bc

SENANDUNG RINDU (BERTO FAMILY SERIES)

book_age18+
26
FOLLOW
1K
READ
HE
age gap
heir/heiress
drama
mystery
loser
like
intro-logo
Blurb

Anika Larasati kehilangan segalanya di usia yang seharusnya penuh harapan.

Dituduh sebagai "pelakor" oleh keluarga suami sirinya sendiri, direnggut paksa dari putranya yang baru berusia enam bulan, dan nyaris kehilangan akal sehatnya karena kesedihan — Anika bangkit dari reruntuhan dengan satu-satunya yang tersisa: suaranya.

Ditemani sahabatnya, Rini, dan seorang pria baik bernama Hendra, Anika merantau ke kota, mengejar mimpi lama yang terkubur — menjadi penyanyi — sambil diam-diam berjuang mengumpulkan uang untuk merebut kembali putranya, Aryo, yang kini tumbuh dalam keluarga Beryl yang berkuasa.

Ia tidak tahu bahwa di kota yang sama, seorang pengusaha bernama Noah Berto tengah dihantui bayang-bayang masa lalunya sendiri — seorang istri pertama yang ia tinggalkan, dan seorang anak yang ia kira sudah tiada sebelum sempat lahir ke dunia.

Ketika Gafi, ayah Aryo, tak pernah berhenti berharap bisa menebus kesalahannya pada Anika, dan Citra — ibu Anika — diam-diam menyusun rencana untuk membongkar semua kebohongan yang pernah memisahkan keluarganya, satu pertanyaan menggantung di atas kota itu:

Berapa lama lagi kebenaran bisa disembunyikan, sebelum rindu yang terlalu lama dipendam akhirnya menemukan jalan pulang?

chap-preview
Free preview
KANGEN
1. Kangen Kilat menyambar, dan Anika Larasati menahan napas sepersekian detik sebelum gemuruh menyusul. Jantungnya tidak melompat lagi seperti dulu. Ia hanya duduk diam di kursi taman rumah sakit, membiarkan rintik hujan menampar punggung tangannya yang terbuka, satu-satunya bagian tubuhnya yang belum ia sembunyikan dari dunia. "Aku akan ke Jerman, temanku sudah menemukan pendonor yang tepat. Jika waktunya sudah tiba, nanti aku akan menjemputmu." Kalimat itu sudah delapan bulan bersarang di kepalanya, diputar ulang setiap kali hujan turun—entah kenapa selalu hujan. Anika mengepalkan tangan di pangkuan, kukunya menekan telapak sampai memutih. Ia menggumamkan satu baris melodi tanpa sadar, lagu lama yang dulu sering ia nyanyikan untuk menidurkan Aryo. Hanya dengan bersenandung pelan begitu, dadanya terasa sedikit lebih ringan—seolah suara adalah satu-satunya bagian dari dirinya yang tidak pernah ikut hancur. "Aryo sudah nggak akan kaget lagi ya, Mbah, dengar suara guntur?" Ia melontarkan pertanyaan itu bukan untuk neneknya, tapi untuk dirinya sendiri—supaya suaranya sendiri terdengar seperti orang yang baik-baik saja. "Iya, Nduk. Semoga segera sembuh ya," jawab Dewi, tanpa menoleh, tangannya sibuk merapikan selendang yang basah. "Pasti sembuh. Dia 'kan jauh banget berobatnya." Anika mengusap dadanya sekali, cepat, seolah itu gerakan menepis nyamuk, bukan menepis rasa sesak yang menahun di sana. Rini menggenggam jarinya. "Kamu kangen?" "Kangen pasti." Anika menunduk, menatap jalinan jarinya sendiri seperti mencari jawaban di sana. "Tapi ibu bilang aku ini nggak becus. Katanya aku nggak pantas kangen sama siapa-siapa." Suaranya mengecil di akhir kalimat, nyaris tenggelam oleh suara hujan. "Aku nggak mau berdebat sama kamu soal itu sekarang." Rini meremas tangannya lebih erat. "Aku cuma mau kamu inget satu hal—kamu janji mau sehat, mau kerja di kota sama aku. Masih mau, kan?" Sudut bibir Anika terangkat, kaku seperti otot yang lupa caranya. "Kamu nggak malu punya teman gila, to?" "Hush." Rini menjitak pelan kepalanya. "Yang gila itu aku, kalau nggak ada lembaran merah di dompet. Bedanya sama kamu cuma di pemicunya." Tawa kecil lolos dari bibir Anika, yang pertama sejak pagi. Ia menoleh ke Dewi. "Nanti kalau jahenya panen gimana, Mbah? Simbah nggak usah repot-repot nemenin aku terus." "Kamu tenang saja." Dewi menepuk pipinya. "Kalau memang mau kuliah, ya kuliah aja. Nggak usah sambil kerja dulu." "Anika harus mandiri, Mbah." Rahangnya mengeras. "Aku nggak mau lagi dianggap nggak becus. Aryo harus bisa aku ambil kembali, bagaimanapun caranya." Ia menoleh cepat ke Rini. "Tapi bosmu itu—yakin mau terima aku? Aku ini baru saja... sehat." "Tenang saja. Cuma aku dan bos yang tahu soal kamu." Ada sesuatu di mata Rini yang buru-buru ia sembunyikan dengan senyum. "Lagian bukan kerja kantoran kok. Kamu masih inget kan, dulu waktu kita SMA, kamu suka banget nyanyi di kamar mandi sampai tetangga protes?" Anika mengernyit. "Terus kenapa?" "Nanti kamu juga tahu sendiri," Rini buru-buru mengelak, sebelum ekspresinya berubah jadi terlalu ceria. "Pokoknya kamu tinggal bawa suara emasmu itu, sisanya biar aku yang atur." Anika membeku sesaat. Ada nada di kalimat terakhir itu yang tidak biasa—terlalu hati-hati, seperti orang yang menyembunyikan sesuatu di balik punggung. Namun sekilas bayangan menyanyi lagi, di depan orang lain, bukan hanya untuk menidurkan anaknya sendiri di ruang sunyi, membuat sesuatu di dadanya bergetar. Rindu yang lain, yang sudah lama ia kubur bersama rindu pada Aryo. Ia memilih tidak bertanya lebih jauh. Terlalu banyak pertanyaan hari ini sudah menguras energinya. "Kita pulang, yuk," ajak Dewi, buru-buru mengambil langkah lewat jalan samping. "Mbah, lewat sini malah jauh. Susah cari angkot." "Nggak apa-apa. Mbah cuma pingin mampir beli bakso mercon." "Setuju!" Rini mengacungkan jempol. Di tengah tawa mereka, langkah Dewi tiba-tiba kaku. Matanya terpaku pada sosok tinggi tegap berjarak lima meter di ujung lorong. Rahangnya mengeras, dan tangannya merangkul bahu Anika lebih erat—terlalu erat. "Anika nggak akan kabur, kok, Mbah. Dokter tadi bilang aku sudah sembuh." "Simbah cuma senang," bisik Dewi, suaranya turun satu oktaf. "Nggak nyangka kamu bakal kembali ke rumah, sekolah lagi." Rini menangkap kode itu lebih dulu daripada Anika. "Ayo, keburu baksonya habis," serunya, menarik langkah mereka lebih cepat menuju gerbang samping. "Kalau habis, beli dekat rumah aja." "Nggak sama rasanya, Ika." Rini sudah berdiri di luar gerbang, menoleh dengan senyum yang sedikit terlalu lebar. Sepanjang jalan pulang, di antara rintik hujan yang mulai reda, Anika mendapati dirinya bersenandung lagi, kali ini tanpa sadar, tanpa menahan diri. Sebuah lagu lama yang tidak pernah selesai ia nyanyikan untuk siapa pun sejak Aryo direbut darinya. Rini menoleh, matanya berkaca-kaca sesaat sebelum buru-buru ia sembunyikan di balik candaan. "Nah, gitu dong. Suara kamu itu ditakdirkan buat didengar orang banyak, Ika. Sayang banget kalau cuma buat nina bobo-in Simbah tiap malam." "Ish, apaan sih." Anika menyenggol lengan sahabatnya, pipinya sedikit merona. Tapi jauh di dalam hati, ada bagian kecil dari dirinya—bagian yang dulu penuh mimpi sebelum semuanya runtuh—yang diam-diam berharap Rini benar. 🌹 Di koridor lain rumah sakit yang sama, Noah Berto baru saja mengangkat ponsel untuk menelepon Gafi ketika sebuah suara membuat jempolnya berhenti di atas layar. Suara tawa—ringan, sedikit serak di ujungnya—yang ia kenal seperti mengenal detak jantungnya sendiri, meski belasan tahun sudah berlalu. Ia menoleh cepat. Tiga punggung perempuan menjauh ke arah lorong sebelah, salah satunya berambut cokelat terang, seperti milik Mandy—anaknya. Noah melangkah setengah, lalu berhenti. Bodoh, pikirnya. Kota ini penuh perempuan berambut cokelat. "Masih ingin bernostalgia?" Jono muncul di sampingnya, menyeringai tipis. "Begitulah." Noah memasukkan ponselnya kembali ke saku, terlalu cepat untuk terlihat santai. "Kalau kamu menanyakan dia—dia sekarang TKW di Hongkong. Sudah nggak ada di kota ini." "Aku cuma mengantar Gafi ketemu direktur." Kilahnya, meski Jono benar adanya, dan mereka berdua tahu itu. "Aku cuma tahu sedikit dari istriku. Katanya dia berangkat semenjak bapaknya meninggal dan ibunya pindah ke kampung." Noah menggertakkan gigi, menahan pertanyaan yang sudah di ujung lidah selama bertahun-tahun: apakah pria yang memisahkan mereka dulu membuat hidupnya sesulit itu, atau ia memang sudah bahagia dengan pilihannya sendiri. Jono, seperti biasa, mengalah lebih dulu dan mengganti topik. "Aku nggak nyangka kamu masih mau nanam saham di rumah sakit swasta sekecil ini." "Justru dari yang kecil begini, kita bisa kembangin pelayanannya," jawab Noah datar, meski kalimat Jono sebelumnya masih mengendap, mengganjal di dadanya seperti batu kerikil di sepatu. Ada kelegaan yang ganjil menyusup di hatinya—tahu wanita itu masih hidup, masih berjuang, di suatu tempat jauh dari sini. Tapi kelegaan itu datang bersama sesal yang lebih tajam: ia berharap, walau cuma sekali, bisa berpapasan dengannya secara kebetulan. Ingin tahu apakah rindu itu satu arah, atau masih ada yang tersisa di kedua hati mereka. "Sebaiknya kita tunggu Gafi di depan saja," ajak Noah, menoleh sekali lagi ke lorong yang sudah kosong—tempat tiga sosok perempuan itu menghilang beberapa menit lalu, membawa serta gema samar sebuah lagu yang tidak sempat ia kenali. "Ya, baiklah." Jono mengangguk, dan mereka berjalan berdampingan menuju lobi, tanpa tahu betapa dekat jarak yang baru saja mereka lewatkan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pilihan Hatimu

read
114.5K
bc

Kuliah Malam Bersama Dosen Hot

read
156.6K
bc

Gairah Lama Kembali Membakar

read
6.2K
bc

Putri Haram Konglomerat untuk Tuan Muda Cacat

read
19.7K
bc

Orang Ketiga

read
36.9K
bc

Babysitter Canduku

read
20.2K
bc

Ranting Yang Patah

read
40.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook