Tidak tidur semalaman, membuat tubuhku terasa begitu lelah dan tak bersemangat. Bidan Hana juga merasakan hal yang sama, dia pun memilih untuk beristirahat sebentar di rumahku.
Sepulangnya aku di rumah, Kak Rina dan anak-anaknya tak terlihat lagi, sepertinya mereka telah kembali ke rumah mereka. Kak Rina sudah merapikan tempat tidur, bahkan sepertinya dia mencuci semua perabot kotor di dapurku. Syukurlah, aku jadi bisa langsung mandi dan istirahat.
"Capek banget." Bidan Hana menggeliatkan tubuhnya lalu berbaring di atas tempat tidurku.
"Kakak mau makan? Biar aku belikan dulu," ujarku.
"Gak usah, deh. Aku mau tidur aja," jawabnya.
"Hemm, yaudah."
Kami pun berbaring di atas tempat tidur, tak butuh waktu lama hingga benar-benar terlelap.
...
Kumandang adzan sayup terdengar, kulirik jarum jam dan tersadar matahari sudah meninggi. Meski tidur tidak begitu lama, rasanya sudah ada tenaga baru untuk melanjutkan aktivitas.
"Eumh, udah siang banget, ya? Aku mau pulang, deh." Bidan Hana juga baru terbangun.
"Kenapa gak tidur aja di sini dulu, Kak."
"Entar lagi, lanjut di rumah."
Bidan Hana kemudian mengambil tas perlengkapan medisnya, lalu berlalu pergi dengan motor matic keluaran terbaru yang juga baru dibelinya dua bulan lalu. Tentu dibanding aku, pengalaman dan materi yang Bidan Hana dapatkan sudah jauh lebih banyak.
...
Kuperhatikan tempat air minum di dapur, semua sudah terisi penuh. Heran juga, mengapa Kak Rina minum sangat banyak semalam.
"Bidan Dea ...."
Terdengar suara Kak Rina dari depan rumah, aku gegas menghampirinya. Kak Rina membawa seplastik kecil ikan gabus yang sudah dibersihkan, lalu Kak Rina menjulurkannya padaku sambil tersenyum ramah seperti biasanya.
"Ini, Bidan. Ikan hasil mancing suami saya lumayan banyak, ini saya bagi buat bidan Dhe," katanya.
"Wah, aku beli aja ya, Kak?" Sahutku. Rasanya tidak enak kalau harus menolak pemberian, akan tetapi pasti akan lebih bisa membantu pendapatan Kak Rina kalau aku membeli.
"Jangan, Bidan. Ini dikasih aja," ujar Kak Rina.
"Eum, yasudah kalau gitu. Terima kasih banyak, Kak."
"Iya, Bidan. Sama-sama."
Setelah Kak Rina pergi, aku kembali ke dapur lalu menyiapkan bumbu untuk ikan. Ikan gabus paling simple diolah tentu untuk digoreng saja. Aku jadi teringat pada temanku saat masa kuliah dulu, temanku itu bilang tidak suka pada ikan gabus dan tidak akan memakannya lagi seumur hidup.
"Kenapa?" tanyaku padanya saat itu.
"Aku pernah mau beli ikan gabus di pasar, masih hidup. Ikannya pas mau ditimbang loncat-loncat, sampai satu ekor masuk ke dalam rokku," jelasnya.
"Masuk dalam rok? Kok, bisa?"
"Iya, kan aku duduknya jongkok gitu, pas pakai rok pendek. Aku jadi geli sama ikan gabus, gak mau makan lagi."
Lucu juga kalau dibayangkan. Beberapa orang memang tidak menyukai ikan gabus, dengan berbagai alasan. Ada yang bilang, ikan gabus itu asalnya dari cacing tanah. Ada juga yang tidak memakannya karena mirip seperti ular. Hal yang aku herankan soal ikan gabus adalah susahnya dia mati, bahkan saat isi perutnya sudah dikeluarkan. Ikan gabus kadang masih bisa meloncat walau sudah diletakkan di atas api pemanggangan.
Ikan gabus sudah yang kubumbui, langsung kugoreng saja. Saat menggoreng, tiba-tiba Kak Rina datang lagi, membawakan daun singkong.
"Bidan Dhe, ini daun singkong baru saya petik," katanya. Meletakkan daun singkong di atas meja makan.
"Dikasih lagi, nih, Kak?" tanyaku.
"Iya, ngapain beli kalau cuma daun singkong," jawabnya.
Setelah memberi daun singkong, Kak Rina pamit pulang lagi. Dia benar-benar tetangga yang baik, membuatku tak merasa tinggal sendirian saja di kampung orang ini.
....
Menjelang sore, aku iseng mengendarai motor keliling kampung. Sekedar membiarkan angin segar menabrak wajahku, hal yang aku sukai sejak bisa mengendarai motor sendiri.
Di depan bangunan SMP, kulihat sebuah mobil sedan berwarna hitam tengah terparkir. Lalu seseorang sedang berdiri di samping mobil dengan sibuk memainkan gawainya. Diperhatikan sekilas, pria yang terlihat masih muda itu lumayan tampan juga. Penampilannya rapi menggunakan celana hitam dan kemeja batik, bisa jadi seorang guru.
"Dhea...!"
Suara panggilan seseorang memaksaku menghentikan motor, sumbernya dari warung Acil Leha. Ternyata Si Andin. Kemarin dia tidak mau saat kuajak menginap di rumah, sekarang sedang apa dia di kampung sini.
"Kok ada di sini? Ngapain?" tanyaku.
"Suamiku lagi ada urusan di sini, jadi aku ikut. Rencananya abis ini mau main ke rumah kamu," jawab Andin. Tangannya memegangi kantong besar berisi banyak cemilan.
"Oh, gitu, yaudah yuk, ke rumahku sekarang."
"Iya, yuk. Nanti biar suamiku nyusul."
"Lah, dia di mana?"
"Lagi nganterin sepupunya ke SMP."
"Yaudah buruan naik."
Aku membonceng Andin pulang menuju rumah dinas, bobotnya makin berat saja. Bagaimana tidak makin gemoy kalau tak pernah jauh dari cemilan penuh kalori.
Sesampai di rumahku, Andin langsung menyapu pandangan ke setiap sudut. Dikomentarinya apa saja yang menurutnya kurang, hal biasa ketika kami bersama.
"Oiya, sepupunya suamiku itu, rencananya mau aku jodohin sama kamu, Dhea. Guru agama, lho. Baru mau pindah ngajar di SMP kampung sini," ujar Andin.
"Eum, asal aja mau ngejodohin orang. Emang dia mau sama aku?" jawabku cuek sembari mengaduk teh di gelas.
"Dia orangnya gak pemilih, kok. Asal baik aja, katanya."
"Hemm, auk ah."
"Namanya Raditia Bayu, usianya dua puluh delapan tahun. Gak jauh beda kan sama kamu umurnya, pasti nyambung."
"Jadi penasaran gimana orangnya."
"Abis ini suami aku sama Radit mau nyusul ke sini, kok."
Mendengar orang yang mau dijodohkan Andin akan datang, dadaku tiba-tiba terasa gugup juga. Meski berusaha santai, akan tetapi tetap saja rasanya tidak siap.
"Oiya, gimana cerita soal hantuwen itu? Beneran ada?" tanya Andin.
"Eh, iya. Semalem aku nemu kejadian serem lagi, Ndin!"
Aku segera keluar dari dapur, membawa segelas teh hangat untuk Andin. Lalu duduk mepet dengannya karena akan membuka lagi obrolan menyeramkan.
"Kejadian apa, Dhea?"
"Pas tengah malam kan, ada persalinan dadakan. Aku sama bidan Hana yang nanganin. Pas aku mau masuk ke rumah pasien itu, eh, aku lihat ada cahaya merah nyala gitu di atas rumah pasien. Terus, pas abis lahiran, ada yang bilang kalau dia liat cahaya kayak gitu juga di bawah rumah pasien itu. Hiih, aku ampek merinding nih ceritainnya."
"Serius? Kok, bisa, ya? Gak keliatan gitu ya mukanya?"
"Gak keliatan, kan tinggi."
"Tapi kalau di film keliatan."
"Itu kan film, Andin!"
Andin lalu tertawa, seolah tidak merasakan takut sama sekali. Dia mungkin tidak akan percaya sampai bisa melihatnya sendiri.
"Palingan juga pesawat drone nyasar," lanjut Andin.
"Siapa coba main drone tengah malam begitu?"
"Bisa aja kan, buat nakut-nakutin warga sini."
"Gak, ah. Gak mungkin."
"Serem sih, kalau ada hantuen kayak gitu."
"Banget, lah. Entar kalau tetiba ketemu sama aku gimana? Auto pingsan!"
"Heleh, Dhea. Kamu mah penakut banget dari dulu."
"Emang!"
Sebuah mobil berwarna hitam tiba-tiba berhenti di depan rumah dinasku, dua orang laki-laki keluar dari mobil itu. Ternyata yang kulihat di SMP tadi adalah mobil suami Andin, dan lelaki yang good looking itu adalah sepupu suami Andin yang ingin dia jodohkan denganku.
“Itu mereka udah dateng,” Andin bergegas memperlebar daun pintu yang telah terbuka. Lalu Andin seperti di rumahnya sendiri, mempersilahkan keluarganya itu masuk.
Aku rasanya malu bertemu dengan orang baru, apa lagi tampan rupawan dan tinggi. Raditia melirikku sekilas lalu sibuk lagi melihat gawainya, entah benar sibuk atau mengalihkan perhatian.
“Radit, ini temen kakak yang sempet kakak ceritain. Kenalan, gih,” ujar Andin.
Raditia tersenyum lalu menatapku, aku tentu saja mau tak mau membalas tatapan dan senyumannya.
“Hai, nama aku Raditia Bayu. Sepupunya Bang Satria.”
“Salam kenal, aku Dhea, bidan di sini.”
“Kayaknya kita bakal sering ketemu, aku akan ngajar di SMP sini. Dan katanya bangunan rumah yang akan aku tempati gak jauh dari sini.”
“Oh, ya. Hemm.”
Rasanya aku ingin berdoa, agar Raditia Bayu tinggal tak jauh dari rumahku. Di sekitar rumahku kan ada beberapa rumah kosong. Kudengar dulu sering dijadikan tempat tinggal pendatang.
“Kalian sama-sama jomlo, jadi kakak harap secepatnya kalian bisa saling jatuh cinta,” ujar Andin. Sontak aku tak percaya pada apa yang baru saja dia ucapkan.
“Apaan sih, Andin. Gak jelas banget!” cetusku.
“Lah, kan bener, ya, Bang Satria?” Andin
mengedipkan mata pada suaminya.
“Ya, kalau nanti jodoh, kita bisa apa,” sahut Satria, sama menyebalkan dengan isterinya.
Radit hanya mengulum senyum, lalu melihat ke gawainya saja. Aku pergi ke dapur untuk membuat dua gelas teh lagi, mengingat akan menghidangkannya untuk Radit, aku jadi merasa sedikit gugup.
Kupastikan gelasku bersih dan tidak bau sabun, tutup gelas tidak berdebu, dan semuanya harus terlihat layak untuk diperlihatkan.
“Duh, repot-repot. Kan jadi enak,” kata Satria, memulai lagi banyolannya.
“Diminum, maaf seadanya,” ucapku.
“Oiya, Dhea. Andin ada cerita soal kamu lihat hantuwen. Bener itu?” tanya Satria.
“Ya, gitu, deh. Bukan hal baru juga di daerah sini,” jawabku.
“Kamu gak takut?” tanya Satria lagi.
“Biar takut juga gak bisa kabur, terpaksa dihadapi,” jawabku lagi.
“Ngapain takut, sih. Kan ada Allah, cukup banyakin ngaji, insya Allah gak akan diganggu,” sambung Satria.
“Betul itu, saya sih, yes.” Sahut Satria.
Mereka pun meminum teh yang kubuatkan, Satria sedikit protes karena teh buatanku terlalu manis. Sedang Radit, menerima apa adanya dan langsung cepat menghabiskan.
“Sudah sore, pulang yuk,” ajak Satria.
“Iya, kita pulang dulu, ya, Dhea,” sambung Andin.
“Iya, sering-sering aja main ke sini,” sahutku.
“Kamu pulang gak, Radit?” Satria bertanya pada Radit.
“Ya pulang, lah, Bang. Kan baru dua hari lagi pindah,” jawab Satria dengan polosnya.
“Iya, siapa tahu mau nginep,” goda Satria. Menyebalkan memang.
Mereka beranjak dari rumahku, menuju mobil. Lama kami tidak bertemu, sekali bertemu tidak lama. Rumahku terasa kembali sepi setelah mereka melaju pergi.
Tinggal seorang diri memang ada suka dan juga dukanya. Dalam sendiri, akan membiasakan hidup mandiri. Dukanya adalah ketika datang sepi, lalu tidak ada yang bisa setiap saat datang menemani.
Raditia sepertinya pria yang baik, akan tetapi aku baru berkenalan dengannya. Tak bisa langsung menyimpulkan seperti apa seseorang hanya dalam sekali pertemuan. Kurasa dia pun juga begitu terhadapku, seseorang yang memiliki pengetahuan luas, tidak akan mudah menjatuhkan pilihan.
...
Matahari akan segera tergelincir, menebar cahaya senja yang keemasan. Aku duduk di depan rumah, merasakan lepas penat setelah lepas dari tugas rumah. Kunjungan bayi baru juga sudah selesai, tinggal menunggu kabar ada persalinan baru lagi.
“Bidan, lagi nyantai nih?” Kak Rina menghampiriku.
“Iya, Kak. Duduk sini,” aku menepuk lantai kayu di dekatku agar Kak Rina ikut duduk.
“Banyak yang lahiran ya, bulan ini, Bidan?”
“Iya, Kak. Alhamdulillah.”
“Bidan nanti malam gak apa tidur sendirian?”
“Eum, kayaknya sih gak apa-apa. Tapi kalau Kakak mau tidur di sini lagi juga Alhamdulillah.”
“Kalau gitu nanti saya suruh anak-anak tidur di sini, saya gak bisa Bidan. Ada suami.”
“Eum, oke. Saya senang kalau mereka mau.”
“Mau, mereka tadi bahkan tanya apa tidur di tempat lagi atau gak. Mereka senang dekat dengan Bidan.”
“Oh, ya? Syukur kalau gitu kak.”
Kalau ada anak-anak yang menemani, maka aku akan lepas dari rasa sepi. Juga dari rasa takut yang kadang membuatku merinding sendiri dan susah untuk tidur.
“Bidan, bidan datang bulan kah?” tanya Kak Rina tiba-tiba.
Aku langsung melongo, karena aku tidak sedang menstruasi dan kenapa Kak Rina tiba-tiba bertanya.
“Enggak, Kak. Emang kenapa?” aku bertanya balik.
“Kayak ada bau darah,” sahut Kak Rina.
“Bau darah?” gumamku bertanya-tanya.
Tiba-tiba, sebuah sepeda motor melaju menuju rumahku dan berhenti tepat di depan rumah. Seorang laki-laki muda datang membawa seorang ibu hamil yang perutnya belum begitu besar.
“Tolong, Bidan. Kakak saya katanya sakit perut.”
Aku langsung membantu untuk membopoh ibu hamil itu menuju kamar periksa, Saat akan meminta bantuan Kak Rina, Kak Rina malah menjauh dari rumahku dan terlihat pulang ke rumahnya.
Di kamar periksa, aku langsung memeriksa denyut jantung bayi dan tensi darah bumil, kurangnya alat di rumah dinas membuatku tidak bisa melakukan USG. Pendarahan yang terjadi, besar kemungkinan karena keguguran.
Aku menelepon Puskesmas dan meminta mereka segera menjemput dengan ambulance.
“Kamu suaminya?” tanyaku pada lelaki yang mengantar.
“Bukan, Bu. Saya adiknya,” jawabnya.
“Apa gak ada keluarga yang lain, yang lebih tua?”
“Orang tua saya ada, tapi lagi kurang sehat juga, gak bisa kemana-mana.”
“Oke, kalau gitu kamu minta bantuan RT di tempat kamu sekarang. Bilang kalau kakak kamu akan dirujuk ke puskesmas, kamu siapkan kartu keluarga dan KTP kakak kamu. Bisa kan?”
“Baik, Bidan.”
Lelaki muda yang sepertinya masih usia sekolah itu pun langsung pergi, sedang aku hanya bisa menunggu sembari menenangkan bumil yang meringis menahan sakit.
Kumandang adzan maghrib terdengar, aku meninggalkan kamar periksa dan menutup pintu rumah. Saat akan kembali ke kamar periksa, tiba-tiba lampu di rumahku berkedip-kedip. Aku terdiam sebentar lalu terdengar suara jeritan dari dalam kamar.
“Ada apa, Kak?” aku menenangkan pasien yang terlihat ketakutan.
“Itu, itu, ada hantu, Bidan!” katanya. Sambil menunjuk-nunjuk ke jendela yang ternyata lupa kututup.
Aku berjalan menuju jendela, dan menutupnya. Tidak ada yang aneh, beruntung aku juga tidak melihat penampakan. Jangan sampai.
“Gak ada, kok, Kak. Palingan juga angin,” kataku, mencoba menenangkannya.
“Saya lihat tadi bidan, lidahnya panjang keluar, mengerikan!” pasien itu kini menangis, membuatku semakin merinding.
Tok ... Tok ... Tok.
Suara ketukan pintu membuat jantungku terasa mau copot. Ternyata bidan Hana yang datang, dan di depan sudah terlihat ambulance yang datang. Kami pun segera memindahkan bumil menuju ambulance. Karena emergency, aku terpaksa membiarkan darah yang menetes di lantai. Akan kubersihkan ketika nanti sudah pulang.
Sepanjang perjalanan menuju puskesmas, terus kurapalkan dzikir. Berharap kami mendapatkan perlindungan, juga dapat menyelamatkan nyawa bumil. Karena hamil muda, kemungkinan kecil sekali bisa menyelamatkan jabang bayi.
Di puskesmas, perawat jaga langsung mengambil alih. Aku hanya diminta memberi keterangan tentang pasien, beruntung adik pasien dan Pak RT juga sudah tiba di puskesmas.
“Pasien itu keliatan ketakutan, kenapa, ya?” Bidan hana duduk di sampingku setelah membersihkan tangannya.
“Di rumah tadi, katanya dia ngeliat hantu,” jawabku apa adanya.
“Serius? Kamu lihat juga?”
“Enggak, lah.”
“Emm, mungkin karena lagi senja. Kan waktu senja itu emang banyak makhluk-makhluk begitu. Apa lagi cium darah orang lagi hamil,” jelas Bidan Hana.
Ini benar-benar hal yang menyebalkan, bisa-bisanya terjadi hal mengerikan seperti itu di rumahku. Kalau itu hantuwen, berarti rumahku sudah pernah didatangi. Jadi, bagaimana aku bisa pulang dengan berani malam ini?
o
“Arghhhhh ...!” kataku kesal sembari menggaruk kepala yang tidak gatal.