Ketika kita menganggap hidup adalah sebuah perjalanan, maka jadilah seorang musafir yang baik. Dan ketika kita menganggap hidup adalah serupa permainan, maka jadi lah pemain yang baik. Lakukan semua sebaik mungkin, walau dalam pengupayaannya kadang terjadi sebuah kesalahan.
Kesalahan disebut kesalahan, karena salah. Sesuatu yang salah mungkin sudah berbuah nilai yang jelek, akan tetapi kita masih bisa memperbaikinya dan membuatnya bernilai yang baik di kemudian hari.
Kupanaskan motor sebelum menempuh perjalanan jauh hari ini, begitu pun Radit. Rumah juga sudah kami kemas dengan banyak penutup agar tidak terlalu kotor saat kami tinggalkan nanti.
Melihat tas besar di depan rumahku, tetangga datang menanyai kami. Langsung saja kami ceritakan rencana kami untuk menuju ke pelaminan .
“Wah, gak nyangka. Kirain masih mau pacaran aja, Mbak Bidan,” kata Mak Anas.
“Iya, Mak. Lagian selama ini kita gak pacaran kok,” jawabku.
“Oh, gak pacaran?”
“Iya, Cuma emang kemarin udah lamaran.”
“Oh, gitu. Jangan lupa undangannya lho.”
“Iya, insya Allah. Nanti kalau udah pasti waktunya, pasti aku kabarin kok Mak."
“Semoga lancar ya Mbak Bidan.”
“Aamiin. Makasih, Mak.”
Cahaya matahari mulai terasa hangat, Radit memasangkan helm untukku juga memeriksa kendaraanku. Seandainya sudah halal, tentu kami tak perlu menggunakan motor sendiri-sendiri lagi.
Ketika semua sudah siap, tiba-tiba ada Kak Rina yang datang menghampiri kami. Raut wajahnya terlihat sedih, akan tetapi masih memaksakan untuk tersenyum agar terlihat baik-baik saja.
“Kalian mau ke kota?” tanyanya.
“Iya, Kak. Sekalian ya, kita mau pamit. Nanti kalau Kakak bisa, datang ya ke acara pernikahan kami,” jawab Radit.
“Iya, Kak. Harus datang,” sahutku.
“Insya Allah, Bidan. Emm, saya tadi mau ngasih ini buat sarapan.”
Rupanya Kak Rina membuat roti isi, masih hangat dan sepertinya lezat. Radit langsung mengambilnya, akan tetapi kami gantung saja di gantungan motor.
“Tadi udah sarapan, Kak. Biar nanti buat di makan di jalan,” kata Radit.
“Iya, Pak guru.”
“Makasih, ya, Kak.”
“Sama-sama, Bidan. Semoga selamat sampai tujuan.”
“Aamiin. Kalau begitu kami pergi dulu, Kak.”
“Iya, Bidan. Hati-hati.”
Aku dan Radit pun melajukan motor dengan pelan, perlahan meninggalkan rumah dinas kami. Kak Rina masih berdiri di belakang, masih melihat pada kami dengan perasaan yang entah. Mungkin dia patah hati, aku sangat mengerti bagaimana perasaan itu. Itu pun kalau memang benar Kak Rina telah jatuh hati pada Radit.
...
Jalanan begitu tenang, tidak banyak yang hilir mudik karena memang bukan saat-saat liburan. Radit tak mengajakku bicara di jalan, fokus saja mengemudi sampai kami tiba di pemberhentian pertama. Di Kota Kasongan. Sedikit saja lagi tiba di Palangkaraya.
Radit mengajakku makan di warung makan pinggir jalan, tempat yang menjadi langganan singgah kami ketika bepergian. Di Kalimantan, tetap harus jeli memilih tempat makan. Jangan sampai salah pilih ke warung yang menyediakan makanan non halal.
Radit hanya memesan teh hangat lalu membuka bungkusan roti dari Kak Rina. Melihat Radit yang memakan kue itu dengan tenang, aku pun ikut mencoba memakannya.
“Makan aja kali, jangan banyak mikir,” kata Radit.
“Namanya juga waspada, Dit,” sahutku.
“Insya Allah gak apa-apa, kalau kita positif thingking.”
“Gak semua yang kita pikir positif, akan selalu berbuah positif.”
“Iya, deh. Terserah Bidan Dhea saja.”
Akhirnya kami hanya membeli teh hangat lalu makan roti. Tidak ada selera untuk makan nasi. Kami kemudian berhenti di mushola pinggir jalan untuk salat dzuhur. Sebentar beristirahat meluruskan sendi-sendi yang terasa lelah berkendara jauh.
“Masih mau lanjut?” tanya Radit dengan nyengir kuda padaku.
“Masih, lah. Masa iya aku tinggal di sini,” sahutku.
“Kali aja mau nginep dulu. Aku tinggal aja, gak apa-apa.”
“Dih, tega.”
“Canda, Bidan.”
Terbiasa memakai helm dibantu Radit, akhirnya aku menjadi agak manja. Menunggu Radit memakaikanku helm meski banyak orang yang akan memperhatikan ke uwuan kami.
“Manja banget, sih,” bisik Radit.
“Kamu yang pengen, aku gak pernah nyuruh kan,” sahutku.
“Kan aku sayang,” lirihnya lagi dengan senyuman super manis dan tatapan memesona yang rasanya hampir membuatku ingin pingsan.
“Kamu ganteng banget sih, sumpah,” bisikku.
“Aih. Keluar deh buaya betinanya,” sahut Radit.
Rasanya ingin sekali bisa lebih dekat dengan Radit. Dia memperlakukanku manis walau di depan umum, itu seolah sebuah pembuktian bahwa aku memang istimewa baginya.
Kami pun melaju setelah penat dirasa berkurang, sedikit lagi akan tiba di rumah yang cukup kurindukan. Walau sebenarnya belum lama ini bertemu dengan Ibu di desa.
Semoga saat kutinggalkan, di desa tidak banyak terjadi persalinan darurat. Aku menyerahkan semua pada Bidan lain di puskesmas. Mereka mengatakan agar aku fokus saja pada acara pernikahanku. Dan tentunya tidak lupa untuk mengundang mereka.
...
Rumah Ibu tidak banyak berubah, masih ada rindang pohon mangga di depan rumah. Tanaman bunga terlihat makin banyak, begitu asri seperti pemiliknya yang penyabar dan sangat menjaga lingkungan.
Radit mengantarku sampai ke rumah, Ibu begitu senang menyambut kami. Bahkan sudah ada banyak makanan yang telah dimasaknya spesial untuk kami.
Kedua adikku juga ada di rumah, sibuk dengan gawai mereka, walau alasannya untuk belajar online.
“Dek, kamar aku udah dibersihin kan?” tanyaku pada Devie dan Fitri.
“Udah, Kak. Lagian biasanya juga gak bersih kan,” lirik Devie. Lalu mereka pun tertawa mengejekku.
“Enak aja, kalau aku gak bersihan orangnya, gak akan jadi Bidan!” solotku.
“Iyakah?” lanjut Fitri.
Radit tersenyum saja menyaksikan kehebohan kami, aku langsung pergi mandi dan berganti pakaian. Sementara Ibu melayani Radit dengan baik, menyiapkan es jeruk yang segar di ruang tamu.
Hari telah perlahan menuju sore, aku mengajak Radit ke meja makan. Sementara menu makan sudah ditata rapi oleh Devie dan Fitri. Kami pun duduk dan makan bersama.
Ibu sangat pandai memasak olahan yang bersantan, berbumbu berat. Seperti ayam masak merah, opor. Sedangkan Devie dan Fitri, tentu jadi asisten saja di dapur. Devie lebih pandai membuat cemilan dari tepung, sementara Fitri si Bungsu masih jadi Cuma bisa makan doang, persis sepertiku.
“Enak banget masakannya, Bu,” puji Radit.
“Alhamdulillah, kamu suka, Nak?” Sahut Ibu.
“Suka banget, Bu,” ucap Radit.
Devie dan Fitri terlihat canggung setelah kukenalkan pada Radit, dari sikap mereka terlihat jelas bahwa mereka juga mengakui Radit itu memesona. Mereka langsung menggodaku, berkata bahwa aku beruntung sekali bisa membuat Radit jatuh hati.
“Kak Radit, boleh nanya gak?” tanya Devie pada Radit.
“Boleh, dong. Kenapa Devie?” jawab Radit.
“Eum, apa sih, yang bikin Kak Radit suka sama Kak Dhea?”
Radit tersenyum, terlihat sedang berpikir untuk memberi jawaban yang tepat. Aku juga masih tak menyangka, apa yang membuat Radit menyukaiku.
“Eum, sebenarnya ... Cinta itu gak butuh alasan. Tapi, tentu kita melihat sesuatu yang menarik kan sampai kita jatuh hati dan meyakinkan diri? Sebelum kenal dan lihat langsung, aku udah mendengar tentang Dhea dari Andin, sahabatnya. Dia seseorang yang baik, mandiri, pemberani, itu sih yang bikin aku tambah jatuh hati,” jawab Radit. Merangkai kalimatnya dengan sangat hati-hati.
“Eum, gitu doang? Kalau soal fisik?” lanjut Fitri.
“Aku gak terlalu mentingin fisik sih, walau emang Dhea itu cantik banget. Cantik, cuek, suka deh pokoknya,” ucap Radit.
Aku mencoba tak salah tingkah, membiarkan Devie dan Fitri tersenyum nyengir dan terus memancing untuk menggodaku. Walau aku anak pertama, hubungan kami sudah seperti teman satu usia. Walau untuk suatu urusan yang serius, aku tetap tegas dan mereka tetap menyeganiku.
“Kak Dhea itu gak pernah pacaran, Kak. Bahkan temen cowok aja jarang. Jadi Kakak pasti gak akan nyesel deh, udah milih Kak Dhea.” Kali ini Devie memujiku.
Dua adikku itu masih duduk di bangku sekolah. Devie masih sekolah di Madrasah Aliyah, sedangkan Fitri di Madrasah Tsanawiyah. Mereka punya cita-cita yang sama, kelak ingin menjadi seorang guru. Aku dan Ibu sangat mengupayakan untuk membiayai sekolah mereka, mereka juga belajar keras agar bisa mendapatkan beasiswa. Kepergian Ayah, membuat kami membiasakan diri untuk hidup mandiri.
“Masya Allah. Aku akan selalu merasa beruntung, bisa dipersatukan dengan Dhea,” ucap Radit.
Ibu terlihat senang dengan perlakuan Radit terhadapku. Bagi Ibu, kebahagiaan anak-anaknya adalah hal utama. Baginya, suatu kelegaan besar saat bisa melihatku menikah dengan seseorang yang tepat.
Selesai makan dan mengobrol, Radit pamit untuk pulang ke rumah keluarganya. Meski terlihat ceria tanpa beban, aku tahu Radit sedang dilanda lelah yang sama denganku.
...
Aku meninggalkan Devie dan Fitri yang sibuk membersihkan bekas makanan dan mencuci piring. Rasanya sudah sangat rindu pada kamar lamaku. Kata Ibu, Fitri yang sering tidur di kamarku saat aku tidak ada.
Letak lemari dan semua benda milikku, semua masih rapi dan bersih tanpa ada yang di rubah posisinya. Aku langsung berbaring di tempat tidur, rasanya sangat nyaman. Rindu sekali pada saat-saat seperti ini. Bersantai tanpa harus memikirkan tugas.
Baru saja akan terlelap, suara adzan terdengar dari speaker masjid yang tak jauh dari rumah. Rasanya malas untuk meninggalkan tempat tidur dan pergi berwudhu, akan tetapi Ibu sudah masuk ke kamarku dan kembali mengingatkanku untuk salat.
Kami pun berjamaah di rumah. Ibu yang menjadi imam tetap, karena kami bertiga merasa belum ingin berada di posisi penting itu. Lagi pula, bacaan Ibu lebih fasih dari kami.
Selepas salat aku kembali ke kamar, diikuti Fitri yang ikut berbaring di tempat tidurku. Tiba-tiba saja tenggorokanku terasa gatal. Tak kuasa aku menahan batuk, hingga akhirnya Ibu datang membawakanku teh madu hangat.
“Kamu pasti kecapek’an. Minum tehnya dulu, terus tidur,” kata ibu.
“Iya, Bu.” Sahutku.
Batukku hanya lega sebentar, makin lama rasanya makin gatal dan tak tertahan batuknya. Fitri yang semula ingin tidur denganku pun akhirnya menyerah dan pindah ke kamar Devie.
Ibu kembali datang ke kamarku, membawakan obat batuk andalannya. Aku pun menelan obat itu, bahkan kutambahkan obat tidur. Cukup menyakitkan dan butuh waktu, sampai akhirnya aku tak merasakan apa-apa lagi.
...
Kukira, batukku akan reda. Nyatanya saat bangun setelah efek obat habis, batukku masih terasa menyiksa. Meski banyak minum, aku masih merasa tenggorokanku kering.
“Kamu makan apa, sih, Dhea. Perasaan masakan Ibu biasa aja, bahkan kita gak makan sambel,” ujar Ibu. Ibu mulai merasa khawatir padaku. Sejak semalam dia menjadi ikut terganggu karena mengurusku.
“Gak tahu, Bu. Dhea gak makan yang macam-macam kok,” sahutku.
Lama aku mencoba mengingat, apa saja yang aku makan sampai akhirnya menyiksa tenggorokan seperti ini. Aku memang biasanya akan langsung batuk-batuk setelah makan pedas. Namun, seingatku terakhir makan pedas itu saat makan sambal cumi asin buatan Radit.
Lalu aku teringat pada roti yang aku dan Radit makan saat istirahat di Kasongan. Roti pemberian Kak Rina. Ya ampun! Apa mungkin karena aku memakan roti buatan Kak Rina. Bisa saja Kak Rina telah mencampur roti itu dengan minyak pulih.
[Dhea, hari ini kita ke KUA. Mendaftarkan rencana akad nikah kita.] Satu pesan masuk dari Radit.
[Aku lagi batuk-batuk, Dit. Tenggorokan aku sakit parah.] Balasku. Dengan menambahkan emoticon berwajah penuh air mata.
[Subhanallah. Kalau gitu aku antar kamu ke dokter ya?]
[Boleh, deh. Cepat ya.]
Aku mengganti pakaian dan memakai kerudung. Tak lupa memakai masker untuk menutupi cipratan dari batukku. Kalau hanya batuk aku masih bisa tahan, akan tetapi sekarang ditambah dengan tenggorakan panas dan sakit.
“Kamu ke rumah sakit sama Radit?” tanya Ibu
.
“Iya, Bu. Harus periksa dengan dokter biar tahu batuknya kenapa, terus dapat obat yang tepat,” jawabku.
“Kalau gitu hati-hati, ya.”
Ternyata Radit datang menjemputku dengan mengendarai mobil milik Bang Satria, tentu memang akan lebih terasa nyaman dengan mobil.
“Subhanallah, batuknya baru kan Dhea?” tanya Radit.
“Iya, Dit. Baru dari semalam, tapi rasanya sakit banget,” jawabku. Rasanya ingin menangis dan tenggelam dalam pelukan Radit.
“Iya, keliatan kayak udah lama. Kamu keliatan langsung kurus pucet gitu, lho,” lanjut Radit.
“Seriusan, Dit?” ucapan Radit membuatku makin panik.
“Iya. Batuk kamu ampek gitu, lho.”
Radit melajukan mobilnya dengan cukup cepat, raut wajahnya menunjukkan rasa khawatir yang sangat. Di rumah sakit, dengan sigap Radit mengurusku hingga langsung menemui dokter.
Dokter langsung memeriksaku, bahkan langsung meminta sempel dahak. Kami harus menunggu cukup lama untuk menunggu hasilnya.
Aku menyembunyikan dulu kecurigaanku pada Kak Rina dari Radit. Radit pasti akan bilang kslau aku berpikir negatif terus pada Kak Rina. Bila dokter menunjukkan keganjalan pada hasil cek kesehatanku., Aku akan langsung menceritakannya pada Radit.
“Udah, jangan khawatir. Semoga nanti habis minum obat dari dokter, langsung hilang sakitnya,” kata Radit menghiburku.
Aku yang duduk di sampingnya langsung menyandarkan kepalaku di bahu Radit. Bersama batuk yang masih saja mengganggu. Aku takut, mengapa semua harus terjadi menjelang hari bahagia kami?
Apa Kak Rina masih dendam, masih tak bisa merelakan Radit yang telah memilihku ketimbang dia. Mengapa Kak Rina tega padaku, sedang aku tak pernah mengganggunya. Bahkan, meski benar dia makhluk jadi-jadian, aku tak akan berusaha untuk memusnahkannya. Semoga ini semua hanya kecurigaanku saja. Aku tak ingin semua ini benar-benar terjadi, dan menghabisiku.