Bab 1: Gara-Gara Kondom, dan Coretan Tinta Merah
Aroma ruangan ini selalu sama: perpaduan dingin antara AC yang menyengat, wangi parfum wood maskulin yang mahal, dan tumpukan jurnal geologi lama.
Ruang kerja Profesor Baskara Mahendra di rumahnya, adalah area terlarang yang paling diharamkan untuk disentuh Nirmala.
Namun siang ini, gadis itu nekat menyusup ke dalam sarang sang tiran seperti pencuri amatir!
Dengan napas tertahan, Nirmala menarik laci meja jati raksasa milik dosen pembimbingnya.
Alih-alih menemukan draf revisi skripsinya yang sengaja ditahan, atau laptopnya yang disita, mata Nirmala justru membelalak sempurna saat melihat isi laci tersebut.
Tumpukan kotak perak kecil tersusun rapi di sana.
K*ndom.
BANYAK SEKALI, k*ndom.
Nirmala menelan ludah, jemarinya yang gemetar bergerak mengambil salah satu bungkusan perak itu.
Karena ini adalah pertama kalinya bagi Nirmala memegang benda nyata tersebut, di dunia nyata, ia memicingkan mata, memperhatikan detail bungkusan itu di bawah cahaya lampu ruangan.
Ia meraba teksturnya yang terasa aneh di balik plastik perak.
"Bergerigi? Dotted? Ada yang tekstur garis-garis juga?!" gumam Nirmala lirih, alisnya bertaut heran.
Gila, sih...
Untuk apa dosen sedingin es itu, punya kondom sebanyak ini?!
Dia mau melakukan eksperimen anatomi, atau malah berniat memahat patahan batuan, pakai benda lembek ini kalau sedang senggang, sih?!
Dasar iblis m***m, berkedok pendidik!
Nirmala mendengus geli, baru saja hendak mengembalikan benda itu ke laci, ketika tiba-tiba—
KLIK.
Suara slot pintu yang berputar berat dan terkunci dari dalam memutus paksa oksigen di sekitar Nirmala. Seluruh bulu kuduk Nirmala merinding seketika.
Sebuah bayangan tinggi besar mendadak jatuh menutupi tubuh mungilnya dari arah belakang, menghalangi pendar cahaya lampu. Hawa hangat yang teramat pekat langsung mengepung punggungnya, mengirimkan sinyal bahaya yang membuat persendiannya mendadak lemas.
Sebelum Nirmala sempat berbalik atau menyembunyikan bungkusan perak di tangannya, sepasang lengan kekar merangsek maju.
Ia terkesiap ngeri saat tubuh mungilnya tiba-tiba diangkat dengan sangat mudah oleh sepasang tangan kokoh tersebut.
Hup!
Dalam satu gerakan sentakan yang dominan dan tanpa jarak, Baskara mendudukkan tubuh Nirmala di atas meja kerja jati yang dingin, tepat di atas tumpukan dokumen pemetaan geologinya yang berhamburan, membuat napas gadis itu memburu parah saat mendongak.
Sementara dirinya terus merangsek maju, berdiri di sela kedua paha Nirmala yang kini menggantung pasrah.
Baskara kemudian menurunkan sedikit kacamata formalnya, menatap Nirmala lurus-lurus dengan seulas senyuman miring yang teramat berbahaya, manipulatif, sekaligus luar biasa tampan.
"Apa yang sedang kamu lakukan di mejaku, Nirmala? Memeriksa alat peraga riset ?..." suara baritonnya mengalun rendah, berat, dan bergetar penuh intimidasi intim yang membuat d**a Nirmala terasa sesak.
Nirmala pucat pasi, bungkusan kondom di jemarinya mendadak terasa sepanas bara api yang siap membakar kulitnya.
Baskara mencondongkan tubuh besarnya, menghimpit Nirmala hingga jarak di antara wajah mereka terkikis habis.
Jari telunjuknya yang panjang bergerak pelan, mengelus garis rahang Nirmala yang menegang ketakutan, sebelum jemari kasarnya beralih naik, mengusap bibir bawah Nirmala yang bergetar.
Ibu jari Baskara menekan sedikit bibir ranum itu, menyusup masuk untuk mengusap barisan gusi dan gigi depan Nirmala dengan gerakan yang teramat perlahan, dominan, dan memabukkan—sebuah klaim fisik yang langsung membuat logika Nirmala lumpuh total!
"Aku sudah bilang, kan, Mahasiswiku?" bisik Baskara parau tepat di depan bibir Nirmala yang basah akibat sentuhannya, membiarkan bibir mereka nyaris bergesekan setiap kali ia bersuara.
"Begitu kamu melangkah masuk ke ruangan ini lagi dengan kakimu sendiri, aku akan menganggap kamu setuju untuk melanjutkan draf novel erotis binalmu itu... melalui sesi bimbingan riset nyata, bersamaku."
Nirmala tersentak, rasa panas menjalar hebat ke seluruh wajahnya.
Belum sempat ia mencerna sensasi memabukkan di bibirnya, tangan besar Baskara yang bebas tiba-tiba bergerak turun, menyelinap masuk melewati belahan rok panjang yang dikenakannya.
Telapak tangan Baskara yang hangat terus merayap naik menyusuri kulit paha polos Nirmala, ikut menyeret naik kain roknya dengan ritme menuntut yang kian memanas, hingga hampir menyentuh celah sensitifnya.
"J-jangan... Pak..." cicit Nirmala panik, refleks menutup rapat kedua pahanya untuk mengunci pergerakan tangan sang dosen killer.
Melihat perlawanan itu, Baskara justru terkekeh rendah, sebuah geraman seksi yang bergetar di dadanya yang tegap. Pria itu memajukan wajahnya, meniup pelan poni yang menghalangi kening Nirmala, membiarkan embusan napas panasnya membuat Nirmala meremang hebat.
"Buka pahamu, Nirmala," desis Baskara dengan suara parau yang dalam, sementara cengkeraman tangannya di paha dalam Nirmala semakin mengeras, mengunci dan menuntut penundukan mutlak.
"Kamu sudah masuk ke sarangku atas kemauanmu sendiri. Sekarang, terima konsekuensinya."
.............................
Beberapa Minggu Sebelumnya
Jika ada satu hal di planet bumi ini yang tingkat kekerasannya melebihi skala 10 Mohs milik batu intan, itu adalah hati Baskara Mahendra.
Nirmala berdiri dengan lutut yang terasa longgar di depan meja kayu mahoni raksasa milik dosen pembimbingnya. Di bawah pendar lampu neon ruang dosen yang terlampau terang, aroma kertas tua bercampur dinginnya pendingin ruangan mendadak terasa mencekik.
Di hadapannya, sang "Profesor Killer" sedang memegang pulpen gel berwarna merah darah dengan presisi seorang algojo yang siap mencabut nyawanya.
Sret! Sret!
Suara goresan tinta merah itu terdengar seperti suara gergaji mesin di telinga Nirmala.
Setiap coretan berarti satu malam lagi tanpa tidur, satu cangkir kopi hitam instan lagi, dan satu langkah lebih dekat menuju kegilaan.
"Nirmala," suara bariton Baskara memecah keheningan—berat, dingin, kaku, dan tertata rapi tanpa riak emosi sedikit pun.
Ia membetulkan letak kacamata berbingkai tipisnya dengan ujung telunjuk, sebuah gestur sederhana yang entah bagaimana selalu berhasil membuat mahasiswa bimbingannya mendadak ingin pindah planet.
"Jika mengukur kemiringan kedudukan batuan saja kamu masih meleset jauh, jangankan lulus, draf proposal pemetaanmu ini hanya cocok dijadikan bungkus kacang di kantin."
Baskara melemparkan draf proposal skripsi setebal seratus halaman itu ke atas meja. Plak!
Suara hantaman kertas itu bergema, membuat Nirmala sedikit tersentak. Goresan tinta merah di halaman depan tampak seperti pembantaian massal yang mengerikan.
Gadis itu refleks meremas ujung kemeja luaran flanelnya yang longgar. Ia mendongak perlahan, menatap sesosok pria yang duduk angkuh di balik meja kerja jati besar.
Baskara Mahendra.
Profesor muda berusia 32 tahun, yang saat ini ... memegang otoritas mutlak atas kelulusan akhirnya.
Di dalam kepalanya, Nirmala sudah membayangkan dirinya melempar Baskara dengan palu geologi seberat dua kilogram tepat di dahi mulusnya.
“Ganteng-ganteng kok titisan Firaun. Mulutnya enggak disekolahin, ya?!” makinya habis-habisan di dalam hati.
Nirmala benar-benar mengutuk keputusan impulsifnya dua tahun lalu. Saat itu, ia mendaftar sebagai anak bimbingan Baskara, murni karena "khilaf visual".
Siapa yang tidak akan tertipu?
Pria itu memiliki postur tubuh tinggi tegap yang tampak sangat gagah dengan kemeja slim-fit, rahang yang tegas, sepasang mata elang yang menatap tajam di balik kacamata formalnya, dan ketampanan angkuh yang membuatnya semakin terlihat menawan.
Nirmala dulu berpikir, setidaknya jika skripsinya nanti berdarah-darah, ia masih bisa cuci mata memandangi wajah tampan sang dosen pembimbing.
Ternyata, ia salah besar!
Penampilan fisik yang menyerupai dewa Yunani itu berbanding terbalik, dengan tabiatnya yang menyerupai iblis! Seantero Fakultas Teknik Geologi, Baskara dijuluki sebagai "Dosen Pembantai".
Ketampanan Baskara ternyata hanyalah taktik kamuflase dari tabiat aslinya.
Dan... lebih parahnya: pria ini tidak punya empati, sama sekali!
Baskara sama sekali tidak peduli bahwa satu bulan lalu, Nirmala baru saja kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan tragis dan seluruh dunianya sedang mendadak runtuh. Di tengah kedukaan yang belum kering dan kondisi finansial yang mendadak kritis, ia terus menghadapi teror mental harian dari Baskara.
Dosen killer itu tidak pernah mau tahu bahwa Nirmala sedang berdarah-darah mempertahankan kewarasannya dalam menyelesaikan skripsi ini, demi menyelesaikan impian mendiang ayahnya yang juga seorang geolog.
"Revisi semuanya," perintah Baskara dingin, menutup map skripsi dengan sentakan final.
"Maaf, Pak..." cicit Nirmala, mencoba menahan getaran suaranya agar tidak terdengar seperti pecundang. "Tapi draf itu... Sudah saya perbaiki bab tiga-nya sesuai instruksi Bapak, minggu lalu."
Baskara menatap Nirmala dengan pandangan meremehkan yang sangat familier, lalu menarik napas panjang, sebuah gestur yang selalu sukses membuat Nirmala menciut seketika.
"Memperbaiki, kamu bilang?" Baskara mengambil pulpen bermerek mahal miliknya, lalu mengetuk-ngetuk draf skripsi Nirmala dengan ketukan yang konstan dan menyebalkan.
"Analisis sesar mendatar yang kamu buat di peta ini sama sekali tidak logis. Kamu meletakkan garis patahan tanpa ada data kekar gerus yang valid. Kamu pikir bumi ini bisa bergeser sesuai imajinasimu, Nirmala?" sahut Baskara tanpa perasaan. Pria itu bersandar pada kursi kebesarannya, menatap Nirmala lurus-lurus.
"Kamu mau menjadi perawan tua yang membusuk di laboratorium, karena skripsimu tidak kunjung lulus, hm?"
Kalimat tajam itu menjadi pukulan terakhir yang menghancurkan sisa-sisa kesabaran Nirmala. Kemarahannya mendidih, di balik dadanya yang sesak. Nirmala menggigit bibir bawahnya. Setengah mati ia menahan air mata yang mulai mendesak di pelupuk matanya.
"Baik, Pak. Saya akan revisi lagi secepatnya," bisik Nirmala, menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan matanya yang mulai memerah.
"Harus. Dan ingat, saya tidak menerima alasan kompas macet, hujan badai, atau laptopmu mendadak rusak. Jika draf berikutnya masih sekotor ini, jangan harap saya mau menandatangani draf proposal pemetaan geologimu untuk KKL dua bulan lagi."
Nirmala merasakan ulu hatinya berdenyut nyeri. Ancaman pembatalan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) adalah lonceng kematian bagi mahasiswi tingkat akhir jurusan Teknik Geologi.
"Baik, Pak. Terima kasih atas... masukannya yang sangat… membangun," kata Nirmala, memberikan penekanan penuh sarkasme pada kata 'membangun'.
Nirmala memeluk draf skripsinya yang penuh coretan merah itu erat-erat di d**a, berbalik badan, dan melangkah keluar dari ruangan ber-AC dingin tersebut dengan sisa harga diri yang compang-camping. Setiap ketukan sepatu flat shoes-nya di sepanjang jalan keluar, seolah menyuarakan dendam kesumat yang membara.
Saat pintu kayu ruangan Baskara tertutup di belakangnya, Nirmala mengembuskan napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya di dinding koridor kampus yang sepi. Air mata kedukaan yang coba ia tahan sejak tadi hampir saja luruh, namun Nirmala cepat-cepat mengedipkan matanya.
Tidak, dia menolak menangis karena setan berdasi kaku itu... Air matanya terlalu berharga untuk keluar demi pria yang bahkan tidak tahu cara tersenyum!
Nirmala meraba ponsel di saku celananya. Kehidupan dewasanya sebagai mahasiswi mungkin berada di titik kritis, namun ia masih memiliki satu dunia rahasia di mana dialah penguasa mutlaknya.
Dunia di balik layar ponsel dan laptopnya: sebuah akun penulis anonim novel dewasa di sebuah platform online yang diam-diam cukup sukses.
Awalnya ia menulis hanya untuk melepas penat dari tekanan kampus, namun kini, aktivitas itu bertransformasi menjadi satu-satunya pelarian finansial setelah ia dipaksa mandiri secara mendadak akibat kepergian orang tuanya.
Nirmala tersenyum miring. Sebuah ide nakal, liar, dan penuh dendam mendadak melintasi benaknya saat ia melangkah meninggalkan koridor fakultas.
Tunggu saja, Pak Baskara yang terhormat, batin Nirmala bergolak jenaka. Malam ini, aku akan menulis bab paling panas di novelku.. Dan akan aku pastikan, karakter "Baskoro" di sini, kubuat memohon-mohon tak berdaya di bawah kendali pria lain!!
Mari kita lihat, apakah anda bisa merevisi imajinasi liarku di sana!
.........................