Bab 4. Penampakan

1969 Words
‘Keguguran itu, rasanya lebih sakit dari melahirkan.’ Sering kali kudengar pendapat seperti itu dari orang-orang yang sudah pernah mengalami. “Tapi kenapa banyak Ibu yang kuat menggugurkan anak-anak mereka? Bahkan di toilet umum, di toilet sekolah.” Dulu sempat kutanyakan itu pada Ibu. Sudah lama sekali, sebelum aku lulus kuliah dan sekarang tinggal tak menetap karena tugas. “Itu kasus berbeda, Dea. Mereka itu lebih takut malu, lebih takut ketahuan hamil tidak sah. Itu sebabnya jadi lebih berani dan tidak merasakan sakit lagi,” jawab Ibu. “Gitu, ya,” lirihku. “Ya, Naudzubillah. Jangan sampai terjadi pada kita dan keturunan kita,” lanjut Ibu dengan penekanan tegas. Pasien keguguran yang kami tangani, perlu beberapa jam untuk pemulihan di Puskesmas dan akhirnya bisa dibawa pulang. Adik dari pasien terlihat berusaha menenangkan Kakaknya yang masih dalam duka karena kehilangan anak pertama. Dokter kandungan di puskesmas mengatakan, Pasien memiliki kelainan lemah kandungan. Harus benar-benar menjaga diri ketika sedang hamil. .... Aku kembali ke rumah dini hari, lalu sadar ada yang berbeda. Darah-darah yang semula berceceran di lantai, kini tak terlihat lagi. Bahkan di kamar periksa juga sudah tidak terlihat darah. Hanya tersisa noda di sprei putih ranjang pasien. Aku merasa mulai merinding, mengingat lagi soal hantuwen yang menyebalkan itu. Kuambil sprei dan merendamnya di bak cuci baju, juga kuambil kain pel dengan tambahan pewangi untuk membersihkan lantai rumah. Rasanya sangat melelahkan, ditambah lagi kurang tidur. Rasanya aku akan pingsan setelah ini. Semprotan air terasa menyegarkan saat menimpa tubuhku, kubasahi kepala yang rasanya sudah sangat berat untuk diangkat. Sering kali, aku merasa ingin istirahat dari pekerjaanku saat ini lalu pergi liburan ke tempat yang jauh. Namun, nyatanya aku tidak bisa meninggalkan tanggung jawab begitu saja. Aku selalu rindu mendengar detak jantung bayi di perut buncit ibu hamil. Aku juga selalu merasa rindu dengan sensasi lega ketika berhasil mengeluarkan bayi dari rahim ibunya dan mendengar tangisan bayi yang baru lahir. Aku mencintai pekerjaanku. Tok ... Tok ... Tok. Suara ketukan pintu membuatku harus buru-buru membilas rambut. Kuraih handuk dan mengintip dari dinding pembatas, siapa yang barusan mengetuk pintu. “Bidan ....” Dari suaranya aku sudah hafal, itu Kak Rina. “Ya, sebentar.” aku menyahut nyaring dari dalam lalu berjalan menuju pintu. Setelah pintu kubuka, kulihat Kak Rina membawa seekor ikan Jelawat berukuran besar. Beratnya pasti lebih dari sekilo. “Bidan, mau beli ikan?” tanya Kak Rina. “Besar sekali ikannya, Kak. Kalau dibagi kecil-kecil mungkin saya bisa beli,” jawabku. “Beli seekor ini saja Bidan. Saya sudah capek tawarkan ke orang-orang.” Aku melihat lagi ikan itu, ikan yang katanya paling enak dan khas Kalimantan. Harganya lumayan mahal hingga harus membuatku berpikir lama, sekilonya saja tujuh puluh ribu. “Sudah ditimbang, Kak?” “Sudah. Cuma dua kilo tiga ons, Bidan.” “Yang benar saja, Kak. Saya kan Cuma tinggal sendirian, masa beli semua.” “Bidan bagi lah sama teman-teman Bidan.” “Yasudah, tunggu sebentar saya ambil uangnya.” Kak Rina terlihat senang karena ikannya telah laku, sedangkan aku jadi bingung ikan sebesar itu mau diolah menjadi apa. Kuputuskan untuk menghubungi Bidan Hana, berniat membagi ikan itu dengannya. “Makasih, ya, Bidan Dea. Eh, Bidan Dea kayaknya kecapekan, ya?” lanjut Kak Rina. “Iya, Kak. Pegel semua rasanya,” jawabku. “Mau saya pijatin?” “Kakak bisa pijat?” “Bisa dikit-dikit, Bidan.” “Kalau gitu boleh deh, nanti agak siangan ke sini, ya?” “Baik, Bidan.” Kak Rina berlalu pergi, aku segera mengganti pakaian dan bersiap mengolah ikan. Ikan Jelawat bersisik rapat, sisiknya juga besar-besar, agak susah dibersihkan. Aku tak menyangka akan menghabiskan lebih dari seratus ribu hanya untuk seekor ikan hari ini. “Halo, Kak. Mau ikan gak?” aku menghubungi Bidan Hana. “Ikan apa, Dea?” Suara Bidan Hana terdengar agak ngegas diseberang telepon, sepertinya aku telah mengganggu waktu istirahatnya. “Ikan Jelawat, Kak. Besar ni, kalau mau ambil ke sini.” “Duh, malas lah aku. Capek.” “Jangan gitu lah, Kak.” “Yasudah nanti sorean aku ke sana, ya.” “Iya sudah, Kak. Aku taruh di kulkas aja dulu.” “Iya.” Aku mematikan telepon lalu meletakkan ikan yang sudah bersih ke dalam kulkas. Biar lah nanti kupikirkan lagi akan memasaknya menjadi menu apa. .. Bada dzuhur, Kak Rina membawa seseorang datang ke rumahku. Janjinya untuk memijat tak bisa dia tepati karena tangannya yang tiba-tiba terluka saat memasak. Gantinya adalah Mak Erni, salah satu tukang pijat yang hanya sesekali kulihat di jalan, juga saat pekan pengobatan Lansia di posyandu. “Gak apa-apa kan, Bidan?” kata Kak Rina terlihat tak enak. “Gak apa-apa, justru lebih bagus kalau ada ahlinya,” kataku. Kak Rina pamit pulang setelah mengantar Mak Erni. Tersisalah aku dan Mak Erni di rumah, kusediakan body lotion dan minyak zaitun untuk pemijatan. Aroma bunga dari lotion membuatku perlahan merasakan sensasi rileks, apa lagi saat jemari paruh baya Mak Erni yang terasa lembut memulai pijatannya di punggungku. “Mak masih kuat ya, mijetnya,” kataku, mencoba memulai obrolan. “Ya, kuatnya segini ini, kalau badan gede ya gak kuat, Nak,” jawab Mak Erni. “Hemmm.” “Oiya, Bidan Dhea. Pagi tadi saya kan ke rumah yang orang keguguran itu. Katanya dia ada lihat hantuwen di sini, benar kah Bidan?” “Katanya sih, gitu, Mak. Saya sih gak lihat.” “Duh, ngeri, ya.” “Ya ngeri, Mak. Emak pernah lihat hantuwen gak?” “Gak pernah, Bidan. Cuma sering denger ceritanya aja.” “Apa aja ceritanya, Mak?” “Ya, gitu lah. Dulu pernah katanya, orang tua dulu, waktu masak sambal terasi di panggangan. Tiba-tiba ada yang menetes dari atas tempat manggang itu. Pas dilihat ternyata ada hantuen di atas tempat naro kayu, air liurnya netes.” “Hah? Serius. Ah, masa sih, Mak?” “Ya gak tahu, namanya juga cerita, Bidan.” Antara ingin takut dan merasa geli. Jadi Hantuwen bisa ngiler juga melihat makanan manusia. Kan dia makan darah manusia. Ada-ada saja. “Ada juga orang dulu itu, waktu buka kandang ayam, lihat ada hantuen di kandang. Hantuwennya kesiangan, jadi gak bisa keluar.” “Haha. Jadi hantuwen takut matahari ya?” “Bukan takut matahari, Cuma takut terbang siang-siang, entar ada yang lihat terus ditangkap.” “Oh, gitu. Iya, ya.” Pijatan Mak Erni membuat rasa kantukku perlahan datang, rasanya ingin terlelap. Kupejamkan mata lalu perlahan suara Mak Erni yang sedang bercerita pun sayup terdengar. ... “Nak, sudah, ya?” suara Mak Erni membangunkanku. Aku menggeliatkan tubuh, terasa lupa bahwa baru saja selesai dipijat. Terlalu nyaman sampai aku ketiduran. Mak Erni mencuci tangannya di dapur, lalu kulihat dia duduk di serambi rumah bersama perlengkapan menginangnya. “Seger banget,” gumamku. Kucuci muka, lalu memasang daster legend ternyamanku. Kuambil selembar uang lima puluh ribu dan membawanya ke hadapan Mak Erni. “Ini, Mak. Terima kasih, ya.” “Sama-sama, Nak. Gimana rasanya habis dipijat?” “Enak, Mak. Berasa kurang capeknya.” “Alhamdulillah. Lain kali panggil aja lagi kalau mau dipijat.” “Iya, Mak.” Mak Erni mengunyah sirih di mulutnya, lalu perlahan air di mulutnya berubah merah. Ciri khas orang tua, bagi mereka itu sudah seperti rokok yang tak bisa ketinggalan. Tak lama setelah duduk istirahat, Mak Erni pamit pulang. Berganti dengan kedatangan Bidan Hana. Aku pun membagi ikan jelawat yang telah kujanjikan padanya. “Gak ada pasien ke sini, Dhea?” “Gak ada, Kak.” “Masih banyak yang hamil tua, harus selalu siaga kita.” “Iya, Kak.” “Hantuwen di rumah kamu apa kabar?” “apaan sih, Kak. Bosen aku denger cerita hantuwen.” “Haha. Bilang aja takut.” “Ya takut lah, makanya jangan bahas terus.” Bidan Hana segera pergi ketika sadar hari semakin sore. Aku pun berniat untuk menggoreng saja ikan yang kubeli tadi. Ikan gabus sisa kemarin saja masih ada di kulkas, semoga Kak Rina tak datang menawarkan ikan lagi. .... Setelah dua hari, ternyata benar, Radit pindah ke desa yang sama denganku. Yang paling mengejutkan adalah rumah kami bertetangga. Radit membawa barang-barangnya dengan mobil Pick-up. Cukup banyak hingga aku dan Kak Rina memutuskan untuk membantunya bebenah rumah. Radit seorang guru agama yang menyukai buku dan olah raga. Ada banyak buku dengan berbagai genre, memenuhi satu lemari. Entah apa dia membaca semua buku itu. Tak hanya buku, ada juga alat-alat olahraga, dan dia memiliki lemari lain yang khusus untuk itu juga. “Kamu udah kayak pindahan netap aja, Dit. Barang kamu dibawa semua?” tanyaku. “Iya, hampir semua aku bawa. Biar tetap terawat di sini." “Emm, iya ya.” Selesai merapikan isi rumahnya, sekarang ada lagi mobil pick up yang datang membawa pot-pot berisi bunga segar. Radit memang terlalu perfect untuk menjadi seorang pria. “Ini bunga bonsai, koleksi saya,” ucap Radit sembari menata pot-pot bunga di serambi rumah. “Kamu suka bunga?” tanyaku. “Suka, saya suka tanaman. Saya juga punya banyak bibit buah. Biasanya saya jual belikan juga.” “Emm, gitu. Bagus, lah.” Aku merasa insecure melihat bagaimana Radit. Tak menyangka Andin memiliki Adik Ipar seperti itu. Aku suka bunga, tapi tak pernah menanam bunga. Ya, bukan masalah gender, akan tetapi masalahnya rajin atau tidak. “Pak Guru, ini bibit tomat ya?” tanya Kak Rina. “Iya, Kak. Ini tomat cerry. Buahnya kecil-kecil, tapi manis. Saya suka sekali. Kalau bisa mengurus tangkainya, kita gak perlu repot-repot mindahin dari pot.” “Gitu ya, Pak. Apa boleh saya minta satu bibitnya?” “Boleh, Kak. Ambil aja.” “Terima kasih Pak Radit.” “Jangan sungkan, Kak.” Radit bukan hanya tampan, dia juga bisa banyak hal dan sangat berpengatahuan. Entah apa pria seperti itu akan bisa berjodoh denganku yang biasa-biasa saja ini. Kak Rina langsung pulang membawa bibit tomat yang dia minta, meninggalkanku duduk sendirian di serambi rumah Radit sambil memperhatikan Radit mengurus tanamannya. “Lampu rumah kamu udah diperiksa, Dit?” tanyaku. “Belum. Tapi kata yang bersihin rumah, semuanya oke kok,” jawab Radit. “Oh, gitu, bagus deh. Kan gak lucu kalau lampunya tiba-tiba mati.” “Aku udah sediain lampu akik dan senter kok.” Radit bahkan memperhatikan hal-hal kecil, luar biasa. “Kamu berani tinggal sendirian?” “Kamu mau nemenin aku, Dhea?” “Dih.” “Makanya, pakek nanya segala.” Rasanya percuma kalau aku berniat ingin membuat seorang Radit takut dengan cerita horror. Dia itu guru agama, mungkin setan yang akan takut padanya. Kuputuskan untuk pulang ke rumah, berpamitan dengan Radit. Kurasa sudah cukup budi pekertiku pada seorang tetangga baru. Lagi pula kami sama-sama orang pendatang di desa ini. “Bidan ...!” Baru saja akan masuk ke rumah, seseorang memanggilku masih dengan melajukan motornya. “Ada apa, Bang?” tanyaku. “Isteri saya mau melahirkan.” “Oh, yaudah. Tunggu sebentar.” Aku gegas mengambil tas peralatan medis, lalu mengekori motor bapak itu menuju rumahnya. Rumahnya cukup jauh, juga berada di daerah yang sepi di pinggir sungai. Aku segera menghampiri Ibu hamil yang tengah meringis di atas tempat tidurnya, merasakan perut buncit yang sudah semakin mengeras. Kuperiksa tensi darah, Ibu hamil itu tensinya normal. “Sudah bulannya ya, Bu?” tanyaku. “Iya, Bidan. Kemarin USG katanya kembar,” jawab Bumil. “Apa sudah dipikirkan akan lahiran normal atau caesar?” “Saya maunya normal aja, Bidan.” “Kalau begitu saya akan telepon puskesmas untuk bawa ambulance ke sini.” “Saya mau lahiran di rumah aja, Bidan.” “Lebih baik di puskesmas, Bu. Apa lagi ini kembar.” Kali ini aku mengabaikan permintaan pasien, meski aku juga sudah sering menangani persalinan kembar. Kutelepon Bidan Hana dan dia bergegas langsung menuju tempatku bersama ambulance. “Saya takut gak sanggup bayar, Bidan,” ucap Bumil. “Ibu gak pernah turun ke posyandu, ya?” “Jarang bidan.” “Kalau lahir di puskesmas, biayanya gratis, asal segera siapkan surat-surat data dirinya.” “Gitu ya Bidan?” “Iya, Bu. Cepat bapak, siapkan semuanya. Termasuk tas untuk baju ganti Ibu dan bayinya nanti.” “Iya, Bidan.” Sembari menunggu ambulance, aku membantu ibu hamil untuk menyiapkan apa yang harus dibawa ke puskesmas. Melihat ambulance datang, para tetangga pun berdatangan untuk melihat keadaan Ibu hamil. Mereka menyarankan untuk di rumah saja bersalin karena pasien terlihat sudah lemas. Akan tetapi mereka lupa kalau aku lebih mengetahui kondisi pasienku. Hingga tiba di puskesmas, Pasien belum juga akan melahirkan. Tenaganya juga masih kuat hingga tak membutuhkan infus. Setelah menunggu beberapa jam, proses bersalin pun dimulai. Dua bayi kembar lahir dengan selamat, tidak ada kendala apa pun. Ibu yang baru bersalin juga terlihat masih kuat, meski kepayahan karena harus mengejan untuk dua bayi. “Pak, tas perlengkapan bayinya tadi mana?” tanyaku pada suami Pasien. “Oh, iya. Ada di ambulance. Lupa saya Bidan.” “Cepat ambil.” Suami pasien berlari menuju ambulance, lalu selang berapa lama, dia kembali dengan nafas ngos-ngosan dan lari terbirit-b***t. “Bapak kenapa?” tanyaku. “Hih. Merinding aku.” “Merinding kenapa, Pak?” “Di ambulance, ada setan.” “Aduh, bapak salah lihat kali.” “Gak mungkin saya salah lihat. Setannya duduk di pojok kursi ambulan, rambutnya panjang daster putih. Matanya merah.” “Tapi ini masih siang, Pak.” “Terserah bidan kalau gak percaya.” Suami pasien itu terlihat kesal padaku, padahal aku tidak bermaksud mengejek. Sebenarnya sudah banyak yang mengaku melihat hal menyeramkan di ambulan. Menurutku itu hanya imajinasi mereka karena menganggap ambulance kendaraan yang menakutkan. Kalau pun mereka benar melihatnya, ya sudah. Yang penting bukan aku yang lihat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD