farhat sudah bangun sejak subuh. Dia tak bisa tidur lagi karena saking gembiranya akan di ajak ke kebun binatang. Dengan telaten Sifa menyiapkan semua kebutuhan putranya itu. Tak lupa dia juga menyiapkan makanan sebelum pergi meninggalkan Rio, agar Rio tak kebingungan untuk makan siang dan kemungkinan makan malam nanti, jika memang dia pulang terlambat.
"Mas semua makanannya sudah tak siapkan di sana, ya! Jika nanti memang pulang kami terlambat sampean bisa makan malam dulu! Ingat jangan sampai menunda makan," jelas Sifa.
"Ingat juga kalau sampean sekarang punya penyakit maag! Jangan sampai kambuh ketika ada di rumah sendiri," ujar Sifa lagi memberi banyak pesan dan wejangan kepada sang suami.
"Iya, Dek! Iya! Aku mengerti, sudah pergi sana tak usah memikirkan Mas lagi! Mas bisa menjaga diri kok!" jawab Rio protes karena Sifa memperlakukannya seperti anak kecil.
"Dek, harusnya kau yang lebih hati-hati itu! Apalagi kamu sedang hami besar seperti ini dan harus berjalan menjaga Farhat juga! Ingat jangan lelah- lelah karena senang sampai mengesampingkan sakit yang kau rasakan tiba- tiba. Meski kontrasi palsu sekali pun kau wajib mengatakan pada Abah! Jangan sampai kenapa-napa, kabari Mas jika kau merasa kontraksi lagi," sambung Rio. Sifa tersenyum mendengar perhatian sang suami sekarang.
"Iya Abi! Iya," kata Sifa sambil mencium tangan suaminya.
"Ayok Le kita berangkat dulu ya," pamit Abah Furqon yang di balas anggukan dan lambaian tangan Rio.
Rio mengantarkan sampai depan dan dia pun juga memastikan bahwa keluarganya benar- benar pergi dahulu. Kemudian Rio masuk dalam rumah mulai beberapa pekerjaan ringan yang bisa dia selesaikan. Setelah selisih satu jam dan dia rasa aman, Rio pun mengirimkan pesan kepada Sifa untuk menanyakan perjalanannya, memantau tanpa Sifa curiga. Sifa sudah mengatakan jika sudah melewati batas daerah Surabaya. Barulah Rio berani keluar mengendarai mobilnya untuk mencari alamat Pohan.
Rio pun segera membuka Google maps dan mengemudikan mobilnya ke arah alamat rumah Pohan. Ternyata alamat itu adalah komplek perumahan elit di tengah kota Surabaya. Dia menyusuri perumahan itu untuk mencari alamat rumahnya, setelah sampai sana ternyata mobil Pohan tak terlihat. Dia pun mulai bertanya pada satpam komplek satpam itu.
"Pak, maaf! Rumah nomer 9A tidak ada yang penghuninya? Yang atas nama Pak pohan," tanya Rio pada satpam yang asik memainkan HP di dalam pos.
"Oh, sudah pergi kerja Pak! Pak Pohan selalu berangkat pagi," kata satpam menyahut dan mengatakan jika Poaon sudah pergi sejak pagi tadi.
"Apakah Pak Pohan sudah menikah ya, Pak? Kebetulan saya ini teman lamanya. Ingin bertemu, mumpung dia tak ada mau menanyakan dulu. Siapa tahu sudah menikah jadi nanti saya bisa ke sini lagi dengan istri agar tak canggung," tanya Rio pada satpam itu lagi agar tak curiga dengan pertanyaan yang sifatnya sudah masuk ranah privasi.
"Oh belum, Pak! Namun sudah memiliki pasangan cantik sekali, bahkan sering menginap kok! Biasa," jawab satpam itu. Mendengar satpam itu mengatakan bahwa Pohan memang belum menikah ada sedikit kelegaan di hati Rio.
"Tetapi pasangannya juga rutin kok datang ke mari beberapa hari sekali! Semalam sepertinya menginap di ini juga kalau tak salah Pak Ustad," sahut satpam itu.
Melihat penampilan Rio maka satpam pun memanggilnya Pak Ustad. Dia langsung percaya saja bahkan bisa bercerita tentang privasi Pohan karena percaya bahwa Rio memang teman Pohan. Untung saja Rio pandai, dia tak kurang akal. Rio pun segera membuka hpnya, karena memang di HP itu masih tersimpan beberapa foto Gendis. Foto yang menurutnya istimewa bahkan Rio tak pernah menghapus satupun foto yang dia punya saat bersama Gendis dulu. Foto yang penuh kenangan saat menghabiskan waktu bersama dan bahagia.
"Apakah ini orangnya, Pak?" tanya Rio lagi dan satpam itu pun menganggukkan kepalanya.
"Bisakah saya meminta nomor bapak untuk berjaga-jaga sewaktu-waktu?" tanya Rio, satpam itu awalnya menolak namun Rio mengeluarkan uang ratusan ribu satu lembar sebagai uang suap.
"Ini untuk beli rokok, Pak?" kata Rio.
Satpam itu pun mengangkut dan memberikan nomornya. Rio pun berkesempatan untuk mengawasi Pohan dari jauh, lewat satpam itu. Setidaknya meskipun mereka saling bertukar sift tapi Rio bisa mengetahui kapan Gendis berada di sana. Dia hanya punya waktu tiga hari di Surabaya untuk menyelesaikan semua ini. Jika tidak maka akan terlambat lagi bisa-bisa dia akan kehilangan Gendhis lagi.
"Sial!" batin Rio dalam hati.
Karena ini dia tak bisa menemukan Gendis lagi. Namun Rio tak patah semangat dia mencoba menunggu Pohan sampai jam tiga sore tak ada tanda-tanda Pohan datang dia pun kemudian memutuskan untuk pulang ke rumah mertuanya karena takut ketahuan telah pergi. Meskipun dia yakin rombongan mertuanya akan tiba malam hari. Saat perjalanan pulang dia seperti merasa ketiban mendapatkan berkah. Ibarat pepatah pucuk di cinta ulam pun tiba, begitulah kata peribahasa. Saat dia melajukan mobilnya lebih santai justru di depannya lampu merah, nampak mobil Pohan berada di barisan utama.
Rio pun menyipitkan matanya lagi untuk memastikan nopol kendaraan itu dan benar saja itu adalah mobil Pohan. Tak mengambil waktu lama lagi, Rio pun mengikuti mobil Pohan itu. Ternyata mobil Pohan nampak menuju ke salah satu grand apartemen mewah di pinggiran kota Surabaya yang berdekatan langsung dengan pintu exit tol. Dia mengikuti pohon parkir di halaman apartemen meskipun nanti harus membayar cash, pikirnya tak masalah yang penting dia bisa menemukan keberadaan Gendis. Tak lama pun Pohan menuju salah satu unit apartemen. Rio pun tak mau ceroboh, dia tak ingin terlalu mencolok mengetahui atau mengikuti Pohan. Dia hanya memastikan di lift pohon turun di lantai berapa setelah tahu lantai yang di tuju Pohan kemudian Rio menunggu lift selanjutnya.
'Tring' Tringi 'Tring' HP Rio berbunyi. Sifa menelpon. Hati Rio berdetak keras.
"Apakah Sifa sudah pulang? Mengapa cepat sekali?" batin Rio. Dia bingung, haruskan telpon itu di angkat? Atau di biarkan saja?
BERSAMBUNG
SEASON 1 Ketika Suamiku Meminta Poligami