Setiap yang bernyawa, pasti akan merasakan mati. Berita duka terdengar hari ini, dari rumah yang tak jauh dari kediamanku. Sungguh mengejutkan, Mak Eva si penjual jamu keliling, telah menghadap Sang Pencipta.
Seseorang dengan gaya hidup sehat, belum tentu dapat hidup tanpa penyakit dan berumur panjang. Apa lagi yang tidak menjaga kesehatannya. Mak Eva selalu terlihat bugar, beberapa kali aku juga sempat membeli dan merasakan jamu buatannya. Jamu yang terkenal alami dan begitu terasa di tubuh khasiatnya.
Dari yang kudengar saat datang melayat, Mak Eva meninggal karena batuk darah. Mak Eva hanya tinggal bersama seorang anaknya yang belum lama menikah, masih terbilang muda untuk menutup usia. Namun, maut memang bisa datang kapan saja. Tak mengenal siapa, di mana dan berapa usianya. Setiap ada kematian, saat itu aku selalu mengingatkan diriku sendiri, bahwa kelak aku juga pasti akan merasakan yang sama.
Rahma tiba-tiba membulatkan mata ketika dilihatnya Kak Rina datang membawa sekantung beras di plastik hitam. Entah mengapa Rahma seperti menahan amarahnya pada Kak Rina. Sedang Kak Rina terlihat ikut menangis saat duduk melihat jenazah.
Hingga proses pemakaman, semua terlihat baik-baik saja. Namun, ketika pulang dari pemakaman. Tiba-tiba Rahma terlihat mencegat langkah Kak Rina. Kali ini bukan hanya aku, akan tetapi semua yang pergi melayat juga menyaksikan.
“Puas kamu Rina!” jerit Rahma menarik kasar kerudung hitam Kak Rina.
“Kamu kenapa Rahma?” tanya Kak Rina.
“Gara-gara kamu ibu aku meninggal, jangan pura-pura lugu kamu!”
“Maksud kamu apa, Rahma?”
“Kamu ngirim pulih kan ke Ibu aku! Kamu pikir aku gak tahu? Ibu aku langsung batuk-batuk itu setelah dari rumah kamu!”
“Jangan sembarang nuduh kamu, Rahma! Mana mungkin aku berbuat seperti itu!”
“Halah! Sok suci kamu! Lihat saja nanti, akan ada karmanya buat kamu!”
Rahma dibawa pulang dengan paksa oleh suaminya. Sementara Kak Rina juga terlihat gelagapan, lalu pulang ke rumahnya sembari menangis. Aku dan warga yang lain pun sukses dibuat bingung dan penasaran.
Sesampai di rumah, aku memikirkan tuduhan Rahma pada Kak Rina. Kak Rina benar memiliki minyak pulih, akan tetapi mengapa Kak Rina melakukan itu pada tetangga yang sangat baik padanya. Bahkan mereka sering mencari bahan untuk jamu bersama.
“Assalamualaikum.”
Ucapan salam Radit membuyarkan lamunanku, sepertinya dia juga baru pulang melayat. Kujawab salamnya lalu kami berdua duduk di serambi rumahku. Cidera Radit sudah sembuh, aku bersyukur Radit telah bisa berjalan dengan normal lagi.
“Dit, tadi kamu lihat gak pas Rahma ngomel sama Kak Rina?” tanyaku pada Radit.
“Ehm, yang di jalan tadi?”
“Iya, Dit.”
“Lihat sih, tapi gak begitu jelas masalahnya apa.”
“Rahma nuduh Kak Rina yang sudah mencelakakan Mak Eva, Dit.”
“Ohya? Kok bisa?”
“Gak tahu. Katanya abis dari rumah Kak Rina, Mak Eva tiba-tiba langsung batuk-batuk.”
“Ehm, gitu?”
“Iya. Aku juga jadi ngerasa curiga. Tapi kenapa ya, kalau Kak Rina ngelakuin itu ke Mak Eva?”
“Hemm. Kebiasaan. Kamu selalu mudah curiga tanpa bukti. Udah ah, gak usah ngomongin orang.”
“Dih. Kan aku mencari tahu faktanya, Dit.”
“Tapi tetap saja. Kalau benar jadi ghibah, kalau gak benar jadi fitnah.”
“Iya deh, aku diem.”
“Ya, jangan diem juga. Jadi kapan kita pastikan waktu buat pulang ke kota?”
“Ehm, aku ngikut kamu aja.”
“Kalau gitu besok aja. Urusanku juga sudah kelar di sekolah.”
“Besok? Oke. Aku juga sudah selesai segala perizinan sama atasan.”
“Sip. Insya Allah besok kita berangkat.”
“Naik motor masing-masing?”
“Iya. Emang kamu mau naik taxi?”
“Enggak, aku males naik taxi.”
"Kenapa?"
"Suka mabok darat, apa lagi kalau supirnya ngerokok. Bisa tercemar paru-paru aku."
“Hemm, Ya sudah, besok kita naik motor masing-masing dulu berangkatnya.”
“iya.”
Radit pulang ke rumahnya setelah kami mengobrol rencana pergi besok. Rasanya sudah tak sabar untuk bertemu dengan Ibu lagi, lalu kami akan sama-sama merasakan repotnya persiapan untuk akad pernikahan.
...
Suasana malam setelah ada yang baru meninggal, rasanya selalu bikin agak kurang nyaman. Apa lagi kalau rumah duka tak jauh dari rumah. Akan tetapi, mengapa harus takut? Yang meninggal bukanlah orang jahat. Jadi kemungkinan besar jin qorinnya tidak akan suka mengganggu.
Aku kadang heran, untuk apa sebenarnya menyimpan minyak sejenis minyak pulih. Apa lagi kalau minyak itu tidak bisa mendatangkan harta kekayaan. Sebenarnya bisa kalau memang diperjual belikan seperti racun biasa lainnya. Resikonya tentu juga sama, akan bisa ketahuan dan ditangkap polisi. Hanya saja, untuk minyak pulih itu agak sulit dibuktikan.
Tidak seperti racun sianida yang bisa melumpuhkan korban dalam waktu seketika hingga merenggang nyawa. Minyak pulih biasanya bereaksi lebih lama, sedikit-demi sedikit. Bahkan, sebagian orang bilang kalau racun minyak pulih bisa bereaksi sesuai keinginan si pengirim. Biasanya yang terkena akan batuk darah lalu meninggal.
Entah minyak itu terbuat dari apa, pasti dari sesuatu yang sangat mengerikan. Dulu seeprti pernah kudengar cerita bahwa minyak itu terbuat dari ulat bulu. Ulat bulu yang dibakar, astaga! itu terdengar mengerikan ketika tak disangka akan terkena racunnya. Melihat ulat bulu hidup saja terasa geli dan ngeri, apa lagi kalau sampai masuk ke tenggorokan.
Entah apa kesalahan yang dilakukan Mak Eva, sampai Kak Rina berbuat sejahat itu. Itu pun kalau terbukti benar dia yang melakukan.
Aku gegas merapikan pakaian ke dalam tas, sebenarnya tak perlu bawa banyak karena bajuku juga banyak di kota. Alat medis tetap kubawa, siapa tahu di perlukan di jalan atau nanti di rumah sana. Harapanku semoga semua bisa berjalan lancar.
Bukan yang pertama kalinya aku akan berpergian dari Radit. Bersamanya aku merasa aman dan nyaman. Bahkan aku merasa tak begitu lelah di perjalanan. Setelah sekian lama, aku kembali jatuh hati pada seorang pria. Dan ternyata pria itu juga memiliki rasa yang sama. Alangkah merasa aku sangat beruntung dan akan bahagia selama-lamanya.
Aku menjadi tidak sabar, merasakan cinta kami dipersatukan dalam ikatan yang benar-benar halal dan dalam ridho Allah. Besar kecilnya resepsi, bukan lah hal utama. kebahagiaan sejati adalah saat kami bisa bersama dengan keluarga, tertawa lepas dan saling menjaga satu sama lain. Dalam cinta yang tulus dan saling menerima kekurangan, aku akan sangat bahagia bila semua sesuai dengan apa yang aku bayangkan. Seiring larutnya malam, doa-doa pun aku aamiin kan.