Bab 19. Rukyah Adalah Jalan Syari Untuk Melawan Mantra Jahat

1259 Words
Hari semakin siang, hasil pemeriksaan yang ditunggu akhirnya keluar. Aku dan Radit melihatnya dengan seksama, juga menyimak penjelasan dokter. Ternyata tidak ada penyakit yang serius denganku, aku hanya sedang batuk biasa. Namun, batuk yang kurasa sungguh sangat menyiksa hingga bernafas pun sudah semakin sulit. “Dokter yakin?” tanya Radit. “Iya, Pak. Kami sudah melakukan pemeriksaan. Dan pasien ini dalam keadaan sehat-sehat saja. Semoga obat yang saya resepkan akan bisa membantu menyembuhkan batuknya,” lanjut Dokter. Aku dengan putus asa berjalan mengekori Radit menuju apotik Rumah Sakit. Aku semakin yakin kalau sakit ini adalah ulah Kak Rina. “Dhea, duduk aja dulu. Biar aku yang ambil obatnya,” ujar Radit. Aku duduk di kursi tunggu, mencoba untuk menahan batukku. Namun, tetap tak bisa ditahan. Aku menjadi tidak nyaman dengan orang-orang di sekitarku karena batuk yang terus datang ini. “Udah selesai nebus obatnya, semoga setelah minum ini atas izin Allah sakit kamu bisa segera sembuh,” ucap Radit. “Iya, Dit. Aamiin. Kita bisa pulang sekarang?” “Iya, ayo.” Aku berjalan cepat menuju tempat parkir, langsung masuk ke mobil Radit saat pintunya telah dibuka. Air mataku akhirnya keluar, rasanya panik telah tak tertahan lagi. “Dhea?” Radit menatapku dengan tatapan khawatirnya. “Dit, aku yakin ini semua karena aku makan roti buatan Kak Rina. Aku yakin, Dit!” “Astaghfirullah, Dhea. Kenapa kamu bisa mikir gitu?” “Kamu dengar kan apa kata dokter? Aku gak kena penyakit apa-apa, tapi batuk aku parah nyiksa banget kayak gini, Dit. Padahal aku juga gak makan pedas!” “Hemm. Tapi waktu itu aku juga makan roti yang sama, dan aku gak kenapa kenapa, Dhea.” “Itu pasti karena kamu bukan sasarannya, Dit!” Batuk kembali datang, bercampur isak air mata. Rasanya aku bahkan tak mampu lagi bernafas lama. Hingga akhirnya aku tak bisa menahan rasa ingin muntah, dan muntah itu pun ternyata berupa darah hitam pekat. “Ya Allah, Dhea!” Sekilas aku menatap raut wajah kaget Radit, lalu aku merasa lemas tak berdaya melihat darah yang menggumpal di telapak tanganku. .... Kutatap langit-langit, ada cahaya lampu yang membuat terang sekali dinding-dinding berwarna putih. Aku pun mulai tersadar, bahwa aku sedang di kamar inap rumah sakit. “Kamu udah bangun, Dhea?” Radit memegangi keningku. Tangannya terasa sangat hangat di keningku. “Aku kenapa, Dit?” “Kamu tadi pingsan, jadi sekalian aja aku minta kamu dirawat inap dulu di sini. Gak apa-apa kan?” Aku mencoba untuk duduk, mengangkat kepala yang terasa pusing dan berat. Radit cukup peka, dia sigap menaikkan bantal untuk aku bisa bersandar. “Dhea. Minum ini dulu.” Radit menjulurkan segelas air putih untukku. Aku langsung meminumnya, terasa sekali tenggorokan ini telah kering juga perih. Sebentar saja air itu pun habis tak tersisa. “Itu air yang sudah aku bacakan doa, semoga Allah mengangkat sakit kamu, ya. Kamu yang sabar, Dhea,” ucap Radit. “Iya, makasih, Dit.” Akhirnya aku pasrah untuk menjadi pasien dulu sekarang, entah akan sampai berapa lama. Setelah minum obat dari dokter dan meminum air yang diberikan Radit, rasanya aku sedikit mendingan. “Aku sudah telepon Ibu, tapi aku gak suruh ibu ke sini. Mungkin nanti adik-adik kamu yang akan datang,” ujar Radit. “Iya, Dit.” “Kamu istirahat aja, tidur. Aku ada di sini kok.” Aku berharap bisa kembali tidur, setidaknya bisa istirahat sebentar dari batuk yang menyebalkan ini. Namun, aku teringat pada darah yang tadi kumuntahkan. Rasanya semakin naik tensi emosiku pada Kak Rina. Aku semakin yakin ini adalah ulahnya. Seiring mataku terpejam, sayup kudengar suara Radit sedang membaca Al-quran. Semoga kali ini Radit bisa membantuku untuk sembuh, seperti saat itu dia mengobati gangguan pada kakiku. ... Aku terbangun dari tidur yang terasa begitu nyenyak, entah telah berapa lama aku tertidur. Radit kulihat tengah berbaring di sofa, matanya terpejam dalam lelap. Kuambil gawai yang ternyata tertindih di saku celanaku, ada banyak panggilan terlewat dari Ibu dan beberapa pesan dari Devie. [Kak, aku tadi ke sana lihat kakak lagi tidur. Jadi sekarang aku nunggu di lobi rumah sakit aja. Males cium bau obat.] k****a pesan dari Devie. [Udah bangun, Kak? Aku ke sana.] Pesan baru pun masuk, sepertinya Devie tau aku sudah online. [Gak usah, Dev. Radit lagi tidur, entar kebangun,] balasku cepat. [Lah. Oke deh.] Balas Devie lagi. Aku merasa lebih baik sekarang, baru sehari merasa sakit. Rasanya sudah seperti penyakit lama yang kambuh dan menyiksa bertahun-tahun. “Dhea? Kamu udah bangun?” Radit terbangun lalu menghampiriku. “Aku baru bangun, Dit.” “Udah merasa baikan?” “Lumayan.” “Alhamdulillah. Semoga penyembuhan dengan cara ruqyah bisa menyembuhkan kamu atas izin Allah.” “Kamu ruqyah aku?” “Iya. Alhamdulillah reaksinya gak parah. Kalau memang itu pulih, pasti kejahatannya akan berbalik sama yang ngirim.” “Makasih ya, Dit.” “Eum, maafin aku ya, Dhea. Aku harusnya selalu percaya sama kamu.” “Kamu selalu lakuin yang terbaik buat aku Dit. Aku gak tahu seandainya gak ada kamu.” “Hemm. Kalau begitu sekarang kamu mau pulang atau di sini dulu?” “Boleh pulang?” “Boleh, kalau kamu merasa udah agak baikan. Kita bisa berobat jalan di rumah.” “Oke, kalau gitu kita pulang aja.” Radit menuntunku menuju mobilnya, ketika administrasi telah selesai. Devie yang ternyata masih di lobi juga akhirnya ikut pulang bersama kami. Batukku masih kadang muncul, untungnya tidak terlalu parah. Radit memintaku untuk salat dan berdoa, agar semua hal buruk yang menimpaku bisa pergi. “Sebenarnya, kakak sakit apa sih?” tanya Devie. “Batuk biasa aja, Dev,” jawabku. “Tapi kok kayaknya parah banget, Kak Radit bilang sampai muntah darah.” “Iya. Tapi sekarang udah mendingan kok.” “Pasti kakak makan pedes terus nih di tempat dinas, makanya bisa batuk-batuk gitu.” “Sok tau.” “Kakak kan gitu, kalau lagi jauh dari Ibu pasti makannya sembarangan.” “Ey, kalau kakak makan sembarangan, gak akan body goal gini bentuknya.” “What? Body goal? Dih. Narsis.” “Iri? Bilang anak buah.” “Dih. Alay.” Aku bersandar di bahu Devie, sampai akhirnya kami tiba di rumah. Ibu menyambutku dengan penuh rasa khawatir. Karena kurang asupan makanan, aku pun memilih untuk memasang infus sendiri dan beristirahat di kamar. Radit sempat terkejut melihatku memasang infus sendiri, dengan sedikit bantuan dari Devie. Nyatanya aku sudah cukup pro untuk bisa melakukan itu. “Maaf, ya, Dit. Kita jadi gak bisa ke KUA hari ini,” ucapku. “Gak masalah, tunggu sampai kamu benar-benar sehat dulu,” sahut Radit. “Kamu udah gak sabar kan?” “Hemm? Gak sabar apa?” “Pengen nikahin aku.” “Hemmm. Mulai deh.” “Udah sana, lebih baik sekarang kamu pulang, Dit. Istirahat.” “Kamu juga ya?” “Iya, Dit.” Radit akhirnya pamit pulang, meski sebenarnya aku merasa lebih aman ketika Radit berada di sisiku. Menjelang malam, aku segera minum obat dari dokter. Juga meminum lagi air putih yang sudah didoakan oleh Radit. Radit menyimpan air itu di botol, dan aku merasa semakin sehat setelah meminumnya. Aku jadi penasaran bagaimana kabar Kak Rina. Kalau dia yang mengirimkan, pasti semua racun itu kembali padanya. Seperti saat dia mengirimku teluh yang membuat kakiku lumpuh, dia gagal dan semua sakit itu menyerang kakinya sendiri. Sebenarnya aku tidak ingin membenci Kak Rina. Cintanya yang salah lah, yang membuatnya tega melakukan hal seperti ini padaku. Pesona Radit memang mampu memikat siapa saja, dari dedek gemes, sampai yang sudah bersuami. Wajar saja aku harus berusaha keras untuk menjaga keutuhan cinta kami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD