Bab 5. Ambulans
Mengapa ambulans umumnya dibuat dengan warna putih? Kenapa tidak dengan warna pink sekaligus dengan motif bunga, agar tidak menakutkan. Ah, memangnya bus sekolah anak-anak!
Ambulans dibuat dengan warna putih agar mudah terlihat di malam hari. Seharusnya lampu sirine juga sudah cukup membuatnya sangat jelas terlihat kapan saja.
Lalu mengapa tulisan ambulans ditulis dengan terbalik? Ya, itu agar mudah terlihat oleh kendaraan yang ada di depan ambulans. Saat ambulans lewat, kendaraan yang lain harus segera menepi dan membiarkan ambulans lewat tanpa hambatan. Seperti kendaraan emergency lainnya. Karena memang yang paling penting adalah menyelamatkan nyawa.
Ambulans membuat takut karena sering membawa orang-orang yang terluka parah, juga kadang membawa jenazah. Itu sebabnya banyak yang takut saat ambulans lewat. Bahkan kadang tak hanya lewat, dari ambulans juga bisa tercium aroma busuk yang menyengat.
Pekerjaanku sebagai tenaga medis, tentu harus dekat dengan ambulans. Aku bersyukur karena tak harus menjadi supir ambulans, itu tetap menakutkan juga kalau dipikirkan.
Namun, ada juga ambulans yang dibuat khusus dengan tenaga yang lebih canggih. Mereka menyebutnya mobil monster. Ya, karena sangat besar dan bisa melalui kondisi jalanan seperti apa pun. Saat banjir, mobil ambulans itu tetap bisa melaluinya. Perlu ratusan juta untuk membelinya, dan negeri kita mungkin belum mampu untuk berpikir membelinya.
Aku dan Bidan Hana mengantar pasien dengan bayi kembar ke rumah mereka, cukup memakan waktu hingga kami bertemu dengan senja. Seperti soulmate, sudah cukup banyak persalinan yang aku lakukan bersama Bidan Hana.
Setelah memastikan semua telah normal, aku memutuskan untuk segera pulang. Melepas rasa penat di rumah. Tempat ternyaman setelah melakukan banyak kegiatan.
Ketika adzan maghrib berkumandang, aku menuju pintu untuk menutupnya. Lalu netraku menangkap sosok tampan yang berjalan dengan surban terbelit di leher. Radit, tetangga baruku itu sepertinya akan pergi salat berjamaah ke Masjid. Benar-benar pria idaman. Saat akan kututup pintu, saat itu juga dia menoleh. Wajahnya bersih, tanpa jerawat yang menutupi. Glowing sekali sebagai laki-laki.
....
Bada maghrib, aku duduk iseng di serambi rumah. Tidak ada yang dilihat selain gawai dan jalan setapak yang sepi. Lalu tiba-tiba kulihat Kak Rina dan dua anaknya, tak biasanya mereka menggunakan kerudung
.
“Bidan, lagi nyantai ya?” sapa Kak Rina seperti biasanya.
“Mau ke mana nih? Rapi banget,” sahutku.
“Mau ke rumah Pak Guru Radit, Bidan.”
“Ohya, ngapain?”
“Mau ngantar anak-anak ngaji.”
Sebenarnya rumah kami saling berdekatan, Kak Rina tidak perlu mengantar anak-anaknya. Mungkin dia datang sekalian untuk belajar juga.
“Oh, gitu. Pak Radit buka les ngaji?”
“Cuma anak-anak dekat sini, tiap abis maghrib kecuali malam jumat.”
“Oh, gitu. Yaudah sana silahkan.”
“Dari pada duduk di sini sendirian, mending ikut kita, Bidan Dhea.”
“Eum, saya lagi malas nih, Kak. Capek. Kakak aja duluan.”
“Ya sudah kalau gitu, Kak.”
Kak Rina dan anak-anaknya lalu menuju rumah Radit, tak lama beberapa anak lain juga kulihat lewat dan datang ke sana.
Rumah itu terlihat estetik di malam hari, dengan lampu orange yang menyorot di serambi rumah, tepat di depan pintu. Tak lama mulai terdengar lantunan merdu ayat-ayat suci, juga suara terbata-bata anak-anak yang baru belajar iqro.
Aku bisa mengaji, akan tetapi seolah tersita semua waktu untuk kesibukan dunia. Aku bahkan tak punya Al-quran di dalam rumah tugas, setiap ingin membaca aku hanya membuka aplikasi baca Al-quran di ponsel.
Tentu saja berbeda antara membaca kitab fisik langsung dengan hanya dari aplikasi. Namun, itu pun jarang kulakukan. Seolah aku telah terbiasa untuk lalai dan mungkin hati juga telah semakin menghitam.
Ya, hitam. Bukan kah ketika seorang muslim lalai setiap harinya, noda hitam di hati akan semakin menebal. Meskipun aku merasa telah berbuat banyak kebaikan, rasanya itu tak berarti apa-apa karena kelalaianku pada hak Tuhan.
Adzan isya telah siap berkumandang ketika aku kembali masuk ke rumah. Duduk sendirian di beranda rumah sambil mendengarkan suara anak-anak mengaji, rasanya cukup untuk mengurangi rasa sepi di kampung ini.
Langkah-langkah ramai terdengar lewat jalan setapak, beiringan dengan suara tawa mereka. Anak-anak dan juga Kak Rina yang telah selesai dari belajar mengaji di rumah Radit.
Kupakai mukena, lalu kuhanyutkan diriku dalam nuansa ibadah. Setiap orang akan mendapatkan satu saat di mana dia merasa ingin sekali berubah. Ada yang benar berubah, ada yang sebentar ingat lalu kembali melupa. Aku ingin bersungguh-sungguh mulai sekarang. Rasanya malu sekali, usia bertambah akan tetapi ibadah begitu-begitu saja.
...
Bantalku terasa masih sembab, ulah air mata penyesalan semalam. Sayup terdengar lantunan kumandang adzan subuh. Kutengok jarum jam, biasanya aku akan melihat jam lalu menarik selimutku dan tidur lagi.
Namun, tidak boleh kali ini. Aku harus bangun dan membuang semua kotoran di tubuh. Bersiap melanjutkan beribadah seperti janjiku semalam ingin berubah menjadi muslimah yang lebih baik.
Dua rakaat sebelum salat subuh pun kulakukan, aku ingin tahu bagaimana rasanya mendapatkan dunia dan seisinya. Ya, itu lah ganjaran bila mendirikan salat sunnah dua rakaat sebelum subuh. Mungkin Radit telah melakukannya tanpa lupa selama ini, hingga rasanya bidadari surga selalu merindukannya. Tak pantas seseorang seperti diriku berharap untuk menjadi pendamping lelaki soleh seperti dia.
“Subuh ... Subuh ....”
Suara Radit terdengar dari depan rumah, kupikir hanya halusinasi.
“Subuh ... subuh ....”
Ternyata benar itu Radit, aku menemukannya sedang lewat di jalan setapak depan rumah. Ini Subuh pertamanya di kampung sini. Alangkah menyenangkan bila dia melakukan ini setiap malam. Kututup lagi tirai jendela, lalu kembali berdiri mencoba khusyuk untuk bermunajat di waktu subuh yang begitu dingin.
Sialnya! Penampakan Radit tadi malah membuatku kehilangan konsentrasi dan akhirnya jadi senyum-senyum sendiri. Dunia ini benar-benar menyebalkan. Saat kau ingin menjadi seseorang yang benar, itu tak semudah seperti membalikkan telapak tangan.
...
Ketika pagi menjelang, kurasakan sinar cahaya pagi yang membuka semangat baru. Kukeluarkan motor dari garasi kecil samping rumah, lalu membersihkannya sebentar dengan lap basah. Motor metic yang selama ini telah menjadi sahabat perjalananku, butuh setahun setengah sampai dia benar-benar dinobatkan menjadi hak milik atas namaku.
“Pagi-pagi udah bersihin motor, yang ngebersihin udah mandi belom?” Radit dengan pakaian trainee datang menyapaku. Dahinya sedikit basah dengan bulir-bulir keringat yang masih berusaha jatuh.
“Udah dong,” sahutku. Aku hanya menatapnya sebentar lalu kembali fokus mengelap kaca spion motor.
“Udah olahraga?” tanya Radit lagi.
“Eum, udah.”
“Kapan?”
“Lah, ini juga olahraga.”
“Bersihin motor doang?”
“Setiap orang punya cara berbeda, kan?”
“Aih. Iya in aja deh.”
Radit kemudian berlalu pergi, berlari-lari mengitari jalan setapak lalu tak lama kulihat dia pulang ke rumahnya. Kupikir dia akan langsung mandi, ternyata dia pergi untuk mengambil air dan menyirami satu persatu tanamannya. Mungkin ini pemandangan rutin yang akan kutemukan setiap pagi. Dan ini, jujur saja sangat menyenangkan. Karena dia memiliki paras dan akhlak yang good looking.
Kuganti pakaian dengan seragam putih hitam, tak lupa menggunakan hijab yang sebelumnya masih lepas pasang. Kupatutkan diri di depan cermin, lalu menyambar tas alat medis yang selalu stand bye di atas meja ruang tamu. Hari ini kunjungan pertama untuk bayi kembar yang baru lahir kemarin, Kak Hana menyerahkan tugas ini padaku.
Saat kunyalakan motor, kulihat motor lain yang berwarna merah nyala tengah melaju di jalan setapak depan rumah. Radit ternyata juga lebih cepat dalam bersiap. Dengan pakaian seragam khas guru, dia pasti akan menuju SMP. Kali ini dia tak menoleh padaku. Tak seperti aku yang sepertinya selalu menyempatkan untuk menoleh padanya.
Kulajukan motor melalui jalan setapak. Menikmati berbagai aroma dari rumah-rumah yang kulewati. Kak Rina pagi-pagi sekali sudah membakar sampah di depan rumahnya, sedang suaminya sedang membenahi jala ikan. Kulengkungkan senyum setiap kali melewati warga desa yang juga menoleh padaku.
Setibanya di rumah pasien. Kulihat bapak bayi sedang menggali tanah di depan rumah, tepatnya di bawah tangga rumah. Ketika kutanya sedang apa, katanya sedang menggali untuk mengubur ari-ari. Kulihat ada wadah ari-ari yang terbuat dari anyaman bambu, juga berbagai pernak pernik tahayul yang masih jadi kepercayaan warga kampung.
Dua bayi kembar itu masih tidur ketika aku datang ke kamar mereka. Sedangkan sang Ibu pagi-pagi sudah selesai mandi dan sedang akan makan pagi. Ada seorang Ibu paruh baya yang sepertinya membantu pekerjaan mereka di rumah. Senang sekali melihat ibu baru lahir yang terlihat sudah segar bersemangat tanpa beban karena mengurus bayi.
“Rewel gak, Kak, tadi malam?” tanyaku.
“Enggak, Bidan. Cuma bangun buat menyusu,” jawab Ibu Bayi.
“Dikasih ASI aja, kan?”
“Gak, Bidan. Asinya belum terlalu keluar.”
“Oh, gitu. Sambil dilatih terus aja, ya. Seenggaknya masih ada ASI yang masuk. Banyakin makan sayur. Sayur tongkol itu, bagus untuk melancarkan ASI.”
“Sayur tongkol pisang bidan? Gak bikin s**u keruh ya?” sambung Ibu paruh baya dari luar kamar.
“Enggak, Ibu. Sayur tongkol itu kaya akan vitamin yang bisa melancarkan ASI. Toh, emang gak ada pantangan kok, makan sayur apa saja.”
“Oh, gitu, ya, Bidan.”
“Iya, Bu.”
Setelah air hangat telah disiapkan, aku mulai memandikan satu persatu bayi kembar. Untung lah mereka tidak rewel. Tugasku hanya memastikan bayi sehat, lalu membalut tali pusat dengan kain kasa. Beruntung sudah jarang pasien yang berinisiatif sendiri mengobati tali pusat bayi dengan rempah atau bahan-bahan aneh. Sudah jarang terjadi pelaporan adanya infeksi tali pusat yang menyebabkan kematian bayi.
“Kamu dulu juga gitu. Pusernya dikasih kunyit sama garam biar cepat kering, nenekmu yang ngurusin.” Teringat apa kata Ibuku dulu. Tentang pengalamannya mengurusku saat bayi.
Sejatinya memang tidak semua kebiasaan lama itu berbahaya bagi bayi. Hanya saja, memang tak jarang ada bayi tak beruntung yang mengalami infeksi karena kecerobohan orang tuanya. Ada yang melakukan perawatan pada pusar bayi dengan cara yang tak seharusnya. Seperti dengan menggosokkan daun nangka, menggosokkan pasta gigi. Tak jarang itu menyebabkan infeksi, lalu membuat bayi harus meregang nyawa.
“Dari pada mengambil resiko, lebih baik kita ikuti apa kata yang sudah ahlinya.” jawabku pada Ibu. Dulu sekali saat aku ikut membantu perawatan bayi baru yang masih tetangga kami.
Setelah melakukan kunjungan bayi, aku segera meninggalkan rumah pasien. Kulihat Bapak Bayi Kembar telah selesai mengubur ari-ari. Dia juga membuat pagar yang mengililingi kuburan ari-ari. Sejatinya itu memang untuk menghindari dari digali oleh hewan liar.
Ada banyak mitos juga tentang penguburan ari-ari. Banyak yang bilang, kalau ingin anak pintar, kuburkan ari-ari bersama dengan buku yasin dan pulpen. Lalu agar hidupnya terang, jangan lupa tambahkan lampu. Memang tidak masuk akal, akan tetapi tak sedikit yang masih melakukannya sampai sekarang.
“Jangan terburu-buru mengatakan sesuatu itu tahayul,” kata Ibu.
Ketika dulu kami sering terlibat diskusi setelah makan-makan.
“Apanya, Bu?” tanyaku.
“Itu, yang ngasih lampu di kuburan ari-ari,” jawab Ibu.
“Lah, emang kenyataannya gitu.”
“Dikasih lampu itu biar orang-orang yang lewat tahu, kalau di rumah itu ada bayi. Supaya mereka gak berisik,” jelas Ibu.
“Itu penjelasan yang masuk akal, Bu. Tapi memang banyak yang bilang gitu juga. Ngasi lampu biar terang pikirannya, jalan pikirannya.”
“Ya itu Cuma pikiran orang bodoh.”
“Ya makanya.”
Apa yang dikatakan Ibu memang benar, akan tetapi tak semua bisa dibuka pikiran realistisnya. Apa lagi dengan miskinnya ilmu Tauhid, akan mudah seseorang ditipu tahayul dan terjerumus pada kesyirikan.
Usai kunjungan, aku melaju ke warung sayur. Membeli bahan masakan untuk menu makan hari ini. Walau sebenarnya jomlo sepertiku tak harus repot-repot. Mengingat banyaknya penjual masakan jadi di kampung ini. Namun, aku kembali ingat pesan Ibu untuk lebih irit dan membiasakan diri masak di rumah. Setidaknya latihan sebelum menikah.