Bab 6. Malam Yang Menegangkan

1810 Words
Bab 6. Malam yang Menegangkan Setelah melakukan kunjungan bayi baru lahir di sore hari, tak diduga hujan turun dengan lebatnya. Membasahi tanah desa yang telah beberapa hari ini mengering. Seperti pembalasan dari hari yang panas terik, sekarang diserbu dengan hujan bersama angin yang dingin menembus kulit. Hingga adzan maghrib sayup terdengar dari kejauhan, hujan belum juga reda. Hal yang aku khawatirkan saat hujan lebat disertai angin kencang seperti ini adalah pemadaman listrik tiba-tiba. Setelah memastikan semua pintu dan jendela telah terkunci rapat, aku berdiam diri di kamar dan melaksanakan salat. Tak lama, yang aku khawatirkan pun terjadi. Lampu mati, kutengok jendela, semua telah gelap gulita. Hanya rumah Radit yang bercahaya karena dia memasang lampu akik otomatis yang akan menyala saat lampu mati. Aku segera meringkuk di atas tempat tidur, hanya bermodalkan cahaya lampu senter dari ponsel. Setokan lilin hanya tersisa satu di lemari, kudiamkan saja sampai nanti waktunya buang hajat ke toilet. Berada di dalam gelap, lebih-lebih saat hujan deras. Rasanya sangat menyiksa dan menyesakkan nafas. Semua akan berbeda kalau saja aku tak sendirian di rumah. Beginilah nasib tinggal sendirian. Kubuka aplikasi membaca Al-quran. Lalu k****a beberapa ayat, tak lupa membaca ayat kursi. Setidaknya untuk menenangkan diri. Berharap hujan segera berhenti dan listrik cepat menyala lagi. [Bidan Dhea, kamu di rumah?] Pesan masuk dari nomer yang belum kusimpan. Dari fotonya, itu adalah motor merah yang sama persis dengan motor milik Radit. [Radit, ya?] balasku. [Iya. Ini aku. Kamu di rumah? Rumah kamu keliatan gelap banget.] balas Radit lagi. Sepertinya dia stand bye di laman pesan denganku. Aku langsung menyimpan nomernya terlebih dahulu di aplikasi chat hijau yang kami pakai. [Iya, Dit. Aku di rumah. Cuma pakek senter hape sama lilin satu.] balasku. [Ya Allah. Emang berani gelap-gelap gitu?] [Asal kamu jangan nakut-nakutin aja.] Kusertakan emot wajah judes di akhir pesan. [Itu apa putih-putih di depan rumah kamu, Dhea?] [Tuh, kan. Mulai deh nakut-nakutin.] [Beneran. Oh, kayaknya helm kamu deh, lupa kamu taruh dalem.] [Oiya, helm. Aku lupa.] Aku benar-benar lupa menaruh helm di dalam rumah, biar lah. Mana ada yang mau menembus hujan hanya untuk mencuri helm, apa lagi di desa seperti ini. [Mau aku pinjemin senter?] kirim Radit lagi. [Gak usah lah.] balasku. [Takutnya listrik bakal lama baru nyala.] [Ya, gak apa. Hape aku banyak kok baterainya.] [Yaudah kalau gitu.] Pesan terakhir Radit hanya k****a, kurasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Melihat dari pesannya, kurasa Radit memberi perhatiannya padaku. Harusnya ini menjadi sedikit penenang. Ada yang mengawasi dan menjagaku dari kejauhan. Lama sekali aku menunggu kantuk agar mata lekas terpejam, akan tetapi rasanya sulit sekali untuk tertidur. Hujan telah mulai reda, menyisakan gerimis. Listrik belum juga menyala, jarum jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kupejamkan mata, akan tetapi kutajamkan pendengaran. Rasanya tidak bisa tidur dengan tenang. Lalu tiba-tiba terdengar suara ketukan di jendela kamarku. Tuk ... Tuk ... Tuk. Dadaku berdebar kencang, akan tetapi kucoba tahan dulu untuk bereaksi. Sampai akhirnya suara ketukan itu terdengar lagi. Tuk ... Tuk ... Tuk. Dari dalam selimut kuhubungi nomor Radit, lama sekali menunggunya untuk mengangkat telepon. Radit tak memberi tanggapan. Mungkin dia sudah tidur. Sial! Sreeeeetttt ...! Apa lagi itu? Sreeettt ...! Terdengar suara jemari yang tengah menggores dinding kamarku. Suaranya terdengar makin dekat dengan dinding tempatku berbaring. Sedikit lagi saja aku hampir berteriak, tiba-tiba terdengar suara kaki berlarian. Suara kaki yang lebih dari satu orang, seperti saling mengejar hingga ke belakang rumahku. Aku bangkit dari tempat tidur dan mengintip dari jendela, kulihat pintu rumah Radit terbuka. Listrik juga tiba-tiba menyala, membuat debaran yang tadi begitu terasa mulai mereda. Aku menunggu di depan pintu rumah, bersiap membukanya bila Radit terlihat kembali. Tak lama, Radit yang menggunakan jas hujan terlihat kepayahan duduk di depan rumahku. Di tangannya membawa sebuah balok, pemukul bola bisbol. “Radit?” aku membuka pintu rumah dan mendekatinya. “Kamu terbangun, ya?” Radit menatapku dengan wajah yang masih terlihat cemas. “Ada apa, Radit? Apa ada yang mau gangguin aku tadi?” tanyaku. “Kayaknya itu orang kelainan, atau mabuk. Aku perhatikan dia terus dari jendela rumahku, kebetulan aku belum tidur. Habis itu aku kejar tadi, dia lari jauh ke belakang sana, aku kehilangan jejak.” “Serius? Kamu lihat mukanya?” “Aku gak lihat mukanya, kan gelap. Kebetulan dia pakai kaos warna putih, jadi keliatan badannya.” “Ya Allah, udah lama aku di sini. Tapi belum pernah begini sebelumnya.” “Gak tahu ya. Bisa jadi orang iseng mau nakutin, tapi tetap harus waspada.” “Makasih, ya, Radit.” “Iya. Sekarang tidur lagi aja sana. Aku akan berjaga kok di sini.” “Kamu berjaga di sini?” “Iya, di depan rumah kamu. Supaya kamu bisa tenang tidurnya.” “Jangan, lah. Di luar sini kan dingin.” “Ya Ampun Dhea. Nurut aja lah, aku kan cowok.” “Serius mau jaga di sini?” “Iya. Masuk sana, kunci aja pintunya. Kalau udah berasa aman aku juga bakal balik ke rumahku kok.” “Ya udah kalau gitu, makasih ya, Dit. Sekali lagi.” “Iya.” Aku kembali masuk ke dalam rumah, lalu mengunci pintu. Radit kembali duduk di tempatnya, tanpa ditemani apa pun. Aku tahu, dia bahkan tidak merokok. Aku segera kembali meringkuk di atas tempat tidur, merafalkan doa berharap tak terulang kejadian yang sama. Mengingat ada Radit yang sedang berjaga, hatiku pun menjadi lebih tenang. Kalau saja tadi Radit tak mengawasi rumahku, mungkin sesuatu yang buruk telah terjadi. Namun, siapa yang dengan berani menggangguku seperti tadi! .... Tidur larut malam membuatku hampir saja melewatkan salat subuh. Setelah salat, aku memeriksa sekitar rumah. Benar saja, ada banyak bekas kaki di samping rumah hingga belakang rumah. Di belakang rumahku adalah perkebunan warga, tembus langsung ke ladang yang hanya akan ramai saat musim bertanam dan panen tiba. Kuperhatikan rumah Radit, pintunya belum terbuka. Lampunya juga masih menyala. Sepertinya dia kelelahan dan mungkin tidur lagi setelah salat subuh. Kupakai kerudung lalu kudatangi rumah Kak Rina, Kak Rina terkejut melihatku ke rumahnya pagi-pagi sekali. Bagiku Kak Rina sudah seperti keluarga, aku merasa perlu untuk mengadukan hal yang terjadi semalam padanya. “yang benar, Bidan? Ya ampun, kok, bisa ya?” Kak Rina terlihat kaget setelah mendengar ceritaku. Suaminya yang ikut menyimak sambil menyiapkan pancingan juga ikut berpikir siapa yang berani menggangguku. “Memangnya, di daerah sini ada yang rumahnya pernah digituin juga, Kak?” tanyaku pada Kak Rina. Lalu Kak Rina seperti mencoba mengingat sesuatu, lalu saling bertatapan dengan suaminya. Mereka seperti telah mengingat satu hal yang sama dalam pikiran mereka. “Pernah, Bidan. Kalau gak salah di rumah yang sekarang ditempati Pak Guru Radit. Dulu ada guru perempuan yang tinggal di sana, tapi ya gitu, Cuma diteror-teror. Guru itu langsung teriak minta tolong warga. Warga sini sih, curiganya sama satu orang, tapi ya, memang orangnya agak kurang waras.” “Kurang waras?” “Iya. Dia gak menetap tinggalnya. Sekarang juga sudah lama gak terlihat di kampung sini. Oiya, kemarin saya sempat lihat di warung, dia beli rokok. Jangan-jangan dia itu,” ungkap Kak Rina. “Apa dia punya keluarga, Kak?” “Ada, Bidan. Tapi ya gitu, gak terlalu dipedulikan.” “Saya takut, Kak. Gimana kalau dia datang lagi?” “Bidan tenang dulu. Biar nanti saya coba cari tahu,” sambung Suami Kak Rina. Aku bergidik ngeri, ketika tahu kemungkinan orang yang menggangguku semalam adalah orang tidak waras. Apa saja bisa mereka lakukan, dan mungkin aku tidak bisa menduga sebelumnya. Ini membuatku ingin segera pindah saja dari rumah dinas. Setelah puas curhat dengan Kak Rina, aku kembali ke rumah. Aku menahan langkah sebentar saat Pak Radit yang tengah memanaskan motor tertangkap oleh retinaku. Dia yang menyadari sedang kupandangi, langsung menoleh dan tersenyum. Aku tersenyum tipis saja lalu masuk ke rumah. Sekarang rasanya serba was-was. Pergi ke kamar mandi dan ke dapur saja aku merasa khawatir. Aku takut orang-orang aneh akan datang dan melakukan hal brutal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Segera aku beberes penampilan, meraih tas kerja dan mengunci rumah. Tak kubiarkan satu selat pun untuk orang aneh masuk selama aku tidak di rumah. Tak peduli sarapan pagi, aku melajukan motor menuju rumah pasien yang masih harus mendapatkan kunjungan rutin. “Bayi kembar saya sudah lancar menyusunya, Bidan. ASI saya melimpah,” ucap pasien dengan wajah sumringah ketika aku akan memandikan bayi kembarnya. “Syukur alhamdulillah kalau begitu. Perhatikan kebersihannya setiap menyusui, supaya bayinya tetap sehat,” jawabku. “Iya, Bidan. Apa pusatnya sudah lepas?” “Belum, baru juga dua hari ini. Biasanya akan lebih dari empat hari.” “Suami saya sudah gak sabar mau pergi kerja, cari uang buat tasmiyahan nanti.” “Eumm, ya, sabar aja dulu. Sekalian biar ada yang bantuin ngurus bayinya di rumah.” “Iya, Bidan. Kata saya juga gitu. Ini juga syukur karena dibantuin Ibu saya ngurusnya.” Salah satu kebiasaan pasca persalinan adalah, bapak bayi tidak boleh bekerja selama tali pusat bayi belum lepas. Banyak yang bilang itu akan memberi dampak buruk pada bayi. Meski agak tidak masuk akal, aku mendukung hal itu. Agar ibu bayi memiliki cukup bantuan dan perhatian dari suaminya di rumah. Setidaknya bapak bayi bisa membantu untuk menggendong ibu baru bersalin ke kamar mandi. Juga membantu merawat bayi bila rewel dan terpaksa begadang. Kasih sayang dari orang yang dicintai, sangat membantu dalam pemulihan Ibu pasca bersalin. Usai kunjungan, aku tak langsung pulang. Kuputuskan untuk pergi ke rumah seorang teman yang bekerja di balai desa. Berharap aku dapat bantuannya untuk berjaga di sekitar rumahku. Dia pun memberi respond dan mencoba menenangkanku. Katanya mereka akan berjaga mulai malam ini di sekitar rumahku. Setidaknya itu bisa membuatku merasa lebih tenang. Meski otak dapat mengelak dari memikirkan makanan, keroncongan di perutku tetap tak bisa disembunyikan. Kuputuskan untuk pergi ke warung soto, tak disangka aku bertemu dengan Radit lagi di sana. “Dhea? Duduk.” Radit mempersilahkanku duduk berhadapan, semeja dengannya. “Udah makan?” tanyaku. “Aku juga baru nyampek, baru jam istirahat,” jawab Radit. Aku memesan seporsi soto dan es teh pada pemilik warung. Rasanya aku akan makan banyak kali ini, aroma sotonya sungguh menggoda. Radit juga memesan menu yang sama. “Bisa tidur kan, semalam?” tanya Radit. “Alhamdulillah, bisa. Itu juga karena ada kamu,” jawabku. “Karena Allah, Dhea. Aku emang dari dulu gak bisa tidur nyenyak kalau lagi mati lampu. Gak tahu kenapa. Makanya aku pakai lampu akik.” “Gimana kalau orang itu datang lagi?” “Ya, bikinin kopi.” “Dih.” “Aku akan berjaga kok, tenang aja.” Tak lama, pesanan soto kami pun tiba di meja. Sudah lama aku tidak makan di warung, dan sekarang berduaan dengan Pak Radit. Orang-orang yang melihat mungkin akan berpikir bahwa kami memiliki hubungan khusus. Radit makan dengan lahap, tidak terlihat seperti jaga imej di hadapanku. Apa adanya dia saja sudah terlihat sempurna. Beruntung sekali kalau bisa dicintai lelaki seperti dia. Namun, apa mungkin aku punya harapan untuk itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD