Bab 1: Kedok Dosen Mesuum
Nirmala berbaring telentang di atas kasur, menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang gelap.
Setiap kali ia memejamkan mata, ciuman Pak Baskara, dan wajah tampannya dalam mode zoom in, mendadak terus berputar liar tanpa permisi di otaknya.
"Sialan... Kenapa aku malah memikirkan iblis m***m itu, sih?!" maki Nirmala frustrasi, membalikkan tubuhnya ke samping dengan jengkel.
Merasa perutnya melilit kelaparan, Nirmala akhirnya nekat membuka pintu kamarnya, mengendap-endap menuruni anak tangga yang gelap gulita, berniat mencari mi instan atau sisa makanan di dapur.
Namun, baru saja langkah kaki Nirmala melewati pertengahan lorong, pergerakannya mendadak terhenti.
Di ujung koridor, pendar cahaya lampu remang-remang mengalir keluar, memotong kegelapan lorong. Cahaya itu berasal dari ruang kerja pribadi Baskara yang biasanya tertutup rapat, namun entah mengapa malam terbuka sedikit—sekitar dua sentimeter.
Hah... Hah...
Dari dalam ruangan itu... indra pendengarannya menangkap sebuah suara yang teramat asing, dan ganjil.
Deru napas yang teramat berat, parau, dan tersengal-sengal memburu memecah keheningan malam.
“Ahhh... Sial...”
Fix. Jelas sekali, suara itu milik Pak Baskara.
Namun, suaranya tidak terdengar dingin seperti biasanya.
Suara itu dipenuhi oleh rintihan frustasi, yang seketika membuat bulu kuduk Nirmala meremang.
Sinyal bahaya terus berdenging di otaknya, namun tubuhnya justru bergerak melawan...
Bagai dihipnotis, Nirmala melangkah maju dengan gerakan super lambat, merangsek mendekati celah pintu kayu ek yang terbuka tersebut.
Rasa penasaran, seketika mengalahkan akal sehatnya. Nirmala mencondongkan tubuhnya perlahan, lalu mengintip lurus ke dalam ruangan melalui celah sempit itu.
Detik itu juga, seluruh pasokan oksigen di paru-paru Nirmala seolah lenyap dirampas paksa tanpa sisa!
Di dalam ruangan yang temaram, Profesor Baskara Mahendra sedang duduk bersandar di kursi jatinya...
Kaus hitamnya sudah tersingkap ke atas, membiarkan otot-otot perutnya yang berpetak sempurna terpapar bebas—berkilat basah oleh lapisan keringat tipis yang menetes perlahan dari pelipisnya.
Kepala pria itu mendongak ke belakang dengan urat-urat leher yang menegang seksi.
Rahangnya yang mengatup rapat menahan badai gairah, hanya mengembuskan napas parau yang memburu gila, menciptakan suara erangan tertahan yang memecah keheningan ruangan.
Dan hal yang membuat sisa kewarasan Nirmala runtuh berkeping-keping malam ini adalah...
Saat ia melihat ke mana arah pergerakan tangan kanan kekar pria itu.
Tangan panjang Baskara bergerak turun, menyusup beringas ke balik celana tidur kainnya yang sengaja diturunkan setengah pinggul...
mencengkeram, meremas, dan mengocok batang miliknya yang luar biasa besar, tegang, dan berurat, di tengah dinginnya udara malam, dengan ritme konstan!
Namun, tidak berhenti sampai situ saja yang membuat otak Nirmala meledak di tempat...
Mata bulat gadis itu melebar saat melihat tangan kiri Baskara, dosen killer yang biasanya tampil sok suci, galak, dan tak tersentuh di kampus... sedang menggenggam erat sebuah jepit rambut plastik berbentuk kupu-kupu berwarna merah muda—jepit rambut milik Nirmala sendiri!
Ibu jari tebal Baskara bergerak kasar, meraba dan mencengkeram permukaan jepit kupu-kupu itu dengan begitu kuat seolah benda itu adalah satu-satunya jangkar kewarasannya malam ini.
Seolah benda kecil itu... adalah bagian dari tubuh Nirmala, yang sedang ia jamah!
Pria itu sesekali mendekatkan kepalan tangannya ke arah wajah, menghirup aroma yang tertinggal di sana dengan mata terpejam erat, sementara tangan kanannya mempercepat ritme remasannya di bawah sana dengan napas yang kian memburu tak terkendali.
"Hah... Emmhh... Fvck..." Baskara menggeram parau, suaranya yang serak dan sarat akan kebutuhan seksual yang murni bergetar hebat memenuhi ruangan...
Sangat kotor dan vulgar!
Seolah ia sedang menindih tubuh gadis itu dalam imajinasinya yang paling liar!
"Nirmala..."
................................
Beberapa Minggu Sebelumnya
Jika ada satu hal di planet bumi ini yang tingkat kekerasannya melebihi skala 10 Mohs milik batu intan, itu adalah hati Baskara Mahendra.
Nirmala berdiri dengan lutut yang terasa longgar di depan meja kayu mahoni raksasa milik dosen pembimbingnya. Di bawah pendar lampu neon ruang dosen yang terlampau terang, aroma kertas tua bercampur dinginnya pendingin ruangan mendadak terasa mencekik.
Di hadapannya, sang "Profesor Killer" sedang memegang pulpen gel berwarna merah darah dengan presisi seorang algojo yang siap mencabut nyawanya.
Sret! Sret!
Suara goresan tinta merah itu terdengar seperti suara gergaji mesin di telinga Nirmala.
Setiap coretan berarti satu malam lagi tanpa tidur, satu cangkir kopi hitam instan lagi, dan satu langkah lebih dekat menuju kegilaan.
"Nirmala," suara bariton Baskara memecah keheningan—berat, dingin, kaku, dan tertata rapi tanpa riak emosi sedikit pun.
Ia membetulkan letak kacamata berbingkai tipisnya dengan ujung telunjuk, sebuah gestur sederhana yang entah bagaimana selalu berhasil membuat mahasiswa bimbingannya mendadak ingin pindah planet.
"Jika mengukur kemiringan kedudukan batuan saja kamu masih meleset jauh, jangankan lulus, draf proposal pemetaanmu ini hanya cocok dijadikan bungkus kacang di kantin."
Baskara melemparkan draf proposal skripsi setebal seratus halaman itu ke atas meja. Plak!
Suara hantaman kertas itu bergema, membuat Nirmala sedikit tersentak. Goresan tinta merah di halaman depan tampak seperti pembantaian massal yang mengerikan.
Gadis itu refleks meremas ujung kemeja luaran flanelnya yang longgar. Ia mendongak perlahan, menatap sesosok pria yang duduk angkuh di balik meja kerja jati besar.
Baskara Mahendra.
Profesor muda berusia 32 tahun, yang saat ini ... memegang otoritas mutlak atas kelulusan akhirnya.
Di dalam kepalanya, Nirmala sudah membayangkan dirinya melempar Baskara dengan palu geologi seberat dua kilogram tepat di dahinya.
“Ganteng-ganteng kok titisan Firaun. Mulutnya enggak disekolahin, ya, Pak?!” makinya habis-habisan di dalam hati.
Nirmala benar-benar mengutuk keputusan impulsifnya dua tahun lalu. Saat itu, ia mendaftar sebagai anak bimbingan Baskara, murni karena "khilaf visual".
Siapa yang tidak akan tertipu?
Pria itu memiliki postur tubuh tinggi tegap yang tampak sangat gagah, ketampanan paripurna yang menonjol di mana pun ia berada, bahkan kacamata yang ia pakai justru membuatnya semakin terlihat menawan!
Nirmala dulu berpikir, setidaknya jika skripsinya nanti membuatnya pusing tujuh keliling, ia masih bisa cuci mata memandangi wajah tampan sang dosen pembimbing.
Ternyata, ia salah besar!
Penampilan fisik yang menyerupai dewa Yunani itu.. ternyata berbanding terbalik, dengan tabiatnya yang menyerupai iblis!
Seantero Fakultas Teknik Geologi, Baskara dijuluki sebagai "Dosen Pembantai" !
Dan target bantaian Baskara semester ini adalah dirinya.
Satu lagi yang Nirmala sadari: pria ini tidak punya empati.
Sama sekali!
Baskara sama sekali tidak peduli bahwa satu bulan lalu, Nirmala baru saja kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan tragis dan seluruh dunianya sedang mendadak runtuh.
Di tengah duka yang belum kering dan krisis finansial yang mencekik, dosen killer itu justru menghujaninya dengan teror mental setiap hari...
Membuatnya mati-matian menjaga kewarasannya, demi mewujudkan impian mendiang ayahnya agar ia lulus sebagai seorang geolog!
"Revisi semuanya," perintah Baskara dingin, menutup map skripsi dengan sentakan final.
"Maaf, Pak..." cicit Nirmala, mencoba menahan getaran suaranya agar tidak terdengar seperti pecundang.
"Tapi draf itu... Sudah saya perbaiki bab tiga-nya sesuai instruksi Bapak, minggu lalu."
Baskara menatap Nirmala dengan pandangan meremehkan yang sangat familier, lalu menarik napas panjang, sebuah gestur yang selalu sukses membuat Nirmala menciut seketika.
"Memperbaiki, kamu bilang?!"
Baskara mengambil pulpen bermerek mahal miliknya, lalu mengetuk-ngetuk draf skripsi Nirmala dengan ketukan yang konstan dan menyebalkan.
"Analisis sesar mendatar yang kamu buat di peta ini sama sekali tidak logis. Kamu meletakkan garis patahan tanpa ada data kekar gerus yang valid. Kamu pikir bumi ini bisa bergeser sesuai imajinasimu, Nirmala?" sahut Baskara tanpa perasaan.
Pria itu bersandar pada kursi kebesarannya, menatap Nirmala lurus-lurus.
"Kamu mau menjadi perawan tua yang membusuk di laboratorium, karena skripsimu tidak kunjung lulus, hm?"
Kalimat tajam itu menjadi pukulan terakhir yang menghancurkan sisa-sisa kesabaran Nirmala. Kemarahannya mendidih, di balik dadanya yang sesak.
Nirmala menggigit bibir bawahnya. Setengah mati ia menahan air mata yang mulai mendesak di pelupuk matanya.
"Baik, Pak. Saya akan revisi lagi secepatnya," bisik Nirmala, menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan matanya yang mulai memerah.
"Harus! Jika draf berikutnya masih sekotor ini, jangan harap saya mau menandatangani draf proposal pemetaan geologimu untuk KKL dua bulan lagi."
Nirmala merasakan ulu hatinya berdenyut nyeri.
Ancaman pembatalan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) adalah lonceng kematian bagi mahasiswi tingkat akhir jurusan Teknik Geologi!
"Baik, Pak. Terima kasih atas... masukannya yang sangat… membangun," kata Nirmala, memberikan penekanan penuh sarkasme pada kata 'membangun'.
Nirmala memeluk draf skripsinya yang penuh coretan merah itu erat-erat di d**a, berbalik badan, dan melangkah keluar dari ruangan ber-AC dingin tersebut dengan sisa harga diri yang compang-camping.
Setiap ketukan sepatu flat shoes-nya di sepanjang jalan keluar, seolah menyuarakan dendam kesumat yang membara.
Saat pintu kayu ruangan Baskara tertutup di belakangnya, Nirmala mengembuskan napas panjang.
Ia menyandarkan punggungnya di dinding koridor kampus yang sepi. Air mata yang coba ia tahan sejak tadi hampir saja luruh, namun Nirmala cepat-cepat mengedipkan matanya.
Tidak, dia menolak menangis karena setan berdasi kaku itu!
Air matanya terlalu berharga untuk keluar demi pria yang bahkan tidak tahu cara tersenyum.
Nirmala meraba ponsel di saku celananya.
Kehidupan dewasanya sebagai mahasiswi mungkin berada di titik kritis, namun ia masih memiliki satu dunia rahasia di mana dialah penguasa mutlaknya.
Dunia di balik layar ponsel dan laptopnya: sebuah akun penulis anonim novel dewasa di sebuah platform online yang diam-diam cukup sukses.
Awalnya ia menulis hanya untuk melepas penat dari tekanan kampus, namun kini, aktivitas itu bertransformasi menjadi satu-satunya pelarian finansial setelah ia dipaksa mandiri secara mendadak akibat kepergian orang tuanya.
Saat itulah...
Sebuah ide nakal, liar, dan penuh dendam mendadak melintasi benaknya.
Nirmala membuka aplikasi Notes di ponselnya.
Kalau Pak Baskara bisa membantai draf skripsinya tanpa ampun, Nirmala punya kekuasaan penuh untuk membantai harga diri sang dosen di dunia fiksi...
Jemarinya menari lincah, mengetik kerangka cerita untuk bab selanjutnya:
— Bikin karakter 'Baskoro' sok suci dan galak di luar, tapi aslinya gampang sangee dan frustrasi berat cuma gara-gara hal sepele.
— Buat karakter 'Baskoro' langsung encok padahal baru sekali skidipap uhuy!! Kalah jauh sama tokoh laki-laki kedua, yang PERKASA!!
— Bikin otongnya tegang keras tiap malam, tapi sengaja DIKACANGIN sampai dia frustasj sendirian sambil gigit bantal!
— Lucutin gengsinya: bikin dosen garang ini nangis sesenggukan sambil merengek, "Minta jatah malamnya dong..." kayak bocil tantrum!
Nirmala menyimpan catatannya dengan senyum puas, lalu memasukkan ponsel kembali ke saku.
"Ehe.. Tunggu pembalasanku, ya, Pak!"
Di kampus, pria itu boleh bertingkah bagai dewa yang memegang kendali kelulusannya.
Tapi di lapak novelnya... Nirmala adalah 'Tuhan' yang akan menyiksa harga diri sang dosen killer itu sampai ke remahan terakhir, demi bayar uang kuliah dan memenuhi stok mi instan-nya!
"Mari kita lihat, apakah anda bisa merevisi imajinasi liarku di sana, Pak Baskoro!"
.........................